Jumat, 13 Februari 2015

Yang Kentut Belum Bayar !!!


From: A.Syauqi Yahya

"Tedjo Edhy, Apakah Anda Blo'on?"

http://m.kompasiana.com/post/read/701521/3/tedjo-edhy-apakah-anda-bloon.html


Daniel H.t.
13 Feb 2015 | 15:41

Sumber: Menko Polhukkam Tedjo Edhy Purdijatno (Kompas.com)

Sikap Wakapolri Komisaris Jenderal Badrodin Haiti, Kabareskrim Polri Komisaris Jenderal Budi Waseso, dan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno terhadap perintah Presiden Jokowi untuk mengusut, menyelidiki, dan tangkap pelaku teror terhadap pegawai KPK dan keluarga mereka, sungguh memperlihatkan bahwa tiada rasa segan dan hormat yang sepatutnya mereka tunjukkan kepada Presiden. Terutama sekali sikap yang ditunjukkan oleh Menko Polhukkam Tedjo Edhy Purdijatno, yang bahkan membuat pernyataan yang melawan pernyataan Presiden tersebut.

Ketika melakukan pertemuan dengan Presiden Jokowi, pada Kamis, 12 Februari kemarin, mereka pasti menunjukkan rasa hormatnya, menunduk-nunduk kepala, "Siap, Pak Presdien!" Siap, Pak Presiden!" Tetapi begitu berada jauh dari Presiden, sikap aslinya yang muncul.

Pernyataan-pernyataan mereka menunjukkan tiada simpatik mereka kepada KPK, bahkan saya yakin laporan tersebut tidak akan ditindaklanjuti sama sekali.

Budi Waseso meminta KPK membuktikan dan mengklarifikasi teror yang mereka terima seandainya terdapat peran polisi di dalamnya, "Yang bicara teror kan KPK. Ya, silakan saja dibuktikanlah teror itu!" katanya.

Badrodin Haiti bilang, "Jangan terus dipelesetkan orang merasa diteror," ujarnya. "Apakah kalau di-SMS, diteror, itu pasti dari polisi? Kan tidak?!"

Padahal dalam konferensi pers yang disampaikan oleh Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto itu, tiada satu kata pun dari pernyataan itu yang menyebutkan pihak yang meneror itu polisi!

Ketika wartawan mengajukan pertanyaan, siapa pelaku terornya, Bambang juga tidak menjawabnya. Katanya, "Kami belum sampai ke sana."

Ini mengingatkan saya dengan anekdot yang ceritanya begini: Di dalam sebuah bis penuh penumpang yang sedang melaju, tiba-tiba tercium mau kentut. Semua orang menutup hidungnya, tidak ada yang mau mengaku siapa yang kentut.

Muncul akal dari kondektur bis, katanya dengan suara keras: "Yang kentut, belum bayar!"

Spontan seorang laki-laki berdiri dan protes, "Kata, siapa?! Saya sudah bayar tadi, kok!"

Badrodin Haiti juga mengaku, saat merespon laporan KPK tentang teror tersebut. Kata dia, polisi juga diteror. Tetapi siapakah yang mau percaya di tengah-tengah kredibilitas Polri yang sedemikian rendahnya? Siapakah yang berani dan punya kemampuan untuk meneror polisi, lagi pula untuk apa? Mau bikin polisi ketakutan seperti yang dialami para pegawai KPK dan keluarganya itu? Lelucon yang tidak lucu. Lagi pula, dia sendiri mengatakan laporan KPK itu harus jelas, sedangkan dia sendiri tidak menjelaskan bagaimana sebenarnya bentuk dan cara teror yang katanya dialami polisi juga itu.

Tedjo Edhy Purdijatno seolah-olah hendak menyimpulkan pernyataan Budi dan Badrodin itu dengan membuat pernyataan yang melawan perintah Presiden Jokowi itu, katanya,"Tidak ada teror-meneror (KPK). Mungkin perasaan orang-orang saja karena situasi seperti ini," katanya. Ia menambahkan, telepon atau pesan gelap yang diterima pegawai KPK dan keluarga kemungkinan hanya tindakan pihak iseng.

Yang namanya teror, ancaman, dan sebagainya  itu biasanya selalu tidak jelas siapa pelakunya, tetapi bisa diduga siapa pelakunya, karena ada korelasinya antara kejadian yang sedang terjadi dengan teror tersebut. Ini adalah bagian dari tugas Bareskrim Polri, mereka pasti punya punya kemampuan untuk melacaknya sampai menemukan pelakunya, jika mau. Demikian juga Tedjo yang pernah menjabat sebagai KSAL TNI-AL, dan sekarang adalah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, pasti lebih dari tahu soal yang begini-begini.

Sikap Tedjo ini kontan menambah kegeraman publik kepadanya, setelah sebelumnya juga pernah mengatakan rakyat yang mendukung KPK itu adalah rakyat tak jelas, sehingga dia di-bully habis-habisan di media sosial.

Di negara-negara yang hukumnya sudah ditaklukkan para koruptor dan mafia dan koruptor sajalah teror, intimidasi, ancaman, bahkan pembunuhan  sudah dianggap lumrah.

Pengacara senior dari Surabaya, Trimoelja D. Soerjadi, yang pernah menangani kasus pembunuhan buruh, Marsinah, pun tak tahan untuk melampiaskan kegeramannya, khususnya kepada Tedjo. Di dalam akun Face Book-nya, Trimoelja sampai menulis: "TEDJO EDHY, APAKAH ANDA BLO'ON?"

Selengkapnya inilah ekspresi kegeraman dari Trimoelja yang pernah karena menjadi pengacara Marsinah, dirinya bersama semua anggota keluarga mengalami teror dan ancaman pembunuhan, seperti yang dialami staf KPK sekarang ini:

--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar