Sabtu, 24 Mei 2014

Toko Ali Murah, Jeddah



From: syauqiyahya@gmail.com

Berburu Buah Tangan Murah di Jeddah

Oleh: Jumadi Mappanganro | 10 July 2012 | 10:43 WIB


JIKA sedang umrah atau perjalanan haji, saran saya untuk jamaah asal Indonesia tak perlu belanja buah tangan di Madinah. Pun di Mekah. Di dua kota ini, sebaiknya fokus saja ibadah. Perbanyak saja waktu berada di Masjid Nabawi saat di Madinah dan di Masjidil Haram ketika di Mekah.

Urusan belanja ole-ole, saran saya sebaiknya dilakukan di Jeddah saat hendak pulang ke Tanah Air. Sebab biasanya jamaah umrah atau haji asal Indonesia yang akan pulang melalui Bandara Internasional King Abdul Azis diberi kesempatan jalan-jalan di Jeddah.

Belanja di Jeddah, beragam buah tangan bisa dengan mudah ditemui. Harganya pun kebanyakan lebih murah dibanding produk yang sama dijual di Madinah maupun di Mekah. Itulah yang saya alami saat umrah pada April 2012 lalu.

Sebelum pulang ke Tanah Air, travel yang membawa kami memberi kesempatan jalan-jalan di kota Jeddah selama dua hari satu malam. Nah saat berada di kota yang terletak di tepian laut merah ini, kami menyempatkan ke Balad. Di kawasan inilah banyak orang berburu buah tangan. Terutama jamaah asal Indonesia.

Sebab di kawasan ini, kata Direktur Perusda Sulsel Haris Hodi, tersedia beragam buah tangan yang harganya terjangkau banyak orang. Di kawasan inilah berdiri Cornice Shoping Center dan puluhan toko yang menyediakan aneka buah tangan dan kuliner.

Para pedagang di kawasan ini datang dari berbagai penjuru dunia. Namun kebanyakan telah menjadi warga negara Arab Saudi. Kebetulan, pusat perbelanjaan ini berdekatan dengan hotel yang kami tempati menginap semalam di Jeddah, Red Sea Palace Hotel. Untuk sampai ke kawasan ini, kami hanya berjalan kaki dari hotel.

Bahasa Indonesia
Yang menarik, banyak toko di kawasan ini menggunakan nama bahasa Indonesia disertai kata murah. Di antaranya Toko Ali Murah, Toko Sultan Murah, Toko Amir, dan Toko Gani Murah. Toko-toko ini saling berdempetan.

Penggunaan kata murah itu, mungkin karena para pemilik toko itu hendak menarik perhatian para calon pembeli asal Indonesia. Ya semacam trik pemasaran barangkali. Sebab mereka tahu bahwa umumnya pembeli asal Indonesia memang suka yang murah. Termasuk saya. Hehehe….

Yang membuat saya senang, karena para pelayan sejumlah toko yang kami datangi di kawasan ini lancar berbahasa Indonesia. Bahkan ada beberapa pelayan toko itu juga fasih mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Jawa, Bugis, maupun Makassar.

Jadi, jamaah yang tak menguasai bahasa Arab atau Inggris, tak perlu khawatir belanja di kawasan ini. Cukup bahasa Indonesia saja, tawar menawar pun bisa dilakukan saat belanja di Balad. Tapi jangan datang saat waktu salat tiba. Sebab pusat perbelanjaan di kawasan ini, setiap waktu salat tiba ditutup beberapa saat ini. Usai salat, toko-toko ini kembali buka.

Ali Murah
Nah, dari banyak toko di kawasan tersebut, Toko Ali Murah tampaknya paling dikenal dan banyak dikunjungi jamaah asal Indonesia. Di toko ini tersedia beragam buah tangan yang bisa dibawa pulang untuk dibagi-bagikan ke teman, kerabat, keluarga, maupun kenalan di Tanah Air.

Beragam buah tangan itu di antaranya berupa pakaian khas masyarakat Arab, songkok, tasbih aneka ukuran dan warna, sajadah, parfum, dan buah kurma. Ada juga aneka baju kaos, karpet, kerudung, abaya (baju tradisional perempuan Arab berwarna hitam), jam tangan, pasmina, celak mata, hingga hena serta beragam souvenir lainnya juga tersedia di toko ini.

Umumnya produk yang dijual di toko ini merupakan barang impor. Kebanyakan dari China. Ada juga dari India, Bangladesh, Turki hingga Pakistan. Di toko ini, kita bisa kok menawar. Menawar pun gunakan bahasa Indonesia saja. Sebab para pelayan di toko ini rupanya kebanyakan tenaga kerja asal Indonesia .

Tak punya uang riyal? Tak perlu khawatir. Pakai saja uang rupiah. Dijamin terima. Ya itulah hebatnya mata uang rupiah kita. Hehehe….

Di toko inilah saya belanja tasbih yang harganya hanya 1 riyal atau setara Rp 2.500 per tasbih. Jilbab 10 riyal atau setara Rp 25 ribu per lembar. Satu songkok dijual 5 riyal atau setara Rp 12.500. Murah kan? Tapi ada juga yang mahal. Tergantung kualitasnya.

Pemilik toko tersebut adalah Ali Khan. Ia berasal dari Bangladesh. Lelaki bertubuh gempal ini murah senyum. Pun tak pelit menurunkan harga jualannya mengikuti permintaan pembeli. Juga selalu rela diajak berfoto bersama oleh para pengunjung tokonya. Saya dan beberapa teman sempat berbelanja di toko ini sekaligus berfoto bersama dengan Ali Khan yang berkulit agak gelap ini.

"Saya sudah beberapa kali mampir ke Makassar jika sedang berada di Indonesia," tutur Ali Khan dalam bahasa Indonesia yang lancar saat saya memperkenalkan diri dan menyebut berasal dari Makassar, Indonesia. Saat itu, 8 April 2012 lalu.

Pada percakapan itu, Ali Khan menceritakan juga telah memiliki sejumlah usaha serupa di Indonesia. Di antaranya di Jakarta dan Surabaya. Sempat pula, katanya, terpikir membuka usaha serupa di Makassar saat berkunjung ke Makassar. Namun belum terealisasi.

Jika haus dan lapar berburu buah tangan di Balad, tak perlu khawatir. Di lokasi ini juga tersedia aneka makanan dan minuman. Harganya pun relatif murah. Satu botol air mineral harganya 2 riyal atau setara Rp 5 ribu. Harga yang sama untuk segelas kopi susu atau teh susu panas.  Sedangkan harga makanannya bervariasi. Dengan uang 10 riyal atau setara Rp 25 ribu, kita sudah bisa menikmati makanan enak dan mengenyangkan.

Selain Balad, pusat belanja murah di Jeddah juga ada di kawasan Haraj Al-Sawarikh. Di kawasan ini menjual aneka barang baru dan bekas. Kalau mau berburu buah tangan berupa produk fashion ternama dunia, juga ada tempatnya. Namanya Tahlia Street. Pusat perbelanjaan barang mewah dengan harga lumayan mahal ini berada di tengah Kota Jeddah.

Namun saat itu kami tak sempat ke sana. Sebab kebutuhan ole-ole sudah terpenuhi saat belanja di Toko Murah Ali. Saat itu kami hanya menyempatkan melihat kawasan Haraj Al-Sawarikh dan Tahlia Street dari atas bus yang mengantar kami jalan-jalan menyusuri Kota Jeddah sebelum ke Bandara Internasional King Abdul Azis. (jumadi mappanganro)

Ditulis di Makassar, 10 Juli 2012


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar