Minggu, 13 April 2014

PESAN-PENTING BUKU PAK SATRIA DHARMA: MEMBACA DAN MENGIKAT BUKU "MUSLIM KOK NYEBELIN?" (3)


From: hernowo mengikatmakna 

PESAN-PENTING BUKU PAK SATRIA DHARMA: MEMBACA DAN MENGIKAT BUKU "MUSLIM KOK NYEBELIN?" (3)

Oleh Hernowo



Bagi saya, judul sebuah tulisan atau buku sangatlah penting dan menentukan. Sebuah judul dapat mewakili gagasan-pokok atau pesan-penting sebuan tulisan atau buku. Apalagi jika penciptaan judul itu dapat mengarah ke penciptaan judul yang "menggigit". Bisa jadi, judul yang "menggigit" dapat menggerakkan seorang pembaca untuk tertarik membaca sebuah tulisan atau buku. Dan judul—di atas semua hal yang telah saya kemukakan—dapat juga mengkarakterisasi sebuah tulisan atau buku. Hal ini bisa terjadi apabila judul itu sangat spesifik dan unik. Salah satu judul buku yang mampu mengkarakterisasi adalah buku karya Asma Nadia, Jangan Jadi Muslimah Nyebelin!. Buku ini juga sempat menjadibest seller pada masanya.


Nah judul buku Pak Satria Dharma, Muslim Kok Nyebelin!—meskipun ada kemiripan judul dengan judul buku Asma Nadia—tetap mampu mengkarakterisasi keseluruhan konten dan tampilan bukunya. Kalau buku Mbak Asma menekankan pada dan ditujukan untuk sesosok Muslimah (perempuan yang beragama Islam), buku Pak Satria ditujukan untuk sesosok Muslim (laki-laki yang beragama Islam).  Sekali lagi, meskipun judulnya sangat mirip—khususnya terkait dengan penggunaan kata dan makna "nyebelin"—konten atau kandungan kedua buku tersebut berbeda secara diametral. Kali ini, saya akan mencoba menafsirkan kenapa judul buku Pak Satria seperti itu. Saya ingin menafsirkannya karena di "Kata Pengantar", saya tidak memperoleh penjelasan tentang judul buku tersebut.


Pertama, Pak Satria adalah seorang guru, trainer, dan penggiat pendidikan yang jago berdebat atau, lebih tepat, jika saya mengatakannya sebagai orang yang piawai dalam memberikan pendapat dan pandangan yang berbeda. Apa pun pernyataan atau sikap seseorang yang menurutnya tidak bernalar tentu akan dilawan dengan pemikiran-bandingan darinya. Bahkan, kadang dia tak segan-segan untuk memberikan komentar tambahan yang kritis untuk sebuah pandangan, sikap, atau pendapat. Karakter ini saya temukan ketika saya mengikuti milis IGI—dan, lebih khusus, dalam bukunya ini. Kepiawaian Pak Satria dalam memberikan pandangan yang berbeda disampaikan secara sangat baik lewat lisan maupun tulisan.


Kedua, tulisan-tulisannya juga sangat jernih dan sangat tertata. Saya senang sekali mengikuti jalan pemikirannya. Selain gemar membaca, Pak Satria juga gemar menulis. Setiap berkunjung ke sebuah kota atau negara, Pak Satria senantiasa melaporkannya dalam bentuk tertulis. Juga ketika selesai membaca sebuah buku. Bukan saja laporannya disampaikan dengan bahasa yang bening (yang enak dibaca, kadang bahkan mencerahkan dan menyegarkan), penalarannya pun mudah sekali diikuti dan dipahami. Kadang-kadang Pak Satria juga mencampur dengan bahasa Inggris (yang fasih) dan Jawa (yang lucu). Ini membuat komunikasi tertulisnya benar-benar dapat menunjukkan bahwa Pak Satria memiliki keterampilan menulis yang andal. Salah satu ciri yang dapat saya deteksi adalah dari sisi penalarannya itu. Orang yang memiliki keterampilan-tinggi menulis sudah dapat dipastikan memiliki daya penalaran yang sangat baik, tinggi, dan mencerahkan.



Satria Dharma (kiri) dan IGI

Satria Dharma (kiri) dan IGI


 

Ketiga, penguasaan Pak Satria atas materi yang ditulis dan didebatkannya sungguh baik. Sekali lagi, ingin saya sampaikan di sini bahwa kemampuan menguasai materi tersebut berkaitan dengan kegemarannya membaca. Kegemarannya membaca menjadikannya mampu mendalami persoalan hingga ke akarnya. Pak Satria tentu mencari (membaca) terlebih dahulu materi-materi yang akan digunakannya untuk menyanggah atau mendebat. Sumber-sumber rujukan yang digunakan pun senantiasa dicantumkan secara jelas dan rinci. Inilah yang menjadikan tulisannya kaya akan informasi. Kadang, bahkan, tak jarang tulisan-tulisan Pak Satria mengandung hal-hal baru dan berbeda meskipun yang dibahas adalah hal-hal lama—misalnya terkait dengan iqra' dan qalam.


 


Dengan berpijak pada tiga hal tersebut, saya ingin menafsirkan judul buku Pak Satria,Muslim Kok Nyebelin!.


Salah satu gagasan yang tiba-tiba terlintas di kepala saya adalah gagasan yang terbungkus di dalam kata-kata Bertrand Russell berikut ini, "Dalam segala urusan hidup, sungguh sehat apabila sesekali kita menaruh tanda tanya besar terhadap perkara-perkara yang sudah diterima sebagai kewajaran sampai tak pernah dipertanyakan lagi." Kata-kata Russell ini saya temukan di buku Wandi S. Brata, Bo Wero: Tips Mbeling untuk Menyiasati Hidup (Gramedia, 2003), dan kemudian saya muat di buku saya Main-Main dengan Teks sembari Mengasah Kecerdasan Emosi (Kaifa, 2004) di halaman 101.


Kata-kata Russell ini senada dengan sosok yang dirujuk Pak Satria di "Kata Pengantar"-nya. Sosok itu adalah Jeffrey Lang yang, di dalam bukunya Even Angel Asks, menegaskan bahwa "malaikat saja mau bertanya (dan seakan-akan menggugat Tuhan), tetapi kenapa manusia tidak mau bertanya?"—ini merujuk ke ayat ke-30 dalam Surah Al-Baqarah. Dan tentu saja juga merujuk ke sosok dan sikap Nabi Ibrahim a.s.yang mencari Tuhan dengan terus bertanya atau mempertanyakan sesuatu. Sepertinya, Pak Satria akan mencap seorang Muslim  sebagai Muslim yang nyebelin jika jarang bertanya dan mempertanyakan. Atau, bahkan, Muslim itu semakin nyebelin jika tidak mau menggunakan akal atau pikirannya, sebagaimana Pak Satria mengungkapkan hal ini dengan sangat baik di bukunya berikut ini:


"Manusia dianggap sebagai makhluk Tuhan yang lebih baik daripada malaikat karena ia diberi akal dan rasa ingin tahu yang selalu berkembang dengan cara belajar. Semua perkembangan—baik perkembangan di bidang teknologi, kesehatan, politik, budaya, ekonomi, maupun yang lainnya—dihasilkan oleh manusia-manusia yang selalu mencari tahu dan berpikir demi kemajuan jasmani dan rohaninya.


"Buku ini—buku berjudul Muslim Kok Nyebelin!: Apa Kata Nabi—adalah sebuah perayaan. Perayaan akan keinginan untuk terus belajar. Buku ini saya persembahkan bagi siapa saja yang suka bertanya dan berpikir, yang dengan demikian mereka akan belajar." (Lihat Satria Dharma, Muslim Kok Nyebelin?: Apa Kata Nabi, Penerbit Bunyan, Desember 2013, halaman x).[]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar