Selasa, 10 Februari 2015

PROTON ???


From: A.Syauqi Yahya


Bisnis Proton vs Realitas Pasar Proton di Indonesia 2014

http://m.kompasiana.com/post/read/700710/3/bisnis-proton-vs-realitas-pasar-proton-di-indonesia-2014.html

Isson Khairul
09 Feb 2015 | 12:01

Sumber: Berdasarkan data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) tahun 2014, penjualan Proton di Indonesia adalah 523 unit. Secara detail varian, dari sejumlah media, saya hanya menemukan 479 unit, sebagaimana yang saya tampilkan pada tabulasi di atas. Dengan capaian penjualan tersebut, penetrasi Proton terhadap pasar otomotif di Indonesia, masih sangat minim. Foto: kontan.co.id

Oleh: isson khairul (id.linkedin.com/pub/isson-khairul/6b/288/3b1/ - dailyquest.data@gmail.com)
Malaysia bukanlah bangsa yang unggul di bidang teknologi. Karena itulah, Negeri Jiran itu terseok-seok, untuk meyakinkan publik akan produk otomotif mereka, Proton. Presiden Jokowi telah menunjuk Proton untuk mengembangkan proyek mobil nasional di Indonesia. Bagaimana peluang bisnisnya?

Konsumen adalah segalanya dalam bisnis, tak terkecuali di sektor industri otomotif. Eforia rasa kebangsaan serta gerakan mencintai produk dalam negeri, seringkali tak cukup ampuh untuk meraih serta mempertahankan konsumen. Contohnya, konsumen otomotif di Malaysia. Di awal kelahiran Proton tahun 1983, gerakan cinta produk dalam negeri, berhasil menghimpun konsumen, hingga Proton menguasai 50 persen market share otomotif di negerinya sendiri.

Proton, Tinggal 21 Persen

Tahun-tahun berikutnya, meski Proton terus membenahi manajemen serta teknologi produknya, juga meluncurkan sejumlah varian baru demi memenuhi need konsumen, toh para konsumen berlarian meninggalkan Proton. Di tahun 2014, market share Proton di negerinya sendiri, hanya tinggal 21 persen. Keuangan perusahaan kedodoran, indeks kepercayaan konsumen terhadap Proton melorot, dan angka penjualan terjun bebas.

Kolumnis dan filantropi kenamaan Malaysia, Koon Yew Yin, dalam situs malaysiakini.com, pada 30 Mei 2012, sudah melancarkan kritik pedas terhadap Mahathir Muhammad. Koon Yew Yin menulis, bahwa pendirian perusahaan mobil nasional Malaysia, Proton National Bhd., pada 1983, adalah sebuah kesalahan besar yang harus dibayar Mahathir. Menurut Koon Yew Yin, miliaran ringgit kas negara yang dikumpulkan dari para pembayar pajak, telah terbuang sia-sia, demi menjaga pabrik mobil itu tetap beroperasi.

Majalah bisnis terkemuka di dunia, The Economist, dalam situsnya pada 9 Juni 2014, menulis bahwa kesalahan terbesar Proton adalah minimnya inovasi. Manajemen Proton tidak memiliki inovator, yang mampu menjawab kebutuhan konsumen otomotif. Proton bergerak lamban di tengah industri otomotif yang seharusnya bergerak lincah. "Proton hanya mampu memperkenalkan sedikit model baru, itu pun terkesan kuno dan ketinggalan zaman dibandingkan dengan standar produsen lainnya, seperti Toyota, Honda, dan Daihatsu," tulis The Economistdalam analisis bisnis otomotif.

Salah satu contoh minimnya inovasi Proton adalah ketika perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan otomotif Jepang, Mitsubishi, tersebut meluncurkan varian Proton Inspira pada 2010. Mobil yang dilengkapi continuously variable transmission (CVT) tersebut, ternyata hanya meniru Mitsubishi Lancer. Manajemen Proton yang minim inovasi, bahkan cenderung monoton tersebut, dengan cepat membuat para konsumen otomotif di negerinya sendiri berlarian ke produk lain.


Sumber: Ini adalah 10 brand mobil dengan penjualan terbanyak di Indonesia tahun 2014, berdasarkan data Gaikindo. Dengan minimnya inovasi, dengan rendahnya indeks kepercayaan konsumen di Malaysia terhadap Proton yang merupakan produk nasional mereka, alangkah tak mudah bagi Proton untuk meraih kepercayaan konsumen otomotif di Indonesia. Tahun 2014, penjualan Proton di Indonesia, hanya 523 unit. Foto: kompas.com
Proton, Apaan Tuh?

Memang, masih sangat sedikit orang Indonesia yang mengenal Proton. Hanya segelintir yang pernah melihat Proton. Yang pernah membeli serta menggunakan Proton ya lebih sedikit lagi. Titik-awalnya adalah tahun 1983, ketika Mahathir Muhammad masih berkuasa sebagai Perdana Menteri Malaysia. Mahathir memegang tampuk kekuasaan Malaysia selama 22 tahun tahun, dari tahun 1981-2003.

Sebagai orang nomor satu di Malaysia, Mahathir kala itu memerintahkan jajarannya untuk mendirikan perusahaan otomotif, yang kemudian dinamai Perusahaan Otomobil Nasional Bhd (Proton). Lalu, perusahaan tersebut menggalang kerjasama dengan salah satu raksasa otomotif dari Jepang, Mitsubishi. Sejak 1983, proyek mobil nasional Malaysia itu pun bergulir. Dua tahun kemudian, pada 1985, produk pertamanya, Proton Saga, pun diluncurkan.

Di Indonesia, Proton dikelola Proton Edar Indonesia (PEI), selaku Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM). Hingga saat ini, Proton memiliki 10 model, yang terdiri dari 27 varian, yang sudah dipasarkan di Indonesia sejak tahun 2007. Semua model tersebut memasuki pasar Indonesia dalam bentuk impor utuh (CBU) dari Malaysia. Mahathir Muhammad sendiri mulai efektif sebagaichairman Proton Holding Bhd, sejak 16 Mei 2014. Mantan orang nomor satu di Malaysia ini otomatis juga mengepalai Lotus Grup, merek mobil sport yang kini di bawah kepemilikan Proton.

Sebagai politikus ulung di kawasan regional Asean, Mahathir tentu saja memanfaatkan relasi politiknya untuk mengibarkan Proton. Salah satunya dengan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, yang sengaja dikunjungi Mahathir pada Senin (14/4/2014). Di halaman rumah Megawati, Jalan Teuku Umar Nomor 27-A, Menteng, Jakarta Pusat, Jokowi dan Puan Maharani menyambut kedatangan chairman Proton Mahathir Mohammad tersebut dengan penuh senyum.

Pada waktu itu, Jokowi belum menjadi Presiden. Puan Maharani pun belum menjadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Jokowi dilantik menjadi Presiden pada Senin (20/10/2014), sekitar 6 bulan setelah pertemuan tersebut. Bertemu dengan chairmanProton Mahathir Mohammad, Jokowi pada Senin sore itu mengenakan batik cokelat, sementara Puan pakai kebaya putih. Senyum suka-cita mereka merebak, menghangatkan sore yang indah itu. Suatu sore yang kemudian menjadi sebuah sore yang bersejarah, karena Jokowi telah menunjuk Proton untuk mengembangkan proyek mobil nasional Indonesia, pada Jumat, 6 Februari 2015, sekitar 9 bulan setelah pertemuan tersebut.


Sumber: Jokowi duduk di kursi penumpang depan Proton yang dikemudikan langsung oleh Chairman Proton, Mahathir Mohammad. Jokowi bahagia dan tersenyum, kata Mahathir usai mengetes varian Iriz kepada wartawan, seperti dilansir The Star, Sabtu (7/2/2015). Foto kanan: Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah, menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa atau Doktor Kehormatan kepada Mahathir Mohammad pada Senin (3/9/2012) di Kampus UNS, Kentingan, Solo. Foto: kompas.com dan antaranews.com
Proton, Jokowi Testimoni

Chairman Proton Mahathir Mohammad menunjukkan kepiawaiannya. Bukan hanya dalam kancah politik, tapi juga di sektor bisnis. Mahathir dengan terang-terangan menjadikan Presiden Jokowi untuk testimoni produk Proton varian Iriz, pada Sabtu (7/2/2015). Mahathir memegang kemudi, Jokowi duduk sebagai penumpang di sebelahnya. Sebagai kepala negara, sesungguhnya ini hal yang tak patut terjadi.

Bagaimanapun juga, Presiden Jokowi adalah seorang kepala negara, dari sebuah negara yang berdaulat. Mahathir Mohammad bukan lagi Perdana Menteri Malaysia, yang menjadi Perdana Menteri kini adalah Dato Sri Mohammad Najib Tun Abdul Razak. Maka, bukan pada tempatnya, Mahathir menggelandang Presiden Jokowi untuk agenda serta kepentingan bisnisnya di Proton.

Dalam konteks marketing, ini adalah reputasi serta prestasi Mahathir Mohammad sebagai chairman Proton. Ia telah dengan sukses menjadikan seorang Presiden untuk testimoni produknya. Dunia menyaksikannya. Ini benar-benar sebuah marketing campaign yang patut diacungkan jempol. Dunia, setidaknya kawasan regional Asean, akan mencatat gerakan marketing yang mengagumkan ini.

Sebaliknya, dalam konteks political communication, testimoni yang dilakukan Presiden Jokowi tersebut, sangat tidak strategis dan sungguh memalukan. Barangkali, ini tidak disadari oleh orang-orang di lingkaran Jokowi. Agenda Jokowi ke Malaysia adalah agenda resmi kenegaraan, yang seluruh aktivitas Presiden selama kunjungan kenegaraan tersebut sangat mencerminkan reputasi serta martabat negara yang melekat padanya, Indonesia.

Sebagai Presiden yang baru, dengan pengalaman dan strategi yang masih terbatas, Jokowi memang bukan negosiator yang sepadan untuk berhadapan dengan politikus ulung sekelas Mahathir Mohammad, yang sudah 22 tahun malang-melintang sebagai Perdana Menteri Malaysia. Tapi, orang-orang di sekitar Presiden Jokowi, sudah seharusnya mencermati hal ini. Dengan kejadian tersebut, kentara sekali bahwa Tim Komunikasi Istana tidak paham, juga tidak bekerja, betapa pentingnya strategi dalam political communication, di tengah dunia yang sudah borderlessini.

Jakarta, 09-02-2014

Dibaca : 237 kali

--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar