Sabtu, 17 Mei 2014

kekerasan anak




http://harianterbit.com/read/2014/05/18/2382/29/29/Kekerasan-Terhadap-Anak-Marak-Mensos-Takut-Loss-Generation

Satu dari tiga anak laki-laki dan satu dari empat anak perempuan usia 13–17 tahun di Indonesia mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan, baik seksual, fisik, atau emosional dalam 12 bulan terakhir. Sementara itu, sebanyak 900 ribu anak laki-laki dan 600 ribu anak perempuan usia 13–17 tahun mengalami kekerasan seksual dalam 12 bulan terakhir.

"Saya khawatir anak-anak kita menjadi generasi yang hilang. Mudah-mudahan anak-anak kita terhindar dan terselamatkan dari kejahatan seksual," Menteri Sosial (Mensos), Salim Segaf Al Jufri mengutarakan kekuatirannya, kemarin.
Mensos juga setuju dengan revisi Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002 dengan hukuman minimal pelaku 15 tahun dan maksimal seumur hidup atau kebiri.

Kekerasan Terhadap Anak Marak, Mensos Takut Loss Generation

Saya khawatir anak-anak kita menjadi generasi yang hilang. Mudah-mudahan anak-anak kita terhindar dan terselamatkan dari kejahatan seksual.

Kekerasan Terhadap Anak Marak, Mensos Takut Loss Generation

Minggu, 18 Mei 2014 00:01:00 WIB | Dilihat : 226
Kekerasan Terhadap Anak Marak, Mensos Takut Loss Generation
Ilustrasi

Jakarta, HanTer – Menteri Sosial (Mensos), Salim Segaf Al Jufri, mengkhawatirkan munculnya generasi yang hilang karena permasalahan anak yang sangat kompleks saat ini seperti kekerasan dan kejahatan seksual.
 
"Saya khawatir anak-anak kita menjadi generasi yang hilang. Mudah-mudahan anak-anak kita terhindar dan terselamatkan dari kejahatan seksual," katanya di Jakarta, kemarin.
 
Jumlah anak di Indonesia sekitar 89 juta anak. Kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi saat ini membuka mata semua pihak. "Berdasarkan survei yang dilakukan Kementerian Sosial dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) serta sejumlah lembaga lainnya terdapat data yang mencengangkan," kata Mensos.
 
Satu dari tiga anak laki-laki dan satu dari empat anak perempuan usia 13–17 tahun di Indonesia mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan, baik seksual, fisik, atau emosional dalam 12 bulan terakhir. Sementara itu, sebanyak 900 ribu anak laki-laki dan 600 ribu anak perempuan usia 13–17 tahun mengalami kekerasan seksual dalam 12 bulan terakhir.
 
Sementara pada rentang usia 18–24 tahun diperkirakan 1,1 juta remaja laki-laki dan 800 ribu remaja perempuan mengalami kekerasan seksual sebelum usia 18 tahun. Para pelakunya adalah orang-orang terdekat. Pada remaja perempuan, pelakunya adalah pacar, suami, dan laki-laki asing. "Yang kita inginkan tidak hanya menampung korban dan merehabilitasi, tapi yang sangat penting adalah pencegahan yang masif dengan gerakan nasional," tambah Mensos.
 
Yang tidak kalah penting adalah melakukan pendidikan pada keluarga agar keluarga bisa melakukan perlindungan terhadap anak. Karena tidak jarang orang tua tidak paham anaknya menjadi korban kekerasan.
 
"Kalau sudah terjadi, penanganan korban dilakukan secara profesional. Maka perlu Rumah Perlindungan Sosial Anak agar korban tidak lagi melakukan kejahatan seperti pelaku, jadi perlu rehabilitasi," katanya.
 
Mensos sepakat dengan hukuman kebiri kimia untuk diterapkan kepada pelaku kekerasan seksual. "Saya sangat setuju sekali," kata Mensos.
 
Mensos juga setuju dengan revisi Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002 dengan hukuman minimal pelaku 15 tahun dan maksimal seumur hidup atau kebiri.
 
Berdasarkan peraturan sebelumnya, hukuman maksimal bagi pelaku kekerasan seksual adalah 15 tahun penjara. Hukuman tersebut dinilai kurang memberikan efek jera.
(Ris)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar