Minggu, 15 Maret 2015

Wik wik wik...!


From: A.Syauqi Yahya 


Sabtu, 14/03/2015 12:00 WIB

Wik wik wik...! Burung Uncuing Suaranya Boleh Seram, Tapi Justru Banyak Bantu Petani

http://m.detik.com/news/read/2015/03/14/120041/2858704/10/wik-wik-wik-burung-uncuing-suaranya-boleh-seram-tapi-justru-banyak-bantu-petani

Dhani Irawan - detikNews
foto: youtube
Jakarta - Wik wik wik wik wik...! Cuitan suara burung Uncuing yang nyaring banyak dianggap seram. Tak sedikit mitos berkembang kalau burung itu berbunyi, maka memberi tanda adanya orang yang akan meninggal di suatu tempat. Tapi itu hanya mitos saja.

Pakar Burung Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (Fahutan IPB) Dr Yeni Aryani Mulyani menyebut kalau suara burung itu justru sebagai alat komunikasi dengan sejenisnya. Memberi tanda wilayah dan menarik hati pasangannya.

"Jenis burung ini tak banyak yang tahu bahwa secara ekologi, bisa membantu petani. Sebagian besar jenis burung Kedasi adalah pemakan serangga bahkan berani memakan jenis-jenis ulat yang tampilannya mengerikan. Dengan demikian burung-burung kedasi bisa menjadi sahabat petani, yaitu dalam hal memakan serangga yang bisa menjadi hama," jelas Yeni, Sabtu (14/3/2015).

Burung Uncuing atau biasa dikenal sebagai burung Kedasi adalah nama yang diberikan bagi sekelompok burung anggota suku Kangkok atau Cuculidae, atau dalam bahasa Inggris disebut Cuckoo. Nama lain yang diberikan kepada kelompok ini adalah Wiwik atau Uncuing, atau Sirit Uncuing.

"Dikatakan, biasanya burung-burung ini terdeteksi dari suaranya yang nyaring tetapi jarang terlihat, sehingga tidak mudah mempelajari jenis-jenis burung ini. Burung ini tidak membuat sarang dan tidak mengerami telurnya, tetapi menitipkan telur dan pemeliharaan anaknya di sarang burung lain. Perilaku ini dikenal dengan brood parasitism atau parasitisme anakan atau parasitisme sarang," jelas dia.

Sebagaimana umumnya parasit, maka burung Kedasi atau Wiwik mendapatkan makanan dari inangnya, sementara inang akan menderita akibat parasitisme oleh Kedasi atau Wiwik ini. Beberapa jenis burung yang biasa menjadi inang misalnya adalah Cipoh kacat, Remetuk laut, Kipasan belang, dan jenis-jenis Perenjak dan Cinenen.

"Burung-burung tersebut berukuran lebih kecil daripada Kedasi," tutupnya.

(ndr/mad)

--
--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar