Minggu, 28 September 2014

Mendidik Anak ala ”Tiger Mom” (4): Seorang Ibu yang Menyayangi Anak-anaknya dengan Cara yang Berbeda?


From: hernowo hasim


Mendidik Anak ala "Tiger Mom" (4): Seorang Ibu yang Menyayangi Anak-anaknya dengan Cara yang Berbeda?
Oleh Hernowo
 
 
Sophia, putri pertama Amy Chua, bermakna "kebijaksanaan" sebagaimana nama China, "Si Hui", yang diberikan oleh sang nenek kepada cucu putrinya itu. Sejak lahir, Sophia menunjukkan sifat rasional dan memiliki kekuatan istimewa untuk berkonsentrasi. Bayangkan, menjelang usia tiga tahun, Sophia sudah dapat membaca karya pujangga besar Sartre. (Kok bisa ya?)
 
Amy memang tidak banyak bercerita tentang bagaimana dia mendidik Sophia terkait dengan ca-lis-tung atau hal-hal lain. Yang lebih banyak dia ceritakan adalah ketika dia mendidik putri keduanya, Louisa, yang memiliki panggilan akrab Lulu. Nama China untuk Lulu adalah "Si Shan" yang bermakna "batu koral"—beda banget 'kan dengan Sophia?
 
Entah karena dinamai begitu atau yang lain, sifat Lulu seakan-akan menahbiskannya untuk menjadi pemberontak. Meski "batu koral" itu dimaknai oleh Amy sebagai "kehalusan", Lulu tetap mewarisi kepribadian Amy yang mudah naik darah, berlidah tajam, dan gampang memaafkan. Judul awal buku Amy, "Battle Hymn of...", kayaknya, dimaksudkan untuk mengabadikan "pertempuran seru" dengan putri keduanya.
 
"Sulit menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan hubungan saya dengan Lulu," tulis Amy. "'Perang nuklir habis-habisan' tidak terlalu mewakili." Amy sendiri lahir di tahun macan. Secara terus terang, dia mengatakan tentang "shio"-nya itu: "Bukan bermaksud menyombong, tetapi orang-orang dengan shio ini biasanya mulia, berani, kuat, tegas, dan menarik. Mereka juga biasanya beruntung."
 
Amy mengalami bentrokan pertama dengan Lulu ketika usia Lulu tiga tahun. Waktu itu, siang hari di musim salju yang teramat dingin di New Haven, Connecticut, tempat mereka tinggal. Suaminya, Jed, sedang bekerja dan Sophia, putri pertamanya, sedang bersekolah di taman kanak-kanak.
 
 
Amy memutuskan pada saat itulah waktu yang tepat untuk memperkenalkan Lulu kepada piano. Lulu didudukkan di kursi piano dan Amy mulai mencontohkan memainkan nada tunggal. Amy meminta Lulu menirunya, tetapi Lulu menolak. "Dia memilih memukul banyak nada sekaligus dengan kedua telapak tangannya yang terbuka," kata Amy.
 
Amy memberi saran dan petunjuk, tapi akhirnya Lulu mengamuk. Lima belas menit berlalu dan Lulu masih berteriak-teriak, menangis, dan menendang-nendang. Kesabaran Amy pun habis. Seraya menghindar dari tendangannya, Lulu diseret ke arah teras belakang rumah. Angin dingin bersuhu minus 6 derajat Celcius berembus.
 
"Tetapi saya sudah bertekad bulat untuk membesarkan anak China yang patuh—di Barat, kepatuhan sering dikaitkan dengan anjing dan sistem kasta, tetapi dalam budaya China hal itu dinggap sifat yang paling mulia—apa pun risikonya," tulis Amy.
 
"Kamu harus keluar!" Lulu melangkah keluar. Lulu menghadapi ibunya dengan gaya menantang. "Tiba-tiba kengerian merayapi diri saya," tulis Amy, "Lulu hanya memakai sweter, rok, dan celana ketat. Dia sudah berhenti menangis. Bahkan dia diam dengan cara yang mengerikan."
 
"Bagus. Jadi kamu mau jadi anak baik. Sekarang kamu boleh masuk." Lulu menggelengkan kepala. Gigi Lulu bergemeletuk, dia tetap bertahan tidak ingin masuk. Amy meremehkan Lulu tanpa memahami sifat aslinya. Lulu ternyata memilih membeku kedinginan ketimbang mengalah....[]

--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar