Kamis, 14 Mei 2015

MENGAPA MEMBACA?: Program dan Gerakan Membaca 1


From: hernowo mengikatmakna 


Program dan Gerakan Membaca 1

MENGAPA MEMBACA?

Oleh Hernowo

 

 

"Dalam makna yang sungguh-sungguh, sebenarnya orang yang membaca kepustakaan yang baik telah hidup lebih daripada orang-orang yang tak mau dan tak mampu membaca… Adalah tak benar bahwa kita hanya punya satu kehidupan yang kita jalani. Jika kita mampu membaca, kita dapat menjalani berapa pun banyak dan jenis kehidupan seperti yang kita inginkan."

—S.I. HAYAKAWA

 

 "Tak ada yang menyangkal bahwa kita tengah hidup dalam abad kecepatan," tulis Rhenald Kasali dalam Agility (2014). "Kecepatan mengakibatkan banyak hal. Mulai dari ketidaksabaran konsumen, kecepatan gerak dunia keuangan, hingga kebingungan-kebingungan di antara para stakeholders(pemangku kepentingan), khususnya aparatur-aparatur negara. Oleh para ilmuwan, abad ini diberi julukan sebagai abad VUCA…"

 

Apa itu VUCA? Menurut penjelasan Rhenald Kasali selanjutnya, VUCA merupakan singkatan dari Volatility (bergejolak atau berubah-ubah), Uncertainty (memiliki ketidakpastian yang tinggi), Complexity (saling berhubungan, saling bergantung, rumit), dan Ambiguity (menimbulkan keragu-raguan). Istilah VUCA pertama-tama dipakai dalam US Army War College dan dipopulerkan oleh Bob Johansen dalam bukunya Leaders Make The Future (2012).

 

 

Dalam buku Agility, Rhenald Kasali mengaitkan era VUCA dengan business agility. "Kecepatan memerlukan ketangkasan (agility)," tulis Rhenald tegas. Tanpa agility—seperti operational agility, portfolio agility, personal agility, dan agility yang lain—sebuah perusahaan atau organisasi akan kedodoran dalam mengikuti perubahan dan perkembangan yang tengah berlangsung. Mengikuti rumusan para pakar cognitive psychology, Rhenald kemudian membantu para pembaca bukunya untuk memiliki dan meningkatkan agility.

 

"Untuk mendapatkan agility, setidaknya ada dua hal yang harus dilakukan, yaitu menekan atau menghapuskan tingkat kesalahan (error) dan melakukan penambahan atau memperbanyak insight," papar Rhenald. Terilhami buku Gary Klein, Seeing What Others Don't: The Remarkable Ways We Gain Insight (2014), Rhenald kemudian mengadaptasi gagasan Gary untuk merumuskan cara meningkatkan agility. Bagaimana rumusnya? Rumusnya ini:  AGILITY= ERROR (yang dikurangi)+INSIGHT (yang ditambah). Terkait dengan penambahan INSIGHT itulah kita layak—dalam serial nomor 1 membangun program dan mengupayakan berjalannya gerakan membaca ini—membincangkan berbagai cara agar terdapat lebih banyak masyarakat yang mendapatkan peluang untuk memiliki kemampuan dan kegemaran membaca dalam kehidupan sehari-harinya.

 

Kemampuan membaca sudah sangat jelas akan meningkatkan insight (wawasan, pengetahuan, sudut pandang, dan sebagainya). Sementara itu, kepemilikan kemampuan membaca (yang terus dapat ditingkatkan) juga akan memudahkan seseorang menguasai kemampuan menulis. Di era VUCA, kemampuan menulis akan membantu seseorang membagikan gagasan dan kisah-kisahnya dalam mengatasi kegagalan dan meraih kesuksesan. Dalam Kitab Suci Al-Quran, kata membaca (iqra') digunakan oleh Allah SWT untuk mengawali firman (perintah)-Nya kepada Nabi Muhammad Saw. Menjadikan masyarakat memiliki kemampuan membaca akan mendorong masyarakat tersebut—sebagaimana kata Hayakawa—"dapat menjalani berapa pun banyak dan jenis kehidupan seperti yang mereka inginkan".[]


--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar