Minggu, 19 Oktober 2014

Mendengar Empatik


From: hernowo mengikatmakna


Mendengar Empatik

Oleh Hernowo

 

 

Kata orang-orang yang menggeluti dan berpengalaman di bidang komunikasi, seseorang dapat disebut sebagai ahli komunikasi apabila dia memiliki kemampuan-hebat dalam mendengarkan. Ada dua cara mendengarkan: pertama, mendengarkan untuk bereaksi dan biasanya disebut sebagai mendengarkan secara emosional (khususnya emosi negatif) dan,kedua, mendengarkan secara empatik atau mendengarkan untuk memahami. Mendengarkan secara empatik sesungguhnya adalah juga mendengarkan secara emosional, hanya emosinya berbentuk positif. Ciri-ciri orang yang beremosi negatif: gampang naik darah (marah) dan kesal. Ciri-ciri orang yang beremosi positif: mudah tersenyum, peduli, dan menerima (terbuka dengan) apa saja.

 

Seorang dokter dan neuroscientist, Paul D. MacLean, pernah memperkenalkan istilah "triune brain" untuk menunjukkan evolusi perkembangan otak dan, khususnya, dampak emosi terhadap fungsi otak. Menurut MacLean, otak berevolusi dalam tiga tingkatan. Pertama atau yang terendah bernama batang otak atau reptilian brain, kedua disebut midbrain yang berisi sistem limbik, dan tertinggi disebut neokorteks atau otak bahasa (yang hanya dimiliki manusia). Tingkatan terendah dan kedua dimiliki binatang. Tingkatan terendah, misalnya, dimiliki oleh buaya atau komodo, sementara tingkatan kedua dimiliki binatang mamalia atau binatang menyusui. Oleh karena itu, tingkatan kedua ini juga kadang disebut sebagai otak mamalia.

 

Keadaan sistem limbik (emosi) sangat menentukan apakah seseorang dapat berpikir secara jernih dengan menggunakan neokorteksnya atau malah, sebaliknya, berpikir laiknya komodo atau hewan reptil lain. Apabila seseorang tidak dapat mengendalikan emosi negatifnya (misal, amarahnya) maka cara berpikirnya pun akan turun ke bawah ke otak kadal. Sebaliknya, ketika dia mampu mengendalikan amarahnya dan kemudian membangun emosi positif (tidak berprasangka buruk, bersikap positif, dan terbuka), otomatis cara berpikirnya akan naik ke atas ke otak tertinggi yaitu otak bahasa. Mendengarkan secara empatik berarti mendengar dengan menggunakan emosi positif (pikiran yang jernih dan terbuka).

 

 

Saya sangat setuju apabila ciri orang-orang yang disebut ahli dalam berkomunikasi, salah satunya, adalah memiliki kemampuan-hebat dalam mendengarkan. Tentu, kemampuan-hebat dalam mendengarkan itu adalah mendengarkan secara empatik yang berarti dia ahli dalam memahami apa yang disampaikan oleh lawan bicaranya. Yang lebih penting lagi, ketika mendengarkan, orang ini sangat peduli terhadap apa pun yang didengarkannya. Dia mendengar dengan penuh kesabaran dan tidak memotong saat lawan bicaranya menyampaikan pendapat. Dia juga peduli dan memperhatikan bukan saja apa yang disampaikan tetapi juga gerak-gerik atau bahasa tubuh lawan bicaranya. Bahkan, kata ahli komunikasi, orang yang mendengarkan secara empatik sudah terbiasa menatap lawan bicaranya tepat di kedua mata. Dan tatapan mata ini tak sedetik pun dialihkan ke mana-mana.

 

Dalam Everyday Greatness: Inspirasi untuk Mencapai Kehidupan yang Bermakna (2007), Stephen R. Covey menulis, "Empati adalah memahami hati, pikiran, dan jiwa orang lain—termasuk motif, latar belakang, dan perasaan mereka. Semakin besar empati kita kepada orang lain, semakin besar pula kita bisa menghargai dan menghormati mereka." Berpijak pada pendapat Covey ini, saya ingin menunjukkan bahwa orang-orang yang mampu mendengarkan secara empatik adalah orang-orang yang mendengarkan dengan menggunakan seluruh dirinya. Seluruh totalitas diri—baik fisik maupun nonfisiknya—benar-benar peduli terhadap apa yang disampaikan oleh lawan bicaranya.

 

Ini jelas tidak mudah. Kita, terutama saya, tidak pernah memiliki pengetahuan atau diajari bagaimana mendengarkan dengan penuh kesabaran. Saya terbiasa mendengar untuk memberikan reaksi. Saya tidak tahan mendengarkan orang yang berbicara bertele-tele. Apabila lawan bicara saya adalah orang yang tidak saya kenal atau bahkan (dalam persepsi saya) saya anggap sebagai orang yang lebih rendah—apa pun jenis yang disebut "rendah" di sini—ketimbang diri saya, saya pun lantas meremehkannya. Ini berakibat saya terbiasa mendengarkan dalam konteks kesombongan bahwa yang disampaikan oleh lawan bicara saya tidak berharga dan tidak penting! Betapa sulitnya menjalankan tindakan mendengar secara empatik apabila paradigma saya masih mendengar untuk bereaksi atau mendengar berpijak pada kesombongan alias gampang meremehkan dan memotong pembicaraan orang lain?

 

Empati adalah bentuk kepedulian diri kita terhadap keberadaan orang lain. Empati adalah juga kehadiran diri kita di dalam diri orang lain yang tidak disertai dengan kecurigaan atau prasangka buruk (su'uzhan). Seakan-akan empati adalah benang halus yang menghubungkan diri kita dengan diri orang lain yang akhirnya membuat diri kita menjadi sebagaimana orang lain. "Empati punya banyak wujud," tulis Daniel Goleman. "Salah satunya adalah kepekaan tajam yang dimiliki seseorang atas kebutuhan orang lain. Dalam bisnis penjualan barang, ini dapat dilukiskan sebagai kemampuan seorang penjual dalam memandang situasi penjualan dari sudut pandang pelanggan." Sekali lagi, kita dapat berempati apabila kita dapat menekan ego kita dan benar-benar peduli terhadap kebutuhan orang lain.[]


--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar