Rabu, 18 Juni 2014

mengapa




Regional

Koleksi Bung Karno Seharga Triliunan Rupiah Tak Bisa Dipamerkan, Mengapa?
Kompas.com/SABRINA ASRIL
Patung peminta hujan dilapisi kain untuk menutupi permukaannya yang menampilkan organ manusia di Istana Bogor, Rabu (28/5/2014).
Minggu, 15 Juni 2014 | 12:28 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Sebagian besar koleksi Bung Karno senilai triliunan rupiah tak bisa dipamerkan. Sebab, sampai sekarang, belum ada alokasi dana untuk konservasi sedang dan berat.

Demikian diungkapkan Direktur Pengembangan Seni Rupa dan Kriya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Watik Murwati, Selasa (10/6/2014). Ia menyampaikan hal itu menjawab pertanyaan salah seorang peserta diskusi Pameran Seni Rupa ArtJog, di Taman Budaya, Yogyakarta. 

Watik mengatakan, ribuan koleksi Bung Karno yang diserahkan kepada negara itu sampai sekarang sebagian besar belum bisa dipamerkan karena belum dikonservasi sedang atau berat. "Jumlah total koleksi Bung Karno ada sekitar 10.000, yang 5.000 di antaranya berupa barang seni kriya," ujarnya. 

Satu rupiah 
Watik mengatakan, saat usulan alokasi dana konservasi diajukan ke Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), Bappenas menolak karena besarnya dana konservasi yang diusulkan tidak sebanding dengan jumlah dan nilai barang yang hendak dikonservasi.

"Mengapa? Karena barang-barang koleksi Bung Karno tersebut--sesuai arsip dokumen lama, masih dihargai dengan harga lama. Ada yang cuma Rp 1, ada yang Rp 2,5, ada yang Rp 5, termasuk lukisan karya Konstantin Egrovick Makowsky yang kini nilainya sudah mencapai miliaran rupiah," kata Watik. 

Makowsky adalah pelukis ternama dari Rusia. Dua di antara tiga lukisan besarnya menjadi koleksi Bung Karno. Satu lainnya ada di London, Inggris. "Rusia sendiri sudah tidak punya lukisan berukuran besar karya Makowsky. Di dunia ya tinggal tiga itu saja," ujar Watik. 

Satu dari dua karya tersebut sekarang dipajang di ruang kerja presiden, gedung induk, Istana Presiden di Bogor, Jawa Barat. 

Watik menjelaskan, jika nilai barang yang hendak dikonservasi hanya Rp 1 rupiah, tetapi biaya konservasi yang diusulkan ke Bappenas mencapai puluhan juta rupiah, itu pasti ditolak lembaga tersebut.

Untuk mengatasi hal tersebut, kini catatan nilai koleksi Bung Karno saat ini sedang disesuaikan dengan harga pasar dunia. Watik memperkirakan, nilai koleksi Bung Karno seluruhnya sesuai harga pasar dunia saat ini, di bawah atau hampir Rp 5 triliun.

Ribuan koleksi Bung Karno tersebut kini tersebar di lima istana presiden--di Istana Tampaksiring, Bali, Istana Bogor, Istana Cipanas, Istana Merdeka dan Istana Negara  Jakarta, serta di Istana Gedung Agung, Yogyakarta. 

Katalog 
Ketika masih menjadi Kepala Bagian Museum dan Sanggar Seni Istana-istana yang kini dijabat Ade Wahyuni, Watik pernah mengusulkan agar dibuat katalog seluruh koleksi Bung Karno. Usulan lain, mengonservasi sedang dan berat terhadap sebagian koleksi Bung Karno. Tetapi, hal itu ditolak.

"Katalog bagi publik ini perlu agar publik pun bisa mengawasi jumlah dan kondisi koleksi Bung Karno," ujarnya. 

Ia mengatakan, publik memang berhak melihat dan menikmati seluruh koleksi Bung Karno. "Waktu Ibu Megawati menjadi presiden, beliau pun mengatakan pada saya, 'Bung Karno mewariskan seluruh koleksinya untuk bangsa Indonesia. Oleh karena itu harus bisa dilihat dan dinikmati seluruh bangsa'," tutur Watik. 

Meski demikian, hingga kini publik hanya bisa menikmati puluhan koleksi Bung Karno saja.

Penulis: Windoro Adi
Editor: Glori K. Wadrianto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar