Selasa, 11 November 2014

Rindu ke Baitullah


From: Adji Prihananto 


Jadi Tukang Sapu, Cita-cita Nuryanto Berhaji Tercapai
Saturday, 06 September 2014, 08:47 WIB

Kawasan Masjidil Haram di Makkah, Arab Saudi.

Oleh: Siwi Tri Puji

Namanya Nuryanto. Republika Online bertemu secara tak sengaja di pelataran selatan Masjidil Haram, dekat Maulid Nabi, bangunan yang diyakini sebagai tempat Rasulullah SAW dilahirkan.

Ia mengenakan seragam warna biru. Di bagian depan bajunya, saya lupa di dada kiri atau kanan, tertulis emblem bertulis "Bin Ladin Group". Sapu di tangan kirinya. Tak usah saya sebutkan profesinya, Anda pasti bisa menebak apa pekerjaan sehari-hari Nuryanto.

Ya, dia adalah satu dari ribuan petugas cleaning service Masjidil Haram –Bin Ladin Group adalah salah satu kontraktor kebersihan masjid itu. Saat kami bertemu, dia baru mengakhiri pekerjaannya, tengah asyik menikmati setangkup roti dan kopi kental dengan gelas kertas. Dia kebagian shift tengah hari itu: bekerja mulai pukul 14.00 hingga pukul 22.00.

Nuryanto sudah tiga bulan menekuni pekerjaannya. Ia datang berbarengan dengan orang berduit Jakarta yang mau melakukan umrah Ramadhan. "Saya juga umrah bersama mereka," ujarnya.

Anda pasti menduga Nuryanto mentok mencari pekerjaan di Tanah Air, dan karenanya "hijrah" ke negeri orang menjadi pekerja kasar. Anda salah jika menebak demikian. Nuryanto adalah transmigran sukses di Sumatera Selatan.

Lahannya hampir 13 hektare, sebagian ditanami padi dan sisanya untuk bertanam kelapa sawit. Ia mempunyai empat penggilingan padi, membuka usaha persewaan traktor, dan tenda pernikahan.

Suatu hari di bulan Maret, usai pulang dari sebuah pengajian, ia tergerak untuk menunaikan ibadah haji. Dengan tabungan yang dimiliki, ia pergi mendaftar. "Ternyata baru bisa berangkat tiga tahun lagi," tuturnya.

Ia tak sabar menunggu tiga tahun lagi. "Secara fisik dan finansial, saya mampu tahun ini," ujar pria 50 tahun ini.

Ia berdiskusi dengan istrinya, hingga ketemulah ide ini, menjadi Tenaga Kerja Indonesia di Arab Saudi. Para tetangganya banyak yang bekerja di negeri ini, apa salahnya?

Ia mencari informasi di mana bisa mendaftar. Ada satu biro perekrutan TKI yang menjanjikan bisa segera berangkat asal menyetor sejumlah uang. Ia sepakat. "Hitung-hitung bayar ONH," ujarnya. Yang menarik, pekerjaan yang ditawarkan padanya sifatnya sementara saja, hanya hingga musim haji berakhir.

Maka Agustus ia berangkat. Sebagai petugas cleaning service di tempat wudhu pria, ia digaji 600 riyal (sekitar Rp 1,5 juta). Kalau dihitung dengan uang yang lebih dulu disetornya, jumlahnya tak sampai separuhnya. "Tapi saya dapat hajinya, dan tiap hari bisa thawaf serta mencium Hajar Aswad sepuasnya," ujarnya.

--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar