Jumat, 22 Mei 2015

Kisah Bung Karno dan Istri-istrinya


From: A.Syauqi Yahya 


Kisah Bung Karno dan Istri-istrinya

http://m.news.viva.co.id/news/read/627789-kisah-bung-karno-dan-istri-istrinya

Hadi Suprapto, Dody Handoko
Rabu, 20 Mei 2015, 06:56 WIB

VIVA.co.id- Dalam buku Soekarno dalam Sarinah, dituliskan pandangan Bung Karno terhadap perempuan. Bahwa mereka, adalah bagian mutlak perjuangan kemerdekaan, oleh karena itu peran sertanya sejajar dan sangat dibutuhkan.

Dalam biografinya Soekarno, An Autobiography as Told to Cindy Adams, Bung Karno bercerita tentang istri-istrinya. Ketika Bung Karno usianya belum genap 20 tahun. Tahun 1921, di Surabaya, dia menikah dengan Siti Oetari, gadis usia 16 tahun, putri sulung tokoh Serikat Islam, Haji Oemar Said Tjokroaminoto, pemilik rumah tempatnya menumpang ketika dia di sekolah lanjutan atas.

Beberapa saat sesudah menikah, Bung Karno meninggalkan Surabaya, pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Tjokroaminoto, ayah mertuanya, membantu mencarikan tempat indekos dengan menghubungi teman lamanya, Sanusi, seorang guru.

Bung Karno tiba di Bandung, dijemput Sanusi di stasiun dan langsung diajak ke rumahnya.


Sejumlah Wanita Cantik dalam Kehidupan Bung Karno
Saat melihat Inggit, Bung Karno mengungkapkan, "Sekali pun aku belum memeriksa kamar, tetapi jelas ada keuntungan tertentu di rumah ini. Keuntungan utama justru berdiri di pintu masuk dalam sinar setengah gelap. Raut tubuhnya tampak jelas, dikelilingi oleh cahaya lampu dari arah belakang. Perawakannya kecil, sekuntum bunga cantik warna merah melekat di sanggul dengan senyum menyilaukan mata. Namanya Inggit Garnasih, istri Haji Sanusi."

Menurut Bung Karno, Sanusi adalah seorang tukang judi yang setiap malam terus-menerus menghabiskan waktunya di tempat bilyar. Maka mudah diduga apa yang bakal terjadi.

"Aku seorang yang sangat kuat dalam arti jasmaniah dan pada hari-hari itu belum ada televisi. Hanya Inggit dan aku berada di rumah yang selalu kosong. Dia kesepian. Aku kesepian. Perkawinannya tidak betul. Perkawinanku tidak betul. Adalah wajar, hal-hal yang demikian itu kemudian tumbuh".

Inggit, janda cerai selama empat bulan tersebut kemudian menikah dengan Bung Karno pada pertengahan 1923. Selama 20 tahun hidup perkawinannya bersama Bung Karno, dengan setia dia menjenguk suaminya ketika disekap di Penjara Sukamiskin.

Kesetiaan luar biasa mengikuti suaminya menjalani pengasingan di Flores, sambil mengajak ibu dan dua anak angkatnya. Asmi, ibu mertua Bung Karno, tutup usia ketika mendampingi menantunya di tempat pembuangan.

Pada usia 40 tahun, Bung Karno ingin menikah lagi dengan memakai alasan sangat mendasar, soal anak. Inggit menolak dimadu. Ia akhirnya menyerahkan Bung Karno kepada Fatmawati, bekas putri angkatnya dalam masa pembuangan di Bengkulu. Bersambung.

©VIVA.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar