Selasa, 13 Mei 2014

konsisten



Ada yang tetap konsisten dan ada yang mulai luluh....., tapi ibu Sumarsih memilih untuk tetap konsisten selama 16 tahun.

Sumarsih mengaku enggan menyebutkan nama utusan Prabowo itu lantaran khawatir dirinya akan mengalami kejadian buruk ke depannya. Dia berharap agar pemerintah segera menindaklanjuti hasil penyelidikan sejumlah kasus pelanggaran HAM pada masa lalu.

Sumarsih meyakini, selama ada keinginan kuat untuk membersihkan masa lalu dan menegakkan hukum yang seadil-adilnya, pelaku pelanggaran HAM akan segera bisa dimintakan pertanggungjawabannya.

Sumarsih Mengaku Menolak Tawaran Bantuan dari Prabowo - Kompas.com: Indonesia Satu

Maria Katarina Sumarsih, ibunda BR Norma Irawan atau Wawan yang tewas dalam Tragedi Semanggi I, mengaku sempat didatangi utusan mantan Panglima Komando Strategi Angkatan Darat, Prabowo Subianto, ke rumahnya pada akhir April 2014 lalu.

Senin, 12 Mei 2014 | 20:00 WIB

Sumarsih Mengaku Menolak Tawaran Bantuan dari Prabowo


JAKARTA, KOMPAS.com
 — Maria Katarina Sumarsih, ibunda BR Norma Irawan atau Wawan, yang tewas dalam Tragedi Semanggi I, mengaku sempat didatangi utusan mantan Panglima Komando Strategi Angkatan Darat, Prabowo Subianto, ke rumahnya pada akhir April 2014 lalu. Utusan Prabowo itu datang menawarkan bantuan pembiayaan bagi keluarga Sumarsih. Namun, Sumarsih menolak bantuan tersebut.

"Saya mengatakan kepada orang itu yang ke rumah, apakah Prabowo akan membersihkan diri dengan cara itu (memberikan nafkah)? Kemudian dijawab, beliau (Prabowo) akan membersihkan diri dengan cara kami akan diberi nafkah," ujar Sumarsih seusai bertemu dengan Dewan Pertimbangan Presiden di Jakarta, Senin (12/5/2014).

Sumarsih sempat mempertanyakan apakah Prabowo akan langsung bertemu dengan dirinya dan mengakui kesalahannya terkait pelanggaran HAM. Namun, dia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Oleh karena itu, Sumarsih mengusulkan agar Prabowo berani mempertanggungjawabkan tindakannya terkait penculikan aktivis 1997-1998, kasus Semanggi, dan kasus Trisakti.

"Ini sikap gentle dan yang kami tunggu atas peristiwa yang terjadi sebagai keluarga korban," ujar Sumarsih.

Sumarsih mengaku enggan menyebutkan nama utusan Prabowo itu lantaran khawatir dirinya akan mengalami kejadian buruk ke depannya. Dia berharap agar pemerintah segera menindaklanjuti hasil penyelidikan sejumlah kasus pelanggaran HAM pada masa lalu.

Sumarsih meyakini, selama ada keinginan kuat untuk membersihkan masa lalu dan menegakkan hukum yang seadil-adilnya, pelaku pelanggaran HAM akan segera bisa dimintakan pertanggungjawabannya.

"Kami sudah tidak diperlakukan baik oleh negara ini," ujar Sumarsih.

Selama delapan tahun ini, Sumarsih bersama keluarga korban lain dan aktivis HAM menggelar aksi diam di depan Istana Negara setiap hari Kamis dengan menggunakan pakaian hitam. Mereka menyebut aksi itu sebagai "Kamisan". Aksi Kamisan juga bentuk kekecewaan para keluarga korban pelanggaran HAM atas mandeknya kelanjutan proses hukum kasus-kasus tersebut.

Sumarsih mengaku tak terima dianggap berusaha menjegal langkah Prabowo dalam pilpres mendatang. Dia pun menyatakan tak peduli atas tudingan sejumlah politisi yang menyebut aksi para keluarga korban dan aktivis HAM ini sebagai komoditas politik lima tahunan.

"Kedatangan kami tidak ada kaitannya untuk menyerang atau menjegal yang bersangkutan. Ini bukan suara politik. Ini suara menuntut keadilan, bukan suara lima tahun sekali. Kami datang ke sini demi pengungkapan kebenaran, keadilan, dalam konteks perjuangan keluarga korban. Tidak ada urusannya dengan tuduhan-tuduhan semacam itu," ucap Sumarsih di hadapan anggota Wantimpres, Albert Hasibuan.

Editor: Sandro Gatra
Penulis:Sabrina Asril

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar