Senin, 16 Maret 2015

Kami kecewa,


From: A.Syauqi Yahya 


Senin, 16/03/2015 17:26 WIB

Kronologi Kasus Pembunuhan Sadis di Pekanbaru yang Pelakunya Dapat Grasi

http://m.detik.com/news/read/2015/03/16/172602/2860227/10/1/kronologi-kasus-pembunuhan-sadis-di-pekanbaru-yang-pelakunya-dapat-grasi

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Musniza, (Chaidir Anwar Tanjung/detikcom)
Pekanbaru - Terpidana mati kasus pembunuhan di Pekanbaru, Riau, Dwi Trisna Firmansyah (27), mendapat grasi dari Presiden Jokowi. Seperti apa kasus pembunuhan yang dilakukannya, berikut kronologi kasusnya seperti disampaikan saksi Musniza.

Musniza (43) merupakan adik kandung korban Agusni Bahar, dan juga saksi saat rekonstruksi kasus. Pelaku pembunuhan itu adalah, Candra, Dwi, Andi dan M Rohim. Hanya saja M Rohim masih belum tertangkap.

Peristiwa bermula, ketika Agusni yang membuka toko ponsel, butuh tenaga kerja. Andi, seorang pedagang siomay yang berjualan di depan rukonya, menawarkan nama Candra. Namun syaratnya, Agusni menyediakan tiket pesawat untuk mendatangkan Candra dari Jawa. Tawaran itu diterima Agusni.

"Nyatanya, dalam rekonstruksi, Candra itu ada di Pekanbaru, satu kos dengan Andi. Jadi sejak awal mereka ini sudah sindikat," kata Musniza di Pekanbaru, Senin (16/3/2015).

Candra diterima bekerja, tinggal di ruko sekamar dengan anak korban Dodi Haryanto yang saat itu duduk di bangku kuliah. Tiga bulan berikutnya, ternyata justru Candra yang menjadi otak pembunuhan itu yang terjadi pada 16 April 2012 itu.

Pada malam sebelum pembunuhan itu, saat kedua korban tertidur, Candra diam-diam membuka pintu ruko, memasukkan tiga pelaku lain ke dalam. Ketiganya disuruh tidur di kolong mobil agar jika terpergok ketika pemilik ruko tiba-tiba mengecek ke lantai dasar.

Ketika tiba jam salat Subuh, Agusni sempat membangunkan anaknya termasuk Candra. Pelaku lantas bangun dan pergi ke lantai dasar untuk membangunkan tiga rekannya.

"Dalam rekonstruksi saat abang saya salat Subuh, Candra langsung memukul balok ke bagian kepala. Abang saya tersungkur, lantas ketiga rekannya membacok hingga tewas," kata Musniza.

Mendengar kegaduhan, Dodi keluar dari kamarnya, tapi langsung diikat Candra, lalu dibunuh. Usai membunuh kedua korban, Candra memerintahkan teman-temannya menguras seluruh isi toko, termasuk mobil, dan motor. Para pelaku membunuh pakai sarung tangan, darah yang berceceran mereka bersihkan. Selanjutnya mereka keluar dan mengunci ruko. Dari luar mereka buat tulisan, 'toko libur'.

Kasus ini terbongkar dua hari kemudian, setelah Sulastri, istri korban yang berada di Dumai, bolak-balik menelpon suaminya tetapi tidak diangkat. Dia lantas menelpon anaknya Riyan Rahmat yang kos di wilayah Rumbai, Pekanbaru. Riyan datang ke ruko atas perintah ibunya.

"Saat itu saya dan Riyan datang ke ruko, dan mengintip dari luar mobil sudah tidak ada, isi toko habis," kata Musniza.

Karena posisi toko terkunci, akhirnya pintu ruko dibuka dengan las, barulah diketahui Agusni dan Dodi sudah tewas dibunuh.

"Sekarang Dwi salah satu pembunuhnya yang divonis mati pengadilan mendapat pengampunan dari Presiden Jokowi menjadi seumur hidup. Kami kecewa," tutup Musniza.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar