Minggu, 26 Juli 2015

Menuju Generasi Emas Indonesia?: Diskusi tentang Gerakan Indonesia Membaca-Menulis (5)


From: hernowo mengikatmakna



Menuju Generasi Emas Indonesia?: Diskusi tentang Gerakan Indonesia Membaca-Menulis (5)

Oleh Hernowo

 

<img src="https://ci3.googleusercontent.com/proxy/xJJLbK2BXwMgbMFIjQaVHlH4N-B9DjioG3qxrPsLGszjQ60EpX5ckgO8pTLq43V2FE09RU8jpWCm5DwhIXP6tfPiypngr_lm0iHTUS_x0vR58wfV_kX5MYLTMBeX28ILtcGHXTcU1k4yBz9LbkLGL9Y1vj-HRs6y9I6nfEuj8uYKW4pcRZl6-_g284NWL-zDHmFJiSOUZV49JOsVHXEu3YYJQ0LAx1DRuou98NEEcM5rfkYkPtaK_-ev4_jbAUc=s0-d-e1-ft#https://scontent-sin1-1.xx.fbcdn.net/hphotos-xpf1/v/t1.0-9/s180x540/11014962_10153538635104797_6535012178648000099_n.jpg?oh=c998b7c6dd4b754bbe403f135fcc5ea4&oe=561E16E6">

 

"Saat ini Indonesia akan menuju kebangkitan kedua, yaitu 100 tahun Indonesia merdeka pada tahun 2045. Inilah yang melatarbelakangi kebangkitan generasi emas. Inilah saat yang tepat bagi pendidikan untuk berperan menciptakan generasi emas Indonesia. Ini adalah momentum sangat tepat bagi para pemangku kepentingan pendidikan untuk menata dengan sebaik-baiknya  pendidikanberkualitas." (http://edukasi.kompas.com)

 

Bagaimana sesungguhnya penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas itu? Apakah Indonesia sudah memiliki model pendidikan yang berkualitas untuk mencetak generasi emas pada 2045? Apa saja komponen pendidikan yang berkualitas itu? Apakah pendidikan berkualitas perlu dibangun sejak TK? Atau seluruh jenjang pendidikan harus diupayakan dapat memenuhi pendidikan berkualitas sebagaimana yang diidam-idamkan?

 

Di samping memperoleh ilmu tentang bagaimana menjadikan anak-anak Indonesia memiliki budaya literasi yang unggul dan tangguh (yang materinya berasal dari presentasi power point-nya Pak Satria Dharma), saya juga memperoleh ilmu tersebut dari obrolan dengan Pak Satria dan juga dari "makalah" yang ditulis oleh Pak Satria sendiri. "Makalah" tersebut berjudul "Gerakan Budaya Literasi Bangsa: Menjadikan Indonesia sebagai Negara Berbudaya Literasi Membaca dan Menulis Setara dengan Negara Maju Dunia". Mohon diperhatikan secara saksama judul kecil yang berbunyi "Setara dengan Negara Maju Dunia".

 

<img src="https://ci3.googleusercontent.com/proxy/kNiYCQgoEAFDEZkvrA-2uriSpIaP80auIHwJigrsUSZ3FrBDgAfU7ZSbrV9lOJpc5QqbRYp9VFfUnYh2grpp3HrRI0hb7mtkciyOeqiaC5Bd6e2iHYlRHkBcnZojhhsF7Fu0pc68MZHGIimKoG6lRswUQj9QnS2anafDe3SA9ejpz8BJoputxteYmKFGl7hzCLxdQHftvJrrg3KD5o3c5uP4O-osAqTQW3blfGZaPu3Aa74VVJf4CIL51RlBYA=s0-d-e1-ft#https://scontent-sin1-1.xx.fbcdn.net/hphotos-xtp1/v/t1.0-9/s180x540/11695750_10153538635984797_442725388530819450_n.jpg?oh=cf106da4f36f24eb1dbefc1ea5065c5d&oe=560FD130">

 

Sejak 2015, bangsa Indonesia memiliki waktu 30 tahun untuk mencetak generasi emas. Apa kira-kira program yang paling mungkin dan tepat serta berdampak luas untuk mewujudkan generasi emas yang benar-benar unggul dan tangguh serta dapat menjadikan SDM Indonesia mampu bersaing dengan negara maju di seluruh dunia? "Membangun budaya literasi!" jawab Pak Satria tegas. Hanya, perlu dipahami bahwa "Membaca dan menulis adalah sebuah keterampilan yang untuk memperolehnya butuh latihan yang sistematis, intensif, dan terstruktur. Membaca dan menulis adalah keterampilan yang hanya akan bisa dimiliki oleh anak-anak kita jika kita melatih mereka dengan sungguh-sungguh" (demikian tertulis di "makalah", halaman 4).

 

Bagaimana caranya melatih (secara sistematis, intensif, dan struktur) anak-anak Indonesia agar dapat memperoleh kemampuan literasi? "Di sekolah!" jawab Pak Satria. Hanya, sayangnya, "Kurikulum 2013 tidak mengakomodasi pentingnya keterampilan membaca dan menulis ini sehingga SANGAT JELAS bahwa anak-anak kita TIDAK AKAN MEMILIKI BUDAYA MEMBACA DAN MENULIS dengan perubahan kurikulum tersebut" (dari "makalah" halaman 4). Pak Satria, bukankah di dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia sudah dicanangkan program pengajaran berbasis teks? "Ya, tetapi di dalam program tersebut tidak disebutkan secara EKSPLISIT bahwa pengajaran Bahasa Indonesia berbasis MEMBACA DAN MENULIS!," jawab Pak Satria ketika saya tanyakan hal itu.

 

<img src="https://ci4.googleusercontent.com/proxy/qnWaSMSGxHn84-tGg5Q89JwCvjCHrsjWfiL62tS5dy9bNm_IgJOxhhKUaBvCCpRIUM4ieqEj25cd_Tr56rwXotMbg2px-OO6xWI4wHaaUjFw9MJLt4R2Pam3ok_fjJUWmU4F_PhzxbiFJ5LtPwUKqkdmX2-uEBkSqZNaqpY7Z_DrX2qvGvf9Gqs2tjndkuDEVkpT-PqZDnssen3pJaHM1P_-3pIuMtNCJZddODB-9O_cMoB9ppCHYZyNuyN6CbY=s0-d-e1-ft#https://scontent-sin1-1.xx.fbcdn.net/hphotos-xfp1/v/t1.0-9/s180x540/11169168_10153538636604797_1883938851103127151_n.jpg?oh=7ee270dbbce01c8a0a5f9ae66388cdda&oe=562528BA">

 

Pak Satria kemudian menunjukkan beberapa fakta berikut: (1) Mutu pendidikan kita (dalam tes uji mutu pendidikan internasional seperti PISA, PIRLS, TIMMS, dll.) selalu jeblok jika dibandingkan dengan mutu pendidikan bangsa lain meskipun anggaran pendidikan kita sudah jauh meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hasil PISA 2012 baru-baru ini menempatkan siswa Indonesia pada posisi KEDUA TERBURUK atau posisi 64 dari 65 negara. Padahal, Vietnam justru masuk pada posisi 20 besar. Penelitian PISA juga menempatkan posisi kemampuaan membaca siswa Indonesia di nomor 57 dari 65 negara dunia dengan skor rata-rata 396 sedangkan rerata internasional 496.

 

Kemudian ini: (2) Rendahnya "reading literacy" bangsa kita saat ini dan di masa depan akan membuat rendahnya daya saing bangsa dalam persaingan global. "Sekitar 70 persen anak Indonesia akan sulit hidup di abad ke-21," demiakian kata Prof. Iwan Pranoto dari ITB. Hal ini sebenarnya sudah bisa kita lihat dengan nyata. Pada saat ini, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) berjumlah 6,5 juta orang dan tersebar di 142 negara. Para TKI itu datang dari 392 kabupaten/kota. Mereka ini hanya mengisi posisi sebagai tenaga kasar yang tidak membutuhkan kemampuan membaca. Tanpa kemampuan literasi yang memadai dalam persaingan global, TKI hanya akan dapat mengisi pekerjaan kasar dengan gaji paling rendah.

 

"Makalah" Pak Satria Dharma tersebut ditulis pada 30 Maret 2015. Yang patut kita syukuri saat ini adalah program-program membudayakan literasi (yang disampaikan di "makalah" tersebut di halaman-halaman akhir yang disusun dan diusulkan oleh Pak Satria—ada sekitar 13 program) sudah mewujud menjadi GERAKAN. Gerakan Literasi itu dimulai di kota Surabaya atas dukungan pemerintah daerah (dalam hal ini walikota Surabaya, Ibu Risma). Apakah hanya masyarakat Surabaya saja yang kelak—sekitar 30 tahun lagi—akan benar-benar menjadi bagian dari sebuah bangsa yang disebut sebagai generasi emas bangsa Indonesia?

 

Waktu akan menjawabnya. Mengutip Roger Farr (lihat Portfolio and Performance Assessment: Helping Students Evaluate Their Progress as Readers and Writers, 1998), "Reading is the heart of education." Dan menurut Nelson Mandela (lihat www.brainyquote.com), "Education is the most powerful weapon which you can use to change the world."[]


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar