Minggu, 14 September 2014

Agama dan Tamasya Hermeneutika: Mengaji Kitab Karya Kiai Husein Muhammad (4)


From: hernowo hasim 


Agama dan Tamasya Hermeneutika: Mengaji Kitab Karya Kiai Husein Muhammad (4)
Oleh Hernowo
 
 
"Saya ingin menerjemahkan term 'hermeneutika' sebagai 'takwil'. Hal ini karena al-Razi sendiri tidak menggunakan kata 'al-himinithiqiyyah' dalam karya-karya intelektualnya. Khazanah intelektual Islam juga tidak memperkenalkan term tersebut. Yang ada dalam tulisan-tulisan para intelektual Muslim awal adalah 'Qanun al-Ta'wil' sebagaimana salah satu kitab yang ditulis oleh Imam Abu Hamid al-Ghazali," tulis K.H. Husein Muhammad dalam mengawali ulasannya atas sosok Imam Fakhruddin al-Razi dalam buku Mengaji Pluralisme kepada Mahaguru Pencerahan buah karyanya.
 
Dalam Bab Kedelapan bukunya itu, Kiai Husein memang secara khusus mengulas sosok al-Razi yang disebut-sebut sebagai intelektual Muslim yang lengkap keilmuwanannya sekaligus juga ahli takwil. Bab tersebut diciptakan oleh Kiai Husein ketika beliau diminta membahas "Dasar-dasar Hermeneutika ala al-Razi" dalam sebuah pengajian. Menurutnya, "Qanun al-Ta'wil" yang dikaitkan dengan Imam Abu Hamid al-Ghazali dapat juga disebut sebagai "Dasar-dasar Hermeneutika", sementara istilah "hermeneutika" (al-himinithiqiyyah) sendiri tidak populer pada masa kehidupan al-Razi.
 
K.H. Husein Muhammad
 
"Sepanjang yang saya tahu," lanjut Kiai Husein, "kajian hermeneutika baru diperkenalkan dalam masyarakat Muslim oleh intelektual progresif, pada sekitar akhir abad kedua puluh ini. Di antara mereka, Nasr Hamid Abu Zaid, menerjemahkan hermeneutika sebagai takwil. Kajian hermeneutik atau takwil ini sungguh amat menarik sekaligus mendasar dalam kerangka diskursus pemikiran kebudayaan dan diskursus keagamaan. Ia adalah alat analisis bagi upaya manusia memahami dan menemukan arti, maksud atau pesan dari sebuah teks, narasi bahasa sastra, representasi-representasi, ekspresi-ekspresi kebudayaan, tanda-tanda atau simbol-simbol lain."
 
Nah, apa yang dikatakan oleh Kiai Husein tersebut benar-benar saya temukan kedahsyatan dan keindahannya ketika saya membaca buku Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutikakarya Komaruddin Hidayat (Mizan, Mei 2011). Komaruddin Hidayat adalah Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Buku Bang Komar—demikian saya sering memanggilnya—ini pernah diterbitkan oleh Penerbit Paramadina pada 1996 dan kemudian oleh Penerbit Teraju pada 2003. Edisi terbaru bukuMemahami Bahasa Agama yang diterbitkan-kembali oleh Mizan itu kini dilengkapi dengan tiga pengantar yang diberikan oleh almarhum Nurcholish Madjid, Yasraf Amir Piliang (ahli posmodernisme), dan Haidar Bagir (ahli filsafat).
 
Almarhum Cak Nur
 
Judul tulisan yang saya gunakan kali ini merupakan judul yang saya pinjam dari judul tulisan pengantar Yasraf Amir Piliang untuk buku Memahami Bahasa Agama. Saya menggunakan judul Yasraf untuk ikut merasakan keasyikan bertamasya-intelektual dengan menggunakan "kendaraan" bernama "hermeneutika". Saya sendiri sangat awam dengan "kendaraan" atau metode memahami makna teks yang bernama hermeneutika tersebut. Namun, ketika membaca ulasan Kiai Husein tentang al-Razi dan kemudian saya padukan dengan ulasan-ulasan menarik yang disajikan oleh Cak Nur, Yasraf, dan Haidar, saya pun terpesona. Coba perhatikan apa yang disampaikan oleh Cak Nur—dengan merujuk ke pemikiran Ibn Rusyd—terkait dengan sebuah ayat Al-Quran yang berbunyi sebagai berikut ini:
 
"Dia (Tuhan) yang telah menurunkan kepada engkau (Muhammad) Kitab Suci, yang di dalamnya terdapat ayat-ayat muhkamat yang merupakan induk Kitab Suci (Umm al-Kitab), dan ayat-ayat lain yang mutasyabihat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya terdapat keserongan, mereka akan mengikuti bagian-bagian yang tersamar (mutasyabihat) daripadanya, dengan tujuan membuat fitnah (perpecahan) dan mencari takwil bagian-bagian tersamar itu. Padahal tidak mengetahui takwilnya kecuali Allah. Sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya maka akan menyatakan, 'Kami percaya kepada Kitab Suci itu; semuanya dari sisi Tuhan kami.' Dan tidaklah akan dapat merenung (menangkap pesan) kecuali orang-orang yang berpengertian mendalam." (QS Ali Imran [3]: 7)
 
Yasraf Amir Piliang
 
Menurut Cak Nur (halaman 41 dan 42)—apa yang disampaikan Cak Nur ini juga diulas oleh Haidar Bagir dalam pengantarnya di halaman 11 buku Memahami Bahasa Agama—"Bagi Ibn Rusyd, firman Tuhan bersangkutan itu harus dibaca oleh kaum khawas sedemikian rupa sehingga 'orang-orang yang mendalam ilmunya' termasuk dalam yang mengetahui takwil ayat-ayatmustasyabihat. Yaitu dengan memindah tanda baca berhenti (waqaf) sehingga terbaca: '...Padahal tidak mengetahui takwilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Mereka ini berkata, "Kami beriman kepada Kitab Suci itu; semuanya dari sisi Tuhan kami...."' (QS Ali Imran [3]: 7)', sebagai ganti cara baca oleh kaum awam (lihat terjemahan kutipan firman itu di atas)—uraian tentang ini lihat, Ibn Ruysd,Fashl al-Maqal wa Taqrir ma bayn al-Hikmah wa al-Syari'ah min al-Ittishal. Terjemahannya lihat buku suntingan saya,Khazanah Intelektual Islam (1984)."
 
Sampai di sini, saya (semoga juga Anda) dapat merasakan betapa mengasyikkannya dapat menyelenggarakan "tamasya hermeneutika". Bayangkanlah andaikan teks-teks yang kita baca—apalagi jika itu merupakan teks-teks "langit" atau keagamaan—dapat menghadirkan makna yang sangat banyak dan sangat kaya sehingga diri kita kemudian menjadi luas dan besar serta berkembang bersama-sama makna dari teks-teks keagamaan tersebut. Saya benar-benar sulit melukiskan keindahan "tamasya hermeneutika" itu ketika saya kemudian membaca baris-baris kalimat Yasraf Amir Piliang berikut ini yang terdapat di halaman 21 buku Memahami Bahasa Agama:
 
"Hermeneutika adalah ilmu penafsiran teks, yaitu penyelidikan tentang makna sebuah teks. Penafsiran hermeneutik bukan berarti pencarian 'makna tunggal', melainkan segala kemungkinan makna yang disediakan oleh sebuah teks. Akan tetapi, hermeneutika tidak sekadar upaya penyingkapan intensi psikologis atau makna yang dimaksud oleh 'pengarang'; ia adalah pembentangan 'dunia kemungkinan makna' yang ditampakkan oleh teks. Dengan membangun semacam 'jarak' (distance) dari pengarang, dan dengan menempatkan teks dalam konteks kehidupan masa kini, aneka kemungkinan makna baru dapat dihasilkan." Alhamdulillah.[]

--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar