Selasa, 29 April 2014

Membaca “Steve Jobs” secara Ngemil (3): Dua Steve yang Bandel?


From: hernowo hasim


Membaca "Steve Jobs" secara Ngemil (3): Dua Steve yang Bandel?
Oleh Hernowo
 
Dua Steve: Jobs dan Woz
 
"Ini adalah sebuah buku tentang kehidupan yang dipenuhi dengan suka dan duka. Selain itu, buku ini juga membahas kepribadian yang sangat bersemangat dari seorang pengusaha kreatif, yang memiliki hasrat terhadap kesempurnaan dan kegigihan," tulis Walter Isaacson mempromosikan buku barunya, Steve Jobs.
 
Tak berhenti di situ, Isaacson masih melanjutkan, "Kedua hasrat itulah yang mendorong Jobs melahirkan enam insdutsri revolusioner, yaitu komputer pribadi, film animasi, musik, telepon, komputer tablet, dan penerbitan digital. Anda mungkin bahkan dapat juga menambahkan industri yang ketujuh, yaitu toko ritel...."
 
Apa jadinya jika Steve Jobs tidak bertemu dengan Stephen Wozniak? Di buku Steve Jobs, Wozniak dideskripsikan sebagai penggemar hebat eklektronik, sangat cerdas, berasal dari Sekolah Menengan Homestead—di mana Jobs juga bersekolah di sini—dan papan sirkuit temuannya yang luar biasa telah dikemas sekaligus dipasarkan oleh Jobs.
 
"Dua Steve" itu memang ditakdirkan untuk bertemu ketika masih remaja. Bahkan, jika tidak ada "Blue Box"—alat kecil ciptaan Wozniak untuk menelepon interlokal secara gratis yang akhirnya dijual oleh Jobs—menurut Jobs, Apple takkan ada. Oleh karena itu, "Blue Box" adalah cikal bakal kerja sama Jobs dengan Woz.
 
Kebandelan—untuk tak mengatakan kenakalan yang liar—dua remaja yang mencintai elektronik itu dilukiskan dengan menarik oleh Isaacson. Woz, misalnya, pernah membuat sebuah tiruan bunyi "tik tik tik" yang seakan-akan akan ada bom meledak. Sekolah tempat Woz belajar sempat panik dan menghukum Woz gara-gara ulahnya itu. Woz memasang alat itu di sebuah locker sekolah.
 
Jobs sendiri juga sempat tergila-gila dengan benda rakitannya berupa sistem interkom yang memanfaatkan amplifier, alat penerima sinyal, lampu, dan bel listrik yang menghubungkan setiap kamar tidur. Ayahnya, Paul Jobs, sempat memarahi Steve gara-gara Steve merekam percakapan orangtuanya di kamar sebelah.
 
Kecerdasan Jobs berkembang pesat selama dua tahun terakhir di sekolah menengah atas. Jobs mendapati dirinya berada di persimpangan jalan: dia merasa memiliki kepribadian antara orang yang sangat menyukai elektronik dan orang yang sangat menyukai literatur serta kerja kreatif. "Aku mulai banyak sekali mendengarkan musik," ujar Jobs suatu ketika.
 
"Aku juga mulai banyak membaca buku di luar buku ilmu pengetahuan dan teknologi. Aku juga menyukai membaca karya Shakespeare dan Plato. Aku sangat menyukai King Lear." Menurut Isaacson, buku favorit Jobs yang lain adalah Moby Dick karya Herman Melville dan puisi-puisi karya Dylan Thomas.[]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar