Minggu, 24 Mei 2015

KEKUATAN KATA: MENGENAL BUKU “THE MULTIPLE INTELLIGENCES OF READING AND WRITING”-NYA THOMAS ARMSTRONG (3)


From: hernowo mengikatmakna 


Seri Pengetahuan Home Reading 28

KEKUATAN KATA: MENGENAL BUKU "THE MULTIPLE INTELLIGENCES OF READING AND WRITING"-NYA THOMAS ARMSTRONG (3)

Oleh Hernowo

 

 

Bayangkan seorang anak balita yang baru saja menemukan kata baru "Up!" dan sering mengulang-ulang mengucapkan kata tersebut untuk disampaikan kepada anggota keluarganya. Kata ini memiliki kekuatan ajaib. Hanya dengan mengucapkan satu kata itu, berbagai aktivitas fisik pun terjadi. Seorang anak dapat meminta ibunya untuk mendatanginya dan kemudian mendudukkannya di kursi untuk menerima suapan makan dari ibunya.

 

Atau dia dapat diangkat, digendong, dipeluk oleh ayahnya. Bahkan apabila satu kata itu ditujukan kepada kakaknya, dia pun lantas diletakkan di punggung kakaknya dan kemudian dikelilingkan ke sudut-sudut rumahnya untuk melihat seisi rumah. Di usia itu, anak balita tersebut tentu saja tidak dapat melakukan aktivitas fisik yang beragam seperti itu. Namun, berkat satu kata "Up!" berbagai aktivitas fisik pun terjadi dengan sendirinya.

 

Kata memiliki kekuatan. Kata memiliki otot.         

 

Di Bab 2 buku The Multiple Intelligences of Reading and Writing—setelah di Bab 1 Armstrong menjelaskan secara ringkas apa itu multiple intelligences—saya menemukan kekuatan kata dalam menggerakkan aktivitas fisik. Armstrong ingin mengaitkan kecerdasan linguistik dengan kecerdasan kinestetik (body smart). Dan saya menikmati sebuah pemaparan mengasyikkan tentang sejarah kata-kata yang hampir semuanya tak bisa dilepaskan dari aktivitas fisik.

 

Sebelum muncul mesin ketik dan laptop, dahulu deretan kata ditulis di atas kulit atau kertas lewat upaya fisik yang cukup rumit. Pena dipegang oleh beberapa jari tangan, lantas dicelupkan di gelas tempat tinta berada, dan kemudian disapukan di atas kulit atau kertas untuk membentuk kata-kata bermakna. Yang menakjubkan, dengan menggerak-gerakkan tangan saja seorang orator yang lupa menyampaikan kata-kata saktinya tiba-tiba dapat mengingat dan secara lancar menyampaikan kata-kata sakti yang sebelumnya tiba-tiba hilang ditelan oleh kecamuk yang semrawut di dalam pikirannya.

 

 

Jika Anda sempat membaca Seven Times Smarter: 50 Activities, Games, and Projects to Develop the Seven Intelligences of Your Child karya Laurel Schmidt, Anda akan menemukan bagaimana anak-anak dapat bermain kata-kata yang dikaitkan dengan aktivitas fisiknya. Berpijak pada konsep mutltiple intelligences, Laurel ingin menunjukkan bahwa setiap anak dapat mengasah kemampuan membaca dan menulis (kecerdasan linguistik)-nya apabila ketika membaca atau menulis, seorang anak menggunakan kecerdasan yang dikuasai atau disenanginya—apakah itubody, picture, music, atau …-smart yang lainnya.

 

Buku The Multiple Intelligences of Reading and Writing karya Armstrong ini memang memiliki tujuan khsusus sebagaimana disampaikan Laurel Schmidt. Menurut Amstrong apabila gagasannya ini dapat diterima dan diterapkan, tak akan ada lagi anak-anak yang dicap sebagai memiliki penyakit (kesulitan) membaca atau dileksia. Anak-anak yang dianggap mengidap disleksia dapat diatasi (disembuhkan) dengan memberikan pelatihan membaca yang dikaitkan dengan salah satu kecerdasan yang menonjol miliknya atau kecerdasan yang disenanginya. Film Taare Zameen Par (yang saya tafsirkan sebagaiSetiap Anak adalah Bintang) yang mengharukan itu adalah buktinya.

 

Juga pengalaman Pak Munif Chatib—penulis buku best sellerSekolahnya Manusia—dalam mendidik putrinya, Bella, yang dianggap terkena disleksia. Menurut Pak Munif, Bella akhirnya dapat meneruskan pendidikan tingginya dengan mengambil spesialisasi desainer busana. Dengan bangga dan penuh rasa syukur, Pak Munif memperlihatkan rancangan-rancangan putrinya lewat gawai miliknya kepada saya. Pengalaman mendidik putrinya yang dianggap disleksia ini rencananya akan dikisahkan dalam bentuk novel.

 

Kita layak menunggu buku karya berikut Pak Munif yang berkisah tentang cara-cara Pak Munif dalam mendidik putrinya, Bella (yang dianggap terkena disleksia), sehingga Pak Munif berhasil mengantarkan Bella menempuh pendidikan tingginya. Sebagai orangtua atau guru, kita juga dapat menjadi (mencontoh) guru seni Ram Shankar Nikumbh (Aamir Khan) yang membantu anak pengidap disleksia Ishaan Nandkishore Awasthi (Darsheel Safary) menjadi bintang dalam film Taare Zameen Par.[]


--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar