Jumat, 06 Juni 2014

black campaign



BLACK CAMPAIGN.

Kata-kata mampu menembus benteng atau geladak kapal yang paling tahan meriam sekalipun. Napoleon lebih takut kata-kata daripada moncong meriam. Dia bisa lebih lembut dari sutera tetapi bisa lebih tajam dari samurai Toyotomi Hideyosi, pendekar Jepang jaman Azuchi Momoyama.

Black campaign itu ada. Apalagi disaat-saat calon kepala daerah mengkampanyekan diri kepada publik. Black campaign merupakan sisi lain keping uang. Disatu sisi model kampanye bersih terbuka dan disisi lain kampanye terselubung dengan maksud menjatuhkan lawan. 

Kampanye offensive yang mencoreng muka lawan untuk dijauhi pemilih. Seturut dengan UU No. 32/2004 "kampanye pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang selanjutnya disebut kampanye adalah kegiatan dalam rangka meyakinkan para pemilih dengan menawarkan visi, misi, dan program pasangan calon" (pasal 1 ayat 23). Berbeda dengan kampanye hitam yang selalu bermuatan menjatuhkan lawan.

Kenali black campaign

Secara harafiah black campaign bisa diartikan sebagai kampanye kotor menjatuhkan lawan dengan menggunakan isu negatif tidak berdasar. Dahulu "kampanye hitam ini" juga dikenal sebagai whispering campaign melalui mulut ke mulut, bisa bisa lebih canggih dengan menggunakan media elektronik.
Secara umum black campaign memiliki ciri yang sangat pokok yaitu lebih banyak bual daripada fakta. Memang mungkin saja terdapat satu atau dua fakta tetapi dia akan diolah sedemikian rupa untuk dilontarkan untuk mempengaruhi opini publik kearah yang negatif.

Black campaign bisa merupakan serangan terbuka. Metode ini sangat mudah dikenali berniat menjatuhkan lawan. Berisi sisi negatif lawan dan selalu dilebih-lebihkan dengan fakta yang tidak jelas kebenarannya. Para pemilih harus mengamati mana yang fiktif dan yang sebenarnya.
Kampanye kotor juga bisa dilakukan secara sporadis dengan menunggu momen yang tepat dan hilang dalam waktu yang cepat. Biasanya dia selalu menunggu saat yang tepat untuk menyerang, misalnya menunggu opini tertentu sebagai pembuka jalan. Jika pembahasan mereda ketika itulah "sang penyerang" hilang sementara.

Model lain adalah dengan melakukan bunuh diri. Biasanya "sang penyerang" melakukan hal ini juga dengan tertutup. Hebatnya ini adalah model black campaign yang sistematis. Kelompok lawan akan berupaya menyusupkan "orangnya" masuk ke kubu lawan. Bila si penyusup sudah masuk maka dia akan berupaya membuat sesuatu yang merugikan kelompok yang disusupi. Seringkali pernyataan yang keluar 
justru kontraproduktif, misalnya membuat pernyataan yang membuat pemilih marah, benci dan kehilangan simpati. Hal ini tentu akan merugikan kelompok yang disusupi dengan merusak citra.

Tetapi yang pasti dari semua pola kampanye itu sangat sulit dibuktikan "pelaku intelektual" dibalik serangan tendensius dan negatif itu.
Dua unsur yang menonjol dalam black campaign ini adalah berita yang keluar dari fakta, membesarbesarkan kenyataan, tendensius, dan berpotensi membunuh karakter. Ini tentu juga merugikan publik karena publik berhak mendapatkan berita yang benar dan berdasarkan fakta. Mengumandangkan sebuah pesan yang tidak berdasar pada fakta adalah pelanggaran terhadap hak publik.

Bagaimana menghadapi black campaign?

Secara karikatur, aktor dibalik kampanye negatif itu ibarat bayang-bayang raksasa yang sedang tertawa. Dia ada diantara kerumunan massa yang bimbang. Tidak ada yang menduga bagaimana rupanya, kadang bisa seperti malaikat berwajah lembut tetapi bisa berwatak liar dengan mata nanar.
Mari kita lihat, adakah peluang untuk menghadapinya?

I. Bila anda kandidat
Black campaign, dalam beberapa pola, akan menjadi semakin kuat bila dilawan. Karena kita sedang menghadapi hantu dengan demikian kita tidak tahu siapa musuh. Sudah menjadi hukum alam bahwa aksi sebanding dengan reaksi. Ketika kita memukul tembok maka reaksinya bisa berbeda. Semakin keras kita memukul maka semakin keras penolakan. Bila lembut kita memukul maka lembut pula tolakan dari tembok.

Dalam kasus seperti ini black campaign akan hilang bila tidak dilawan. Tujuan kampanye negatif ini salah satunya untuk menarik perhatian massa. Bila kita terpancing maka kasus menjadi besar dan kemudian akan menjadi perhatian publik. Salah satu target kampanye negatif tercapai. Namun dia akan hilang bila kita santai menghadapi.

Tentu tidak semua kampanye negatif harus didiamkan. Adakalanya kita harus menanggapi tetapi tentu dengan santai dan sebisa mungkin guyon. Guyonan cerdas berpotensi mengalihkan isu tersebut. Jadi santai saja jangan emosional. Tidak akan ada untungnya bertarung dengan hantu.

Kita menghamburkan energi. Model lain untuk mengalihkan isu adalah dengan membalikan dia menjadi senjata kita. Teori kelemahan menjadi kekuatan adalah model cerdas. Kita tidak perlu hambur energi untuk menghimpun kampanye. Cukup menunggu lalu cerdas menjawab, misalnya dengan mengatakan kita terdzolimi. Terkadang upaya ini ampuh menampung simpati massa. Yang sulit adalah pola tersistematis dengan penyusupan pihak lawan untuk menghancurkan dari dalam. Maka yang harus dilakukan adalah sterilisasi kelompok kita, dengan mengenali kawan dan lawan. Infiltrasi dari luar yang masuk ke dalam jauh lebih berbahaya dari musuh didepan mata. Dalam teori manajemen konflik hal ini hanya bisa diatasi dengan menjaga setiap kawan dan mengawasi setiap lawan. Bila ada yang terindikasi sebagai penyusup tidak elok juga bila kita reaktif. Hal itu seringkali justru itu sebagai "bunuh diri". Yang cerdas adalah rawat dia baik-baik, raih simpatinya, namun jangan beri ruang terlalu luas untuk speak out. Niscaya keuntungan akan menjadi milik kita. Dan menghadapi pola ini evaluasi akan menjadi penting.

Dari setiap kampanye negatif, tidak semua berada pada area negatif. Terkadang pada kampanye seperti itu yang keluar dari orang yang tidak berkepentingan langsung dengan kompetisi yang sedang berlangsung adalah cermin.
Umumnya kampanye ini tidak menyerang sisi subyektif tetapi sisi obyektif. Tidak menyangkut pribadi tetapi lebih mengarah pada kinerja atau program. Kalau memang dia senyatanya maka tentu dia berguna sebagai cermin. Kita dapat berkaca darinya.

II. Bila anda masyarakat
Kenali setiap kandidat yang tampil. Berpikirlah obyektif dan tidak subyektif. Kinerja yang dihasilkan bukan berdasarkan latar belakang dirinya tetapi apa yang hendak dilakukannya tentu berdasarkan data pengalaman yang nyata. Ini fakta empirik. Karena itu penting bagi masyarakat sebagai massa pemilih untuk mengenali lebih jauh setiap kandidat yang tampil. Tetapi persoalannya adalah sejauh mana dia mampu memberikan ksejahteraan kepada seluruh masyarakat.

III. Bila anda aparat 
Aparat di daerah sangat berpotensial meredam aksi black campaign. Setiap aparatur didaerah yang akses informasinya lemah maka akan menjadikan aparat daerah sebagai tempat bertanya. Bila demikian maka jawablah dengan proporsional. Katakan yang sebenarnya bila tahu sebenar-benarnya tetapi katakan tidak bila memang tidak tahu. Atau jangan katakan apapun bila kemudian akan mendiskreditkan calon lain secara subyektif. Sesuai dengan UU maka setiap aparat wajib untuk bersikap netral, tidak memihak. Aparat juga bertanggung jawab menolak kampanye negatif.
Seberapa ampuh black campaign?

Kampanye adalah upaya mengangkat citra baik dimata massa pemilih untuk meraih simpati. Tetapi dia juga berpotensi memberikan citra buruk dimata setiap konstituen. Sepintas black campaign menjanjikan kemenangan. Namun dia tidak akan berarti apa-apa bila kita cerdas mengolahnya menjadi kekuatan kita.
Kultur politik kita memang dalam masa transisi, peralihan, dan mungkin masih belajar. Secara sistem kunci dari itu semua adalah penegakan hukum. Dan secara non-sistem marilah kita belajar untuk jujur terhadap diri sendiri.
Bangsa ini akan mundur bila praktek ketidak jujuran masih berjalan. Karena ini sangat menentukan tingkat kedewasan kita dalan berdemokrasi.(lui)

(leadership park)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar