Rabu, 14 Mei 2014

BELAJAR MEMBACA DAN MENULIS DENGAN BANTUAN TEORI PEMBELAJARAN "KONSTRUKTIVISME" DAN "KONEKTIVISME"?


From: hernowo mengikatmakna


BELAJAR MEMBACA DAN MENULIS DENGAN BANTUAN TEORI PEMBELAJARAN "KONSTRUKTIVISME" DAN "KONEKTIVISME"?


Oleh Hernowo




 


Memasuki Maret 2014, saya mulai mengajar lagi matakuliah Bahasa Indonesia (BI) di Sekolah Tinggi Filsafat Islam Sadra di Jakarta. Saya memanfaatkan matakuliah BI untuk membantu para mahasiswa agar dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulisnya. Pada 2014 ini, saya memperkenalkan kegiatan belajar (dan tentu saja: berlatih) membaca dan menulis berlandaskan teori pembelajaran (learning theory) konstruktivisme (constructivism) dan konektivisme (connectivism).


Teori pembelajaran konstruktivisme saya pelajari dari buku Elaine B. Johnson, Contextual Teaching and Learning dan teori pembelajaran konektivisme saya pelajari dari sebuah artikel yang ditulis oleh Ines Puspita, seorang guru science di sebuah sekolah internasional di Jakarta. Inti pembelajaran konstruktivisme—merujuk ke pemikiran Jean Piaget—adalah "ilmu itu tidak diperoleh dengan cara diterima begitu saja tetapi harus dibangun". Saya sering membahasakan hal ini dengan kata-kata: "Ilmu itu tidak diperoleh dengan dikonsumsi tetapi diproduksi atau dikonstruksi".


Bagaimana memproduksi atau mengonstruksi ilmu? Menurut saya ya dengan menulis. Ketika kita sedang belajar (baca: mencari ilmu)—baik di ruangan kelas dengan seorang dosen maupun belajar lewat membaca buku)—dan kegiatan belajar kita selesai, segeralah menuliskan apa saja hal-hal penting yang berharga yang kita peroleh dari kegiatan belajar tersebut. Ketika kita menuliskannya, kita tentu mengaitkan banyak hal sekaligus mengonstruksi atau membangun kepingan-kepingan ilmu di dalam pikiran kita.


Mengaitkan dan membangun—khususnya ketika kita menuliskan hasil-hasil belajar—itulah yang kemudian saya jadikan prinsip membaca dan menulis berdasarkan konstruktivisme. Bayangkan pada saat ini Anda sedang membaca sebuah buku. Jika ingin menggunakan teori pembelajaran konstruktivisme, cobalah buku itu Anda kaitkan terlebih dahulu dengan diri Anda. Kenapa Anda membaca buku tersebut? Untuk apa? Apakah materi buku ada yang menarik dan langsung memberikan manfaat kepada Anda ketika Anda membacanya? Jika Anda berhasil terhubung (connected) dengan buku tersebut, kegiatan membaca Anda tentu akan menyenangkan diri Anda. Jika tak terhubung, tentulah kegiatan membaca akan menyiksa Anda.


Apabila Anda dapat terhubung, Anda akan menemukan banyak hal menarik dari buku yang Anda baca. Cobalah tandai hal-hal menarik yang Anda temukan, lalu pindahkanlah (copy paste) ke selembar kertas. Sampai di sini, Anda sudah mengumpulkan "batu bata" yang siap untuk Anda bangun menjadi sebuah tulisan sebagai hasil dari membaca buku. Kata "terhubung" yang saya masukkan ketika saya menjelaskan kegiatan membaca berdasarkan teori pembelajaran konstruktivisme itu berasal dari teori pembelajaran konektivisme. Inti konektivisme memang belajar dengan menghubungkan diri dengan banyak orang melalui internet. Konektivisme adalah belajar secara online atau memanfaatkan dunia maya.


Nah sekarang cobalah keluar dari teori pembelajaran konstruktivisme dan konektivisme dan bayangkan ketika membaca dan menulis Anda hanya memiliki tiga kegiatan utama: mengaitkan, membangun, dan menghubungkan. Mungkin mengaitkan dan menghubungkan itu mirip. Ada kemungkinan tidak juga, sebab Anda mungkin hanya akan dapat terhubung apabila Anda sudah mencoba berulang-ulang mengaitkan materi yang Anda pelajari dengan diri Anda. Atau, Anda baru dapat mengaitkan apabila Anda sudah terhubung. Kegiatan mengaitkan ini saya ambil dari arti kata context yang dalam bahasa Latin disebutcontexere. Contexere ini berarti "menjalin bersama". Yang saya sampaikan ini jelas baru teori. Dan, tentu saja, teori jelas berbeda dengan praktek.


Oleh karena itu, sebelum saya menjelaskan teori menghubungkan, mengaitkan, dan membangun dalam kegiatan membaca dan menulis di STFI Sadra, saya meminta para mahasiswa saya mempraktekkan terlebih dahulu kegiatan membaca dan menulis yang di dalamnya ada perintah terkait dengan tiga kegiatan tersebut. Mereka tentu kerepotan dan kesulitan. Namun, setelah mereka melakukan dengan banyak kesalahan dan kebingungan, saya pun menjelaskan tentang dasar dan latar belakangnya. Apakah Anda ingin mencoba membaca dan menulis berdasarkan prinsip menghubungkan, mengaitkan, dan membangun?


[Catatan: Bisa jadi, konsep membaca dan menulis berdasarkan tiga kegiatan—mengaitkan, membangun, dan menghubungkan—tidak mudah Anda pahami apabila Anda tidak menjadi mahasiswa saya. Atau, bias jadi pula mudah dipahami dan Anda langsung terhubung dengannya karena, ternyata, setiap kali Anda membaca dan menulis, tiga kegiatan tersebut sudah secara otomatis Anda jalankan. Saya memahami sekali—bagi yang tidak dapat memahami konsep ini—bahwa membaca dan menulis ini merupakan proses kognisi yang rumit sekali untuk dijelaskan. Saya hanya berharap mahasiswa saya dapat terbantu untuk menemukan "jalan" atau cara membaca dan menulis yang dapat mereka coba ikuti. Saya juga ingin sekali ketika membaca buku-buku kuliah mereka merasa senang tidak terbebani dan ketika menulis mereka tidak melakukan kegiatan "copy paste".]


 


 


--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar