Jumat, 02 Mei 2014

Saya Tak Akan Ubah Keputusan Bailout Century"





Wawancara Khusus Sri Mulyani - 02 Mei 2014
"Saya Tak Akan Ubah Keputusan Bailout Century"
Nur Farida Ahniar, Metta Dharmasaputra


KATADATA - Hari ini, Jumat, 2 Mei 2014, mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati hadir sebagai saksi dalam persidangan kasus Bank Century dengan terdakwa mantan Deputi Gubernur BI Budi Mulya. Sebagai tokoh kunci dalam kebijakan bailout Century, Sri Mulyani menekankan bahwa kebijakan penyelamatan bank Century memang harus dilakukan. Sebab, yang diselamatkan bukan hanya bank bobrok itu, melainkan ribuan triliun aset perbankan.

Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana pertimbangan KSSK dalam mengambil kebijakan penyelamatan Bank Century, beberapa waktu lalu, Katadata melakukan wawancara singkat jarak jauh dengan Sri Mulyani yang kini menjabat sebagai Managing Director Bank Dunia dan bermukim di Washington D.C., Amerika Serikat.

Apa pertimbangan utama Menkeu dalam mengambil kebijakan bailout Century?
Tatanan logika dan urutan pendekatan dari sisi fungsi Menteri Keuangan sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yaitu mencegah dan mengendalikan krisis keuangan dan ekonomi. Karena itu, Menteri Keuangan akan melakukan langkah dan keputusan untuk mencapai tujuan atau amanat tersebut.

Langkah "ideal" adalah memberikan jaminan keseluruhan perbankan, karena suasana krisis keuangan dunia membuat kita berada dalam situasi "terancam" oleh imbas (krisis) secara menyeluruh. Negara tetangga, seperti Australia, Singapura, dan Malaysia sudah melakukan kebijakan tersebut. Ini menyebabkan Indonesia "terpojok" dengan pilihan kebijakan yang masih bisa atau dapat dilakukan.

Kenapa pilihan yang diambil KSSK menyelamatkan Century?
Karena kebijakan jaminan penuh tidak diberikan, dan adanya selisih pendapat antara Presiden Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, maka Menteri Keuangan tidak memiliki opsi ideal tersebut. Pilihan menutup bank pada saat adanya ancaman krisis keuangan global, tidak tersedia. Sebab, ada kekhawatiran (penutupan bank akan) memicu efek berantai dari segi psikologis dan kepanikan nasabah yang tidak dijamin. Jadi, pilihan terbatas pada menyelamatkan.

Bila anda mengetahui bahwa biaya bailout akan mencapai Rp 6,7 triliun, apakah Century akan tetap di-bailout?
Kalaupun saya mengetahui biayanya Rp 6,7 triliun, saya tidak akan mengubah keputusan. Sebab, yang diselamatkan adalah ribuan triliun aset perbankan, serta stabilitas sistem keuangan yang harus dijaga. Yang berbeda adalah proses due dilligence yang harus dipenuhi oleh BI dan  Lembaga Penjamin Simpanan. Sebab, dana LPS hanya 11 triliun. (Padahal) untuk menyelamatkan satu bank (Century) sudah habis hampir 70 persen. Bagaimana kalau ada bank lain yg terancam? Juga adanya due dilligence dari lembaga terkait lainnya, seperti Badan Pemeriksa Keuangan, atau bahkan melibatkan Komisi Pemberantas Korupsi, Kejaksaan dan Kepolisian kalau mengetahui kebrobrokan bank sedemikian parah dan dalam.

Artinya kebijakan soal bailout tetap tidak berubah?
Ini memang tidak mengubah dasar logika bahwa yang diselamatkan Menteri Keuangan adalah sistem keuangan dan perbankan. Tugas Menteri Keuangan adalah menyelamatkan perekonomian dari ancaman krisis global. Jadi, bukan menyelamatkan satu bank yang kebetulan bobrok.

--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar