Kamis, 22 Mei 2014

ganjar : standup comedy




Berlagak Lawakan, Gubernur Jateng Telanjur Malu

TEMPO.COTegal - Pemerhati transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, Djoko Setijowarno, menilai Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo telanjur malu sehingga menyatakan kemarahannya di jembatan timbang Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, pada 27 April 2014, hanya sebagai stand-up comedy. "Amplop berisi uang yang dia banting itu, kan, bukan uang pungli (pungutan liar)," kata Djoko, Rabu, 21 Mei 2014. 

Ganjar menganggap amukannya saat inspeksi mendadak di jembatan timbang Subah sebagai aksi lawakan. Popularitas Ganjar melonjak di media sosial gara-gara dirinya mengamuk di jembatan timbang Subah. Saking populernya, Ganjar diundang stasiun televisi untuk diwawancarai pelawak Thukul Arwana. Dalam diskusi di Universitas Diponegoro, Selasa, 20 Mei 2014, Ganjar menganggap amukannya sebagai aksi lawakan yang dia sebut sebagai stand-up comedy.

Djoko mengatakan amplop dari laci meja petugas jembatan timbang yang dibanting Ganjar saat melakukan inspeksi mendadak itu berisi uang sisa setoran. Menurut Djoko, jembatan timbang Subah ditarget menyetorkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekitar Rp 9 juta per hari. Jika dalam satu hari pemasukan di jembatan timbang lebih dari target, uangnya disimpan dalam amplop.

Kegunaan uang itu untuk menutup kekurangan target pada hari berikutnya ketika jumlah truk yang masuk jembatan timbang sedikit. Djoko tak memungkiri ada petugas jembatan timbang yang memakai uang itu untuk makan dan lain-lain. "Sebagian uangnya juga untuk jatah aparat keamanan," ujar Djoko.

Menurut dia, wajar jika petugas di jembatan timbang memakai uang itu untuk keperluan selama bertugas. Sebab, pemerintah Jawa Tengah hingga kini belum memenuhi kewajiban membayar empat dari lima item insentif petugas jembatan timbang. "Yang dibayarkan baru insentif transpor Rp 50 ribu per hari dipotong pajak 10 persen," kata Djoko.

Dia menilai petugas di jembatan timbang bekerja di luar batas kewajaran. "Seharusnya bekerja hanya delapan jam per hari. Karena kekurangan petugas, tiap satu regu bekerja selama 12 jam. Tidak ada uang lemburnya juga," ujarnya. Menurut dia, luapan kemarahan Ganjar bak buah simalakama.

Di satu sisi, sanksi tilang diterapkan bagi truk yang beban muatannya di atas 25 persen dari jumlah berat yang diizinkan. Di sisi lain, pemasukan dari jembatan timbang ke kas daerah akan menyusut hingga 66 persen. "Sekarang jembatan timbang pada ditutup. Itu sebenarnya aksi protes kepada Ganjar," kata Djoko.

Kepala Unit Pelayanan Perhubungan Wilayah Tegal Isdiyati Haryani mengatakan 12 dari 16 jembatan timbang di Jateng ditutup sementara. "Bukan karena petugas di jembatan timbang takut dengan ancaman para sopir truk yang menolak ditilang," ujar Isdiyati. 

Menurut dia, sebelum Ganjar mengamuk, jembatan timbang Tanjung di Kabupaten Brebes juga rutin menilang sekitar 70 truk per hari. Setelah Ganjar mengamuk, dalam satu hari bisa 300 truk yang ditilang. Namun uang tilang itu masuk ke kas negara, tidak masuk kas daerah.

Kepala Seksi Pengawasan Unit Pelayanan Perhubungan Wilayah Tegal, Sugiono, mengatakan selama ini banyak orang langsung menuduh ada praktek pungli ketika melihat sopir turun dari truk membawa uang tiap masuk jembatan timbang. "Padahal uang itu untuk membayar denda," kata Sugiono.

DINDA LEO LISTY


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar