Selasa, 06 Mei 2014

manuk kacer


"Anda boleh nasionalis tapi jangan pengecut. Nasionalisme kita harusnya tidak korupsi, tidak buang sampah. Jangan nasionalisme yang sempit. Kita jadi orang yang wajar-wajar saja," ucap Basuki.

"Kaercher kan perusahaan kelas dunia. Jadi nantinya apa yang ia kerjakan di Monas akan jadi iklan dia di seluruh dunia. Sama kayak waktu dia mengerjakan proyek monumen nasional di negara lain. Jadi DKI dapat promosi," kata Basuki di Balaikota Jakarta, Senin (5/5/2014). 

Lebih lanjut, Basuki menolak anggapan yang mengatakan bahwa ia bukan seorang nasionalis karena telah memilih Kaercher, yang bukan perusahaan lokal. Menurutnya, orang-orang yang berpikiran seperti itu adalah orang yang memiliki jiwa nasionalisme yang sempit.

Basuki: Amerika Saja ke Bulan Kameranya Pakai Sony

Kaercher kan perusahaan kelas dunia. Jadi nantinya apa yang ia kerjakan di Monas akan jadi iklan dia di seluruh dunia.

Basuki: Amerika Saja ke Bulan Kameranya Pakai Sony
KOMPAS.com / FITRI PRAWITASARI
Taman Monumen Nasional (Monas)
Senin, 5 Mei 2014 | 12:35 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama kembali menjelaskan alasan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memercayakan pembersihan Tugu Monumen Nasional kepada perusahaan asal Jerman, Kaercher. 

Menurutnya, terpilihnya Kaercher karena perusahaan tersebut memenuhi tiga syarat yang diajukan, yakni dilakukan secara gratis, memiliki pengalaman, dan mampu mempromosikan ke seluruh dunia. 

"Kaercher kan perusahaan kelas dunia. Jadi nantinya apa yang ia kerjakan di Monas akan jadi iklan dia di seluruh dunia. Sama kayak waktu dia mengerjakan proyek monumen nasional di negara lain.  Jadi DKI dapat promosi," kata Basuki di Balaikota Jakarta, Senin (5/5/2014). 

"Masalahnya kalau pakai (perusahaan) lokal, mereka tidak punya pengalaman membersihkan monumen nasional di negara lain. Aku belum pernah dengar ada tim lokal yang sudah pernah membersihkan monumen nasional di negara lain. Kalau ada, pasti sudah aku kasih kok. Yang penting kalau rusak tanggung jawab," katanya lagi.

Basuki juga meminta agar polemik seputar proyek pembersihan Monas tidak diperpanjang. Karena menurutnya, masih banyak monumen-monumen lain yang belum tersentuh dari kegiatan pembersihan. 

"Makanya kalau ada orang ribut soal pembersihan Monas, kan masih banyak monumen yang perlu dibersihkan. Monumen Dirgantara Pancoran, Tugu Selamat Datang, kok tidak ada yang ribut mau bersihkan sih?" ujarnya. 

Lebih lanjut, Basuki menolak anggapan yang mengatakan bahwa ia bukan seorang nasionalis karena telah memilih Kaercher, yang bukan perusahaan lokal. Menurutnya, orang-orang yang berpikiran seperti itu adalah orang yang memiliki jiwa nasionalisme yang sempit. 

"Anda boleh nasionalis tapi jangan pengecut. Nasionalisme kita harusnya tidak korupsi, tidak buang sampah. Jangan nasionalisme yang sempit. Kita jadi orang yang wajar-wajar saja," ucap Basuki.

"Amerika naik ke bulan, kameranya pakai Sony. Jadi kita sudah bicara lintas negara. Isi handphone kita saja sudah dari berbagai negara, karena untuk efisiensi," tukasnya.

Seperti diberitakan, pembersihkan Monas oleh Kaercher akan dilakukan pada 5-18 Mei 2014. Pembersihan tersebut merupakan yang pertama kalinya sejak 1992. 

Kaercher merupakan perusahaan pembersih yang telah membersihkan lebih dari 80 monumen terkenal di dunia, seperti Basilika Santo Petrus di Vatikan (1998), Gunung Rushmore di Amerika Serikat (2005), dan London Eye di Inggris (2013). 

Diprotes

Menurut ARAI (Asosiasi Rope Access Indonesia) dan Apklindo (Asosiasi Pengusaha Klining Service Indonesia), Basuki tidak nasionalis karena lebih memilih Kaercher. Menurut ARAI dan Apklindo, mereka sebenarnya telah berkeinginan untuk membersihkan Monas sejak 2010 dalam bentuk CSR. 

Namun hingga Maret 2014, niat tersebut tak kunjung terealisasi lantaran birokrasi yang rumit di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sampai akhirnya, belum lama ini mereka baru mengetahui kalau Pemprov DKI telah menunjuk Kaercher untuk membersihkan monumen yang dibangun pada 1961 itu. 

"Pak Wagub begitu menganaktirikan kami, yang notabene adalah orang Indonesia yang punya keahlian rope access, bukan sekadar kumpulan pencinta alam yang bisa manjat doang," kata Sekretaris Aplindo Tommy Harjana melalui siaran persnya.

Penulis: Alsadad Rudi
Editor: Kistyarini


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar