Selasa, 07 Oktober 2014

Bakso


From: suhardono



Waktu kecil, sampai dengan TK, aku sering diajak ibuku 'kulakan dagangan' ke Kota Magelang. Dan selalu diajak mampir di salah satu toko Kue di Pecinan (aku lupa nama toko-nya). Nah Nyonyah-e yang punya toko itu selalu menyapaku dengan perkataan yang sama dengan logat cina magelangan-nya,"Ooo, ini tha baksone, dah gede ya..". Tentu saja waktu itu aku nggak tahu apa maksud perkataannya itu. Aku hanya senang saja karena di toko itu selalu dapat hadiah kue "roti Sus" atau "roti Florida" kesukaanku.

Suatu waktu, sewaktu aku sudah SMA, aku disuruh ibuku ngantar dagangan peyek kacang, peyek paru dan ndog kamal (telur asin) ke toko itu. Iseng-iseng aku nanya apa maksudnya dulu sering menyapaku dengan "bakso-nya itu". Lalu nyonyahe cerita kalau waktu ibu-ku hamil aku, ibuku kalau mampir ke toko kue-nya selalu jajan bakso yang mangkal dekat situ.

Hmmm ternyata perkenalanku dengan bakso sudah dimulai semenjak aku masih dalam kandungan. Nggak salah tha kalau aku membenarkan diri untuk taqdir-nya menjadi maniak bakso.  He he he he Bakso sungguh mengalahkan makanan lainnya termasuk sate kambing yang markotob sekalipun.

Makan bakso tidak bisa sembarangan, ada seninya sendiri. Harus pas timing-nya karena kalau kepanasan sedikit atau terlalu dingin sedikit sudah menjadi tidak enak lagi. Aku pernah makan Bakso Raksasa yang besar glindingannya segede mangkok-nya. Baru setengah makan bakso sudah menjadi dingin dan itu membuat rasa memualkan.

Kalau mau jualan bakso, harus tahu triknya. Sudah aku amati jika orang makan bakso pasti nyrutup kuahnya dulu, bukan makan baksonya dulu. Untuk itu, kuah harus dibuat seenak mungkin karena kesan pertama ini akan mempengaruhi kelanjutan rasa permakan-baksoannya. Ngandela.

Di desaku, Payaman-Magelang, pada tahun 70-an hanya ada tiga (bersaudara) penjual bakso; Pak Marto, pak Priyo dan pak Gito. Mereka berasal dari Wonosari (maka aku heran ketika pertama  di Jakarta para pedagang bakso terkenalnya justru dari Wonogiri). Mereka tinggal di hotel Mbah Pawiro Genjil. Hotel ini ada di seberang jalan depan rumahku. Tamu-tamunya kebanyakan Tukang Mendring (Kredit alat rumah tangga), Tukang Kenceng (yang mbetulin kenceng tembaga), sekali-kali Tukang Sepuh Emas, dan Tukang Bakso itu.

Semua tamu hotel biaya nginapnya gratis namun harus breakfast dan dinner di situ. Jangan dibayangkan tempat tidurnya berkasur dan ber-AC. Cukup tidur di amben besar bersama-sama dengan bantal dari ijuk. Fasilitas hotel sudah termasuk Kamar Mandi sentral dan WC sentral. Maksudnya yang cuman ada dua WC plung-lap dan Satu Blumbang besar untuk dipakai mandi dan cuci bergiliran.

Salah satu kegiatanku dipagi hari ya melihat cara membuat bakso itu. Dengan "Telenan" kayu jati yang bundar-tebal dan dua buah "Besi Gligen" ukuran besi beton 32 dan panjang 40 cm mereka "nggepuk-i" daging sapi menjadi sangat lumat. Bumbunya cukup sederhana; pati kanji, bawang putih, mrica dan garam. Setelah jadi ulenan maka tinggal diplothot pakai tangan kanan dan disendok pakai tangan kiri untuk dimasukkan di air yang mendidih. Kalau sudah ngambang berarti sudah matang.

Waktu SD pengetahuan perbaksoanku ya hanya yang made in Payaman itu saja. Seingatku belum pernah aku makan bakso yang ada di Kota Magelang.

Ketika SMP, aku mulai mengenal bakso yang ada di Kota Magelang. Ada bakso Mekarsari dan bakso Roda yang mangkal di jalan samping Kantor Pos. Tapi menurutku bakso yang enak itu yang ada di emperan tenggara Shopping Center. Aku suka dengan acar timunnya (di Jakarta nemunya hanya di salah satu warung Bakso di Galaxy Bekasi).

Kenangan mengesankan tentang perbaksoan justru ketika study tour ke Malang di sekitar tahun 77-78 (aku lupa persis tahunnya). Makan Bakso Malang yang "indil-indilnya" sungguh sangat besar-besar. Waktu itu ukurannya super besar dibandingkan dengan Bakso Magelangan yang ukurannya hanya sebesar kelereng. Aku sampai bingung gimana cara makannya, dan harus mengintip dulu ke tetangga duduk bagaimana caranya. Oh ternyata ditusuk garpu baru dikrikiti. He he yang (tadinya) mudah malah menjadi sulit (nggak bisa dikulum).

Kenangan lainnya, mereka memberi saus tomat untuk kuah baksonya. Saus tomat ini tidak ada dalam menu Bakso Magelangan di waktu itu. Rasanya sungguh dahsyat. Mengalahkan acar timun. Perpaduan antara manis kecap, asin, pedas dan kecut saos.

Padahal sekarang makan bakso ogah kalau disuruh pakai saos.

Tapi bakso yang terenak yang ada dalam ingatanku justru ketika dari Madiun (rumah temanku) trus diajak "pit montoran" ke Sarangan. Waktu pulang turun hujan. Kami berteduh di emperan warung di waktu rembang petang. Dengan perut kosong dan rasa lapar, kedinginan, uang saku terbatas, maka makan bakso yang semestinya biasa saja menjadi bakso yang terenak di dunia dan sulit dilupakan sampai kini.

Tahun 70-80'an sebenarnya di Magelang ada bakso yang enak banget, setara dengan bakso Gepeng Pontiak atau A fung yakni bakso RM Asia. Tapi waktu itu temenku bilang (maaf)  kalau diragukan kehalalannya. Jadi ya nggak pernah lagi ke Bakso Asia itu.







--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar