Jumat, 24 Oktober 2014

fernando lugo



Politik

Jangan Sampai Sejarah Fernando Lugo di Paraguay Terulang pada Jokowi di Indonesia

Daniel H.t.

15 Aug 2014 | 17:50

Fernando Lugo / Infosurhoy.com

Sumber: Fernando Lugo / Infosurhoy.com

Budiman Sudjatmiko baru kali ini benar-benar merasa ketakutan. Takut akan mati! Perasaan itu muncul begitu saja, ketika dia menghadapi pengalaman yang sangat luar biasa itu.Membayangkan sebagai ide untuk membuat kisah fiksi pun tak pernah terpikirkan. "Real life is stranger than fiction", kata Budiman kemudian ketika mengisahkan kembali pengalaman luar biasanya itu.

Saat itu Budiman yang sekarang adalah anggota DPR dari PDIP, salah satu pencetus utama ide lahirnya UU Desa, merasa heran sendiri, kenapa perasaan takut mati itu bisa begitu saja muncul dari dalam dirinya. Padahal dahulu, terutama di tahun-tahun 1996-1998 ketika dia adalahsalah satu aktivis politik anti-Soeharto, yang memperjuangkan reformasi dan tegaknya demokrasi di Indonesia, akibatnya dia diburu-buru intel-intel Soeharto, dia tidak pernah merasa takut mati.

Di masa-masa itu Budiman selalu menjadi salah satu target utama intelijen rezim Soeharto, BIA (Badan Intelijen ABRI) dan Bakorstanas (Badan Koordinasi Bantuan Pemantapan Stabilitas Nasional), apalagi ketika dia membentuk Partai Demokratik Demokrat (PRD).

Bersama beberapa orang sahabatnya Budiman pernah diculik, disekap, dan diinterogasi dengan cara-cara yang kejam ala Orde Baru. Beberapa sahabatnya itu ada yang sampai tewas, dan ada yang tidak pernah kembali sampai hari ini. Mereka adalah bagian dari tiga belas aktifis yang sampai sekarang masih hilang itu. Ketika itu, menghadapi saat-saat yang paling mencekam, ketika nyawa sudah berada di tepi jurang kematian, Budiman mengaku tak ada dalam pikirannya untuk takut mati.

Budiman dan beberapa temannya dari PRD ditangkap terakhir kali oleh rezim Orde Baru, pasca peristiwa kerusuhan penyerbuan gedung DPP PDI, pada 27 Juli 1996. Mereka dijadikan kambing hitam sebagai otak dari kerusuhan itu. Budiman divonis penjara 13 tahun. Dibebaskan ketika Soeharto lengser, digantikan B.J. Habibie.

Ketika selama bertahun-tahun selalu diincar maut di masa-masa itu, Budiman seolah tidak punya rasa takut mati. Tetapi, kenapa sekarang dia menjadi takut mati? Budiman juga tidak bisa menjawabnya, karena perasaan takut mati itu begitu saja muncul ketika dia terjebak di dalam peristiwa yang sangat luar biasa itu.

Peristiwa itu terjadi pada tengah malam di tanggal 13 Agustus 2008,6 tahun yang lalu, di sebuah negara yang nun jauh di sana. Di Republik Paraguay, tepatnya di Ibukota di salah satu negara Amerika Latin itu, Asunction!

Sekitar pukul 3 dini hari, mereka berempat berada di dalam sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, melebihi 100 km per jam, membela kota Asunction yang telah lelap. Kondisi jalan yang naik turun, membuatbeberapakali mobil itu sesaat melayang di udara. Setiap kali mobil itu melayang di udara, jantung mereka pun seolah-olah ikut melayang dari raga.

Mereka berempat itu adalah Budiman Sudjatmiko dan Rikard Bangun (sekarang pimpinan Redaksi Harian Kompas), dua orang ini duduk di jok belakang mobil tersebut, seorang Romo asal Flores, Indonesia, Romo Martin Bhisu, duduk di samping sopir, dan si sopir itu. Budiman duduk persis di belakang sang sopir yang masih terus menginjak dalam-dalam pedal gas mobil itu. Sopir mobil inilah yang membuat peristiwa itu menjadi berlipatganda luar biasanya, yang tidak mungkin bisa dilupakan mereka semua. "Real life is stranger than fiction", Budiman mengistilahkan pengalamannya itu. Kenapa demikian? Karena sopir itu bukan lain adalah presiden terpilih Republik Paraguay, Fernando Lugo, yang dua hari lagi akan dilantik!

Budiman dan Rikard sangat bingung dan saling bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi ini? Apa sebenarnya yang sedang dihindari Fernando Lugo, dan kenapa harus dia yang dua hari lagi resmi dilantik sebagai Presiden Paraguay itu harus mengemudi sendiri mobilnya? Nasib apa yang membuat mereka berdua yang baru hari dan kali pertama meninjak kaki di Paraguay, langsung mengalami peristiwa ini bersama dengan seorang presiden terpilih negara itu?

Ketika mobil itu masih terus melaju dengan kecepatan di atas 100 km per jam, Romo Martin dan Fernando Lugo terdengar berkomunikasi dalam bahasa Spanyol, sehingga Budiman dan Rikard tidak mengerti apa yang sedang mereka percakapankan itu. Namun dari percakapan itu, dia sempat menangkap beberapaka kali kata yang bunyinya seperti "golpe" Budiman berpikir sejenak, kemudian terkejut luar biasa, ketika ingat bahwa arti kata dalam bahasa Spanyol itu adalah "kudeta"! "Apa!? Kudeta!?"

Kemudian Romo Martin menjelaskan kepada Budiman dan Rikard bahwasaat itu ternyata ada rencana pembunuhan terhadap Fernando Lugo!Karena itu sekarang dia melarikan diri dari rumahnya tadiKebetulan sekali, dua tamunya dari Indonesia itu yang awalnyapunya rencana hendak mewawancarainya itu, pun "terjebak" di dalam peristiwa tersebut.

"Tapi, bukankah ada pasukan pengawal kepresidenan yang mengawalnya?" Tanya Budiman kepada Romo Martin. Romo Martin menjelaskan, Lugo mendapat informasi bahwa justru di antara para pengawal itulah ada eksekutor yang akan membunuhnya! Maka itulah dia langsung melarikan dirinya dengan mengemudi mobilnya sendiri, dan beginilah mereka sekarang.

Budiman menjadi semakin khawatir, bagaimana jika terjadi apa-apa dengan mereka? Bagaimana jika mobil yang sedang melaju dengan sangat kencang itu tiba-tiba menabrak sesuatu yang keras, atau mereka mati terkena peluru nyasar dalam suatu aksi tembak-menembak ketika kudeta terjadi? Lalu, seantero Amerika Latin pun akan heboh luar biasa, bergetar-getar menyatakan penuntutan balas atas kematian sang sopir. Amerika Latin bisa diselimuti duka sekaligus mengalami keheranan luar biasa: Kenapa kecelakaan itu terjadi dan kenapa bisa ada tiga jenazah orang Indonesia bersama presiden mereka yang juga tewas itu?Kenapa sang presiden terpilih yang mengemudi mobil itu?

Akhirnya, keempat orang itu tiba di lokasi yang menjadi tujuan Fernando Lugo, yaitu sebuah Rumah Induk dari SVD (Sociedad de Verbo Divino), sebuah ordo Katholik yang banyak terdapat di Amerika Latin. Di situlah Fernando Lugo untuk sementara mengamankan dirinya.

Romo Martin kemudian menjelaskan dengan lebih detail kepada Budiman dan Rikard tentang peristiwa apa yang sebenarnya sedang mereka alami itu. "Ada upaya pembunuhan terhadap Lugo," katanya mengulangi penjelasannya di mobil tadi itu.

"Siapa yang mau membunuhnya, Romo?" Tanya Rikard.

"Oligarki yang tidak suka Fernando Lugo menang pemilihan presiden. Mereka tidak ingin Lugo dilantik besok lusa."

"Siapa oligarki itu?" Tanya Budiman.

"Siapa lagi kalau bukan tuan tanah, para pengusaha hitam, politisi-politisi konservatif dan sejumlah perwira militer loyalis kandidat presiden yang kalah, Lino Oviedo?"

Fernando Lugo adalah mantan uskup. Ketika dia menjadi uskup, dia banyak membela rakyat miskin, terutama petani-petani yang tanahnya banyak dirampas oleh tuan-tuan tanah yang berkomplot dengan penguasa sipil dan militer. Maka, dia pun dijuluki oleh rakyat Paraguay dengan sebutan "Uskup Orang Miskin." Setelah dia terpilih menjadi presiden pun mereka menyebutkannya dengan sebutan "Presiden yang merakyat."

Karena desakan rakyat semakin kuat, dan dia sendiri berpikir bahwa perjuangannya untuk mensejahterakan rakyat Paraguay, dan menjadikan Paraguay yang baru, akan bisa lebih maksimal jika dia menjadi presiden, maka Lugo pun memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai presiden di Pemilu Presiden Paraguay di tahun 2008 itu.

Lugo kemudian mengundurkan diri sebagai uskup. Awalnya, permohonan pengunduran dirinya sebagai uskup itu, ditolak Vatikan, tetapi rakyat Paraguay pun "mengancam" Vatikan, apakah hendak mendapatkan satu orang Lugo yang tetap menjadi uskup, tetapi kehilangan jutaan umat Katholik di Paraguay, ataukah kehilangan satu orang uskup, tetapi tetap diikuti oleh jutaan umat Katholik di Paraguay. Vatikan akhirnya mengabulkan permohonan mundur Lugo sebagai uskup itu.

Budiman dan Rikard kemudian diundang juga menghadiri pelantikan Fernando Lugo seb


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar