Selasa, 30 September 2014

Tonton "Nakal dan jahil kalo ini" di YouTube




Nakal dan jahil kalo ini: http://youtu.be/jjhtC6pDU8U

--
Dikirim dari aplikasi myMail untuk Android


Keganjilan Fats, Jolly, dan Arf: Menikmati Imajinasi-Dahsyat J.K. Rowling (5)


From: hernowo mengikatmakna 


Keganjilan Fats, Jolly, dan Arf: Menikmati Imajinasi-Dahsyat J.K. Rowling (5)

Oleh Hernowo

 

 

Saya belum dapat menemukan tokoh utama novel ini. Apakah Barry? Jika Barry---yang memang banyak disebut di lembar-lembar halaman novel yang tebal ini---mengapa dia dimatikan sejak halaman pembuka? Di samping Barry, memang ada beberapa tokoh yang dikisahkan secara berulang dan unik oleh Rowling--baik sang tokoh tersebut berkaitan dengan Barry atau tidak. Apakah novel ini memang tak punya tokoh utama tunggal kayak Harry Potter?

 

Setelah pembacaan saya atas novel ini berjalan hingga bagian kelima, saya terkesan dengan tiga tokoh yang memiliki nama-nama julukan. Tiga tokoh itu masih bersekolah di sebuah SMA. Fats, Jolly, dan Arf---demikian nama julukan mereka. Fats dan Arf berkawan karib (sejak usia keduanya empat tahun) dan suka merokok. Ayah Fats dan Arf dilukiskan sebagai orangtua yang, sepertinya, suka berperilaku kasar dan ganjil. Jolly, satu-satunya perempuan, bersekolah di sekolah yang sama dengan Fats dan Arf. Jolly juga ada masalah dengan ibunya, tapi saya belum tahu apa masalah itu.

 

Rowling melukiskan sosok ketiga anak muda itu dengan sangat menarik. Jolly memiliki orangtua yang berprofesi dokter. Dia punya dua adik laki-laki bernama Jaswant, yang memiliki julukan Jazzy, dan Rajpal. Anda akan kaget apabila sempat membaca novel ini dan sampai pada halaman yang menggambarkan perilaku ganjil Jolly. Sekali lagi, sepertinya, Jolly tidak suka dengan ibunya atau ibunya yang tidak suka dengan putrinya. Kenapa dia memiliki julukan Jolly? "Itu nama julukannya saat kecil, diberikan sebagai sebuah ironi," kata Rowling.

 

Fats lain lagi. Nama asli Fats, Stuart Wall. Ibunya suka memanggilnya Stu. Ayah Fats  adalah wakil kepala SMA tempat Fats bersekolah. Sepertinya ada sesuatu yang dirahasiakan tentang asal-usul Fats ini. Rowling membukanya sedikit demi sedikit dan kadang ada ketegangan di dalam diri Tessa, ibu Fats, ketika Fats tak lagi memanggilnya, "Mum". Fats juga tidak menyukai ayahnya atau sebaliknya. Ketika ayah Fats ikut mencalonkan diri menjadi pengganti Barry yang meninggal, Fats bikin gara-gara dan membuat seisi Pagford gaduh.

 

 

Arf memiliki keluarga yang unik. Dengan memikat, Rowling melukiskan karakter kedua orangtua Arf. Ayahnya suka memanggil Arf dengan sebutan  si "Muka Piza" karena wajah Arf berjerawat. Arf punya adik bernama Paul. Arf, adik, dan ibu mereka kadang menjadi sasaran kemarahan ayah mereka yang tertutup. Bahkan, Rowling tak segan-segan untuk menggunakan kata-kata kasar dalam melukiskan karakter ayah Arf yang, sepertinya, juga memiliki kelainan.

 

"Lalu akhirnya, semua aman. Sukhvinder berdiri dan mengeluarkan silet dari lubang telinga boneka kelinci empuknya. Dia mencuri silet itu dari kotak peralatan cukur ayahnya di lemari kamar mandi. Sukhvinder turun dari ranjang dan mencari-cari senter di lacinya, segenggam tisu, lalu bergeser ke bagian kamarnya yang paling jauh dari pintu, ke dekat cerobong bulat di pojokan.

 

"Di sini, sinar senternya akan bertahan dan tak terlihat dari bawah pintu. Sukhvinder duduk bersandar ke dinding, menggulung lengan baju tidurnya, dan dengan senter mengamati bekas-bekas dari sesi terakhirnya, masih terlihat saling silang dan gelap di lengannyan tapi mulai sembuh. Dengan sedikit denyar ketakutan yang terasa melegakan dan terfokus, Sukhvinder menekankan silet ke tengah lengan bagian dalam dan mulai mengiris...."[] 

 

--

Minggu, 28 September 2014

Mendidik Anak ala ”Tiger Mom” (4): Seorang Ibu yang Menyayangi Anak-anaknya dengan Cara yang Berbeda?


From: hernowo hasim


Mendidik Anak ala "Tiger Mom" (4): Seorang Ibu yang Menyayangi Anak-anaknya dengan Cara yang Berbeda?
Oleh Hernowo
 
 
Sophia, putri pertama Amy Chua, bermakna "kebijaksanaan" sebagaimana nama China, "Si Hui", yang diberikan oleh sang nenek kepada cucu putrinya itu. Sejak lahir, Sophia menunjukkan sifat rasional dan memiliki kekuatan istimewa untuk berkonsentrasi. Bayangkan, menjelang usia tiga tahun, Sophia sudah dapat membaca karya pujangga besar Sartre. (Kok bisa ya?)
 
Amy memang tidak banyak bercerita tentang bagaimana dia mendidik Sophia terkait dengan ca-lis-tung atau hal-hal lain. Yang lebih banyak dia ceritakan adalah ketika dia mendidik putri keduanya, Louisa, yang memiliki panggilan akrab Lulu. Nama China untuk Lulu adalah "Si Shan" yang bermakna "batu koral"—beda banget 'kan dengan Sophia?
 
Entah karena dinamai begitu atau yang lain, sifat Lulu seakan-akan menahbiskannya untuk menjadi pemberontak. Meski "batu koral" itu dimaknai oleh Amy sebagai "kehalusan", Lulu tetap mewarisi kepribadian Amy yang mudah naik darah, berlidah tajam, dan gampang memaafkan. Judul awal buku Amy, "Battle Hymn of...", kayaknya, dimaksudkan untuk mengabadikan "pertempuran seru" dengan putri keduanya.
 
"Sulit menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan hubungan saya dengan Lulu," tulis Amy. "'Perang nuklir habis-habisan' tidak terlalu mewakili." Amy sendiri lahir di tahun macan. Secara terus terang, dia mengatakan tentang "shio"-nya itu: "Bukan bermaksud menyombong, tetapi orang-orang dengan shio ini biasanya mulia, berani, kuat, tegas, dan menarik. Mereka juga biasanya beruntung."
 
Amy mengalami bentrokan pertama dengan Lulu ketika usia Lulu tiga tahun. Waktu itu, siang hari di musim salju yang teramat dingin di New Haven, Connecticut, tempat mereka tinggal. Suaminya, Jed, sedang bekerja dan Sophia, putri pertamanya, sedang bersekolah di taman kanak-kanak.
 
 
Amy memutuskan pada saat itulah waktu yang tepat untuk memperkenalkan Lulu kepada piano. Lulu didudukkan di kursi piano dan Amy mulai mencontohkan memainkan nada tunggal. Amy meminta Lulu menirunya, tetapi Lulu menolak. "Dia memilih memukul banyak nada sekaligus dengan kedua telapak tangannya yang terbuka," kata Amy.
 
Amy memberi saran dan petunjuk, tapi akhirnya Lulu mengamuk. Lima belas menit berlalu dan Lulu masih berteriak-teriak, menangis, dan menendang-nendang. Kesabaran Amy pun habis. Seraya menghindar dari tendangannya, Lulu diseret ke arah teras belakang rumah. Angin dingin bersuhu minus 6 derajat Celcius berembus.
 
"Tetapi saya sudah bertekad bulat untuk membesarkan anak China yang patuh—di Barat, kepatuhan sering dikaitkan dengan anjing dan sistem kasta, tetapi dalam budaya China hal itu dinggap sifat yang paling mulia—apa pun risikonya," tulis Amy.
 
"Kamu harus keluar!" Lulu melangkah keluar. Lulu menghadapi ibunya dengan gaya menantang. "Tiba-tiba kengerian merayapi diri saya," tulis Amy, "Lulu hanya memakai sweter, rok, dan celana ketat. Dia sudah berhenti menangis. Bahkan dia diam dengan cara yang mengerikan."
 
"Bagus. Jadi kamu mau jadi anak baik. Sekarang kamu boleh masuk." Lulu menggelengkan kepala. Gigi Lulu bergemeletuk, dia tetap bertahan tidak ingin masuk. Amy meremehkan Lulu tanpa memahami sifat aslinya. Lulu ternyata memilih membeku kedinginan ketimbang mengalah....[]

--

Guyon yok...




Suatu hari ada seorang bapak yang ingin buang kucing di pasar, bapak bilang ke ibu "bu bapak mau buang kucing dulu !!"

Si ibu bertanya "buang di mana ?"

Bapak : "Buang di pasar senen".

Setelah bapak membuang di pasar senen bapak itu pulang ke rumah dan kaget melihat si kucing dah sampe di rumah duluan. Lalu bapak bilang lagi "besok akan saya buang lebih jauh !!"

Besokannya si bapak membawa pergi kucing itu di pasar baru. Bapak itu kaget lagi setelah pulang ke rumah, kucing itu dah sampe rumah duluan. sang bapak janji akan membuang kucing itu lebih jauh.

Besoknya sang bapak membawa kucing itu berputar-putar ke pasar senen, trus ke monas, trus jalan terus lagi sampe kuningan, trus ke mampang, trus belok kanan ke pasar minggu.

Setelah di pasar minggu sang bapak putar-putar lagi di dearah pasar minggu. setelah menemukan pasar akhirnya sang bapak membuang si kucing.

Bapak pun pulang, setelah setengah perjalanan pulang sang bapak menelpon si ibu "Bu, kucingnya dah sampe rumah belum ?"

Si ibu "di cek dulu ya !!!! ya pak kucing dah sampe rumah."

Bapak bertanya kembali, "Bener bu ?"

Si ibu, "Iya pak !!!!"

Sang bapak dengan nada sedih bilang ke ibunya, "(hiksss...hiksss) Bu tolong tanyain sama kucingnya pulang lewat mana !!!! bapak nyasar nih !!!!!!"

--

Tonton "Rusuh ki" di YouTube




Rusuh ki: http://youtu.be/nanD4Kq_2qc

--
Dikirim dari aplikasi myMail untuk Android


Naik motor ga pake helm


Diisi apa ya


Maenan hp dulu


Fitrah dan Kebahagiaan oleh Haidar Bagir


From: hernowo hasim 


Fitrah dan Kebahagiaan
Oleh Haidar Bagir
 
"Dan hadapkanlah wajahmu dengan hanif kepada agama Allah.(Tetaplah atas) Fitrah Allah yang manusia diciptakan atasnya. Tak sekali-kali ada perubahan dalam ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus ..." (QS Ar-Ruum: 30)
 
Kata fitrah—bahasa Arab: "fith-rah"—berasal dari akar kata f-th-r. Arti kata ini adalah "keawalmulaan sesuatu sementara sebelumnya sesuatu itu tidak ada". Dengan kata lain, "sesuatu yang tercipta untuk pertama kalinya dan tanpa preseden (contoh)". Sinonimnya adalah al-khalq atau atau al-ibda'. Contohnya, air susu yang pertama kali keluar dari induk unta disebut sebagai "fithr". Maka, dalam ayat di atas, fitrah berarti unsur manusia yang diciptakan pertama kali. Bukan itu saja, fitrah manusia itu tak pernah berubah sepanjang hidupnya—dengan kata lain, selama-lamanya. Bukan kebetulan juga bahwa makna lain kata fitrah adalah cetakan atau patrian, yang sekali dicetak atau dipatri, tak akan bisa diubah atau dilepaskan.
 
Tapi, di atas semuanya itu, penting kita sadari bahwa sesungguhnya unsur kemanusiaan-bawaan, tak lain dan tak bukan, terbentuk atas model sifat atau "tabiat", yakni fitrah-Allah sendiri.
 
Selanjutnya, disebutkan juga dalam ayat 30 tersebut, bukan saja bahwa fitrah manusia merupakan perwujudan ruh Allah, tapi ia juga identik dengan agama itu sendiri, tepatnya "agama yang lurus". Yakni, suatu pandangan dunia (world-view atau weltanscahauung) dan cara hidup (way of life) yang benar, yang berorientasi keimanan kepada Allah, dan kepada kebenaran—suatu cara pandang dan cara hidup yang, dalam ayat yang sama, disebut juga dengan cara hidup yang hanif.
 
Memang, dalam analisis lebih jauh, kita mendapati bahwa fitrah memiliki dua unsur utama dan fundamental. Pertama, keimanan kepada Tuhan sebagai Rabb kita, sebagai Pencipta dan Perawat kita:
 
"Dan ingatlah ketika Allah mengeluarkan (cikal-bakal) anak-cucu Adam dari punggung atau tulang sulbi ayah-ayah mereka (yakni di alam sebelum alam dunia ini) dan menarik persaksian atas diri mereka: 'Bukankah Aku ini Rabb-Mu?' Mereka pun berkata: 'Benar, kami bersaksi.' Agar kelak mereka tidak berkata: 'Sesungguhnya mengenai hal ini kami lupa'." (QS Al A'raf: 172).
 
Unsur kedua fitrah adalah pengetahuan tentang jalan kebaikan dan jalan keburukan yang telah diilhamkan kepada manusia sejak awal penciptaannya:
 
"Dan demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaan)-Nya. Maka diilhamkan kepadanya jalan keburukan dan jalan ketakwaannya. Pasti berbahagia siapa saja yang memelihara kesuciannya, dan pasti sengsara siapa saja yang mengotorinya" (QS Asy-Syams: 7–10).
 
Berdasar itu semua, kita dapat menyimpulkan bahwa setiap manusia diciptakan dengan kecenderungan-bawaan beriman kepada Allah dan kepemilikan pengetahuan tentang kebaikan atau ketakwaan dan keburukan. Tapi, yang lebih penting dari itu adalah bahwa, kepenuhan dan kebermaknaan hidup kita, yakni kebahagiaan kita, terletak dalam keberhasilan kita memelihara kesucian keyakinan kita kepada-Nya dan kemampuan kita dalam berbuat baik dan menghindar dari keburukan—yang pengetahuan tentangnya telah diilhamkan kepada kita tersebut. Kegagalan dalam hal ini—jauhnya kita dari Tuhan, dan kurangnya orientasi amal saleh dalam kehidupan kita—hanya akan meninggalkan kehampaan hati, betapa pun mungkin kehidupan kita berlimpah materi dan dikerumuni banyak orang. Karena, bukankah kecenderungan-kecenderungan ini telah menjadi fitrah (tabiat-bawaan) hidup kita yang tak akan pernah berubah?
 
Inilah kiranya yang dimaksud William James, seorang filosof dan psikolog Amerika awal abad ke-20 ketika menulis dalam buku-klasiknya, Varieties of Religious Experience, bahwa betapa pun kehidupan akan menarik manusia ke arah yang bertentangan (materialistik), dan betapa pun dikerumuni banyak orang, manusia tak akan pernah berbahagia sebelum ia bersahabat dengan The Great Socius (Sang Kawan Agung).[]

--

Sabtu, 27 September 2014

Teknologi yang Bagaikan Udara: Dampak Membaca Buku “Grown Up Digital” (7)


From: hernowo mengikatmakna 


Teknologi yang Bagaikan Udara: Dampak Membaca Buku "Grown Up Digital" (7)

Oleh Hernowo

 

 

"Saya dilahirkan sudah menggunakan komputer Apple."

—Andy Putschoegl

 

Pengakuan menarik Andy itu terekam dalam buku Tapscott,Growing Up Digital, yang terbit pada 1999—sepuluh tahun sebelum Grown Up Digital terbit. Itu berarti Andy masih bocah Gen Net waktu itu. Bagi banyak anak, seperti Andy, menggunakan teknologi baru digital sama alamiahnya dengan bernapas. Kata Coco Cunn—salah seorang pendiri proyek Cityspace yag berbasis Web—"Bagi mereka teknologi tidak ada. Ia seperti udara." Hal ini diamini oleh Dr. Idit Harel, seorang guru besar epistemologi dari MIT, "Bagi anak-anak, itu seperti menggunakan pensil. Orangtua tidak berbicara soal pensil, mereka berbicara tentang menulis. Begitu pula anak-anak tidak berbicara tentang teknologi—mereka bicara tentang bermain, membuat situs Web atau menulis pesan kepad teman."

 

Inilah kiat pertama untuk menghadapi perubahan dahsyat yang diakibatkan oleh Internet. Kita—orang-orang yang dilahirkan sebelum smartphone, iPad, atau teknologi canggih semacam itu menjamur dan membanjiri dunia—perlu memahami karakteristik Gen Net. Dan Tapscott, lewat Grown Up Digital, sangat membantu saya dalam mengidentifikasi karakteristik tersebut. Tapscott dengan fasih berhasil merumuskan sebuah keadaan yang saya alami tetapi saya gagap dan bingung dalam merumuskan sekaligus memahaminya dengan terang.

 

Salah satu karakteristik-unik Gen Net, yang dilukiskan secara menarik oleh Tapscott, adalah ketika dia merujuk buku Thomas L. Friedman, The World is Flat. Saya telah membaca buku ini dan sempat mengalami kebingungan waktu membacanya. Pemahaman saya baru terbentuk agak solid (jelas) setelah saya membaca buku-buku Hermawan Kartajaya dan rekannya, Yuswohady. Buku-buku tersebut berkaitan dengan marketing, namun Hermawan dengan lincah—dan dalam bahasa yang mudah saya pahami—membawa saya untuk masuk dan terlibat dengan dunia yang di dalamnya dihuni oleh para anggota Gen Net. Buku-buku Hermawan itu, antara lain, adalah New Wave Marketing dan Connect, sementara buku Yuswohady berjudul Crowd: Marketing Becomes Horizontal.

 

 

Lewat kacamata (lebih tepat mungkin disebut "paradigma") Thomas L. Friedman, Tapscott menunjukkan kepada saya bahwa generasi baru yang dibentuk Internet ini benar-benar mendunia. Ini memungkinkan generasi tersebut berkomunikasi secara global dengan cara-cara yang belum pernah terjadi. "Dengan kemunculan Internet, karakteristik khas yang dahulu berbeda-beda sesuai tempat bagi kaum muda sedang memudar. Betul bahwa negara-negara dan wilayah-wilayah akan masih memiliki kultur dan ciri-ciri independen yang unik, tetapi kaum muda di seluruh dunia sekarang makin mirip satu sama lain. Sebagaimana akan Anda lihat, mereka memiliki sikap, norma, dan perilaku sebagai sesama generasi yang saling mirip," tulis Tapscott di halaman 35.

 

Setelah para Gen Net itu menjadi generasi global, kita perlu memahami cara mereka bekerja. Mereka terbiasa menyalakan komputer dan secara serentak berinteraksi dengan beberapa window yang berbeda, bertelepon, mendengarkan musik, mengerjakan tugas sekolah, membaca majalah, dan menonton televisi. "Televisi telah menjadi seperti musik yang dimainkan di latar belakang bagi mereka," tegas Tapscott. Mereka juga tidak hanya mengambil apa yang disajikan kepada mereka. Mereka adalah pemrakarsa, kolaborator, organisator, pembaca, penulis, pemeriksa, bahkan pakar strategi yang aktif—seperti dalam kasus video game. Mereka tidak hanya mengamati, mereka berperan secara aktif. Mereka menanyakan, membahas, membantah, bermain, berbelanja, mengkritik, menyelidiki, mencela, berfantasi, mencari, dan memberi informasi. Luar biasa bukan hasil riset (rumusan) Tapscott ini? Saya kira masih banyak rumusan Tapscott yang menarik tentang karakteristik Gen Net untuk membantu kita memahami "dunia" Gen Net. Saya hanya ingin menunjukkan satu lagi.

 

Perlahan-lahan, dengan refleks mereka yang tertala ke kecepatan dan kemerdekaan, kaum muda yang mengalami pemberdayaan Internet ini mulai mengubah setiap lembaga dalam kehidupan modern. Dari tempat kerja hingga tempat orang berniaga, dari politik hingga pendidikan dan unit dasar dalam masyarakat mana pun, mereka telah mengganti kultur yang didasari oleh kekuasaan (culture of control) dengan kultur pemberdayaan (culture of enablement).

 

Apakah Anda sudah siap bekerja sama dan—tentu saja—belajar kepada generasi baru yang kemungkinan usianya terpaut sangat jauh dengan Anda ini?[]


--

Piye ki ??





Pantesss...pantura jebol teyus ...banyak truk di modif modot ..hehehe

Sing salah sopo?

Jumat, 26 September 2014

Iki ngomong opo to.. ra mudeng


Menemukan Struktur (Bangunan) Buku: Buku Kecil untuk Kado Pernikahan Anak Saya (2)


From: hernowo hasim


Menemukan Struktur (Bangunan) Buku: Buku Kecil untuk Kado Pernikahan Anak Saya (2)
Oleh Hernowo
 
 
Di samping buku-buku karya Kang Jalal dan Haidar Bagir, saya juga membaca buku-buku karya Ustad Quraish Shihab terkait dengan pernikahan. Seingat saya, dahulu Ustad Quraish juga membuat buku khusus untuk sebuah pernikahan. Saya lupa ditujukan untuk siapa buku tersebut. Saya mencoba mencarinya lagi tetapi tidak ketemu. Seingat saya, buku tersebut dahulu juga pernah diterbitkan oleh Penerbit Al-Bayan—salah satu imprint Penerbit Mizan—dengan sampul warna kuning.
 
Hanya saya beruntung dapat membaca buku karya Ustad Quraish yang berjudul Perempuan. Buku ini membuka cakrawala—dan mengubah paradigma—saya tentang perempuan. Sehabis membaca buku ini, saya tak mungkin akan menyepelekan (melecehkan) perempuan. Mungkin sebelum membaca buku Ustad Quraish, saya masih memiliki pemikiran yang tidak benar tentang perempuan, meskipun saya punya ibu, istri, dan juga anak perempuan.
 
Ketika membahas perempuan, Ustad Quraish, mau tak mau, juga membahas tentang hal-hal menarik seputar pernikahan. Lewat buku inilah saya diperkaya oleh materi yang ditulis Ustad Quraish. Apalagi beliau senantiasa memijakkan pembahasannya dengan merujuk kepada Al-Quran. Saya pun akhirnya menjadikan karya-karya Ustad Quraish—dan juga karya Kang Jalal dan Haidar—sebagai referensi. Bahkan, bukan hanya sebagai referensi, bangunan buku yang saya bentuk pun sebagian besar berasal dari pandangan Ustad Quraish, Kang Jalal, dan Haidar.
 
 
Apa stuktur atau bangunan buku kecil yang saya tujukan untuk kado pernikahan anak saya? Saya hanya membangun buku kecil ini dari tiga unsur. Ketiga unsur tersebut adalah,pertama, merujuk ke ayat ke-21 Surah An-Nisa', tentang pernikahan sebagai "mitsaqan ghalizha ("… dan mereka [para istri] telah mengambil dari kamu perjanjian yang amat kukuh/kuat [untuk hidup bersama dan saling menjaga rahasia]" [QS An-Nisa' (4): 21]).
 
Kedua, tentang bagaimana menciptakan keluarga yangsakinah, mawaddah, dan rahmah dalam kehidupan rumah tangga ("Di antara tanda-tanda kebesaran Tuhan adalah Dia telah menciptakan pasangan bagi kamu dari jenis yang sama agar kamu menjadi tenteram [meraih sakinah] bersamanya. Dia menjadikan kamu berdua cinta [mawaddah] dan kasih dan sayang [rahmah]. Itu adalah pelajaran yang berharga bagi orang-orang yang berpikir" [QS Ar-Rum (30): 21]).
 
Dan ketiga, tentang bagaimana mementingkan atau memedulikan tetangga—baik tetangga yang dekat maupun yang jauh—dalam bingkai silaturahim ("Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan [peliharalah] hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu" [QS An-Nisa' (4): 1]).
 
Kenapa bangunan itu hanya terdiri atas tiga unsur? Saya tidak tahu. Feeling—dan berpijak pada pengalamansaya mengatakan bahwa jika anak saya berhasil mendirikan tiga tiang yang menopang bangunan rumah tangganya, insya Allah pernikahannya akan sukses dunia dan akhirat. Buku kecil ini akhirnya juga saya anggap sebagai doa (harapan) saya dan istri saya—sebagai orangtua—untuk kesejahteraan pernikahan anak saya.[]

--

Tak Kenal Rambu




Bis Kopaja Ini Tak Kenal Rambu

Sudah ada rambunya kok, tetap parkir di situ.

--

Pertamina


Kucing lemu


Selasa, 23 September 2014

Jumat, 19 September 2014

Kelonan


Terbanglah Bersama Garuda



Jumat, 19/09/2014 18:05 WIB

Garuda Jadi Maskapai Berlayanan Terbaik se-Asia Pasifik

Afif Farhan - detikTravel

Penghargaan yang diraih Garuda Indonesia dari PATA (dok Garuda Indonesia)
Jakarta - Maskapai Garuda Indonesia kembali berprestasi di dunia internasional. Garuda meraih Gold Award dari The Pacific Asia Travel Association (PATA) untuk servis terbaik dan layanan imigrasi di atas pesawat. Selamat!

Dari rilis yang diterima detikTravel, Jumat (19/9/2014) hari ini penghargaan tersebut diterima Direktur Layanan Garuda Indonesia Faik Fahmi pada acara The Pacific Asia Travel Association (PATA) Awards 2014 di Phnom Penh, Kamboja. Tentu ini jadi kabar gembira untuk industri penerbangan di Indonesia.

Ajang peanugerahan itu diikuti oleh 181 peserta dari 66 organisasi/perusahaan. Serta, diikuti pula oleh individu tingkat internasional yang bergerak di industri pariwisata dari seluruh Negara di kawasan Asia Pasifik yang dilaksanakan atas kerjasama dengan 'Macau Government Tourist Office (MGTO).

Dalam penghargaan PATA Awards 2014, layanan Immigration on Board (IoB) dan Garuda Indonesia Experience berhasil mendapatkan poin tertinggi untuk kategori Marketing-Carrier dan Heritage, dari total 4 (empat) kategori yaitu Education and Training, Environment, Heritage and Culture, Marketing dan Heritage.

Konsep layanan Immigration on Board merupakan layanan pengurusan dokumen keimigrasian berupa pemberian visa on arrival di dalam pesawat Garuda Indonesia yang dilaksanakan oleh petugas imigrasi secara khusus dalam penerbangan Garuda Indonesia menuju Jakarta. Dalam pelaksanaan layanan ini, Garuda Indonesia bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM RI.

Saat ini, Garuda Indonesia telah menerapkan layanan tersebut di beberapa rute penerbangan internasional. Seperti rute Shanghai-Jakarta, Tokyo (Narita)-Jakarta, Seoul-Jakarta, Sydney-Jakarta, Tokyo (Narita)-Denpasar, Osaka-Denpasar dan Sydney-Denpasar.

Sementara konsep layanan Garuda Indonesia Experience merupakan layanan khas Garuda Indonesia yang mengedepankan keramahtamahan Indonesia dan menyajikan aspek-aspek terbaik dari Indonesia kepada para pengguna jasa.

Konsep Garuda Indonesia Experience tersebut diimplementasikan melalui kelima panca indera, yaitu sight, sound, taste, scent, dan touch, pada 24 customer touch points, mulai dari layanan pre-journey, pre-flight, in-flight hingga post flight dan post journey.

--

Dahsyat


Parkirnya 'Dahsyat'!
Jumat, 19/09/2014 17:24 WIB

Dahsyat parkirnya. Lokasi: Jalan Medan Merdeka Selatan, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia

--

Rokok


Bedil kuno


Senin, 15 September 2014

Mesranya



Mesranya Mobil Derek Dengan Mobil yang Parkir di Bahu Jalan

Senin, 15/09/2014 19:55 WIB

Ironis Jalan ini dijaga 3 mobil derek Pemerintah DKI, namun kehadiran mobil2 derek dan perugas tak punya pengaruh. Lokasi: Toko Sepatu Bata, Jalan Kalibata, Pancoran, Jakarta 12780, In

--

Atap pagoda


Minggu, 14 September 2014

Strategi licik


Rombongan Pengendara Melawan Arah




Video: Rombongan Pengendara Melawan Arah di Cideng Timur

http://m.detik.com/pasangmata/contribution/47682

Jumat, 05/09/2014 18:01 WIB

Rombongan lawan arah masih di sekitaran cideng timur

--

Bakpia Patuk




Acara Tahunan 'Merti Bakpia' yang di Selenggarakan di Patuk

Minggu, 14/09/2014 18:21 WIB

Yogyakarta-Minggu(14/9),Gunungan Bakpia mnjadi ikon di gelaran tahunan, tradisi " Merti Bakpia " yang ketiga kalinya di kawasan Patuk, Ngampilan, Yogyakarta. Tradisi ini diadakan setiap tanggal 14 September. Dua gunungan, yaitu gunungan lanang dan gunungan wadon, nantinya akan diperebutkan warga, sebagai makna pengharapan dan rasa syukur kepada yang Kuasa, dan mempertahankan bakpia.

--

Kepiting nya guede bener


Agama dan Tamasya Hermeneutika: Mengaji Kitab Karya Kiai Husein Muhammad (4)


From: hernowo hasim 


Agama dan Tamasya Hermeneutika: Mengaji Kitab Karya Kiai Husein Muhammad (4)
Oleh Hernowo
 
 
"Saya ingin menerjemahkan term 'hermeneutika' sebagai 'takwil'. Hal ini karena al-Razi sendiri tidak menggunakan kata 'al-himinithiqiyyah' dalam karya-karya intelektualnya. Khazanah intelektual Islam juga tidak memperkenalkan term tersebut. Yang ada dalam tulisan-tulisan para intelektual Muslim awal adalah 'Qanun al-Ta'wil' sebagaimana salah satu kitab yang ditulis oleh Imam Abu Hamid al-Ghazali," tulis K.H. Husein Muhammad dalam mengawali ulasannya atas sosok Imam Fakhruddin al-Razi dalam buku Mengaji Pluralisme kepada Mahaguru Pencerahan buah karyanya.
 
Dalam Bab Kedelapan bukunya itu, Kiai Husein memang secara khusus mengulas sosok al-Razi yang disebut-sebut sebagai intelektual Muslim yang lengkap keilmuwanannya sekaligus juga ahli takwil. Bab tersebut diciptakan oleh Kiai Husein ketika beliau diminta membahas "Dasar-dasar Hermeneutika ala al-Razi" dalam sebuah pengajian. Menurutnya, "Qanun al-Ta'wil" yang dikaitkan dengan Imam Abu Hamid al-Ghazali dapat juga disebut sebagai "Dasar-dasar Hermeneutika", sementara istilah "hermeneutika" (al-himinithiqiyyah) sendiri tidak populer pada masa kehidupan al-Razi.
 
K.H. Husein Muhammad
 
"Sepanjang yang saya tahu," lanjut Kiai Husein, "kajian hermeneutika baru diperkenalkan dalam masyarakat Muslim oleh intelektual progresif, pada sekitar akhir abad kedua puluh ini. Di antara mereka, Nasr Hamid Abu Zaid, menerjemahkan hermeneutika sebagai takwil. Kajian hermeneutik atau takwil ini sungguh amat menarik sekaligus mendasar dalam kerangka diskursus pemikiran kebudayaan dan diskursus keagamaan. Ia adalah alat analisis bagi upaya manusia memahami dan menemukan arti, maksud atau pesan dari sebuah teks, narasi bahasa sastra, representasi-representasi, ekspresi-ekspresi kebudayaan, tanda-tanda atau simbol-simbol lain."
 
Nah, apa yang dikatakan oleh Kiai Husein tersebut benar-benar saya temukan kedahsyatan dan keindahannya ketika saya membaca buku Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutikakarya Komaruddin Hidayat (Mizan, Mei 2011). Komaruddin Hidayat adalah Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Buku Bang Komar—demikian saya sering memanggilnya—ini pernah diterbitkan oleh Penerbit Paramadina pada 1996 dan kemudian oleh Penerbit Teraju pada 2003. Edisi terbaru bukuMemahami Bahasa Agama yang diterbitkan-kembali oleh Mizan itu kini dilengkapi dengan tiga pengantar yang diberikan oleh almarhum Nurcholish Madjid, Yasraf Amir Piliang (ahli posmodernisme), dan Haidar Bagir (ahli filsafat).
 
Almarhum Cak Nur
 
Judul tulisan yang saya gunakan kali ini merupakan judul yang saya pinjam dari judul tulisan pengantar Yasraf Amir Piliang untuk buku Memahami Bahasa Agama. Saya menggunakan judul Yasraf untuk ikut merasakan keasyikan bertamasya-intelektual dengan menggunakan "kendaraan" bernama "hermeneutika". Saya sendiri sangat awam dengan "kendaraan" atau metode memahami makna teks yang bernama hermeneutika tersebut. Namun, ketika membaca ulasan Kiai Husein tentang al-Razi dan kemudian saya padukan dengan ulasan-ulasan menarik yang disajikan oleh Cak Nur, Yasraf, dan Haidar, saya pun terpesona. Coba perhatikan apa yang disampaikan oleh Cak Nur—dengan merujuk ke pemikiran Ibn Rusyd—terkait dengan sebuah ayat Al-Quran yang berbunyi sebagai berikut ini:
 
"Dia (Tuhan) yang telah menurunkan kepada engkau (Muhammad) Kitab Suci, yang di dalamnya terdapat ayat-ayat muhkamat yang merupakan induk Kitab Suci (Umm al-Kitab), dan ayat-ayat lain yang mutasyabihat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya terdapat keserongan, mereka akan mengikuti bagian-bagian yang tersamar (mutasyabihat) daripadanya, dengan tujuan membuat fitnah (perpecahan) dan mencari takwil bagian-bagian tersamar itu. Padahal tidak mengetahui takwilnya kecuali Allah. Sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya maka akan menyatakan, 'Kami percaya kepada Kitab Suci itu; semuanya dari sisi Tuhan kami.' Dan tidaklah akan dapat merenung (menangkap pesan) kecuali orang-orang yang berpengertian mendalam." (QS Ali Imran [3]: 7)
 
Yasraf Amir Piliang
 
Menurut Cak Nur (halaman 41 dan 42)—apa yang disampaikan Cak Nur ini juga diulas oleh Haidar Bagir dalam pengantarnya di halaman 11 buku Memahami Bahasa Agama—"Bagi Ibn Rusyd, firman Tuhan bersangkutan itu harus dibaca oleh kaum khawas sedemikian rupa sehingga 'orang-orang yang mendalam ilmunya' termasuk dalam yang mengetahui takwil ayat-ayatmustasyabihat. Yaitu dengan memindah tanda baca berhenti (waqaf) sehingga terbaca: '...Padahal tidak mengetahui takwilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Mereka ini berkata, "Kami beriman kepada Kitab Suci itu; semuanya dari sisi Tuhan kami...."' (QS Ali Imran [3]: 7)', sebagai ganti cara baca oleh kaum awam (lihat terjemahan kutipan firman itu di atas)—uraian tentang ini lihat, Ibn Ruysd,Fashl al-Maqal wa Taqrir ma bayn al-Hikmah wa al-Syari'ah min al-Ittishal. Terjemahannya lihat buku suntingan saya,Khazanah Intelektual Islam (1984)."
 
Sampai di sini, saya (semoga juga Anda) dapat merasakan betapa mengasyikkannya dapat menyelenggarakan "tamasya hermeneutika". Bayangkanlah andaikan teks-teks yang kita baca—apalagi jika itu merupakan teks-teks "langit" atau keagamaan—dapat menghadirkan makna yang sangat banyak dan sangat kaya sehingga diri kita kemudian menjadi luas dan besar serta berkembang bersama-sama makna dari teks-teks keagamaan tersebut. Saya benar-benar sulit melukiskan keindahan "tamasya hermeneutika" itu ketika saya kemudian membaca baris-baris kalimat Yasraf Amir Piliang berikut ini yang terdapat di halaman 21 buku Memahami Bahasa Agama:
 
"Hermeneutika adalah ilmu penafsiran teks, yaitu penyelidikan tentang makna sebuah teks. Penafsiran hermeneutik bukan berarti pencarian 'makna tunggal', melainkan segala kemungkinan makna yang disediakan oleh sebuah teks. Akan tetapi, hermeneutika tidak sekadar upaya penyingkapan intensi psikologis atau makna yang dimaksud oleh 'pengarang'; ia adalah pembentangan 'dunia kemungkinan makna' yang ditampakkan oleh teks. Dengan membangun semacam 'jarak' (distance) dari pengarang, dan dengan menempatkan teks dalam konteks kehidupan masa kini, aneka kemungkinan makna baru dapat dihasilkan." Alhamdulillah.[]

--

Bakso sunsum yg maknyus


Pake kostum begini kalo kebelet pipis susah


Suasana temaram


Nih kan


Test logika


Cinta ala india

video

Apa Fungsinya Zebra Cross?




Jika Pemotor Terobos Garis, Apa Fungsinya Zebra Cross?

Minggu, 14/09/2014 08:41 WIB

terus zebra cross fungsinya buat apa?? pas bikin SIM tes tertulisnya lulus gak ya nih semua? Lokasi: Jembatan Tiga, Penjaringan, DKI Jakarta, Indonesia

--