Sabtu, 12 April 2014

KETEMU JEFFREY LANG DAN NABI IBRAHIM A.S.: MEMBACA DAN MENGIKAT BUKU "MUSLIM KOK NYEBELIN?" (2)


From: hernowo mengikatmakna 


KETEMU JEFFREY LANG DAN NABI IBRAHIM A.S.: MEMBACA DAN MENGIKAT BUKU "MUSLIM KOK NYEBELIN?" (2)

Oleh Hernowo 



 


Buku yang sedang saya baca karya Satria Dharma, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI), yang berjudul Muslim Kok Nyebelin? ini merupakan buku kumpulan tulisan. Dengan begitu, buku Muslim Kok Nyebelin? dapat dibaca mulai dari halaman berapa saja, tidak harus urut. Tulisan-tulisan lepas (terpisah) itu kemudian dikelompokkan menjadi empat kelompok sesuai kesamaan tema. Ketika saya mulai membacanya—tentu setelah membaca bab "Tentang Penulis" yang ada di halaman paling akhir—saya tetap tertarik untuk membaca secara urut dari halaman paling awal. Mengapa saya tertarik membaca secara urut dan bukan memilih tulisan yang paling menarik perhatian saya?


Pertama, saya ingin tahu kenapa buku ini dijuduli Muslim Kok Nyebelin?. Di halaman-halaman awal, khususnya setelah Bab "Isi Buku", ada Bab "Kata Pengantar". Saya berharap, dengan membaca terlebih dahulu Bab "Kata Pengantar" yang dibuat oleh penulisnya, saya lantas diberi penjelasan tentang alasan mengapa menggunakan judul tersebut. Mengetahui alasan menjuduli sebuah buku bagi saya sangat penting. Bisa jadi, judul mewakili gagasan-pokok keseluruhan buku. Apalagi, buku Muslim Kok Nyebelin?merupakan buku yang berasal dari kumpulan tulisan lepas. Mengetahui gagasan-pokok terlebih dahulu akan membuat tulisan-tulisan lepas itu mendapatkan "bingkai" yang jelas dan kuat sehingga tulisan-tulisan lepas itu ada yang menyatupadukan.


Kedua, setelah Bab "Kata Pengantar" halaman berikutnya diisi langsung dengan kelompok pertama yang berjudul "Membangkitkan Tradisi Kemajuan Islam". Di kelompok pertama ini ada tiga bab awal yang sangat menarik perhatian saya. Ketiga bab itu adalah (1) Gerakan Menulis dalam Al-Quran Bagian Pertama, (2) Gerakan Menulis dalam Al-Quran Bagian Kedua, dan (3) Tuhan Punya Dua Buku. Saya tahu bahwa concern Pak Satria dalam membangkitkan minat membaca dan menulis di sekolah-sekolah di Indonesia sangat tinggi. Pak Satria bahkan telah mengubah concern-nya itu pada tataran gerakan yang tidak main-main.


Mungkin saja dengan membaca tiga bab awal di kelompok pertama bukunya akan membuat saya dapat memahami semangat dan gairah Pak Satria dalam memajukan pendidikan Indonesia berbasis membaca dan menulis. Jarang ada tokoh pendidikan yang concernterhadap membaca dan menulis begitu besar. Mungkin yang concern ada dan cukup banyak, hanya yang menerjemahkan concern tersebut menjadi gerakan dapat dihitung dengan jari. Pak Satria adalah salah satu tokoh pendidikan yang terlibat dengan pendidikan hingga tingkat paling bawah, mampu memahami problem pendidikan di Indonesia dengan baik, dan memimpin sebuah organisasi guru yang aktif di berbagai kegiatan pemberdayaan para guru.


Hal lain yang menjadikan saya tertarik dengan cara membaca secara urut adalah kemampuan Pak Satria dalam menulis. Saya yakin ketika membaca argumentasi Pak Satria dalam tulisannya tentang kegiatan membaca dan menulis, saya akan memperoleh pengetahuan baru dan berbeda serta, kadang, radikal. Mendapatkan pengetahuan baru dan berbeda sagatlah penting. Untuk apa membaca apabila kita tidak mendapatkan hal-hal baru dan berbeda? Dan yang ditulis Pak Satria adalah topik yang sangat penting tapi kerap diabaikan oleh kaum Muslim—tentang iqra' (membaca) dan qalam (menulis)—yang kini perkembangannya sungguh memprihatinkan (khususnya di dunia pendidikan). Apa hal-hal baru dan berbeda yang saya peroleh di ketiga bab awal yang saya baca? Nanti akan saya tunjukkan di tulisan saya berikutnya.


Kali ini saya akan menunjukkan—dalam bahasa saya: "mengikat" hal-hal yang saya bangun ("membangun" adalah tahap berikutnya setelah "mengaitkan" dan "menghubungkan" dalam kegiatan membaca dan menulis berbasis teori pembelajaran konstruktivisme dan konektivisme)—apa saja hal penting dan berharga yang saya peroleh ketika membaca Bab "Kata Pengantar" buku Muslim Kok Nyebelin?. Saya memang tidak memperoleh penjelasan tentang judul buku ini. Saya malah bertemu dengan dua tokoh luar biasa—salah satunya adalah seorang nabi—yang diperkenalkan oleh Pak Satria dengan luar biasa pula. 



 


Pertama adalah Jeffrey Lang penulis buku Even Angels Ask (Bahkan Malaikat pun Bertanya), yang dirujuk Pak Satria untuk mengkarakterisasi bukunya: "Seperti halnya Lang, saya juga berpendapat bahwa seseorang harus mengenal Tuhan secara pribadi, dan bukan hanya mengenal-Nya seperti apa yang dikatakan orang lain atau buku-buku agama, meskipun itu adalah orangtua atau guru agama kita sendiri. Kita tidak akan pernah benar-benar percaya kepada Tuhan sampai kita benar-benar mengenal-Nya secara pribadi." Pernyataan Pak Satria yang bersandar pada pemikiran Jeffey Lang—yang saya kutip dari halaman ix bukunya itu—sungguh dahsyat. Dan ini berkaitan dengan hal kedua yang akan saya ungkapkan berikut ini.


Kedua adalah Nabi Ibrahim a.s., seorang nabi yang melahirkan nabi-nabi besar dan utama sepanjang sejarah umat manusia—sebagaimana dikisahkan oleh Al-Quran. Menurut Pak Satria, Nabi Ibrahim a.s.mencari dan menemukan Tuhan dengan jalan "bertanya". "Saya selalu mengagumi pengalaman hidup Nabi Ibrahim yang lahir dari keluarga dan lingkungan penyembah berhala tetapi justru menjadi manusia yang terus-menerus mempertanyakan semua ritual, keyakinan, dan tradisi yang dilakukan ayah dan orang-orang di sekitarnya. Apakah mungkin seseorang akan menjadi seorang 'Ibrahim' jika ia dilahirkan dalam kondisi persis seperti beliau?," tulis Pak Satria di halaman viii bukunya, Muslim Kok Nyebelin?.


Ketika menemukan hal penting itu, saya kemudian teringat buku menarik dan mengesankan yang pernah saya baca dahulu sekali. Buku itu berjudul Manusia Menurut Al-Ghazali yang mengisahkan tentang pengembaraan Imam Al-Ghazali dalam mencari dan menemukan Tuhan. Menurut penulis buku tersebut, pencarian dan penemuan akan Tuhan  yang dilakukan oleh Imam Al-Ghazali, penulis Ihya Ulumiddin, mirip dengan pencarian dan penemuan akan Tuhan yang dialami oleh Nabi Ibrahim a.s. Betapa mengasyikkannya dapat menemukan sesuatu yang penting dan berharga ketika membaca buku dan kemudian apa yang saya temukan itu dapat saya "ikat" (saya bangun [konstruksi] menjadi sebuah "bangunan" tulisan yang—bagi diri saya sendiri—dapat dikatakan bermakna). Alhamdulillah.[]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar