Sabtu, 27 September 2014

Teknologi yang Bagaikan Udara: Dampak Membaca Buku “Grown Up Digital” (7)


From: hernowo mengikatmakna 


Teknologi yang Bagaikan Udara: Dampak Membaca Buku "Grown Up Digital" (7)

Oleh Hernowo

 

 

"Saya dilahirkan sudah menggunakan komputer Apple."

—Andy Putschoegl

 

Pengakuan menarik Andy itu terekam dalam buku Tapscott,Growing Up Digital, yang terbit pada 1999—sepuluh tahun sebelum Grown Up Digital terbit. Itu berarti Andy masih bocah Gen Net waktu itu. Bagi banyak anak, seperti Andy, menggunakan teknologi baru digital sama alamiahnya dengan bernapas. Kata Coco Cunn—salah seorang pendiri proyek Cityspace yag berbasis Web—"Bagi mereka teknologi tidak ada. Ia seperti udara." Hal ini diamini oleh Dr. Idit Harel, seorang guru besar epistemologi dari MIT, "Bagi anak-anak, itu seperti menggunakan pensil. Orangtua tidak berbicara soal pensil, mereka berbicara tentang menulis. Begitu pula anak-anak tidak berbicara tentang teknologi—mereka bicara tentang bermain, membuat situs Web atau menulis pesan kepad teman."

 

Inilah kiat pertama untuk menghadapi perubahan dahsyat yang diakibatkan oleh Internet. Kita—orang-orang yang dilahirkan sebelum smartphone, iPad, atau teknologi canggih semacam itu menjamur dan membanjiri dunia—perlu memahami karakteristik Gen Net. Dan Tapscott, lewat Grown Up Digital, sangat membantu saya dalam mengidentifikasi karakteristik tersebut. Tapscott dengan fasih berhasil merumuskan sebuah keadaan yang saya alami tetapi saya gagap dan bingung dalam merumuskan sekaligus memahaminya dengan terang.

 

Salah satu karakteristik-unik Gen Net, yang dilukiskan secara menarik oleh Tapscott, adalah ketika dia merujuk buku Thomas L. Friedman, The World is Flat. Saya telah membaca buku ini dan sempat mengalami kebingungan waktu membacanya. Pemahaman saya baru terbentuk agak solid (jelas) setelah saya membaca buku-buku Hermawan Kartajaya dan rekannya, Yuswohady. Buku-buku tersebut berkaitan dengan marketing, namun Hermawan dengan lincah—dan dalam bahasa yang mudah saya pahami—membawa saya untuk masuk dan terlibat dengan dunia yang di dalamnya dihuni oleh para anggota Gen Net. Buku-buku Hermawan itu, antara lain, adalah New Wave Marketing dan Connect, sementara buku Yuswohady berjudul Crowd: Marketing Becomes Horizontal.

 

 

Lewat kacamata (lebih tepat mungkin disebut "paradigma") Thomas L. Friedman, Tapscott menunjukkan kepada saya bahwa generasi baru yang dibentuk Internet ini benar-benar mendunia. Ini memungkinkan generasi tersebut berkomunikasi secara global dengan cara-cara yang belum pernah terjadi. "Dengan kemunculan Internet, karakteristik khas yang dahulu berbeda-beda sesuai tempat bagi kaum muda sedang memudar. Betul bahwa negara-negara dan wilayah-wilayah akan masih memiliki kultur dan ciri-ciri independen yang unik, tetapi kaum muda di seluruh dunia sekarang makin mirip satu sama lain. Sebagaimana akan Anda lihat, mereka memiliki sikap, norma, dan perilaku sebagai sesama generasi yang saling mirip," tulis Tapscott di halaman 35.

 

Setelah para Gen Net itu menjadi generasi global, kita perlu memahami cara mereka bekerja. Mereka terbiasa menyalakan komputer dan secara serentak berinteraksi dengan beberapa window yang berbeda, bertelepon, mendengarkan musik, mengerjakan tugas sekolah, membaca majalah, dan menonton televisi. "Televisi telah menjadi seperti musik yang dimainkan di latar belakang bagi mereka," tegas Tapscott. Mereka juga tidak hanya mengambil apa yang disajikan kepada mereka. Mereka adalah pemrakarsa, kolaborator, organisator, pembaca, penulis, pemeriksa, bahkan pakar strategi yang aktif—seperti dalam kasus video game. Mereka tidak hanya mengamati, mereka berperan secara aktif. Mereka menanyakan, membahas, membantah, bermain, berbelanja, mengkritik, menyelidiki, mencela, berfantasi, mencari, dan memberi informasi. Luar biasa bukan hasil riset (rumusan) Tapscott ini? Saya kira masih banyak rumusan Tapscott yang menarik tentang karakteristik Gen Net untuk membantu kita memahami "dunia" Gen Net. Saya hanya ingin menunjukkan satu lagi.

 

Perlahan-lahan, dengan refleks mereka yang tertala ke kecepatan dan kemerdekaan, kaum muda yang mengalami pemberdayaan Internet ini mulai mengubah setiap lembaga dalam kehidupan modern. Dari tempat kerja hingga tempat orang berniaga, dari politik hingga pendidikan dan unit dasar dalam masyarakat mana pun, mereka telah mengganti kultur yang didasari oleh kekuasaan (culture of control) dengan kultur pemberdayaan (culture of enablement).

 

Apakah Anda sudah siap bekerja sama dan—tentu saja—belajar kepada generasi baru yang kemungkinan usianya terpaut sangat jauh dengan Anda ini?[]


--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar