Selasa, 13 Mei 2014

nyonya besar garuda indonesia


PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. pada hari ini, Senin (12/5) mendatangi kantor Dewan Pers Indonesia di kawasan Kebon Sirih, Jakarta. Garuda menyampaikan laporan keberatan kepada Dewan Pers berkaitan dengan adanya pemberitaan ini. Dalam laporan yang disampaikan, Garuda Indonesia menilai informasi yang disampaikan dalam pemberitaan di dalam laman-laman tersebut melanggar norma dan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pers dan informasi. Pemberitaan tersebut juga dinilai tidak berimbang (bersifat one-sided) karena tidak melalui mekanisme cek dan recheck ataupun permintaan konfirmasi kepada pihak Garuda.

Lebih lanjut, perusahaan menilai isi pemberitaan-pemberitaan tersebut sama sekali tidak benar dan tidak berdasar sehingga karenanya dapat mencemarkan nama baik PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. dalam kapasitasnya sebagai perusahaan milik negara dan milik publik, termasuk jajaran Direksi sebagai pribadi maupun keluarga.

NAMANYA JUGA MEMBELA DIRI.....

Perilaku Nyonya Besar Direktur Utama PT Garuda Indonesia

ASATUNEWS - Celoteh Menteri BUMN Dahlan Iskan mengenai kelakuan para istri bos-bos BUMN pada Juli 2013 lalu ternyata benar adanya. Ketika itu, Dahlan Iskan mengungkapkan kekesalannya atas perilaku "Nyonya Besar" istri Direktur Utama BUMN, yang berani intervensi, menekan, dan bertingkah seperti bos.

  • Nasional
  • Hukum & Kriminal
Perilaku Nyonya Besar Direktur Utama PT Garuda Indonesia
Kamis, 1 May 2014 23:03:27

VIEWED:

27013
    

ASATUNEWS - Celoteh Menteri BUMN Dahlan Iskan mengenai kelakuan para istri bos-bos BUMN pada Juli 2013 lalu ternyata benar adanya. Ketika itu, Dahlan Iskan mengungkapkan kekesalannya atas perilaku "Nyonya Besar" istri Direktur Utama BUMN, yang berani intervensi, menekan, dan bertingkah seperti bos.

Salah satu istri direktur utama BUMN yang dimaksud Menteri Dahlan Iskan diduga adalah Sandrina Abubakar Sattar, istri Emirsyah Sattar, Direktur Utama BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Informasi mengenai perilaku istri Emirsyah Sattar itu disampaikan salah seorang staf Garuda yang enggan disebut namanya. Dia mengaku, dirinya pernah diberi sanksi mutasi oleh Direktur Utama PT Garuda Indonesia karena menolak permintaan "Sang Nyonya Besar" Sandrina Abubakar untuk meloloskan perusahaan tertentu rekanan Garuda dalam sebuah proyek pengadaan pada tahun 2013 lalu.

PT Garuda Indonesia kini dalam sorotan publik sehubungan dengan maraknya dugaan korupsi, kolusi, dan nepotisme di lingkungan BUMN pengangkutan udara itu. Di samping dugaan korupsi Direktur Utama PT Garuda Indonesia pada pengadaan 11 pesawat Boeing dan Airbus sebesar US$ 55 juta (Rp 700 miliar) dari ICBC Limited China serta komisi asuransi Aviation and Hull Insurance sebesar US$ 3,5 juta (Rp 40 miliar) dari BUMN PT Asuransi Jasindo, Emirsyah Sattar juga disebut-sebut pernah menghadiahkan sebuah lukisan senilai Rp 3 miliar kepada Ibu Negara dan menyuap oknum pimpinan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI sebesar US$ 2 juta (Rp 22 miliar) untuk mengamankan hasil audit BPK terhadap kinerja keuangan PT Garuda yang sekarang semakin memburuk.

Di samping merugi sekitar Rp 1,89 triliun pada tahun 2013 lalu, saham Garuda juga mengalami penurunan drastis menjadi Rp 450 per lembar, dibandingkan Rp 750 per lembar saham pada saat pertama kali IPO (initial public offering) pada tahun 2011 lalu.

Perseteruan antara Elisa Lumbantoruan yang Direktur Marketing PT Garuda Indonesia dengan Sandrina Abubakar pada tahun 2013 lalu menjadi penyebab mundurnya Elisa dari jajaran pimpinan maskapai penerbangan pelat merah itu.

Direksi PT Garuda Indonesia diinformasikan mengadakan rapat direksi mendadak selama dua hari belakangan ini, sehubungan dengan merebaknya isu korupsi di tubuh Garuda, terungkapnya perilaku hedonis Emirsyah Sattar.

Staf Garuda juga mengungkapkan keberadaan rumah-rumah mewahnya di Sydney-Australia, Singapura, London-Inggris, dan lain-lain. Emir juga dituding mengoleksi banyak mobil mewah, di antaranya mobil Ferari seharga Rp 4,8 miliar. Sebagian kekayaan Emirsyah Sattar itu diduga berasal dari korupsi atau suap yang diterima sang direktur utama, yang dikenal sebagai teman akrab Dino Patti Djalal (mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat) dan Muhammad Lutfi (Menteri Perdagangan dan mantan Duta Besar RI untuk Jepang). ST/ASN-021

- See more at: http://www.asatunews.com/hukum-kriminal/2014/05/01/perilaku-nyonya-besar-direktur-utama-pt-garuda-indonesia#sthash.HTUmsyXt.nduPUIvE.dpuf

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar