Sabtu, 23 Mei 2015

Sesungguhnya Mereka Tidak Memiliki Kepedulian !!!


From: A.Syauqi Yahya 


Pasar Klewer, Pasar Johar, dan tentang Kepedulian Kita

http://m.kompasiana.com/post/read/717978/3/pasar-klewer-pasar-johar-dan-tentang-kepedulian-kita-.html

Isson Khairul
16 May 2015 | 19:11

Sumber: Pasar Klewer, Solo, terbakar pada Sabtu, 27 Desember 2014 dan Pasar Johar, Semarang, terbakar juga pada Sabtu, 9 Mei 2015. Kedua pasar tersebut juga sama-sama berada di Provinsi Jawa Tengah. Kedua pasar itu pun sama-sama pasar yang sangat bersejarah. Dari musibah kedua pasar ini, kita bisa berkaca tentang kepedulian kita. Foto: kompas.com dan tribunjateng.com
Ketika Pasar Johar terbakar, kita tahu bahwa pasar yang bersejarah itu tidak dilengkapi sistem penanggulangan kebakaran. Kita juga tahu, rupanya pilar hidran hanya ditemukan di bagian depan pasar, itu pun tidak berfungsi optimal. Empat bulan sebelumnya, ketika Pasar Klewer terbakar, kita juga tahu, ternyata hidran yang berada di dalam pasar tersebut, tidak berfungsi.

Akibatnya, petugas pemadam kebakaran di kedua pasar tersebut tidak mendapatkan sumber air terdekat dengan jumlah yang cukup untuk segera memadamkan api. Akibat lanjutannya, proses pemadaman berlangsung dalam waktu yang lama, yang tentu saja kalah cepat dibanding kerakusan api melahap bangunan pasar beserta isinya. Pada akhirnya, api memang padam, tapi setelah semuanya berubah menjadi abu… dan debu.

Kalaulah Benar Kita Peduli

Kalaulah benar kita peduli kepada rakyat, kita pastilah sangat paham, betapa berartinya kedua pasar itu bagi kehidupan rakyat. Ada ratusan orang, bahkan mungkin ribuan nyawa, yang telah bertahun-tahun menggantungkan sumber penghidupan mereka di pasar tersebut. Secara angka pun, ada ratusan juta, bahkan mungkin miliaran rupiah uang yang berputar di pasar itu dalam sebulan.

Meski demikian, nyatanya tak ada yang peduli dengan kedua pasar tersebut, tak ada yang mau tahu, apakah perangkat pemadam kebakaran di kedua pasar itu masih layak atau tidak, memadai atau tidak, berfungsi atau tidak. Juga, tak ada yang peduli, apakah pernah atau tidak, diadakan latihan pemadaman kebakaran di kedua pasar tersebut.

Padahal, sebagai sebuah pasar, sebuah ruang publik, tentulah ada standar minimal yang menyertainya. Misalnya, ada toilet umum, ada air bersih, ada musholla, dan ada perangkat pemadam kebakaran. Selain itu, ada struktur standar yang mengelola sebuah pasar. Misalnya, ada kepala pasar, ada petugas kebersihan, dan ada petugas keamanan.

Pertanyaannya, apakah kedua pasar tersebut memenuhi standar minimal sebuah pasar? Dari sektor perangkat kebakaran, jelas tidak memenuhi. Dari aspek kepemimpinan, apakah kedua pasar tersebut memiliki Kepala Pasar? Bila ada, maka statusnya tak lebih dari wujud hidran yang ada di kedua pasar itu: ada tapi tidak berfungsi optimal. Ada tapi tak memiliki kepedulian.



Ini adalah petikan berita tentang kebakaran Pasar Johar, Semarang, dariprint.kompas.compada Senin (11/5/2015) lalu. Juga, terlampir petikan berita tentang kebakaran Pasar Klewer, Solo, darirepublika.co.idpada Senin (29/12/2014) lalu. Setidaknya, ini menjadi catatan bagi kita semua, tentang realitas sistem penanggulangan kebakaran di kedua pasar tersebut. Juga, menjadi catatan tentang kepedulian kita terhadap mereka yang disebutrakyat, terhadap sesuatu yang kita nilaibersejarah.

Kalaulah Benar Ada Tanggung Jawab

Pertanyaan berikutnya, apakah Pemerintah Kota Surakarta atau Solo, tempat berdirinya Pasar Klewer, menerima masukan pajak dari transaksi yang terjadi di Pasar Klewer? Kalau iya, berarti Pemda Kota Solo telah menempatkan Pasar Klewer sebagai aset yang bernilai ekonomi. Pemda yang bertanggung jawab tentulah memelihara aset ekonomi yang dimilikinya, karena itu menjadi salah satu sumber pendapatan pajak bagi Pemda yang bersangkutan. Demikian pula halnya dengan Pasar Johar bagi Pemda Kota Semarang.

Pemda Kota Solo dan Pemda Kota Semarang, bukanlah Pemda yang baru terbentuk kemarin sore. Walikota kedua kota itu sudah berganti beberapa kali. Artinya, mereka tentulah paham tentang tata-kelola Pemda serta bagaimana strategi menata Pasar yang menjadi aset ekonomi di wilayah mereka. Dengan demikian, Pemda yang bersangkutan juga memahami sepenuhnya hak dan tanggung jawab mereka terhadap tiap aset ekonomi tersebut.

Bila Pemda Kota Solo dan Pemda Kota Semarang memiliki Petugas Pajak untuk memungut pajak dari transaksi yang terjadi di Pasar Klewer dan Pasar Johar, maka sudah semestinya kedua Pemda tersebut juga memiliki Petugas Pemadam Kebakaran, yang salah satu tugasnya melindungi keberadaan kedua pasar tersebut, dari bahaya kebakaran. Dengan kondisi hidran di Pasar Klewer dan Pasar Johar tersebut, keberadaan Petugas Pemadam Kebakaran di kedua Pemda itu tak lebih dari wujud hidran yang ada di sana: ada tapi tidak berfungsi optimal. Ada tapi tak memiliki kepedulian.

Kalaulah Benar Kita Cermat

Sesuatu yang bersejarah, sesuatu yang bernilai, pada akhirnya hanya untuk dilupakan, diabaikan. Karena, ketidakpedulian sudah menjadi bagian dari tradisi kita. Bahkan, mungkin sudah mendarah-daging. Masalah kelengkapan perangkat penanggulangan kebakaran di Pasar Klewer dan Pasar Johar, sesungguhnya bukan hal baru. Media sudah mengungkapkannya sejak beberapa tahun lalu. Namun, apa yang diungkapkan tersebut, pada akhirnya hanya untuk dilupakan, diabaikan.

Ini adalah petikan berita tentang kelengkapan perangkat penanggulangan kebakaran di Pasar Johar, Semarang, dariSuara Merdekapada Senin (12/9/2011) lalu.Juga, terlampir petikan berita tentang kelengkapan perangkat penanggulangan kebakaran di Pasar Klewer, Solo, dariSuara Merdekapada Selasa (11/3/2003) lalu. Setidaknya, ini menjadi catatan bagi kita semua, tentang realitas sistem penanggulangan kebakaran di kedua pasar tersebut. Juga, menjadi catatan tentang kepedulian kita terhadap mereka yang disebutrakyat, terhadap sesuatu yang kita nilaibersejarah.

Kalaulah benar kita cermat membaca apa yang diungkapkan media tersebut, tentulah sejumlah langkah antisipasi sudah dilakukan. Bahwa bencana kebakaran adalah sesuatu yang di luar kendali kita, setidaknya dengan persiapan perangkat penanggulangan kebakaran yang memadai, proses pemadaman tentu akan lebih cepat. Ini juga mungkin bisa meminimalkan tingkat kerugian yang harus ditanggung para pedagang, yang sesungguhnya adalah rakyat.

Tapi, ya begitulah realitasnya. Di musim kampanye, pasar memang menjadi tempat favorit bagi politisi untuk menebar janji mereka. Pasar Klewer mungkin sudah berkali-kali didatangi politisi. Demikian pula dengan Pasar Johar. Apakah kedatangan mereka sama artinya dengan nilai kepedulian mereka? Setelah Pasar Klewer dan Pasar Johar jadi abu, kita tahu bahwa sesungguhnya mereka tidak memiliki kepedulian. Sesuatu yang bersejarah, sesuatu yang bernilai, pada akhirnya hanya untuk dilupakan, diabaikan.

Jakarta, 16 Mei 2015

Dibaca : 39 kali

--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar