Selasa, 12 Mei 2015

Kopi Deplokan Ibu Selalu Ngangenin


From: A.Syauqi Yahya


Kopi Deplokan Ibu Selalu Ngangenin

http://m.kompasiana.com/post/read/744352/1/kopi-deplokan-ibu-selalu-ngangenin.html

Agung Han
11 May 2015 | 19:56

Sumber: kopi hitam ala ibu (dokpri)
Meski bukan pecandu paling tidak terlihat setiap pagi, ibu menikmati secangkir kopi di sudut dapur. Saya tahu persis bubuk kopi yang dipakai, tak lain hasil olahan sendiri. Suatu saat ketika saya mulai baligh (puber), mendapat tugas ndeplok (menumbuk) butiran kopi tersebut. Keahlian saya tumbuh tak lain dari seringnya ikut, sekaligus mengamati kegiatan ibu. Seminggu sekali menjelang sore ke rumah mbah, ndeplok sambil ngudo roso (berbagi rasa) dengan mboknya ibu. Saat berbagai hati itulah menjadi momentum, atmosfir melankolinya turut saya rasakan. Mungkin ibu tak berprasangka jauh, tapi nyatanya saya jadi tahu hati seorang ibu. Dari curhatan itulah diam diam memupuk, bertambah mendalam rasa sayang kepada ibu hingga kini. Tradisi yang sama terus berlangsung, hingga saya beranjak merantau ke kota besar.
Ibu adalah perempuan tangguh, dengan segenap cita yang tersimpan dibenak. Namun keadaan tak mengijinkan, terpaksa menuruti sang ayah untuk dikawinkan. Maka segenap upaya dikerah semampunya, agar anak anaknya bisa bersekolah setingginya. Setiap hari beliau bangun paling awal, saat suami dan anak anaknya masih terlelap. Semua pekerjaan rumah segera diberesi, sebelum sinar ufuk merekah merah. Menu sarapan paling utama disiapkan, kemudian baru mengerjakan pekerjaan lainnya. Baru ketika panggilan subuh bergema, dibangunkan seluruh anggota keluarga. Usai menunaikan shalat dua rakaat, ayah bersantap pagi dan memakai seragam dinas guru. Lelaki sederhana ini berjalan kaki, membelah desa melintasi jalan bebatuan. Kakak tertua segera mandi dan sarapan, berseragam abu abu putih berangkat dengan angkutan umum. Tahun ini adalah tahun terakhir, si sulung berada di bangku SMA (sekarang berganti SMU). Dua kakak masih SMP, sekolahnya tak jauh dari rumah. Berdua kembali di atas ranjang, meneruskan kantuk yang belum tuntas. Saya ragilnya cukup dekat dengan ibu, memilih menemaninya di dapur mungil.
Radio dengan siaran pengajian memenuhi ruangan, ibududuk di kursi kayu melepas penat. Kopi panas tersaji dengan gelas kaca, kadang ditataki cawan bening hadiah sabun colek. Asap dari kopi panas jelas mengepul, mengangkasa menuju langit langit dapur. Saking panasnya gelas kaca, cara memegang cukup unik dilapisi serbet. Mata ibu merem mengambang, ketika ujung hidung nyaris tak berjarak dengan bibir gelas. Seolah sedang menghirup aroma kopi, yang dideplok dengan tangannya sendiri. Tampak lelah menguasai raut wajah, memaksa diri tegar bersama segelas kopi.
Saya masih duduk di kelas empat SD, duduk disebelahnya tak paham apapun. Ada perasaan khawatir bercampur takut, kalau terjadi apa apa dengan perempuan hebat ini.
"buk...sakit tho" celetukku "tak pijati nggih"
"ora usah le...ibu cuma capek saja" senyumnya menepis kesah
Segelas kopi dinikmati dalam sruputan, beriring satu tarikan nafas panjang. Ketika gelas sudah tidak begitu panas, serbet yang melapisinya tak dipakainya lagu. Kopi masih sepertiga gelas, rasa penasaran saya mulai muncul ikut menikmati. Sebagai anak kecil saya cukup kaget, mendapati rasa pahit bercampur manis dalam satu gelas. Lama kelamaan pahit kopi menjadi biasa, toh saya tak juga kapok minum kopi bekas ibu.
Rutinitas pagi yang begitu begitu saja, diakhiri dengan berangkatnya kami anak anak ke sekolah. Dua kakak seragam putih dengan dasi menyilang, dipadu celana pendek berwarna biru. Saya dengan celana merah hati, ibu bersiap membuka warung di pasar. Sampai terik agak condong di barat, ibu melewatkan waktu berjualan. Pulang membawa belanjaan untuk makan malam, sekaligus beberapa keperluan untuk keluarga.
******

Sumber: ibu (dokpri)
Kalau sedang hari minggu atau tanggal merah, saya ikut membantu di pasar desa. Kopi jualan ibu ternyata cukup digemari pelanggan, dua jenis kopi di pisah dalam ember yang berbeda. Satu berwarna legam disebut ibu kopi nongko, dan satunya kecoklatan kerap disebut kopi super. Kopi super inilah yang djadikan minuman di rumah, setelah melalui serangkaian proses. Ibu bisa mengira kualitas kopi, dari mantep tidaknya biji kopi. Kalau yang ringan biasa isinya kopong, saat jadi bubuk hasilnya hanya sedikit sebaliknya dengan yang mantep.
"ini kopi enak le, jadi masaknya harus sungguh, kudu sabar" ujarnya suatu siang.
Mula mula butiran kopi dicuci bersih, agar debu yang menempel segera lenyap. Kemudian ibu menyiapkan wingko (wajan dari tanah), di atas tungku dengan nyala api tinggi. Cara memasak memakai kayu, agar besar kecilnya api bisa diatur sedemikian rupa. Biarkan permukaan wingko tetap diatas api, tunggu hingga panas menguasai. Barulah butiran kopi yang sudah bersih, dituang ke atas wingko panas. Kopi terus dibolak balik tak berjeda, menggunakan irus (alat masak dari kayu) panjang.
Sampai kopi menjadi setengah matang, biasanya warna mulai berubah agak coklat tua. Baru api mulai disurutkan, kayu ditarik mundur ke mulut tungku. Butiran kopi masih terus dibolak balik, penuh ketelatenan dan kesabaran. Kalau saja api dibiarkan terus besar, akibatnya bisa bisa fatal. Permukaan biji kopi cepat menghitam, padahal bagian dalam masih agak mentah. Sesi kedua membolak balik kopi, dengan kondisi api sedang sedang saja.
Cara mendeteksi bahwa kopi sudah matang, biasa ada bunyi "thek- thek" dari atas wingko. Kalau terdengar bebunyian tersebut, tandanya kopi mlethek (pecah merekah). Segera kopi matang dituangkan, diatas tampah (nampan dari bambu) dilapisi kertas. Saat kopi diratakan di tampah, semerbak harum melalui uap panas menyembul. Aroma kopi yang khas mendominasi, ketika hidung saya berusaha menangkap kepulannya. Proses selanjutnya bisa langsung dideplok saat panas, tapi ibu lebih suka menunggu hingga dingin. Memasak kopi di atas tungku, memakan waktu sampai kurang lebih satu setengah jam. Betapa capeknya badan ibu, pulang dari pasar langsung menggoreng kopi. Biasanya ibu makan siang kemudian tidur, melepaskan lelah setelah seharian melakukan pekerjaan.
Menjelang senja lelah di badan sirna, saatnya melanjutkan pekerjaan tertunda. Lumpang (tempat menumbuk kopi) terbuat dari besi, milik mbah adalah tempat yang tepat. Bertemunya anak wedhok dengan mboknya, lebih dari sekedar prosesi ndeplok kopi. Saya tak mau ketinggalan, ngintili (mengikuti) ibu dengan berjalan di belakangnya
****

Sumber: kopi dan serbet ala ibu (dokpri)
Lumpang kecil di sudut dapur, ditarik ibu lengkap bersama deplokan (palu untuk menumbuk). Ibu mengambil posisi dekat pintu pekarangan, duduk diatas dingklik terbuat dari kayu. Saya duduk dibelakang ibu, memperhatikan butiran kopi berubah pecah. Mbah wedhok yang sibuk memasak, menginterview ibu sambil hilir mudik diruangan dapur.
"anakmu jadi kok kuliahne tho" sela mbah wedhok
Ibu jelas mendengar pertanyaan itu, namun diam tak segera menyahut. Deplokannya cukup powerfull, hingga lantau tanah terasa bergetar. Saya menduga duga apakah ada luapan emosi dialirkan ke ujung palu, atau hanya ingin segera melembutkan butiran kopi. Mbah wedhok menengok sekilas, tak mengulangi pertanyaan yang baru dilontarkan. Setelah beberapa tumbukkan ibu menghentikan palu, menarik satu nafas langsung mengeluarkan.
"si mbarep itu angel(susah) mbok anakke" ibu menghela nafas "maunya gak neruske sekolah"
Saya yang mengikuti adegan per adegan senja itu, begitu memahami kegundahan hati ibu. Kakak sulung yang wataknya keras, ternyata ingin pendidikannya terhenti di SMA saja. Perasaan gundah melayang tak tentu arah, ditepis ibu dengan deplokandemi deplokan. Seperti halnya menggoreng kopi, menumbukpun juga perlu kesabaran. Ibu telah melampaui kesabaran dalam kehidupan nyata, saat menuruti kemauan ayahnya untuk dikawinkan. Kini sedang melintasi kesabaran lagi, menghadapi mbarepnya yang tak sepaham dengan pemikirannya. Butiran demi butiran kopi matang mulai hancur, ibu menyaring dengan ayakan berlubang tipis. Begitu seterusnya dan seterusnya dilakukan, sampai butiran kopi halus semua.
"Mbok...aku pulang dulu yo" ibu pamitan, saya mengikuti di belakang
"iyo.... ora usah dipikir banget mbarepmu" pesan mbah wedhok.
Ibu mengangguk dengan wajah gusar, saya melongo tak paham situasi yang berlangsung. Setelah disunat dan beranjak SMP, pertumbuhan badan saya lumayan pesat. Kakak sulung yang akhirnya menuruti kuliah, terkaget melihat saya sepadan dengan tingginya. Tugas ndeplok kopi didelegasikan, menjadi kegiatan rutin seminggu sekali.
****
Kekangenan tiba tiba muncul setelah saya berkeluarga, untuk menikmati kopi deplok khas ibu. Meski di pasaran banyak dijual kopi, aroma khas dari kopi masakan ibu tiada terganti. Racikan ibu yang digemaripun saya hapal, githel alias legi, kenthel (manis dan kental). Komposisinya terdiri dari satu sendok kecil kopi munjung (penuh), dicampur dengan gula satu setengah sendok makan. Setelah dua bagian ditaruh gelas, baru dituang air mendidih. Biarkan air panas mengendap sejenak, baru diaduk dengan sendok kecil.
Dalam satu gelas kaca kopi yang disruput ibu, seolah hendak melepaskan sesak di dada. Segelas kopi seperti melambungkan angan, demi mewujudkan mimpi yang tak tergapai tangannya sendiri.
Saya tak ingin menghempaskan asa ibu, ketika lulus SMA tak memberati langkah mendaftar kuliah. Keadaan ekonomi orang tua yang pas pasan, membulatkan tekad kuliah sambil bekerja.
"Matur suwun yo le" ucap ibu di sore yang haru biru.
Beliau menemui dikostan sederhana saya, ketika pulang kerja dan bersiap berangkat ke kampus. Sebuah perguruan tinggi swasta berbayar terjangkau, tak jauh dari tempat saya mengontrak bulanan sebuah kamar.
Segelas kopi panas yang dilapisi serbet, adalah sebentuk asa, adalah sebentuk gundah, adalah sebentuk kesah. Ibu, saya persembahkan tulisan ini untukmu, sebagai bukti ketulusan baktiku padamu. (salam)
Dibaca : 11 kali

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar