Sabtu, 10 Mei 2014

Countdown Hari ke-49 Menuju Ramadhan


From: Budiono 

Ben milis-e ra megap-megap kelelep. Up sik ah!


RAMADHAN SEBENTAR LAGI

(-delete-)

Sudah sepantasnya seorang mukmin merasa gembira dengan datangnya bulan Ramadhan karena pada bulan Ramadhan banyak keberkahan sebagaimana dinyatakan dalam suatu hadits: "Telah datang kepadamu Bulan Ramadhan bulan yang penuh berkah, Allah meliputi kalian di dalam bulan tersebut,
rahmat diturunkan, dosa-dosa dihapuskan dan do'a-do'a dikabulkan. Allah melihat kalian semua berlomba-lomba di dalam bulan itu, maka Dia merasa bangga terhadap kalian dan para malaikat. Maka perlihatkanlah segala macam kebaikan diri kalian di hadapan Allah. Sebab orang yang celaka adalah orang yang terhalang mendapatkan rahmat Allah pada bulan tersebut." [HR. Ath-Thabrani dan para perawinya tsiqat (terpercaya)/At-Targhib wa At-Tarhib 2/222].

Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab (mengharap wajah Allah), maka akan diampuni dosanya yang telah lalu." [HR. Al-Bukhari dan Muslim]. Makna "Penuh iman dan ihtisab" yakni membenarkan wajibnya puasa, mengharap pahalanya, hatinya senang dalam mengamalkan, tidak membencinya, tidak merasa berat dalam mengamalkannya (lihat dalam "Sifat Puasa Nabi", karya Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaly dan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid).

Masih banyak dalil-dalil lain yang menjelaskan keutamaan bulan Ramadhan sehingga sudah sepantasnya jika kita memasuki bulan Ramadhan dengan gembira dan berharap dapat mengambil manfaat dari Ramadhan.

Kegembiraan dalam memasuki bulan Ramadhan kadang disalahartikan oleh sebagian masyarakat kita. Sebagian  masyarakat kita masih larut dalam suasana kegembiraan semu dan bahkan cenderung bertolak-belakang dengan makna yang sesungguhnya dari bulan Ramadhan.  Bulan Ramadhan seharusnya menjadi bulan penghematan bagi umat Islam, tetapi kenyataannya pada bulan Ramadhan justru terjadi pemborosan keuangan, bahkan dalam skala nasional menimbulkan inflasi tinggi. Dengan "budaya boros" tersebut tidak mengherankan jika ada ungkapan "menabung 11 bulan untuk dihabiskan 1 bulan". Pada siang hari di bulan Ramadhan kita mampu menahan hawa nafsu, tetapi menjelang maghrib semua hidangan tersedia hanya sekadar untuk memenuhi nafsu sesaat yang berakibat pada pemborosan. Petasan yang tidak ada hubungannya dengan
peribadatan Ramadhan seakan menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Tentunya kebiasaan-kebiasaan yang tidak menunjang aktivitas ibadah tesebut sudah selayaknya kita tinggalkan.

Persiapan Memasuki Ramadhan.

Agar kita semua dapat melaksanakan ibadah bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya maka kita dapat mempersiapkan kedatangan Ramadhan. Persiapan yang dapat dilakukan adalah antara lain:

1.  Memantapkan Aqidah

Aqidah yang mantap dan lurus sangatlah diperlukan oleh setiap muslim dalam setiap kesempatan termasuk dalam melaksanakan ibadah puasa. Seorang yang beraqidah benar selalu menyandarkan ibadahnya hanya untuk Allah SWT dan bukan karena riya atau ikut-ikutan. Dalam puasa seseorang sulit untuk "pamer ibadah puasa", mengapa demikian? Karena puasa merupakan ibadah yang sangat rahasia, hanya Allah dan pelakunya saja yang mengetahui bahwa dirinya sedang puasa. Seseorang yang ikhlas berpuasa hanya untuk Allah, maka dia akan menjaga puasanya dari segala hal-hal yang membatalkan puasa atau hal-hal yang mengurangi pahala puasa.

2.  Persiapan Ilmu

Untuk melaksanakan ibadah dengan benar terlebih dahulu kita harus memiliki ilmu yang berkaitan dengan ibadah tersebut sehingga ibadah kita dapat diterima Allah SWT.  Kita harus mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, sunnah-sunnah, masalah zakat fitrah dan sebagainya. Pada dasarnya syarat diterimanya suatu ibadah adalah (a) ikhlas karena Allah, dan (b) sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Agar dapat beribadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW maka jalan yang paling baik adalah dengan memperdalam ilmu agama. Memperdalam ilmu agama dapat dilakukan di majelis-majelis ta'lim baik di masjid maupun di lingkungan perumahan. Apabila kita sulit menyediakan waktu mengikuti majelis ta'lim maka pada dasarnya memperdalam ilmu agama masih dapat dilakukan setiap saat, terlebih lagi saat ini telah banyak media-media yang dapat dimanfaatkan seperti misalnya buku-buku Islam, majalah-majalah Islam, VCD ceramah agama dan lain-lain. Kita seringkali mencari alasan pembenar atau legitimasi untuk menutupi kemalasan kita belajar ilmu agama. Kita sering mengkambing-hitamkan kesibukan kerja di kantor sebagai alasan bahwa kita tidak sempat mengikuti majelis ta'lim, padahal di sisi lain kita tidak pernah merasa rugi mengobrol
berjam-jam tanpa tentu arahnya.
Seringkali kita lebih senang berkumpul sambil bergosip, ghibah atau membahas berita-berita burung dibandingkan dengan menyisihkan satu jam sehari untuk membaca buku agama. Rasulullah SAW bersabda: "Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim" [HR. Ibnu Majah, dari shahabat Anas bin Malik].

Dalam hadits lain disebutkan:" … . Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan dirinya dengannyajalan menuju Surga."[HR. Muslim].

3.  Bertaubat dan Membersihkan Hati

Sesungguhnya bertaubat itu harus kita lakukan setiap saat. Dengan bertaubat dan membersihkan hati kita dari segala penyakit maksiat maka kita akan menjalani ibadah Ramadhan dengan penuh persiapan. Taubat yang harus dilakukan adalah taubat yang sebenar-benarnya. Allah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak
mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; … ." [QS. At-Tahrim: 8]. Sungguh sangat disayangkan apabila kita puasa sedangkan makanan untuk berbuka berasal dari nafkah yang haram.

4.  Banyak Beramal Shaleh Pada Bulan Sya'ban

Amal shaleh pada bulan Sya'ban antara lain dengan melakukan puasa sunnah yang juga dapat dijadikan sebagai latihan persiapan memasuki Ramadhan. Puasa Sya'ban merupakan ibadah sunnah yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW. Hadits Rasulullah SAW: "Aku tidak melihat Rasulullah banyak berpuasa melebihibulan Sya'ban." [HR. Al-Bukhari]. Amal shaleh pada bulan Sya'ban harus tetap mengacu pada nash-nash dan dalil-dalil yang benar. Apabila kita hendak melakukan ibadah sunnah lain selain puasa Sya'ban tersebut baik yang dilakukan pada awal Sya'ban, pertengahan, maupun akhir Sya'ban maka ibadah-ibadah sunnah tersebut harus memiliki landasan nash dan dalil yang benar.

5.  Membaca Al-Qur'an

Sebelum memasuki Ramadhan maka sudah selayaknya bagi yang selama ini jarang membaca Al-Qur'an untuk segera membuka-buka kembali lembaran mushaf Al-Qur'an dan membacanya sebagai latihan agar pada saat Ramadhan tidak terasa berat untuk membaca Al-Qur'an. Membaca Al-Qur'an ini tentunya tidak hanya dibatasi pada bulan Ramadhan saja, setelah Ramadhan kebiasaan ini harus tetap dilaksanakan. Dengan selalu membaca Al-Qur'an maka insya Allah pada hari kiamat kita akan mendapat syafa'at sebagaimana terdapat dalam sabda Rasulullah SAW: "Puasa dan Al-Qur'an akan memberikan syafa'at kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata: "Wahai Rabbku, aku menghalanginya dari makan dan syahwat, maka berilah dia syafa'at karenaku." Al-Qur'an pun berkata: "Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka berilah dia syafa'at karenaku." Maka keduanya akan memberi syafa'at."[HR. Ahmad, Hakim, dan Abu Nu'aim: dari jalan Huyaiy bin Abdullah dari Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin 'Amr, dan sanadnya hasan. Al-Haitsami berkata di dalam Majmu' Zawaid (3/181) setelah menambah penisbatannya kepada Thabrani dalam Al-Kabir: "Dan perawinya adalah perawi shahih"].

Demikianlah beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagai persiapan memasuki Ramadhan disamping persiapan-persiapan lain yang mungkin belum tercantum dalam tulisan ini. Kita berdoa agar Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan Ramadhan dan mengisi Ramadhan dengan amal ibadah.

Wallahu a'lam bilshowab.

• Ismail Marzuki •

Daftar Pustaka: 
(1) Sifat Puasa Nabi; Karya: Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaly dan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid;
Penerbit Al-Mubarok; Penerjemah: Abdurrahman Mubarak Ata; Cetakan Keempat  Rajab 1425 H; 
(2) Prinsip Dasar Islam, Karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas; Penerbit Pustaka At-Taqwa, Cetakan Kedua Rabi'ul Akhir 1427 H/Mei 2006 M; 
(3) Artikel-artikel Alsofwah.

--
Addinu huwa al-aqlu,laa diina liman laa aqla lahu - Agama adalah akal, tidak ada agama bagi orang yang yang tidak berakal

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar