Sabtu, 19 April 2014

apel ganjen alias kesemek



in, 12/03/2012 - 04:49
NURYAMAN/"PRLM"
NURYAMAN/"PRLM"
ROSIM (40) salah seorang pemilik kebun buah kesemek di Desa Gunungsirah, Kec. Darma, Kab. Kuningan sedang melihat buah tersebut di kebun kesemek sekitar desanya itu, Minggu (11/3). Buah kesemek atau sering disebut-sebut dengan nama "apel ganjen" itu, dalam beberapa tahun terakhir telah dipasarkan eksportir ke beberapa negara di luar negeri, serta telah menjadi primadona hasil perkebunan para petani di desa sentra buah tersebut.*

KUNINGAN, (PRLM).- Buah kesemek atau banyak disebut masyarakat di Kab. Kuningan dengan nama gurauan "apel ganjen", selama ini masih menjadi primadona hasil kebun para petani di beberapa desa sentra kesemek di Kab. Kuningan. Terlebih, menurut para pemilik kebun kesemek di Kuningan, buah dengan ukuran dan bentuk menyerupai apel itu, dalam beberapa tahun terakhir telah dipasarkan eksportir ke beberapa negera di luar negeri.

Sejak puluhan tahun lalu, pohon "apel ganjen" di Kab. Kuningan banyak terdapat di kebun-kebun penduduk bawahan lereng Gunung Gegerhalang bagian selatan kawasan Gunung Ciremai. Seperti di antaranya, di Desa Cisantana, Kec. Cigugur, dan Desa Gunungsirah, Kec. Darma.

Namun, lahan kebun kesemek di Desa Cisantana, belakangan ini mulai berkurang karena terdesak kebutuhan lahan untuk ladang sayuran. Sementara di Desa Gunungsirah hingga saat ini masih banyak, bahkan dengan membaiknya harga buah tersebut, kini banyak pemilik lahan kebun di desa itu menjadikannya sebagai kebun kesemek.

Salah seorang pemilik kebun kesemek di Desa Gunungsirah Rosim (40), menyebutkan, sejak sekitar lima tahun terakhir harga buah kesemek meningkat cukup menjanjikan bagi para pemilik pohon tersebut. "Dulu harga pembelian kesemek oleh bandar hanya mencapai Rp 150 sampai Rp 250 per kilo gram (kg). Akan tetapi, mulai lima tahun terakhir harga kesemek setiap musim panen terus meningkat dari Rp 1000, Rp 1500, dan pada musim panen tahun kemarin sempat mencapai Rp 2000 per kg," ujar Rosim, yang sedang melihat-lihat kebun kesemek di sekitar desanya itu, Minggu (11/3) pagi.

Keterangan tersebut juga dibenarkan oleh tokoh masyarakat Desa Gunungsirah H. Ja'i (75), yang juga salah seorang bandar buah tersebut. H. Ja'i, Rosim, dan sejumlah bandar kesemek di desa itu, menduga kuat, harga buah tersebut meningkat karena pengaruh adanya permintaan pasar luar negeri.

Pohon kesemek, menurut mereka biasa hanya berbuah dan dipanen sekali setahun. Meskipun demikian, pendapatan yang diperoleh para pemilik kebun kesemek di desa itu menurut masyarakat di desa itu, bisa mengalahkan hasil panen tanaman padi dan palawija.

"Mengapa bisa begitu? Karena pohon kesemek itu bebas dari biaya pemeliharaan. Tidak perlu dipupuk, diberi obat, maupun disiangi. Malahan, kalau lagi berbuah begini semak-semak di bawah pohonnya disiangi, perkembangan buahnya suka terganggu sampai membusuk dan rontok sebelum matang," kata Rosim.

Sebutan "apel genjen" nama lain untuk bua kesemek, menurut masyarakat di desa-desa tersebut, cukup beken dan sudah tidak asing lagi disebut-sebut oleh berbagai kalangan masyarakat di Kab. Kuningan. Sebutan apel, karena bentuk dan ukuran buah kesemek hampir menyerupai buah apel. Sementara, sebutan "ganjen" menurut masyarakat, diambil dari bahasa Sunda yang berarti genit.

"Disebut ganjen, karena kesemek biasa dijual setelah dikapur hingga bagian luar kulitnya yang kuning dipenuhi kapur. Oleh karena itu, banyak orang bilang kesemek suka dibedak seperti wanita genit memakai bedak," ujar H. Ja'i, dibenarkan penjelasan senada sejumlah masyarakat di desanya itu.

Para pemilik kebun kesemek di Desa Gunungsirah, menerangkan, pengapuran terhadap buah tersebut biasa dilakukan pada proses pematangan akhir pascapanen. Buah kesemek yang sudah matang, setelah dipanen biasa direndam dulu dalam air bercampur kapur selama tiga sampai empat hari.

"Perendaman dengan air kapur itu, dilakukan supaya rasa daging buahnya manis tidak kesed (kesat), dan supaya tidak cepat membusuk," ujar H. Ja'i. (A-91/A-108)***


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar