Minggu, 21 Desember 2014

Komunitas Muslim Etnis Hui di Kirgizstan: Vibovov Agustin Chandrovich, Sang Eksplorer dan Observer? (3)


From: hernowo mengikatmakna 


Komunitas Muslim Etnis Hui di Kirgizstan: Vibovov Agustin Chandrovich, Sang Eksplorer dan Observer? (3)

Oleh Hernowo

 

 

Aku menuju Bishkek, ibukota Kirgizstan. "Perjalanan pencarian jati diri ini memang tidak selalu berpindah secara fisik," tulis Agustinus di halaman 206 buku Garis Batas ketika dia mencoba mengobservasi kelompok etnis Dungan di jantung kota Bishkek. Orang Dungan dan Kirgiz sama-sama Mongoloid. Mata mereka sipit, hidung mereka pun tidak mancung. "Kisah Dungan, pendatang Cina di Kirgizstan, mengingatkan saya dengan minoritas serupa di Indonesia," tambahnya. Setelah mengatakan itu, Agustinus pun teringat akan kaumnya dan, khususnya, buku-buku bacaannya tentang kaum minoritas yang ada di Indonesia tersebut. Agustinus rupanya membaca karya Onghokham dan Pramoedya Ananta Toer.

 

Bahasa Dungan sebenarnya adalah bahasa Cina, mirip sekali dengan bahasa Mandarin dengan dialek Gansu—provinsi di barat laut Republik Rakyat Cina yang juga dihuni oleh jutaan penduduk Muslim. Ya, kelompok etnis Dungan ini memang memeluk agama Islam. Di Cina agama mereka, Islam, dikenal sebagai huijiao yang artinya "agama suku Hui". Begitu mereka berpindah ke wilayah Uni Soviet, nama Hui tidak lagi dikenal. "Hui" menjadi tabu karena kata itu kebetulan sama dengan umpatan kasar dalam bahasa Rusia. Mereka pun berganti nama menjadi Dungan. Asal usul nama Dungan ini pun masih misteri.

 

Menurut literatur, Dungan berasal dari bahasa Turki, dönen—orang-orang yang berbelok atau berpulang. Dalam bahasa Mandarin, Hui juga berarti "pulang". Agama suku Hui, Islam, secara harfiah juga bisa berarti "ajaran untuk berpulang". Nama Dungan mungkin juga berasal dari bahasa Mandarin dong-gan, artinya provinsi Gansu bagian timur, tempat asal nenek moyang etnis Hui. Kata Ma Jinsheng alias Ali—salah seorang yang sudah memutih rambutnya yang ditemui Agustinus di komunitas Dungan—nama Dungan berasal dari ejekan yang berarti bangsa pelarian yang dikejar-kejar (gan) dari timur (dong) sampai ke barat.

 

Pelarian. Ya, bangsa ini memang lekat dengan masa lalunya sebagai bangsa berpindah. Dari hasil observasi dan renungan-renungannya tentang bangsa berpindah alias Dungan inilah Agustinus kemudian merenungkan dirinya, asal-usulnya. "Dulu, mereka (bangsa Tionghoa) adalah bangsa pelarian. Seperti Dungan yang melarikan diri dari kejaran kaisar, kakek saya juga dikejar-kejar tentara Jepang atau seperti kebanyakan orang Tionghoa lain yang melarikan diri dari kemiskinan di kampung halaman dan mendamba kehidupan yang lebih makmur di negeri seberang. Di zaman sekarang, di mana ada kesempatan mencari uang, di situ pasti ada orang Cina. Di Bishkek, di pegunungan Tajikistan, bahkan sampai di pedalaman Afghanistan sekalipun."

 

Di kampung Agustinus di Indonesia, "pulang ke negeri leluhur" atau huigio adalah impian banyak orang Tionghoa. Di sini benar-benar digunakan kata hui, "pulang", hui yang sama seperti pada nama Dungan. Pulang, ke rumah yang tidak pernah dikunjungi, tetapi terasa kerinduannya. Tanah leluhur itu laksana Mekkah. Negeri itu menjadi sebuah tanah suci, tanah air fantasi, tumpah darah imajiner, kecintaan yang dipenuhi romansa dan mitos…indah begitu indah….[]


--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar