Minggu, 31 Mei 2015

Indonesia bukan tak mampu memproduksi garam industri, hanya...


From: Suhardono 


2016 Pun Indonesia Masih Belum Bisa Lepas dari "Jerat" Impor Garam

Kamis, 28 Mei 2015 | 16:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia masih belum bisa lepas dari jerat impor garam pada 2016. Setidaknya hal itu bisa tercermin dari pernyataan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Partogi Pangaribuan. 

Menurut dia, kebutuhan garam nasional yang tinggi sementara produksi dalam negeri yang rendah memaksa pemerintah harus melakukan impor terutama garam untuk keperluan industri. "Terpaksa kita impor (garam) untuk keperluan Januari-Juni (2016 nanti)," ujar Partogi usai acara Seminar Nasional Garam 2015 di Jakarta, Kamis (28/5/2015). 

Dia menjelaskan, saat ini kebutuhan garam nasional untuk konsumsi sebanyak 1,7 juta ton dan garam untuk industri sebanyak 2,1 juta ton per tahun. Sementara itu, produksi garam nasional hanya 2,1 juta ton, itu pun garam konsumsi bukan garam industri. 

Menurut Partogi, garam konsumsi dan Industri memiliki perbedaan yaitu pada kadar NaCl-nya. Untuk garam konsumsi, kadar NaCl ada di bawah 98 persen. 

Sementara garam industri, kadar NaCl harus mencapai 98 persen. "Garam konsumsi kita sisa sekitar 400 ribu ton setiap tahun. Misalnya, jika sisa garam konsumsi itu dikembangkan kembali dengan meningkatkan kandungan NaCl hingga 98 persen, maka pemerintah masih akan tetap impor garam (1,7 juta ton garam industri) karena kebutuhan garam industri hanya berkurang 400 ribu ton (dari kebutuhan 2,1 juta ton)," kata Partogi. 

Sebenarnya kata dia, Indonesia bukan tak mampu memproduksi garam industri, hanya saja saat ini Indonesia memiliki kekurangan sumberdaya salah satunya yaitu masalah lahan. Misalnya kata dia di Nusa Tenggara Timur (NTT) meski secara iklim sangat baik untuk budidaya garam, namun bermasalah secara lahan. 

Oleh karena itu, kata dia, pembangunan industri garam merupakan hal yang sangat penting untuk Indonesia ke depan dan mengakhiri ketergantungan impor garam.

Kamis, 28 Mei 2015

Makan dg lauk macam2


Sawah di lereng bukit


Sempurna


Kurma dan coffee mix


Yen diwalik?


From: Suhardono 


Yen diwalik piye? Sing jajan nang PKL sing didenda... Tapi kawis mlebu pengunjunge wis diwenehi ngerti. Aja malah dijebak. 


Tidak Diizinkan Masuk, PKL Nekat Loncati Pagar Monas

Kamis, 28 Mei 2015 | 15:46 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com — Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) yang biasa berjualan di area Monumen Nasional, Jakarta Pusat, nekat meloncati pagar kawasan tersebut, Kamis (28/5/2015). Mereka loncat karena tak diizinkan masuk melalui pintu utama.

Hal itu mereka lakukan agar tetap bisa berjualan di dalam pagar area Monas. Pantauan Kompas.com, sejumlah titik di area selatan Monas yang dulunya sering menjadi titik keluar masuk PKL saat ini memang telah ditutup. 

Untuk bisa keluar masuk, pengunjung harus melewati pintu yang ada di sisi barat daya, tepat di seberang Menara Indosat. Kondisi ini membuat PKL tak lagi leluasa memasukkan barang-barang dagangannya ke dalam pagar area Monas. 

Melompati pagar pun menjadi salah satu cara yang mereka lakukan. "Kita cuma mau cari makan. Kalau enggak kayak gini, kita mau makan apa," ujar salah satu PKL, Fuad. 

Kawasan area di dalam pagar Monas sampai dengan hari ini masih marak PKL, mulai dari yang berjualan makanan, aksesori, maupun minuman. Padahal, sudah hampir sepekan terakhir Lenggang Jakarta beroperasi. 

Lenggang Jakarta merupakan tempat yang menjadi lokasi binaan bagi para PKL Monas. Penertiban PKL melalui pembuatan Lenggang Jakarta bertujuan untuk meningkatkan kualitas dagangan, terutama makanan yang dijajakan di Monas.

Makanan bule


Barbuk


Gorengan


Minggu, 24 Mei 2015

Tangi


Baksonya


Pengungkapan


Kalau serius pasti ada solusi dan jalan keluarnya


From: Suhardono 


Pesan SBY ke Jokowi untuk Hadapi Kisruh KPK-Polri

Kamis, 14 Mei 2015 | 19:21 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono memberikan saran kepada Presiden Joko Widodo untuk menghadapi kisruh antara Komisi Pemberantasan Korupsi dan Polri. Selama sepuluh tahun memimpin Indonesia, SBY juga setidaknya pernah dua kali menghadapi kisruh serupa dan berhasil mengatasinya. 

"Mungkin tidak sama yang saya hadapi dengan Pak Jokowi. Tetapi Pak Jokowi akan belajar dari semua itu, kalau hadapi masalah yang sama akan lebih siap," kata SBY dalam wawancara dengan Pemimpin Redaksi Kompas TV Rosianna Silalahi, Kamis (14/5/2015) petang. 

SBY menjelaskan, konflik kepentingan antara KPK dan Polri sebenarnya sudah sering terjadi di banyak negara. Di Hongkong misalnya, kepolisian di sana sempat bereaksi keras saat lembaga KPK didirikan. 

Namun konflik kepentingan antara dua institusi penegak hukum itu bisa diselesaikan dengan baik. Kuncinya, pemerintah harus mengambil pilihan-pilihan yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini. 

"Waktu itu pilihan yang kami ambil kebetulan tepat," ucap Ketua Umum Partai Demokrat itu. Ke depannya, kata dia, akan banyak lagi masalah yang akan dihadapi Jokowi, tidak hanya terbatas pada kisruh KPK-Polri. 

SBY pun mengaku tidak akan mudah menyalahkan penerusnya itu karena masalah yang ada di Indonesia begitu kompleks. Dia hanya berharap, Jokowi tetap terus menjalankan tugasnya sebagai pemimpin dengan penuh tanggung jawab. 

"Pesan saya untuk Pak Jokowi, maju terus. Jangan khawatir dan cemas karena banyak persoalan, itu lah Indonesia. Kalau serius pasti ada solusi dan jalan keluarnya," ucap dia.

KEKUATAN KATA: MENGENAL BUKU “THE MULTIPLE INTELLIGENCES OF READING AND WRITING”-NYA THOMAS ARMSTRONG (3)


From: hernowo mengikatmakna 


Seri Pengetahuan Home Reading 28

KEKUATAN KATA: MENGENAL BUKU "THE MULTIPLE INTELLIGENCES OF READING AND WRITING"-NYA THOMAS ARMSTRONG (3)

Oleh Hernowo

 

 

Bayangkan seorang anak balita yang baru saja menemukan kata baru "Up!" dan sering mengulang-ulang mengucapkan kata tersebut untuk disampaikan kepada anggota keluarganya. Kata ini memiliki kekuatan ajaib. Hanya dengan mengucapkan satu kata itu, berbagai aktivitas fisik pun terjadi. Seorang anak dapat meminta ibunya untuk mendatanginya dan kemudian mendudukkannya di kursi untuk menerima suapan makan dari ibunya.

 

Atau dia dapat diangkat, digendong, dipeluk oleh ayahnya. Bahkan apabila satu kata itu ditujukan kepada kakaknya, dia pun lantas diletakkan di punggung kakaknya dan kemudian dikelilingkan ke sudut-sudut rumahnya untuk melihat seisi rumah. Di usia itu, anak balita tersebut tentu saja tidak dapat melakukan aktivitas fisik yang beragam seperti itu. Namun, berkat satu kata "Up!" berbagai aktivitas fisik pun terjadi dengan sendirinya.

 

Kata memiliki kekuatan. Kata memiliki otot.         

 

Di Bab 2 buku The Multiple Intelligences of Reading and Writing—setelah di Bab 1 Armstrong menjelaskan secara ringkas apa itu multiple intelligences—saya menemukan kekuatan kata dalam menggerakkan aktivitas fisik. Armstrong ingin mengaitkan kecerdasan linguistik dengan kecerdasan kinestetik (body smart). Dan saya menikmati sebuah pemaparan mengasyikkan tentang sejarah kata-kata yang hampir semuanya tak bisa dilepaskan dari aktivitas fisik.

 

Sebelum muncul mesin ketik dan laptop, dahulu deretan kata ditulis di atas kulit atau kertas lewat upaya fisik yang cukup rumit. Pena dipegang oleh beberapa jari tangan, lantas dicelupkan di gelas tempat tinta berada, dan kemudian disapukan di atas kulit atau kertas untuk membentuk kata-kata bermakna. Yang menakjubkan, dengan menggerak-gerakkan tangan saja seorang orator yang lupa menyampaikan kata-kata saktinya tiba-tiba dapat mengingat dan secara lancar menyampaikan kata-kata sakti yang sebelumnya tiba-tiba hilang ditelan oleh kecamuk yang semrawut di dalam pikirannya.

 

 

Jika Anda sempat membaca Seven Times Smarter: 50 Activities, Games, and Projects to Develop the Seven Intelligences of Your Child karya Laurel Schmidt, Anda akan menemukan bagaimana anak-anak dapat bermain kata-kata yang dikaitkan dengan aktivitas fisiknya. Berpijak pada konsep mutltiple intelligences, Laurel ingin menunjukkan bahwa setiap anak dapat mengasah kemampuan membaca dan menulis (kecerdasan linguistik)-nya apabila ketika membaca atau menulis, seorang anak menggunakan kecerdasan yang dikuasai atau disenanginya—apakah itubody, picture, music, atau …-smart yang lainnya.

 

Buku The Multiple Intelligences of Reading and Writing karya Armstrong ini memang memiliki tujuan khsusus sebagaimana disampaikan Laurel Schmidt. Menurut Amstrong apabila gagasannya ini dapat diterima dan diterapkan, tak akan ada lagi anak-anak yang dicap sebagai memiliki penyakit (kesulitan) membaca atau dileksia. Anak-anak yang dianggap mengidap disleksia dapat diatasi (disembuhkan) dengan memberikan pelatihan membaca yang dikaitkan dengan salah satu kecerdasan yang menonjol miliknya atau kecerdasan yang disenanginya. Film Taare Zameen Par (yang saya tafsirkan sebagaiSetiap Anak adalah Bintang) yang mengharukan itu adalah buktinya.

 

Juga pengalaman Pak Munif Chatib—penulis buku best sellerSekolahnya Manusia—dalam mendidik putrinya, Bella, yang dianggap terkena disleksia. Menurut Pak Munif, Bella akhirnya dapat meneruskan pendidikan tingginya dengan mengambil spesialisasi desainer busana. Dengan bangga dan penuh rasa syukur, Pak Munif memperlihatkan rancangan-rancangan putrinya lewat gawai miliknya kepada saya. Pengalaman mendidik putrinya yang dianggap disleksia ini rencananya akan dikisahkan dalam bentuk novel.

 

Kita layak menunggu buku karya berikut Pak Munif yang berkisah tentang cara-cara Pak Munif dalam mendidik putrinya, Bella (yang dianggap terkena disleksia), sehingga Pak Munif berhasil mengantarkan Bella menempuh pendidikan tingginya. Sebagai orangtua atau guru, kita juga dapat menjadi (mencontoh) guru seni Ram Shankar Nikumbh (Aamir Khan) yang membantu anak pengidap disleksia Ishaan Nandkishore Awasthi (Darsheel Safary) menjadi bintang dalam film Taare Zameen Par.[]


--

Nah


Untuk Ditonton


Miung fancy


Katak daun


Praktek permesinan


Sabtu, 23 Mei 2015

Kasihan pengantin wanita nya


Kakap goreng


nasehat


From: Suhardono 


SBY Minta Jokowi Jaga Hubungan Baik dengan Megawati

Kamis, 14 Mei 2015 | 18:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono meminta Presiden Joko Widodo untuk menjaga hubungan baik dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Sebab, Jokowi bukanlah ketua umum ataupun seseorang yang mempunyai jabatan strategis di partai yang mengusungnya.

"Kalau seorang presiden bukan ketua partai, yang penting hubungan presiden itu dengan pimpinan partainya baik. Kalau baik, saling menghormati, saya rasa tidak ada (gangguan)," kata SBY dalam wawancara eksklusif dengan Kompas TV, Kamis (14/5/2015).

SBY menjelaskan, dalam sistem multipartai yang dianut Indonesia, presiden yang menjabat sebagai ketua umum partai memang lebih diuntungkan. Sebab, dia bisa langsung mengontrol partai yang mengusungnya di parlemen.

Namun, posisi ketua umum yang dijabat presiden juga bukanlah sebuah jaminan. Presiden juga harus melakukan konsolidasi dan memastikan semua programnya berjalan lancar tanpa hambatan.

Ketua Umum Partai Demokrat ini pun menilai wajar apabila saat ini Jokowi masih kesulitan dalam berkomunikasi dengan partai pengusungnya. Sebab, pemerintahan Jokowi baru berjalan sekitar enam bulan.

"Ini kan belum setahun, mungkin Jokowi masih konsolidasi. Pada saatnya nanti akan terbangun hubungan harmonis Jokowi dengan Ibu Mega dan dengan semuanya," ucap SBY.


--

Sesungguhnya Mereka Tidak Memiliki Kepedulian !!!


From: A.Syauqi Yahya 


Pasar Klewer, Pasar Johar, dan tentang Kepedulian Kita

http://m.kompasiana.com/post/read/717978/3/pasar-klewer-pasar-johar-dan-tentang-kepedulian-kita-.html

Isson Khairul
16 May 2015 | 19:11

Sumber: Pasar Klewer, Solo, terbakar pada Sabtu, 27 Desember 2014 dan Pasar Johar, Semarang, terbakar juga pada Sabtu, 9 Mei 2015. Kedua pasar tersebut juga sama-sama berada di Provinsi Jawa Tengah. Kedua pasar itu pun sama-sama pasar yang sangat bersejarah. Dari musibah kedua pasar ini, kita bisa berkaca tentang kepedulian kita. Foto: kompas.com dan tribunjateng.com
Ketika Pasar Johar terbakar, kita tahu bahwa pasar yang bersejarah itu tidak dilengkapi sistem penanggulangan kebakaran. Kita juga tahu, rupanya pilar hidran hanya ditemukan di bagian depan pasar, itu pun tidak berfungsi optimal. Empat bulan sebelumnya, ketika Pasar Klewer terbakar, kita juga tahu, ternyata hidran yang berada di dalam pasar tersebut, tidak berfungsi.

Akibatnya, petugas pemadam kebakaran di kedua pasar tersebut tidak mendapatkan sumber air terdekat dengan jumlah yang cukup untuk segera memadamkan api. Akibat lanjutannya, proses pemadaman berlangsung dalam waktu yang lama, yang tentu saja kalah cepat dibanding kerakusan api melahap bangunan pasar beserta isinya. Pada akhirnya, api memang padam, tapi setelah semuanya berubah menjadi abu… dan debu.

Kalaulah Benar Kita Peduli

Kalaulah benar kita peduli kepada rakyat, kita pastilah sangat paham, betapa berartinya kedua pasar itu bagi kehidupan rakyat. Ada ratusan orang, bahkan mungkin ribuan nyawa, yang telah bertahun-tahun menggantungkan sumber penghidupan mereka di pasar tersebut. Secara angka pun, ada ratusan juta, bahkan mungkin miliaran rupiah uang yang berputar di pasar itu dalam sebulan.

Meski demikian, nyatanya tak ada yang peduli dengan kedua pasar tersebut, tak ada yang mau tahu, apakah perangkat pemadam kebakaran di kedua pasar itu masih layak atau tidak, memadai atau tidak, berfungsi atau tidak. Juga, tak ada yang peduli, apakah pernah atau tidak, diadakan latihan pemadaman kebakaran di kedua pasar tersebut.

Padahal, sebagai sebuah pasar, sebuah ruang publik, tentulah ada standar minimal yang menyertainya. Misalnya, ada toilet umum, ada air bersih, ada musholla, dan ada perangkat pemadam kebakaran. Selain itu, ada struktur standar yang mengelola sebuah pasar. Misalnya, ada kepala pasar, ada petugas kebersihan, dan ada petugas keamanan.

Pertanyaannya, apakah kedua pasar tersebut memenuhi standar minimal sebuah pasar? Dari sektor perangkat kebakaran, jelas tidak memenuhi. Dari aspek kepemimpinan, apakah kedua pasar tersebut memiliki Kepala Pasar? Bila ada, maka statusnya tak lebih dari wujud hidran yang ada di kedua pasar itu: ada tapi tidak berfungsi optimal. Ada tapi tak memiliki kepedulian.



Ini adalah petikan berita tentang kebakaran Pasar Johar, Semarang, dariprint.kompas.compada Senin (11/5/2015) lalu. Juga, terlampir petikan berita tentang kebakaran Pasar Klewer, Solo, darirepublika.co.idpada Senin (29/12/2014) lalu. Setidaknya, ini menjadi catatan bagi kita semua, tentang realitas sistem penanggulangan kebakaran di kedua pasar tersebut. Juga, menjadi catatan tentang kepedulian kita terhadap mereka yang disebutrakyat, terhadap sesuatu yang kita nilaibersejarah.

Kalaulah Benar Ada Tanggung Jawab

Pertanyaan berikutnya, apakah Pemerintah Kota Surakarta atau Solo, tempat berdirinya Pasar Klewer, menerima masukan pajak dari transaksi yang terjadi di Pasar Klewer? Kalau iya, berarti Pemda Kota Solo telah menempatkan Pasar Klewer sebagai aset yang bernilai ekonomi. Pemda yang bertanggung jawab tentulah memelihara aset ekonomi yang dimilikinya, karena itu menjadi salah satu sumber pendapatan pajak bagi Pemda yang bersangkutan. Demikian pula halnya dengan Pasar Johar bagi Pemda Kota Semarang.

Pemda Kota Solo dan Pemda Kota Semarang, bukanlah Pemda yang baru terbentuk kemarin sore. Walikota kedua kota itu sudah berganti beberapa kali. Artinya, mereka tentulah paham tentang tata-kelola Pemda serta bagaimana strategi menata Pasar yang menjadi aset ekonomi di wilayah mereka. Dengan demikian, Pemda yang bersangkutan juga memahami sepenuhnya hak dan tanggung jawab mereka terhadap tiap aset ekonomi tersebut.

Bila Pemda Kota Solo dan Pemda Kota Semarang memiliki Petugas Pajak untuk memungut pajak dari transaksi yang terjadi di Pasar Klewer dan Pasar Johar, maka sudah semestinya kedua Pemda tersebut juga memiliki Petugas Pemadam Kebakaran, yang salah satu tugasnya melindungi keberadaan kedua pasar tersebut, dari bahaya kebakaran. Dengan kondisi hidran di Pasar Klewer dan Pasar Johar tersebut, keberadaan Petugas Pemadam Kebakaran di kedua Pemda itu tak lebih dari wujud hidran yang ada di sana: ada tapi tidak berfungsi optimal. Ada tapi tak memiliki kepedulian.

Kalaulah Benar Kita Cermat

Sesuatu yang bersejarah, sesuatu yang bernilai, pada akhirnya hanya untuk dilupakan, diabaikan. Karena, ketidakpedulian sudah menjadi bagian dari tradisi kita. Bahkan, mungkin sudah mendarah-daging. Masalah kelengkapan perangkat penanggulangan kebakaran di Pasar Klewer dan Pasar Johar, sesungguhnya bukan hal baru. Media sudah mengungkapkannya sejak beberapa tahun lalu. Namun, apa yang diungkapkan tersebut, pada akhirnya hanya untuk dilupakan, diabaikan.

Ini adalah petikan berita tentang kelengkapan perangkat penanggulangan kebakaran di Pasar Johar, Semarang, dariSuara Merdekapada Senin (12/9/2011) lalu.Juga, terlampir petikan berita tentang kelengkapan perangkat penanggulangan kebakaran di Pasar Klewer, Solo, dariSuara Merdekapada Selasa (11/3/2003) lalu. Setidaknya, ini menjadi catatan bagi kita semua, tentang realitas sistem penanggulangan kebakaran di kedua pasar tersebut. Juga, menjadi catatan tentang kepedulian kita terhadap mereka yang disebutrakyat, terhadap sesuatu yang kita nilaibersejarah.

Kalaulah benar kita cermat membaca apa yang diungkapkan media tersebut, tentulah sejumlah langkah antisipasi sudah dilakukan. Bahwa bencana kebakaran adalah sesuatu yang di luar kendali kita, setidaknya dengan persiapan perangkat penanggulangan kebakaran yang memadai, proses pemadaman tentu akan lebih cepat. Ini juga mungkin bisa meminimalkan tingkat kerugian yang harus ditanggung para pedagang, yang sesungguhnya adalah rakyat.

Tapi, ya begitulah realitasnya. Di musim kampanye, pasar memang menjadi tempat favorit bagi politisi untuk menebar janji mereka. Pasar Klewer mungkin sudah berkali-kali didatangi politisi. Demikian pula dengan Pasar Johar. Apakah kedatangan mereka sama artinya dengan nilai kepedulian mereka? Setelah Pasar Klewer dan Pasar Johar jadi abu, kita tahu bahwa sesungguhnya mereka tidak memiliki kepedulian. Sesuatu yang bersejarah, sesuatu yang bernilai, pada akhirnya hanya untuk dilupakan, diabaikan.

Jakarta, 16 Mei 2015

Dibaca : 39 kali

--

Gamelan


Jumat, 22 Mei 2015

Es yg enak


Kisah Bung Karno dan Istri-istrinya


From: A.Syauqi Yahya 


Kisah Bung Karno dan Istri-istrinya

http://m.news.viva.co.id/news/read/627789-kisah-bung-karno-dan-istri-istrinya

Hadi Suprapto, Dody Handoko
Rabu, 20 Mei 2015, 06:56 WIB

VIVA.co.id- Dalam buku Soekarno dalam Sarinah, dituliskan pandangan Bung Karno terhadap perempuan. Bahwa mereka, adalah bagian mutlak perjuangan kemerdekaan, oleh karena itu peran sertanya sejajar dan sangat dibutuhkan.

Dalam biografinya Soekarno, An Autobiography as Told to Cindy Adams, Bung Karno bercerita tentang istri-istrinya. Ketika Bung Karno usianya belum genap 20 tahun. Tahun 1921, di Surabaya, dia menikah dengan Siti Oetari, gadis usia 16 tahun, putri sulung tokoh Serikat Islam, Haji Oemar Said Tjokroaminoto, pemilik rumah tempatnya menumpang ketika dia di sekolah lanjutan atas.

Beberapa saat sesudah menikah, Bung Karno meninggalkan Surabaya, pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Tjokroaminoto, ayah mertuanya, membantu mencarikan tempat indekos dengan menghubungi teman lamanya, Sanusi, seorang guru.

Bung Karno tiba di Bandung, dijemput Sanusi di stasiun dan langsung diajak ke rumahnya.


Sejumlah Wanita Cantik dalam Kehidupan Bung Karno
Saat melihat Inggit, Bung Karno mengungkapkan, "Sekali pun aku belum memeriksa kamar, tetapi jelas ada keuntungan tertentu di rumah ini. Keuntungan utama justru berdiri di pintu masuk dalam sinar setengah gelap. Raut tubuhnya tampak jelas, dikelilingi oleh cahaya lampu dari arah belakang. Perawakannya kecil, sekuntum bunga cantik warna merah melekat di sanggul dengan senyum menyilaukan mata. Namanya Inggit Garnasih, istri Haji Sanusi."

Menurut Bung Karno, Sanusi adalah seorang tukang judi yang setiap malam terus-menerus menghabiskan waktunya di tempat bilyar. Maka mudah diduga apa yang bakal terjadi.

"Aku seorang yang sangat kuat dalam arti jasmaniah dan pada hari-hari itu belum ada televisi. Hanya Inggit dan aku berada di rumah yang selalu kosong. Dia kesepian. Aku kesepian. Perkawinannya tidak betul. Perkawinanku tidak betul. Adalah wajar, hal-hal yang demikian itu kemudian tumbuh".

Inggit, janda cerai selama empat bulan tersebut kemudian menikah dengan Bung Karno pada pertengahan 1923. Selama 20 tahun hidup perkawinannya bersama Bung Karno, dengan setia dia menjenguk suaminya ketika disekap di Penjara Sukamiskin.

Kesetiaan luar biasa mengikuti suaminya menjalani pengasingan di Flores, sambil mengajak ibu dan dua anak angkatnya. Asmi, ibu mertua Bung Karno, tutup usia ketika mendampingi menantunya di tempat pembuangan.

Pada usia 40 tahun, Bung Karno ingin menikah lagi dengan memakai alasan sangat mendasar, soal anak. Inggit menolak dimadu. Ia akhirnya menyerahkan Bung Karno kepada Fatmawati, bekas putri angkatnya dalam masa pembuangan di Bengkulu. Bersambung.

©VIVA.co.id

dicecar...


From: Suhardono



DPR Cecar Faisal Basri Sebut Nama Mafia Migas

Dana Aditiasari - detikfinance
Rabu, 20/05/2015 21:49 WIB


Jakarta -Komisi VII DPR terus mendesak agar mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi Faisal Basri, mengungkapkan siapa mafia migas. Namun sayangnya Faisal tetap tak bergeming.

"Yang Bapak sebutkan hanya modus. Tadi Bapak menguraikan beberapa temuan (permainan mafia) harusnya Bapak juga dapat pelaku Pak, sebut saja Pak, jangan takut Pak, dari pada bapak ngomongtanggung-tanggung, di media sosial sudah ramai, sebut saja sekarang Pak, ini forum resmi," ungkap Anggota Komisi VII Fraksi PDIP Yulian Gunhar, dalam rapat dengan mantan anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas, di Ruang Komisi VII, Rabu (20/5/2015).

Desakan yang sama juga diungkapkan Anggota Komisi VII dari Fraksi Golkar Surya Alam. Ia meminta Faisal segera mengungkapkan, nama mafia migas yang selama ini bermain.

"Menurut kami ini Pak Faisal belum tegas, sebutkan nama-nama, atau langkah-langkah time frame, agar masalah ini bisa cepat diselesaikan. Rekomendasi Tim sebaiknya harus selesai berapa lama agar efektif, agar diketahui dampaknya seperti apa," kata Surya.

Namun, sejak awal Faisal menegaskan, timnya tidak mengejar pelaku atau mafia migas. Timnya menyusun rekomendasi agar tata kelola migas menjadi lebih baik, sehingga mempersempit adanya permainan mafia migas.

"Nama tim ini bukan Tim Anti Mafia Migas, melainkan Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi. Tugas kami bukan memberantas mafia, tapi memperbaiki tata kelola migas, kalau tata kelola lembaganya beres, mafianya nggak akan bisa berkutik," ungkap Faisal.

--

Presiden juga manusia, bisa saja nggak ngerti...


From: Suhardono


Faisal Basri: Terlalu Naif Presiden Tak Tahu Menterinya Mau Bubarkan Petral

Dana Aditiasari - detikfinance
Rabu, 20/05/2015 23:01 WIB


Jakarta -Dalam beberapa hari terakhir polemik pembubaran anak usaha PT Pertamina (Persero) yakni Pertamina Energy Trading Limited (Petral) ramai dibicarakan. Salah satunya terkait pernyataan Menteri ESDM Sudirman Said yang mengungkapkan Pembubaran Petral sebelumnya selalu mentok di Kantor Presiden terdahulu.

"Nggak fair kalau dikatakan Petral tidak dibubarkan itu salah Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Tadi kan Pak Faisal sendiri bilang, Petral sudah ada sejak Zaman Soeharto. Lalu bagaimana presiden-presiden setelah Soeharto? Bagaimana Gus Dur, bagaimana Megawati dan seterusnya?" kata Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Demokrat M. Nasir, ketika mencecar mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri, di Ruang Komisi VII, Rabu (20/5/2015).

Menanggapi hal tersebut, Faisal menegaskan secara implisit, bahwa tidak mungkin ada presiden yang tidak tahu ada menteri yang ingin membubarkan Petral. Sepertinya ini mengacu kepada keinginan Dahlan Iskan saat menjadi Menteri BUMN di zaman Presiden SBY.

"Sebenarnya saya nggak dalam posisi yang kredibel untuk mengatakan, bahwa kesalahan di pemerintahan terdahulu. Tapi menurut saya, terlalu naif kalau ada presiden mengaku nggak tahu kalau ada menterinya yang ingin membubarkan Petral," ungkap Faisal.

Ia juga menegaskan, pembubaran Petral di pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat ini pun, bukan dirinya atau Tim Reformasi Tata Kelola Migas yang merekomendasikan.

"Tapi saya juga katakan, bukan berarti saya juga merekomendasikan, saya tidak merekomendasikan ke Menteri ESDM untuk melontarkan (pembubaran Petral) itu," tutup Faisal.

Seperti diketahui, melalui akun Twitternya, yaitu @SBYudhoyono, SBY merasa difitnah terkait ucapan Menteri ESDM Sudirman Said pada hari Minggu lalu mengatakan, selama ini pembubaran Petral selalu mentok di meja Presiden terdahulu, yaitu SBY.

Bubur ayam


Baca doa


Selasa, 19 Mei 2015

dinasehati mahasiswa


From: Suhardono 


"Presiden Ngeluh, Tidak Ada Satu Pun Bidang yang Tidak Ada Mafianya"

Selasa, 19 Mei 2015 | 03:03 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - Pimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi menyampaikan kritiknya atas kerja pemerintah yang lamban memperbaiki perekonomian dan juga tak menggubris revolusi mental kepada Presiden Joko Widodo, Senin (18/5/2015) malam. Menjawab kritik itu, Jokowi pun menumpahkan pengalamannya menjadi Presiden yang harus menghadapi mafia di segala sisi.

"Kami menyampaikan pula persoalan revolusi mental, birokrasi. Saat ini seolah Presiden tidak bertanggung jawab atas pemikiran revolusi mental itu," ujar Ketua BEM UI Andi Aulia Rahman usai pertemuan.

Mendengar kritik itu, lanjut Andi, Jokowi justru mengungkapkan curahan hatinya selama menjadi Presiden. Mengutip perkataan Jokowi, Andi menceritakan bahwa mantan Gubernur DKI Jakarta itu tengah dihadapi dilema.

"Presiden dengan ngeluh bahwa dia masuk ke pemerintahan, tidak ada satu pun bidang yang tidak ada mafianya," ucap Andi.

Presiden Jokowi mengaku butuh waktu untuk memperbaiki semua kekacauan yang ada. Namun, menurut Andi, sebagai seorang presiden, Jokowi seharusnya berpikir cepat dan mengambil langkah taktis.

"Saya belum puas dengan penjelasan-penjelasannya," ucap dia.

Andi mengkritik Jokowi boleh jadi mahir dalam menjelaskan cita-citanya secara garis beras. Namun, ketika ditanyakan konsep, Jokowi tak menguasainya. Demikian pula dengan isu-isu lain yang dikesampingkan Jokowi seperti isu hukum dan politik.

Hal lainnya yang disinggung dalam pertemuan pimpinan BEM dan Jokowi adalah soal kenaikan harga bahan bakar minyak, peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang mewajibkan masa belajar lima tahun di perguruan tinggi, hingga persoalan kasus HAM seperti Tragedi Trisakti.

Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti Muhammad Puri Andamas menambahkan pihaknya cukup puas dengan komitmen Presiden Jokowi untuk segera menindaklanjuti perkara HAM.

"Hari ini ada titik terang kasus HAM karena seluruh rekomendasi yang kami sampaikan dari Trisakti dan Atmajaya diterima. Beliau janji untuk mem-follow upnya minggu depan," ujar Puri.

Di dalam pertemuan itu, perwakilan BEM yang hadir berasam dari UI, Universitas Gadjah Mada, Universitas Padjajaran, Universitas Trisakti, Universitas Atmajaya, dan Universitas Parahyangan.

--

Obat sakit kepala


Kirik panda


Wis


Lowongan Kerja


From: Suhardono


Banyak Hukuman Mati, Arab Saudi Iklankan Lowongan Eksekutor

Selasa, 19 Mei 2015 | 05:35 WIB


KOMPAS.com — Pemerintah Arab Saudi mengiklankan lowongan kerja untuk delapan orang pelaksana hukuman mati atau eksekutor yang biasanya dilakukan dengan cara pemenggalan kepala di depan umum sesudah shalat Jumat.

Tak ada kualifikasi khusus yang dibutuhkan untuk pekerjaan yang tugas utamanya adalah "melaksanakan hukuman mati" dan juga amputasi untuk pelaku kejahatan yang lebih kecil.

Iklan lowongan kerja ini, menurut kantor berita Reuters, dipasang di portal lowongan kerja di Kementerian Pegawai Negeri Arab Saudi.

Arab Saudi berada di urutan ketiga, sesudah Tiongkok dan Iran, untuk negara yang paling banyak menjatuhkan hukuman mati di dunia.

Urutan keempat dan kelima, menurut Amnesty International, adalah Irak dan Amerika Serikat.

Dalam catatan Amnesty, hari Minggu (17/5/2015), Arab Saudi menghukum mati orang ke-85, sementara di sepanjang tahun 2014, negara tersebut sudah mengeksekusi 88 orang.

Kebanyakan dari terpidana mati terkait kasus pembunuhan, tetapi 38 di antaranya terlibat kasus obat-obatan terlarang.

Lebih dari separuh terpidana mati adalah warga negara Arab Saudi sendiri dan sisanya berasal dari Pakistan, Yaman, Suriah, Jordania, India, Indonesia, Burma, Chad, Eritrea, Filipina, serta Sudan.

Pemerintah Arab Saudi tidak menjelaskan mengapa terjadi peningkatan jumlah eksekusi hukuman mati. Namun, para diplomat menduga hal itu mungkin terkait penunjukan hakim-hakim baru untuk mengurangi tumpukan kasus di pengadilan.

Sabtu, 16 Mei 2015

SBY: Partai Lain Banyak Juga yang Korupsi


From: Suhardono 


SBY: Partai Lain Banyak Juga yang Korupsi

Kamis, 14 Mei 2015 | 18:13 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono merasa selama 10 tahun terakhir partainya kerap diperlakukan secara tidak adil oleh publik. Partai Demokrat dicap seolah-olah sebagai sarang koruptor. 

"Ada sedikit ketidakadilan karena mungkin Demokrat saat itu ruling party meski partai lain banyak juga yang korupsi," kata SBY dalam wawancara dengan Kompas TV, Kamis (14/5/2015) petang. 

Sejumlah elite Demokrat memang terjerat kasus korupsi di Komisi Pemberantasan Korupsi, seperti Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng, Nazaruddin, Jero Wacik, Sutan Bhatoegana, dan Angelina Sondakh. 

Namun, SBY menilai, terjeratnya sejumlah elite Demokrat itu disebabkan karena dia selaku Presiden saat itu tidak pernah mencoba mengintervensi KPK. 

"Tetapi, karena gempuran pengamat politik, seolah hanya Partai Demokrat. Saya kan pemimpin waktu itu, Presiden. Saya harus adil untuk semua. Tidak boleh menyuruh KPK menangkap atau membebaskan seseorang," ujar Presiden dua periode ini. 

Saat itu, sebagai pemimpin negara, SBY mengaku hanya berpesan satu hal kepada KPK, yakni tidak melakukan penegakan hukum secara tebang pilih. "Saya tidak mungkin melindungi kalau ada kader Demokrat terjerat korupsi," ujarnya.

akhirnya...


From: Suhardono 


Asiiik, setelah ada bus (HIBA) ke Bandara Soeta, akhirnya (akan) dilewati Trans juga. Eh tapi 2016 sudah ada kereta api ke Bandara ya?




Transjabodetabek Segera Layani Warga Depok, Bogor, dan Tangerang

Jumat, 15 Mei 2015 | 09:39 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Layanan bus transjabodetabek dalam waktu dekat akan kembali menambah rute layanannya. Setelah pada Oktober lalu mulai melayani warga Tangerang Selatan, tak lama lagi layanan bus yang merupakan rancangan dari Kementerian Perhubungan itu akan mulai melayani warga Depok, Bogor, dan Tangerang. 

Seperti halnya dengan rute dari Tangerang Selatan, layanan bus transjabodetabek dari Depok, Bekasi, dan Tangerang akan dioperasikan oleh Perusahaan Pengangkutan Djakarta (PPD). Total ada sekitar 78 unit bus transjabodetabek yang akan disebar untuk dioperasikan di tiga wilayah tersebut. 

"Ada 78 unit merek Hino untuk rute Depok, Bekasi, dan Poris Plawad (Tangerang). Saat ini, masih dalam proses pengurusan surat-surat," kata Perum PPD Pande Putu Yasa kepadaKompas.com, Kamis (14/5/2015). 

Menurut Pande, tarif transjabodetabek yang akan diberlakukan untuk rute dari Depok, Bekasi, dan Tangerang sama seperti rute dari Tangerang Selatan. Penumpang akan dikenakan tarif Rp 7.000. Dengan besaran harga tersebut, penumpang tidak perlu lagi mengeluarkan uang bila ingin meneruskan perjalanan dengan bus transjakarta. 

"Kalau dari transjakarta mau ke transjabodetabek, penumpang tinggal nambah Rp 3.500. Jadi, kalau dihitung-hitung, tetap Rp 7.000 juga. Tapi, kita masih mengkaji, sebab kalau rutenya lebih dari 30 kilometer, mungkin nanti bisa Rp 10.000," ujar Pande. 

Transjabodetabek adalah layanan bus yang merupakan program dari Kementerian Perhubungan. Layanan bus dirancang untuk melayani warga dari kota-kota penyangga yang sehari-hari beraktivitas di Jakarta. Berbeda dengan layanan bus angkutan perbatasan terintegrasi bus transjakarta (APTB), bus-bus transjabodetabek tidak masuk jalur bus transjakarta. 

Bus mengangkut penumpang dari kota penyangga dengan tujuan akhir halte yang berada di ujung koridor atau berada tak jauh dari perbatasan. Untuk layanan yang beroperasi dari Tangerang Selatan, rute yang dilayani adalah Ciputat hingga halte Blok M, yang merupakan halte yang berada di ujung Koridor 1. 

Pande belum bisa memastikan rute yang nantinya akan digunakan untuk bus transjabodetabek yang melayani Bekasi dan Tangerang. Namun, untuk Depok, ia menjelaskan bus nantinya akan melayani penumpang dari Terminal Depok hingga halte UKI Cawang, yang merupakan halte yang dilalui oleh bus transjakarta Koridor VII, IX, dan X. 

"Bus berangkat dari Terminal Depok, lewat Tol Cijago, Tol Jagorawi, berhenti di Cawang," ujar dia.

--

Gila...


From: Suhardono




Ahok: Gila, Rehab GOR Rp 400 Miliar, Masuk Akal Enggak?

Jumat, 15 Mei 2015 | 09:35 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menganggap anggaran rehabilitasi Gelanggang Olahraga (GOR) Velodrome terlalu besar. Pembangunan GOR baru saja tidak mencapai angka fantastis itu. Terlebih lagi, usulan anggaran ini hanya akan dialokasikan untuk rehabilitasi.  

"Apa yang mau direhab? Orang bikin satu resort saja yang begitu mewah cuma Rp 200 juta-Rp 400 miliar. Gila, rehab GOR Rp 400-an miliar, masuk akal enggak? Tapi, emang gila aja mereka ini," kata Basuki di Balai Kota, Jumat (15/5/2015).  

Basuki pun telah menginstruksikan Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) DKI Heru Budi Hartono untuk mengunci usulan anggaran yang diduga mark up ini. Basuki tak mau lagi ada persekongkolan antara konsultan dan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) DKI. 

Meski demikian, Basuki menegaskan, rehabilitasi GOR Velodrome tetap akan dilaksanakan. Dengan catatan, anggarannya akan dipangkas dan dialihkan untuk program lainnya. 

"Makanya, saya mau tarik semua duit ini. Dinas Olahraga dan Pendidikan termasuk Dinas Pekerjaan Umum itu aneh-aneh saja. Kami mulai kunci bertahap," kata Basuki.  

Rencananya, rehab GOR Velodrome akan dilaksanakan pertengahan tahun ini. Anggaran sebesar Rp 409 miliar ini dipergunakan untuk perbaikan tempat yang nantinya menjadi salah satu venue Asian Games 2018. 

Selain itu, perbaikan GOR Velodrome akan menggunakan anggaran multiyears. Menanggapi hal itu, Basuki memastikan rehab GOR Velodrome tidak dilaksanakan multiyears atau tahun jamak. 

"Batalin sajalah, pakai anggaran tahun 2016 saja. Ini kan cuma untuk ngebohongi kami saja," kata Basuki.

Selametke Pak Jo.


From: A.Syauqi Yahya


RABU, 13 MEI 2015 | 04:20 WIB

Warga Semarang Bentuk Lembaga Peduli Pasar Johar

http://www.tempo.co/read/news/2015/05/13/058665892/Warga-Semarang-Bentuk-Lembaga-Peduli-Pasar-Johar

Besarnya api yang menghanguskan seluruh bagian pasar Johar Semarang, membuat petugas pemadam kewalahan untuk mendapatkan suplai air, 10 Mei 2015.Terbakarnya pasar karya arsitek Belanda Thomas Karsten, membuat Pemerintah Kota menetapkan Tanggap Darurat Bencana hingga 14 hari kedepan. TEMPO/Budi Purwanto

TEMPO.CO , Semarang: Terbakarnya Pasar Johar pada Sabtu, 9 Mei 2015, memunculkan simpati publik Kota Semarang. Mereka secara swadaya membentuk lembaga penyelamat Pasar Johar yang diberi nama Selametke Pak Jo.

"Ini inisiatif sejumlah elemen masyarakat di Kota Semarang," kata inisiator sekaligus koordinator Selametke Pak Jo, Rukardi, Selasa 12 Mei 2015.

Sejumlah masyarakat ikut mendirikan perkumpulan penyelamatan Pasar Johar. Mereka di antaranya akademisi, budayawan, seniman, arsitek, jurnalis, mahasiswa dan advokat. "Mereka peduli karena Pasar Johar menjadi ingatan kolektif orang Semarang maupun yang pernah hidup di Semarang," kata Rukardi.

Langkah awal Selametke Pak Jo itu dengan cara mendorong tim independen meneliti struktur Pasar Johar. Struktur pasar yang dimaksud adalah bangunan beton yang selama ini menjadi indentitas pasar Johar yang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya sejak 1980-an.

Menurut Rukardi, lembaga peduli Pasar Johar yang dibentuk itu khawatir dengan kondisi beton bangunan setelah terbakar. Dalam waktu dekat, Selametke Pak Jo berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) untuk meneliti kualitas beton pasar yang dulu diarsiteki oleh Thomas Karsten di masa kolonial. "Upaya mendatangkan BPCB itu mendesak karena terkait dengan Pasar Johar sebagai bangunan bersejarah," kata Rukardi.

Sebelumnya Menteri Perdagangan Rahmat Gobel menyatakan segera membangun ulang Pasar Johar yang telah terbakar.

Sementara itu, budayawan Kota Semarang, Djawahir Muhamad menyatakan keberadaan Pasar Johar sebagai simbol peradaban tua. "Pasar Johar bagian identitas kota tradisional. Itu sesuai history of Java, yang menunjukan ada masjid, alun-alun, pasar, penjara dan kadipaten," kata Djawahir.

Menurut Djawahir, Pasar Johar juga menunjukkan identitas kota metropolis di era lama. Arsitektur pasar itu menjadi bukti sejarah yang telah dilindungi undang-undang cagar budaya. "Jadi tak sembarangan dirobohkan," kata Djawahir.

Pasar Johar dinilai bagian dari peradaban tua Kota Semarang meliputi alun-alun di antaran Jalan Kauman atau depan masjid besar Agung Semarang, Jalan Agus Salim hingga dan Jalan Kali Semarang. "Sayangnya alun-alun kini hilang menjadi pasar," kata Djawahir.

EDI FAISOL