Rabu, 29 Februari 2012

teman2 kantor Mas Shio

drpd rapat, bikin group bbm


From: "hernawan
Rabu, 29/02/2012 18:46 WIB
Dahlan Iskan: Daripada Kebanyakan Rapat Mending Bikin Grup BBM  
Febrina Ayu Scottiati - detikFinance

Browser anda tidak mendukung iFrame

<a href='http://openx.detik.com/delivery/ck.php?n=a3db6179&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://openx.detik.com/delivery/avw.php?zoneid=31&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=a3db6179' border='0' alt='' /></a>
Jakarta - Menteri BUMN Dahlan Iskan mengkritik pejabat-pejabat di Kementerian BUMN yang kebanyakan rapat. Menurutnya rapat-rapat yang dilakukan tidak efektif.

"BUMN salah satu kelemahannya adalah kebanyakan rapat itu yang saya utarakan beberapa hari setelah saya menjabat menteri. Rapat di Kementerian BUMN harus turun sampai 50%," tegas Dahlan.

Hal ini diutarakannya dalam acara peluncuran buku 'Dua Tangis dan Ribuan Tawa' dalam acara Kompas Gramedia Bookfair di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (29/2/2012).

Untuk mengurangi jumlah-jumlah rapat ini, mantan dirut PLN ini meminta pada direksi BUMN membentuk grup BBM (BlackBerry Messenger) sehingga rapat bisa efisien dan bisa dilakukan di mana saja.

"Saya menyuruh semua direksi BUMN seperti Direktur PTPN I-VI membuat grup BBM. Ini sangat efektif untuk berbagi informasi dan juga melakukan meeting padahal mereka terjebak macet," kata Dahlan.

Dahlan Iskan, kelahiran Magetan, Jawa Timur 17 Agustus 1951 telah dilantik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Menteri BUMN. Pemilik Jawa Pos Grup itu sebelumnya merupakan Dirut PLN. Berdasarkan laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) KPK, per tanggal 30 Maret 2010, total harta kekayan Dahlan Iskan mencapai Rp 151.175.622.274.

--

salju

anjing pinter

Kemendiknas pemborosan


From: "Titik

Presiden Diminta Tegur Mendikbud Tentang Uji Kompetensi
Antara – 1 jam 2 menit lalu
Konten Terkait
Perbesar Foto

Presiden Diminta Tegur Mendikbud Tentang Uji Kompetensi

Berita Nasional Lainnya
Str

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi X DPR RI Rohmani meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegur Menteri Pendidikan dan Kebudayaan terkait uji kompetensi sebagai syarat awal mendapatkan sertifikasi profesi guru.

"Karena hal tersebut jelas melanggar peraturan dan telah menimbulkan keresahan," katanya melalui surat elektronik di Jakarta, Rabu.

Rohmani mengatakan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

(Kemendikbud) telah melanggar Undang-Undang (UU) Nomor 14 Tahun 2005

tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru karena melakukan uji kompetensi sebagai syarat awal

mendapatkan sertifikat profesi.

Ia menjelaskan bahwa dalam PP Nomor 74 Tahun 2008 jelas disebutkan bahwa guru yang memiliki kualifikasi akademik S-1 atau D-4 dapat langsung mengikuti pelatihan untuk memperoleh sertifikat.

Sedangkan dalam PP Nomor 74 Tahun 2008 tersebut tidak diatur tentang kewajiban guru mengikuti uji kompetensi terlebih dahulu.

"Satu sisi ini ada baiknya. Namun hal ini telah membuat ketidaknyamanan bagi guru-guru yang hendak ikut program sertifikasi. Banyak yang sudah mengadu ke kami atas kebijakan ini," kata anggota DPR yang membidangi masalah pendidikan, olahraga, pariwisata dan

kebudayaan itu.

Rohmani mengingatkan Kemendikbud jangan mudah mengutak-atik peraturan.

Apabila peraturannya sudah jelas maka harus konsisten ditaati. Kalau pun mau ada perbaikan atau perubahan sebaiknya dikonsultasikan ke Komisi X DPR, katanya.

"Prinsipnya, setiap ide perubahan dan perbaikan pasti kita dukung. Tapi harus ada komunikasi terlebih dahulu agar kebijakannya lebih baik," katanya.

Menurut dia, seharusnya di awal tidak perlu dilakukan uji kompentensi.

"Yang lebih tepat adalah pemetaan kemampuan sehingga dalam prores pelatihan bisa dikelompokkan berdasarkan kemampuan," katanya.

--

Kejam juga orang sumut

DUA ORANG YANG DIBAKAR MASSA,
DIDUGA ANGGOTA POLISI
Dua orang bernasib naas setelah diteriaki
maling, dikeroyok kemudian dibakar massa
di Deli Serdang, Sumatera Utara. Kabar yang
beredar, mereka sebenarnya adalah polisi
yang akan menangkap Bandar judi togel,
namun justru diteriaki maling. Keduanya
tidak dapat melarikan diri setelah massa
yang terprovokasi mengepung seluruh
akses jalan keluar dari Desa Lau Bekeri
untuk menangkap kedua korban.
Pihak Polresta Medan menyatakan
keduanya belum bisa didentifikasi, sehingga
belum bisa disimpulkan apakah benar polisi
atau bukan. Terlebih tidak ditemukan
identitas korban di tempat kejadian. Jenasah
korban yang sudah hangus, sesaat setelah
kejadian kemudahan dibawa ke Rumah
Sakit Umum dr Haji Adam Malik. (KF-Mrg/7/
Media Indonesia)

adi wisaksono

FW: Diving Indonesia's Bird's Head Seascape book


From: Creusa Hitipeuw

All,

Siapa tahu ada yang tertarik untuk beli buku ini..

tetha

 

From: Ii Rosna Tarmidji [mailto:iirosna.r4@gmail.com]
Sent: 24 Oktober 2011 11:41
To: Ii Rosna Tarmidji
Subject: Diving Indonesia's Bird's Head Seascape book

 

Dear all dive operators and friends,

 

I would like to inform you that the new Diving Indonesia's Bird's Head Seascape book is out. You can get the book from CI Bali or Sorong's office.

 

The retail price of the book is Rp 350,000/pcs

The whole sale price (10 books or more for dive operator) is Rp 200,000/pcs.

 

You are required to transfer the money to:

Account holder: Conservation International

Bank name: BNI

Bank address and branch: Renon Branch -- Jl. Raya Puputan 27,

Denpasar, Indonesia

Bank account number: 011-0551894

Swift code:  BNINIDJARNN

 

At the moment, CI Sorong Office has 80 books left, but we are waiting for a new batch next month.

 

Contact numbers:

CI Bali: 0361 237 245 (Diana)

CI Sorong: 0812 483 4114 (-ii-)

 

 

Cheers,

-ii-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Click here to report this email as spam.

 
-- 
This email was Virus checked by WWF-Indonesia's antivirus Engine power by Sophos Network Security



“Stray Reflections”, Sebuah Warisan-Penting Iqbal: Menulis sebagai Sebuah Kegiatan Mencipta? (13)


From: "hernowo hasim"

"Stray Reflections", Sebuah Warisan-Penting Iqbal: Menulis sebagai Sebuah Kegiatan Mencipta? (13)
Oleh Hernowo
 
 
Tukang kebun menguji keampuhan kata-kataku
Seuntai sajak dia sebar dan dipetiknya sebilah pedang
—Dr. Sir Muhammad Iqbal
 
"Kuakui bahwa aku berutang banyak kepada Hegel, Goethe, Mirza Abdul Qadir Bedil, dan Wordsworth. Dua yang pertama mengajakku 'masuk' ke dalam segala sesuatu; yang ketiga mengajarkan kepadaku bagaimana agar aku tetap menjadi Timur dalam semangat dan ekspresi setelah aku berasimilasi dengan gagasan-gagasan asing tentang puisi; dan yang terakhir menyelamatkan aku dari ateisme pada masa-masa mahasiswaku."
 
Itulah cuplikan catatan harian Dr. Sir Muhammad Iqbal yang dibukukan dan diberi judul menarik, Stray Reflections. Penerbit Mizan menjerjemahkannya dari edisi Inggris dan kemudian menerbitkannya sekitar puluhan tahun lalu. Sebelumnya, saya sudah dibuat mabuk kepayang oleh Iqbal lewat sajak-sajak ciptaannya dan juga buku fenomenalnya, The Reconstructions of Religious Thought in Islamyang sangat berat. Saya kaget sebab, ternyata, sang doktor yang ahli filsafat ini punya catatan harian.
 
"Rasa ingin tahu, kata Plato, adalah ibu dari segala ilmu. Bedil (Mirza Abdul Qadir) melihat rasa ingin tahu dari sudut pandang lain. Bagi Plato, rasa ingin tahu itu berharga karena ia membimbing manusia mempertanyakan tentang alam; bagi Bedil, rasa ingin tahu punya nilai sendiri tanpa harus dikaitkan dengan konsekuensi intelektualnya. Tidak mungkin kita mengekspresikan gagasan ini lebih indah dari Bedil."
 
 
Itu cuplikan kedua catatan harian Iqbal yang saya muat di buku saya, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza (tepatnya di halaman 6 dan 7) ketika saya menjelaskan bahwa bukuAndaikan sesungguhnya sebagian materinya saya bangun dari dari catatan-catatan harian tercecer saya. Dengan telaten, saya mengumpulkan satu per satu catatan harian saya dan kemudian saya coba maknai dengan mencari benang merahnya. Akhirnya, catatan harian yang terkumpul dalamAndaikan, saya pilah menjadi dua—"makna yang berproses" dan "makna yang menjadi".
 
Merujuk ke catatan harian Iqbal—sebagaimana cuplikannya saya tampilkan sebelum ini—catatan harian dapat dimanfaatkan untuk "mengikat" pikiran kita yang telah bersentuhan dengan pikiran orang-orang besar. Selain itu, catatan harian juga dapat kita manfaatkan untuk berlatih mengutarakan pendapat atau sikap kita. Ada kemungkinkan pendapat atau sikap kita itu lahir secara spontan sehingga, bisa jadi, dangkal atau tidak matang. Namun, apabila kita berani mengeluarkannya, pendapat atau sikap kita itu dapat kita kembangkan dan perbaiki hingga menjadi matang.
 
"Saya menggunakan catatan harian sebagai 'alat' untuk mengatasi kendala-kendala menulis," tulis saya di buku Andaikan halaman 7. "Salah satunya adalah bagaimana saya membebaskan diri dari ancaman-ancaman penilaian pada saat ingin memulai menulis. Lewat catatan harian, saya lalu bisa mengekspresikan pikiran (orisinal) milik saya secara sangat bebas."[]

Boyo mempawah

lima hal penting

1st
Jika Anda BENAR, maka Anda tidak perlu MARAH
Dan jika ANDA SALAH, maka Anda TIDAK LAYAK MARAH

2st
Sabar dengan KEKASIH, itu namanya CINTA
Sabar dengan ORANG LAIN, itu namanya MENGHORMATI
Sabar dengan DIRI SENDIRI, itulah KEPERCAYAAN DIRI

3rd
Jangan berpikir terlalu Keras mengenai MASA LALU,
Karena hanya membawa AIR MATA & RASA PILU

Jangan pula berpikir terlalu banyak mengenai MASA DEPAN,
karena hanya membawa KETAKUTAN & KEMALASAN

Hiduplah SAAT INI DGN SENYUMAN,
Hal itu akan membawa BAHAGIA.

4th
Setiap Cobaan dalam hidup kita,
Bisa membuat kita lebih TERPURUK atau LEBIH BAIK

Setiap masalah datang untuk membuat kita LEBIH BERPRESTASI,
Atau HANCUR SAMA SEKALI

PILIHAN ada di tangan kita,
Untuk menjadi orang Kalah atau Menang

5th
Temukan hati yang indah dan tulus,
Bukan wajah yang Rupawan atau Menawan.
karena hati yang indah penuh dengan kebaikan
sedangkan wajah rupawan belum tentu demikian

Hal-hal YANG INDAH TIDAK SELALU BAIK
Namun hal-hal BAIK SELALU INDAH

29 Februari


From: <syauqiyahya@gmail.com>

Tanggal Istimewa 29 Februari

| Laksono Hari W | Dibaca : 23191 kali

Rabu, 29 Februari 2012 | 06:27 AM

M Zaid Wahyudi

Hari ini, Rabu (29/2/2012), merupakan hari istimewa dalam penanggalan Masehi. Keistimewaan itu terletak pada tanggalnya, 29 Februari. Tanggal ini hanya muncul satu kali dalam rentang empat tahun atau delapan tahun. Ini menandakan tahun 2012 adalah tahun kabisat. 

Cikal bakal kalender Masehi yang digunakan saat ini berasal dari kalender Julian yang diperkenalkan sejak masa Julius Caesar pada tahun 46 sebelum Masehi atas bantuan astronom asal Aleksandria, Sosigenes.

Dalam kalender Julian, satu tahun didefinsikan sebagai waktu yang diperlukan Bumi untuk mengelilingi Matahari, yaitu selama 365,25 hari. Karena sulit dan tidak praktis mengubah tahun pada seperempat hari, maka satu tahun dibulatkan menjadi 365 hari.

"Tahun yang memiliki jumlah 365 hari disebut tahun basit atau tahun pendek," kata ahli kalender dari Program Studi Astronomi, Institut Teknologi Bandung, Moedji Raharto, Selasa (28/2).

Sisa 0,25 hari digabung menjadi satu hari penuh yang ditambahkan pada Februari tahun keempat. Itulah sebabnya Februari yang biasanya hanya memiliki 28 hari setiap empat tahun menjadi 29 hari.

Penambahan satu hari pada tahun keempat inilah yang kemudian membuat setiap angka tahun yang habis dibagi empat disebut tahun kabisat atau tahun panjang karena memiliki 366 hari.

Tidak tepat

Ternyata waktu yang dibutuhkan Bumi untuk mengelilingi Matahari tidak tepat 365,25 hari atau 365 hari 6 jam seperti yang ditetapkan dalam kalender Julian. Waktu yang tepat adalah 365,242199 hari atau 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik.

"Astronom pada masa itu belum bisa menentukan waktu revolusi Bumi hingga detail," ujar Moedji.

Waktu Bumi mengelilingi Matahari ini didasarkan atas waktu yang ditempuh Matahari seolah-olah mengelilingi Bumi dari titik Aries hingga kembali ke titik Aries lagi. Ini disebut sebagai satu tahun tropis.

Matahari berada di titik Aries ditetapkan terjadi pada 21 Maret. Tanggal ini menjadi tanda datangnya musim semi di belahan Bumi utara atau tibanya musim gugur di belahan Bumi selatan.

Penghitungan yang tidak tepat ini membuat setiap satu tahun terjadi kekurangan 11 menit 14 detik. Dalam jangka pendek, kekurangan ini tidak menimbulkan masalah pada kalender yang digunakan. Namun, jika kalender digunakan hingga ribuan tahun, kekurangan ini menjadi sangat terasa.

Dalam 1.000 tahun, hari bergerak 7,8 hari lebih cepat dibandingkan semestinya. Ini ditandai dengan lebih cepatnya Matahari tiba di titik Aries dari hasil penghitungan dibandingkan kondisi sebenarnya.

Hal lain yang dirasakan akibat ketidaktepatan ini adalah musim semi yang datang lebih awal dari 21 Maret sesuai ketetapan.

Majunya waktu ini juga memengaruhi berbagai kegiatan keagamaan yang tidak tepat, seperti dalam penentuan hari raya keagamaan yang memiliki aturan khusus. Ini sangat bertentangan dengan tujuan dibuatnya kalender, yaitu untuk menentukan waktu dilaksanakannya berbagai kegiatan keagamaan dan penanda musim.

Reformasi

Kondisi ini membuat Paus Gregorius XIII pada 1582 Masehi membarui kalender Julian. Ketentuan tahun kabisat tidak hanya angka tahun yang habis dibagi 4, tetapi juga harus habis dibagi 400 untuk tahun abad (tahun yang merupakan kelipatan angka 100).

Ini membuat tahun 1800 atau 1900 yang dalam kalender Julian disebut tahun kabisat setelah ketentuan baru ini tidak lagi disebut tahun kabisat. Namun, tahun 1600 dan 2000 masih disebut tahun kabisat.

Ini akan membuat orang yang lahir pada 29 Februari, perayaan ulang tahunnya tidak hanya akan jatuh tepat empat tahun sekali, tetapi bisa juga delapan tahun sekali, seperti antara 29 Februari 2096 dan 29 Februari 2104. Hal ini karena tahun 2100 bukan tahun kabisat.

Reformasi ini berhasil mengurangi kesalahan penghitungan kumulatif hari. "Jika dalam kalender Julian terjadi kesalahan 78 hari dalam 10.000 tahun, setelah direformasi kesalahannya tinggal 3 hari dalam 10.000 tahun," ungkap Moedji.

Selain mengeluarkan aturan baru tahun kabisat, Paus Gregorius XIII juga memotong 10 hari pada Oktober 1582. Hal ini dilakukan untuk mengembalikan kalender agar bersesuaian kembali dengan musim yang terjadi.

Pemotongan ini membuat tanggal 4 Oktober 1582 langsung dilanjutkan dengan tanggal 15 Oktober 1582. Artinya, dalam sejarah kalender Masehi, tidak pernah ada tanggal 5 Oktober sampai 14 Oktober 1582.

Penghapusan ini mirip dengan yang dilakukan Pemerintah Samoa dan Tokelau di Pasifik Selatan yang menghapus tanggal 30 Desember 2011 untuk menyesuaikan dengan waktu di Selandia Baru dan Australia. Penghapusan ini membuat 29 Desember di negara itu langsung dilanjutkan dengan tanggal 31 Desember 2011.

Pembaruan yang dilakukan Paus Gregorius XIII ini membuat sistem penanggalan ini dinamakan kalender Gregorian. Meski demikian, sistem ini tidak langsung diterapkan di semua negara. Rusia, China, Yunani, ataupun Turki baru mengakomodasi kalander ini pada awal abad ke-20.

Belum pas

Meski sudah dikoreksi, kalender Gregorian masih mengandung salah, yaitu tiga hari dalam 10.000 tahun. Kesalahan ini terjadi karena dalam satu tahun kalender Gregorian jumlah harinya masih 365,2425 hari. Ini berbeda sedikit dengan waktu dalam satu tahun tropis yang mencapai 365,242199 hari.

Ketidaktepatan ini disebabkan adanya gerak presesi atau gerak sumbu rotasi Bumi sembari mengelilingi Matahari. Gerak presesi membuat posisi titik Aries bergeser 50,2 detik busur per tahun ke arah barat dari koordinat langit.

"Untuk membuat kalender dengan jumlah hari yang tepat dengan satu tahun tropis tidaklah mudah. Banyak hal yang harus diperhatikan, baik dari sisi kepraktisan kalender untuk digunakan maupun idealisme sistem kalender itu sendiri," kata Moedji.

 

Sumber : Kompas Cetak

--

Selasa, 28 Februari 2012

Harga BBM Naik, Ini Daftar Bantuan untuk Masyarakat Miskin


From: <anishariri@gmail.com>

http://m.detik.com/read/2012/02/28/151557/1853565/1034/harga-bbm-naik-ini-daftar-bantuan-untuk-masyarakat-miskin

Harga BBM Naik, Ini Daftar Bantuan untuk Masyarakat Miskin

Rista Rama Dhany : detikFinance

detikcom - Jakarta, Pemerintah memberikan kompensasi alias bantuan kepada masyarakat miskin jika kebijakan menaikkan harga BBM bersubsidi dilakukan. Pemerintah menjanjikan bantuan tersebut.

Demikian disampaikan oleh Menteri ESDM Jero Wacik ketika Rapat dengan DPR Komisi VII di Gedung DPR, Selasa (28/2/2012).

"Kompensasi kenaikan BBM diberikan khususnya untuk masyarakat terdampak," ungkap Jero.

Adapun kompensasi tersebut antara lain :

Kompensasi untuk perlindungan kepada masyarakat tidak mampu

Kompensasi transportasi

Kompensasi pangan

Kompensasi bantuan pendidikan

Dijelaskan Jero, kompensasi transportasi misalnya nanti akan diberikan kupon angkot atau transportasi khusus bagi anak-anak sekolah. "Ada pula nanti bantuan STNK dan KIR untuk angkutan umum," tuturnya.

Kemudian, Jero mengatakan untuk kompensasi pangan nantinya akan ada penambahan raskin alias beras miskin dan untuk bantuan pendidikan akan ada tambahan subsidi dan beasiswa bagi orang miskin.

"Semua kompensasi saat ini sedang dimatangkan dalam RAPBN-P 2012," tutup Jero.

--

kebijakan atau kebajikan... ;p


From: "Agus Dwi Rahardjo"

http://news.detik.com/read/2012/02/28/115849/1853339/10/mendikbud-tulis-jurnal-ilmiah-tak-berkekuatan-hukum

di milis lain, dikomentari dosen-e anakku: 'hahaha... akhirnya sadar juga'... :)

Mendikbud: Tulis Jurnal Ilmiah Tak Berkekuatan Hukum
Anes Saputra - detikNews
Selasa, 28/02/2012 11:58 WIB
Jakarta Mendapat keberatan di sana-sini, Kemendikbud memperlunak kebijakan makalah ilmiah sebagai syarat lulus sarjana. Syarat itu tidak berkekuatan hukum. Yang jelas, menulis karya ilmiah merupakan kesadaran dari sarjana perguruan tinggi.

"Kami tidak harus buat permen (peraturan menteri). Tapi seandainya kesadaran tadi kita sampaikan itu untuk mendekatkan nilai akademik agar dituangkan di dalam aturan perguruan tinggi," ujar Mendikbud di Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan Kemdikbud di Bojongsari, Sawangan, Depok, Jawa Barat, Selasa (28/2/2012). 

Menurut Mendikbud, menulis jurnal ilmiah itu sebenarnya tugas dari sarjana perguruan tinggi. Sudah seharusnya pula sarjana itu bisa menulis.

"Kalau seandainya dia diingatkan dia nggak mau kan lucu," kata Mendikbud.

Mendikbud menuturkan, jika ada calon sarjana yang tidak membuat makalah ilmiah, pihaknya tidak akan memberikan sanksi hukum. Sebab pihaknya tidak menggunakan pendekatan hukum atas itu.

"Kalau soal sanksi itu kan pendekatan hukum. Ini lebih pada komitmen nilai-nilai akademis. Bagi akademisi itu lebih kokoh daripada sanksi hukum," tutur dia.

Sebelumnya, Dirjen DIkti Djoko Santoso menelurkan peraturan. Bunyi surat Djoko Santoso yang menyangkut syarat kelulusan itu yakni:

Sebagimana kita ketahui pada saat sekarang ini, jumlah karya ilmiah dar Perguruan Tinggi Indonesia secara total masih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia, hanya sekitar sepertujuh. Hal ini menjadi tantangan kita bersama untuk meningkatkannya. Sehubungan dengan itu terhitung mulai kelulusan setelah Agustus 2012 diberlukan ketentuan sebagai berikut:

Untuk program S1 harus ada makalah yang terbit di jurnal ilmiah
Untuk program S2 harus ada makalah yang terbit di jurnal ilmiah terakreditasi 
Dikti
Untuk program S3 harus ada makalah yang terbit di jurnal Internasional.

--

Mantan menteri kok percoyo ngenean


From: <anishariri@gmail.com>

http://m.detik.com/read/2012/02/28/171655/1853775/1036/fahmi-idris-rokok-tak-selamanya-jadi-lonceng-kematian

Fahmi Idris: Rokok Tak Selamanya Jadi Lonceng Kematian

Zulfi Suhendra : detikFinance

detikcom - Jakarta, Mantan Menteri Periundustian Fahmi Idris mengatakan rokok itu tidak selalu berbahaya bagi kesehatan. Menurutnya berdasarkan perkembangan penelitian rokok terbaru, ternyata asap rokok bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

"Bahwa rokok tidak sebagaimana yang dinyatakan selama ini adalah lonceng kematian bagi siapa saja yang menghisapnya. Namanya penemuan ilmiah terus menerus akan diuji dan teruji," katanya dalam acara peluncuran buku divine rokok sehat di kantor kementerian perindustrian, Jakarta, Selasa (28/2/2012)

Penelitian yang dimaksud Fahmi adalah sebuah temuan suatu zat yang menurut Guru Besar Universitas Brawijaya Prof Sutiman Bambang Soemitra bisa menetralisir zat-zat berbahaya dari asap rokok. Zat itu bernama divine kretek yang ditemukan oleh ahli kimia radiasi Indonesia Dr Gretha Zahar.

Rokok yang sudah ditetesi zat divine kretek maka asapnya tidak berbahaya bahkan bisa menyembuhkan penyakit. Dr Gretha menemukan Scavenger yang menghasilkan devine kretek, scavenger dihasilkan dengan teknologi nano.

"Istri Prof Sutiman mengalami kanker payudara dengan metode pengobatan dokter Gretha melalui asap rokok Alhamdullilah beliau sembuh," katanya.

Dr Gretha merupakan ahli kimia radiasi Indonesia. Sementara itu Prof Sutiman merupakan Guru Besar molekuler/sekuler, nanobiologi Universitas Brawijaya.

"Kami tidak mau menyatakan kalau rokok itu aman, tapi lewat penemuan yang dilakukan ini sepertinya oke. Pada ujungnya kita akan melindungi para petani tembakau," katanya.

Terkait dengan adanya penelitian ini maka roadmap industri rokok di 2015 yang menyatakan rokok akan dibatasi maka bisa saja dirubah atau paling tidak dimundurkan pemberlakuannya.

Ia juga mengakui saat ini ada gerakan masif untuk meniadakan rokok kretek yang merupakan khas Indonesia seperti kasus diskriminasi rokok kretek oleh AS. Pemerintah didorong harus terus membela kepentingan produk Indonesia.

"Di sisi lain masyarakat bangga produksi Indonesia ini, ingin mepertahankan produk-produk khas Indonesia. Gerakan kontra ini apalagi menghilangkan rokok kretek yang maksudnya menggantikan dengan produk lain, ini perperan yang besar di industri farmasi kalau ini dilakukan matilah petani tembakau dan cengkeh," katanya

Fahmi Idris merupakan salah satu sosok bukan perokok namun cukup aktif mendorong agar industri rokok terus tumbuh diantaranya melalui kampanye positif terhadap rokok khususnya rokok kretek.

Ia pernah mengaku mendukung larangan merokok bagi anak-anak maupun ibu hamil untuk merokok. Namun ia tidak setuju kepada orang-orang yang mempersoalkan keberadaan industri rokok.

--

kelinci lompat tinggi

Aku lupa... (renungan)

-Ketika aku ingin hidup Kaya, aku lupa, bahwa Hidup ku adalah sebuah Kekayaan.
- Ketika aku takut Memberi, aku lupa bahwa semua yang aku miliki adalah Pemberian.
- Ketika aku ingin menjadi yg Terkuat, aku lupa, bahwa Allah SWT yg memberikan aku Kekuatan.
- Ketika aku takut Rugi, aku lupa, bahwa hidupku adalah sebuah Keberuntungan.
Ternyata hidup ini sangat indah, jika kita tahu dan selalu bersyukur dgn apa yg sdh ada. Selalulah bahagia dan sukalah berbuat baik. Jangan pernah berkata: "Esok 'kan masih ada waktu..." Karena setiap saat, jarum jam itu dapat berhenti.
@_@

Sekadar berbagi: Komunitas #earthhour di 11.11.11: Koalisi Pemuda Hijau Indonesia


From: verena puspawardani


Halo semua!

 

Komunitas voluntir Earth Hour hingga 26 Maret 2011 tercatat berjumlah 3200 orang di 5 kota. Sebagian kecil dari komunitas ini adalah Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) yang dilahirkan pada hari Sumpah Pemuda setelah Earth Hour 2010.

 

Bertepatan dengan 11.11.11, KOPHI membuka Kongres Nasional I mereka di President University, Jababeka, Jawa Barat, 11 – 13 November ini dengan perwakilan mahasiswa berprestasi dari 16 propinsi. Sekaligus merayakan ultah perdana mereka, WWF-Indonesia diminta untuk mengingatkan kembali bagaimana membangun komunitas dengan Earth Hour sebagai contoh komunitas global.

 

Sedikit cerita, KOPHI bermula dari mimpi sekelompok mahasiswa di beberapa universitas di Jabodetabek untuk punya wadah komunikasi sesama mahasiswa di seluruh Indonesia.

Buat apa? Mengidentifikasi masalah lingkungan di lingkup lokal dan membuat aksi nyata terhadap masalah itu. KOPHI juga membentuk kepengurusan di masing-masing daerah untuk memperkuat jaringan. Salah tiga kegiatan yang mereka fasilitasi adalah Earth Hour 2011 Champions Workshop Jakarta, Earth Hour 2009 - 2011 Monitoring and Evaluation, & 20+ untuk Hutan Indonesia baru lalu.

 

Profil lengkap dan kegiatan KOPHI:

www.kophi.org atau http://www.facebook.com/kophi.org atau twitter mereka @KOPHI_

 

Selamat untuk KOPHI!

Bareng kalian, semangat Earth Hour hadir setiap hari & tidak berhenti di bulan Maret.

Terima kasih sebesar & sedalamnya!

 

Semoga menginspirasi kawan-kawan semua.

 

Verena Puspawardani

Campaign Coordinator, Climate & Energy Programme | WWF-Indonesia

Gedung Graha Simatupang Tower 2 Unit C lantai 10

Jalan LetJen TB Simatupang

Jakarta 12540, Indonesia

Ph: +62 21-782 9426 - 29 Ext 402 - 403 | Fax: +62 21-782 9462 | M: +6281398272690 | vpuspawardani@wwf.or.id

 

 

 

This Earth Hour, go beyond the hour – turn off your lights for 1 hour on March 31, 2012 at 8.30 - 9.30 PM

Setelah 1 Jam, Jadikan Gaya Hidup

Sign up at www.wwf.or.id/earthhour

 



This message has been scanned for viruses by BlackSpider MailControl




--
Verena Puspawardani
Campaign Coordinator, Climate & Energy Program, WWF-Indonesia
+62-813 982 72 690
vpuspawardani@wwf.or.id
vpuspawardani@gmail.com

www.wwf.or.id/climate

"If you spend your whole life waiting for the storm,
you'll never enjoy the sunshine."
Morris West (1916 - 1999), writer

Oleh-oleh belitong ... kampung nelayan


From: Des Syafrizal


hiu muda, katanya buat Bakso ... monggo


des

“Warisan Berharga” Ahmad Wahib dan Soe Hok Gie: Menulis sebagai Sebuah Kegiatan Mencipta? (12)


From: "hernowo hasim"

"Warisan Berharga" Ahmad Wahib dan Soe Hok Gie: Menulis sebagai Sebuah Kegiatan Mencipta? (12)
Oleh Hernowo
 
 
Ketika terbit buku catatan harian Ahmad Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam, dan tak lama kemudian disusul buku catatan harian Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, kehidupan saya berubah dan penuh warna. Kehidupan saya yang berubah adalah kehidupan semasa saya menjadi mahasiswa. Entah kenapa, saya tiba-tiba memiliki dua "hero" yang wafat dalam usia muda dan berhasil mewariskan sesuatu yang berharga untuk bangsanya. Keduanya saya anggap sebagai "hero" bukan karena mati di medan perang. Jasa keduanya di bidang lain juga tidak terlalu tampak menonjol. Wahib dan Hok Gie saya anggap sebagai "hero" karena saya kemudian dapat merasakan dan memahami pemikiran mereka lewat catatan harian yang ditinggalkannya.
 
Ingin sekali saya kutip sekali lagi di sini tentang kata-kata Rene Descartes, "… membaca buku bagaikan mengadakan percakapan dengan para cendekiawan paling cemerlang dari masa lampau—yakni para penulis buku itu. Bahkan itu merupakan percakapan berbobot karena mereka menuangkan gagasan-gagasan terbaik mereka hanya dalam buku-buku mereka.…" Wahib dan Hok Gie mungkin bukan cendekiawan cemerlang sebagaimana yang dimaksud Descartes. Keduanya juga tidak menulis buku dalam arti buku yang memiliki struktur sebagaimana buku karya ilmiah—mungkin kalau Hok Gie ya, tetapi Wahib tidak. Sekali lagi, mereka hanya menulis catatan harian dan yang membukukan catatan harian mereka adalah orang lain setelah mereka berdua wafat.
 
Hanya, saya merasakan sekali apa yang dikatakan Descartes. Sewaktu membaca buku catatan harian Wahib dan Hok Gie, saya bagaikan sedang bercakap-cakap dengan keduanya. Saya merasakan kegelisahan Wahib. Saya juga berhasil merasakan keberanian Soe Hok Gie dalam menunjukkan kebenaran. Dan saya benar-benar dapat memahami kenapa mereka mengeluarkan pikiran-pikiran yang "mengganggu" yang bisa jadi pikiran itu tidak untuk ditujukan kepada orang lain. Betapa asyiknya mereka dapat menulis (mengungkapkan) pikiran mereka secara bebas dan sesekali "nakal". Betapa beruntungnya mereka karena, lewat menulis (meskipun hanya dalam bentuk catatan harian), mereka dapat membuat "hidup" mereka seakan-akan abadi dan pikiran mereka kemudian dapat terus bersentuhan dengan pikiran anak-anak muda yang hidup jauh setelah Wahib dan Hok Gie.
 
 
"Saya sungguh iri kepada dua anak muda Indonesia—Ahmad Wahib (1942-1972) dan Soe Hok Gie (1942-1969)—yang berhasil membuat catatan harian dan kemudian mewariskan kepada generasi berikutnya dalam bentuk buku. Kedua anak muda ini memang mati muda. Namun, membaca Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian karya Wahib dan Catatan Seorang Demonstran karya Hok Gie, saya dapat merasakan 'madu' kehidupan yang ditinggalkan mereka. Wahib dan Hok Gie tidak mati-muda sia-sia," kenang saya di halaman 5 dan 6 buku Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza yang terbit 8 tahun lalu.
 
Ketika di sebuah halaman buku Catatan Seorang Demonstransaya menemukan kata-kata Daniel Dhakidae—"Catatan harian adalah potret dengan sinar rontgen dan penjelmaan diri paling dalam dari seseorang"—saya pun sadar bahwa untuk menjadikan catatan harian dapat menjadi seperti itu (bermakna), maka seorang penulis catatan harian harus benar-benar bergulat dengan pikiran-pikiran orisinalnya yang dalam dan matang, serta perlu upaya yang sungguh-sungguh dalam menampakkan pikiran-pikiran orisinal yang matang dan dalam tersebut secara tertulis.[]

--

Ada Apa di Balik Terungkapnya Kasus Dhana Widyatmika?


From: Daniel Thie

 

http://hukum.kompasiana.com/2012/02/29/ada-apa-di-balik-terungkapnya-kasus-dhana-widyatmika/

Media massa
serentak mengistilahkan kasus rekening gendut nan tak wajar dari mantan
PNS Ditjen Pajak Dhana Widyatmika (sekarang sebagai PNS Golongan III-c
di Dispenda DKI Jaya) dengan sebutan "Gayus Jilid II". Termasuk Kompasiana yang juga memakai sebutan ini untuk "Topik Pilihan"-nya kali ini.
Sebenarnya, sebutan ini kurang tepat. Bukan karena Gayus Tambunan memproteskan
sebutan tersebut, tetapi karena memang secara faktual kejadiannya kurang tepat disebut sebagai "Gayus Jilid II". Modus operandinya memang mirip, bahkan bisa dikatakan sama dengan apa yang dilakukan oleh Gayus
Tambunan, tetapi kasus yang diduga dilakukan oleh Dhana Widyatmika bukan setelah Gayus melakukannya, tetapi jauh sebelumnya.
Kalau
Gayus Tambunan terungkap di pengadilan melakukan kejahatan pajaknya itu
sejak tahun 2009, maka Dhana diduga melakukannya sejak tahun 2002. Saat
itu dia masih bertugas sebagai petugas pemeriksa pajak Ditjen Pajak.
Dhana juga adalah senior dari Gayus di Sekolah Tinggi Akuntasi Negara
(STAN). Dhana angkatan tahun 1996, Gayus 1997 (Jawa Pos. 28/02/2012).
Jadi, kasus Dhana Widyatmika ini bukan kasus jilid II, atau "sequel"-nya kasus Gayus, melainkan lebih tepat adalah "prequel"-nya. Kisah sebelum kasus Gayus. Bisa jadi, Gayus justru belajar dari apa
yang telah dipraktekkan Dhana sejak 2002 itu, dan dia menirunya mulai
tahun 2009.
Lepas
dari soal sebutan ini, percayakah Anda bahwa kasus kejahatan perpajakan
yang melibatkan orang dalam di instansi perpajakan itu hanya kasusistis, hanya satu-dua kasus, atau satu-dua pegawai pajak yang begitu?
Sudah
lama sekali menjadi rahasia umum bahwa salah satu instansi pemerintah
yang paling banyak tukang korupsinya dengan modus melakukan kongkalikong dengan wajib pajak, atau cara lainnya, ada di Kantor Pajak. Mulai dari
daerah sampai pusat.
Sudah
seolah menjadi pemandangan biasa pula bahwa banyak sekali pegawai pajak
yang berpenampilan kaya-raya. Jauh daripada penghasil resminya. Mulai
dari pegawai rendahan sampai dengan pucuknya.

Salah satu rumah milik Dhani Widyatmika.
Dengan gaji pokok hanya Rp 5-6 juta/bulan sangat mustahil dia bisa
membeli rumah ini. Tapi masih sangat banyak keajaiban seperti ini di
antara pegawai kantor Pajak. Bahkan yang berpangkat eselon bisa punya
rumah yang jauh lebih besar dan mewah daripada yang ini. (Gambar dari
Kompas.com)
Terungkapnya kasus Gayus, dan kini Dhana, justru semakin menimbulkan kejanggalan.
Karena kasus-kasus kejahatan pajak seperti yang dilakukan Gayus, atau
yang diduga dilakukan Dhana ini amat sangat mustahil mereka bisa lakukan secara sedemikian bebas selama bertahun-tahun, dengan mengeruk
sedemkian banyak uang negara (dengan jumlah fantastik), tanpa diketahui
sama sekali oleh atasannya, dan atasan dari atasannya lagi itu, dan
seterusnya ke atas. Menjadi semakin janggal lagi, karena penyelidikan
dan pengungkapan kasus ini selalu hanya terhenti sampai di pegawai
menengah/rendahan seperti ini.
Secara
kasat mata saja, pemandangan seorang pejabat tinggi Pajak (Eselon)
mempunyai rumah besar dan mewah di kawasan perumahan mewah, dengan
(beberapa) unit mobil mewah pula itu sudah kerap terjadi. Tetapi apa kah kita pernah dengar pejabat-pejabat Eselon di Perpajakan ini tertangkap
dan diusut serta disidang seperti pegawai-pegawai Pajak Golongan III
ini?
Besar kemungkinan meraka ini sebenarnya hanyalah pelaksana di lapangan, dengan mendapat komisi tertentu dari sang "Godfather", yang juga atasannya di Kantor Pajak tempat mereka kerja. Sang "Godfather" ini kekayaannya jauh lebih fantastik daripada pegawai-pegawai pajak "ajaib" seperti Gayus dan Dhana ini.
Percayalah kisah kejahatan pajak seperti ini sama sekali tidak hanya terdiri dari
dua jilid saja (bukan hanya ada "Gayus Jilid II"), tetapi
berjilid-jilid, sehingga sulit mengetahui jumlah sebenarnya. Tinggal
dipilih saja seperlunya, mana yang hendak dijadikan tumbal untuk
menunjukkan ke publik tentang keseriusan penyidik mengungkapkan kasus
kejahatan seperti ini. Padahal sebetulnya, di baliknya hanyalah suatu
bentuk intrik pencitraan, atau intrik politik untuk mengalihkan perhaian kita dari kasus-kasus kejahatan yang sejenis namun jauh lebih besar
lagi, yang dilakukan oleh pelaku yang jauh lebih tinggi dan berpengaruh
di bidang politik, maupun jabatan.
Ahmad
Yani, anggota Komisi III DPR mengungkapkan bahwa di sektor pajak selama
ini sangat rawan terjadinya kejahatan korupsi. "Saya ingin menguatkan
apa yang selama ini saya katakan. Bahwa di sektor pajak itu memang
sangat rawan. Setiap tahun potensi kerugian negara dari sektor pajak
sebesar Rp300 triliun," katanya di Jakarta, 27/02/2012 (jpnn.com).
Begitu
cepatnya Kejaksaan mengusut laporan PPATK tentang rekening gendut
mencurigakan dari Dhana Widyatmika, tetapi temuan PPATK bahwa ada 12
rekening gendut yang mencurigakan dari jaksa sendiri, kenapa terkesan
begitu lamban sekali diusut? Sudah lebih dari satu bulan PPATK
melaporkan bahwa ada 12 rekening mencurigakan/tidak wajar dari jaksa,
tetapi sepertinya kok didiamkan saja?
Ditanya
soal itu, Kepala Pusat Penerangan dan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan
Agung, Noor Rachmad menjawab, "Tunggu perkembangannya. Kerja kami bukan
itu saja!" (Jpnn.com, 27/02/2012).
Bagaimana pula dengan kisah rekening gendut milik sejumlah perwira polri yang pernah dilaporkan PPATK, dan diungkapkan majalah Tempo itu? Kata, Kapolri, tidak ada masalah pada rekening-rekening tersebut,
alias kekayaan miliaran rupiah yang dimiliki para perwira polri itu
adalah wajar. Tetapi anehnya, ketika ICW minta kalau memang betul wajar, pihak polri seharusnya berani memperlihatkan posisi rekening tersebut
bagaimana bisa jumlahnya yang sampai miliaran rupiah itu dikategorikan
sebagai wajar oleh Kapolri /Mabes Polri itu?
Apakah
juga wajar, ketika bagi publik rekening gendut perwira polri itu tetap
tidak wajar, Mabes Polri malah mempromisikan salah satu pemilik rekening gendut perwira polri itu, Inspektur Jenderal  Polisi Budi Gunawan, kini menjadi Kapolda Bali? Menurut laporan PPATK, per 19 Agustus 2008,
kekayaan Irjen Pol Budi Gunawan adalah sebesar Rp. 4.684.153.542. Tentu sekarang jumlahnya sudah lebih besar daripada itu?
Majalah Tempo, dalam laporannya tentang ini, antara lain menulis bahwa dari laporan PPATK,
Inspektur Jenderal  Budi Gunawan dituduh (pernah) melakukan transaksi
dalam jumlah besar, tidak sesuai dengan profilnya. Bersama anaknya, Budi disebutkan telah membuka rekening dan menyetor masing-masing Rp. 29
miliar dan Rp. 25 miliar. Ketika dikonfirmasi pada 25 Juni 2010, yang
bersangkutan membantahnya dengan mengatakan bahwa berita itu sama sekali tidak benar.
Kemudian, bagaimana dengan kelanjutan laporan PPATK tentang 2.000 lebih rekening
mencurigakan yang sebagian besar dari anggota DPR. Terutama sekali di
Badan Anggaran (Banggar)? Kok, malah seperti berlalu seperti angin yang lewat? Apakah hanya kebetulan saja, ketika publik mulai menaruh perhatian lebih besar ke laporan PPATK tentang rekening mencurigakan anggota Banggar DPR,
mendadak muncul kasus Dhana Widyatmika ini? Mengingat sebenarnya
rekening mencurigakan ini sudah diketahui lama, bahkan sejak sebelum
Gayus.
Masih
sangat segar ingatan ini apa yang terjadi baru-baru ini di Komisi III
DPR, ketika dalam laporan tertulis tanya-jawabnya dengan Komisi III itu, PPATK mencoret dengan spidol hitam satu paragrafnya. Tetapi rupanya,
coretannya itu tidak sempurna sehingga masih bisa dibaca dengan jelas.
Paragraf yang dicoret itu bunyinya sebagai berikut:

"Saat ini PPATK sedang melakukan
analisis atas lebih dari 2000 laporan terkait dengan anggota DPR, dimana mayoritas transaksi dilakukan oleh anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR."

(detik.com)
Publik
pun menaruh curiga, ada apa-apa di antara PPATK dengan Banggar ini.
Apakah ada semacam intimidasi dari anggota Banggar terhadap PPATK?
Ataukah memang ada semacam deal-deal tertentu di antara mereka? Kalau tidak begitu, kenapa ada paragraf dengan kalimat seperti itu yang kemudian dicoret? Bisa jadi, pegawai PPATK yang mengetik naskah
tersebut dari catatan aslinya, yang lupa diedit oleh pejabat-pejabat
tinggi tertentu di PPATK. Seperti yang pernah saya ulas di Kompasiana dengan judul: "Ketika Nyali Ketua PPATK Mendadak Ciut".
Kejadian ini
(terungkap ada pencoretan dengan spidol hitam di laporan tertulis PPATK
itu) sebenarnya tak disengaja. Karena lupa diedit, terlanjur diketik.
Tidak ada lagi waktu untuk memperbaikinya, maka yang bisa dilakukan
hanyalah dicoret. Tapi, ternyata masih bisa dibaca. Apa yang harus
dilakukan untuk bisa segera mengalih perhatian publik yang mulai
menyorot PPATK dengan Banggar ini?
Gampang, PPATK
mempunyai banyak sekali data rekening gendut mencurigakan (yang sangat
tidak wajar). Tinggal dipilih saja, mana yang mau dipakai, diungkapkan
supaya perhatian publik tercurah ke sana. Bukan ke PPATK dan Banggar.
Dan, terpilihlah rekening gendut milik Dhana Widyatmika. Terbukti,
berhasil, bukan? ***

Teng krunthel

Pecel mbok sumo

Senin, 27 Februari 2012

wedhus nggaya...

Genjer ditumis


From: "Agus Dwi

Njajal...
Aja diarani PKI merga pingin ngrasakke 'genjer-genjer'...
;-p

--

NYANYIAN KEMERDEKAAN - Nota Puitika (301-310) Oleh A.Kohar Ibrahim


 

NYANYIAN KEMERDEKAAN

 

Nota Puitika (301-310)

 

Oleh :

A.Kohar Ibrahim

*

 

(301)

Mata

mata: pandang.

Pandang memandang

mata hati mata pikiran

terang terpandang.

Pandang terang

IYA

jelas tegas

memakna juang Kemerdekaan

bukan seperti Linglung bingung

Tapi pandang terang benderang

seperti Pramoedya Ananta Toer

mengangkat senjata

senapan pun pena.

Kemerdekaan harus direbut dibela diwujudkan

Sadar semangat sudah mulai dari diri pendambanya

Kaum yang ganderung mewujudkan cita cinta idamannya

Di mana saja dan kapan kapan pun ada keberadaannya

*

2.11.11

*

 

(302)

Mata

mata: pandang.

Pandang memandang

mata hati mata pikiran

terang terpandang.

Pandang terang

IYA

juang perjuangan

dalam makna memakna hak hakikinya

Kemerdekaan ada lah di manapun kapanpun

Selaras situasi dan kondisi obyektip

Rantai rangkai belenggu ada

bisa ada bahkan dalam diri sendiri!

Di sekitar alam masyarakat manusia.

Sungguh betapa perlu Sadar Tahu Diri

Tahu Tunjuk Ajar Tahu Arah Tuju

dalam perjalanan panjang juang

membebas-merdekakan diri

pun alam manusia sekitar

*

2.11.11

*

 

(303)

Mata

mata: pandang.

Pandang memandang

mata hati mata pikiran

terang terpandang.

Pandang terang

IYA

sikap pendirian ku jelas tegas mendasar:

Menuntut Tegaknya Kebenaran dan Keadilan.

Dalam dimensi lokal maupun internasional

Termasuk atas sebuah lagu Rakyat

berjudul Genjer Genjer

Yang aku suka

yang aku apresiasi tinggi

semenjak masa aku pemuda

Salah sebuah lagu yang juga jadi korban

tindakan kebiadaban rezim OrBa paranoia

yang didukung para budayawan paranoia pula.

Maka untuk itu teriak aku tak jemu:

Tegakkan Kebenaran dan Keadilan!

Merdeka!

*

3.11.11

*

 

(304)

Mata

mata: pandang.

Pandang memandang

mata hati mata pikiran

terang terpandang.

Pandang terang

Iya seraya tanya sarat jawaban:

Duhai! Sang Rembulan Sang Bintang itu

Ah tidakkah Penerang dan bukan Penggelapan?

Tetapi zaman ini apakah pula masih dan kembali

dalam zaman penggelap-pembodohan alias Zahiliah?

Masihkah mau melestari tradisi keji pembelengguan

dan korban pengorbanan kaum yang lemah terlemah?

Maka lantang aku kumandangkan teriakan:

Bangkitlah kaum yang terbelenggu tertindas

rebut Kebebas Merdekaan yang terampas!

*

6.11.11

*

 

(305)

Mata

mata: pandang.

Pandang memandang

mata hati mata pikiran

terang terpandang.

Pandang terang

IYA

membelakak kagum menampak

rimba gedung megah pencakar langit tinggi

Tinggi tinggi berkah kekayaan alam melimpah

Tapi kwalitas keadaban betapa Rendah di bawah

Tragis sadis nyaris masih seperti di zaman Zahiliah.

Kaum perempuan dan bocah serta kaum miskin papa

pun masih seperti zaman perbudakan!

Kemunafikan sungguh memalukan!

*

6.11.11

*

 

(306)

Mata

mata: pandang.

Pandang memandang

mata hati mata pikiran

terang terpandang.

Pandang terang

IYA

kurban atau korban

sama makna benarnya

Benar daku pandang

Sesungguhnya

Rakyatlah yang senantiasa berkurban

dari zaman ke zaman Malah dijadikan korban

tumbal Kekuasaan Zalim dan Brandal

*

6.11.11

*

 

(307)

Mata

mata: pandang.

Pandang memandang

mata hati mata pikiran

terang terpandang.

Pandang terang

IYA

realita keras

kekerasan menggugat

Tiap hari tertanda jelas nyata

berapa Perempuan tewas melahirkan

Berapa bocah perut buncit tapi kelaparan

Berapa orang langsing kurus kering gentayangan

Meski pun di negeri besar luas indah kaya raya?

Berapa banyak pula rakyat penjaga marwah

yang senantiasa berkurban

jadi korban kekuasaan

rakus arogan?

*

6.11.11

*

 

(308)

Mata

mata: pandang.

Pandang memandang

mata hati mata pikiran

terang terpandang.

Pandang terang

IYA

tertanda tanda nyata memakna ungkap kata

Pasrah bukan berarti menyerah kalah

Tapi bersyukur terus berjuang

Seperti penyair menulis Tangis Pesisir Selatan

seperti para pengundang bedah buku penyair wanita

pun pernikahan puteri sang penyair Berani berlawan.

Duhai kabar penyegar pengisi suka-duka

lagu manusia Nusantara tercinta

Saat sarapan pagi harini.

Banyak Terima Kasih

*

7.11.11

*

 

(309)

Mata

mata: pandang.

Pandang memandang

mata hati mata pikiran

terang terpandang.

Pandang terang

atas pandangan

yang pas pasan pun yang lebih-kurang

Ah semua keaneka-ragaman wajar-wajar saja

Karenanya selaras kemampuan

pun kemauan masing masing orang

yang tak identik yang tak sama mutlak

Begitulah hal perihal Cinta Kasih Sayang

yang jadi dasar mendasar ada lah

anugerah terindahNya

sumberNya

*

8.11.11

*

 

(310)

Mata

mata: pandang.

 Pandang memandang

 mata hati mata pikiran

 terang terpandang.

 Pandang terang

 IYA

 ummat manusia

 sekalian alam menerima anugerah simbahan

 yang benar dasar mendasar tersiar sinar

 Cinta kasih sayang dari Sang Pencipta

 Yang Maha Pengasih Penyayang

 Oh betapa indahnya

 sang ummat pun

 mengekspresi diri

 tanda pertanda bersyukur

 Ekspresi diri sesamanya dalam ragam variasi

 yang tak ternilaikan baik kwantitas pun kwalitas

 Tersurat-sirat dalam aktivitas-kreativitas bernas

 Segala bidang garapan ilmu seni budaya

Seperti Senirupa Seni Tari dan Nyanyi

Seperti Kesusastraan : Prosa Puisi

*

 

 

 

 

Catatan :

(1).Berkas naskah NP – Nota Puitika Nyanyian Kemerdekaan disaji dengan penampilan typografis gaya calligram, berdasarkan status profil Facebook A.Kohar Ibrahim yang telah dilengkapi. NP n° 301-310 disiar ulang Facebook 10 November 2011.

 

(2).NP n°301 & 302 : Manusia dilahirkan bebas merdeka. Maka kebebas-merdekaan harus dimulai dari dalam dirinya sendiri, berjiwa merdeka, berjuang mewujudkan cita-cita kemerdekaan untuk menjadi manusia di alam kemerdekaan masyarakat manusia yang beradab. Perjuangan atau daya upaya untuk menjadi manusia tak lain kecuali untuk menggapai hidup kehidupan manusia yang manusiawi – manusia yang beradab. Masyarakat manusia yang merdeka adalah masyarakat adil makmur beradab.

 

(3).NP n°303: Paranoia – penyakit jiwa atau orang yang kejangkitan penyakit jiwa. OrBa paraoia – dimaksudkan rezim atau penguasa yang kejakitan penyakit jiwa, yang menganggap hal ihwal tak ada sebagai ada; dusta kedustaannya sendiri dianggap sebagai kenyataan. Dimulai dari kudeta 1 Oktober 1965, kisah di Lubang Buaya yang menuduh kaum perempuan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) melakukan kebiadaban amoralita sampai pada jutaan orang korban pembantaian massal yang dicap "komunis" dan dituduh terlibat melakukan kudeta. Padahal sang penuduh sendiri (penguasa militer) yang melakukan kudeta sekalian melancarkan teror di segala bidang kehidupan, terutama melakukan tindakan kejahatan kemanusian berupa pembunuhan massal. Yang korbannya menurut Pangkopkamtib Laksamana Sudomo 2 juta jiwa, sedangkan menurut Jendral Sarwo Edie: 3 juta jiwa. Sesungguhnya, yang jadi korban pembunuhan atau pembantaian itu tidak cuma manusia, melainkan juga yang berupa hasil aktivitas-kreativitas seni budaya. Baik seni sastra maupun jenis kesenian lainnya termasuk seni musik seni suara – seperti lagu rakyat yang terkenal: Genjer Genjer. Padahal lagu ini adalah lagu rakyat biasa yang lahir berlatar-belakang suasana kehidupan yang sulit semasa penjajahan Jepang. Liriknya pun biasa-biasa saja, beda misalnya dengan lagu revolusioner Internasionale. Bahwa Genjer Genjer pada masanya (istimewa sekali di zaman Bung Karno, sampai pertengahan tahun 60-an) dipopulerkan oleh LEKRA dan penggubahnya Muhamad Arief masuk ormas tersebut memang benar. Yang pasti lagu rakyat tersebut dan penggubahnya jadi korban kebiadaban terorisme OrBa.

 

(4).NP n°304: Sang Rembulan Sang Bintang & Zaman Zahiliyah. Yang dimaksudkan di sini Bulan dan Bintang yang sering kali dijadikan simbol simbol dari berbagai panji atau bendera atau logo ormas (organisasi massa) dan orpol (organisasi politik) bahkan negara sampai pada merk dagangan seperti bir cap bintang ! Bintang juga sebagai sebutan orang atau kaum yang berprestasi atau berprestise dan yang kondang alias terkenal. Mengandung peng-arti-an sebagai pembawa keterang-cemerlangan, sebagai penerang, namun kerap kali dalam tindakan dan dampaknya adalah sebaliknya. Bukannya terang tapi gelap. Bukannya penerang tapi penggelapan. Bukannya pencerahan tapi pembodohan. Yang diberlakukan oleh orang atau kelompokan orang atau institusi atau penguasa yang zalim. Tak ubahnya seperti di Zaman Zahiliah alias Zaman Kebodohan atau Pembodohan. Zahil atau Jahil – dalam bahasa Arab berarti: Bodoh. Kebodohan. Kebiadaban.

 

(5).NP n°305 – 307 : Dibandingkan dengan rimba gedung gedung tinggi pencakar langit, kwalitas keadaban betapa rendah…. "tragis sadis nyaris masih seperti zaman Zahiliah".

"Rakyatlah yang senantiasa berkurban" / "Perempuan tewas melahirkan"

 

Seperti diketahui, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S. Poerwadarminta, terbitan Balai Pustaka, kata  a d a b  berarti: sopan, kesopanan; kehalusan dan kebaikan budi pekerti (tingkah laku). Dengan  adab: dengan sopan (takzim). Beradab: telah maju tingkat lahir batinnya; sopan, baik budi bahasanya. Peradaban: kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin. Keadaban: peri kesopanan, ketinggian tingkat kecerdasan lahir batin; kebaikan budi pekerti (budi bahasa dsb).

 

Dalam Abad Ke-XXI ini, sayang sekali tingkat tinggi-rendah adab keadaban ummat manusia di muka bumi  ini masih sangat macam-macam yang amat memprihatinkan. Kebanding yang terkemuka yang keterbelakangan lebih banyak. Seperti diutarakan laporan HDR-UNDR – Human Development Report PBB 2011. Yang juga dilansir oleh Media Indonesia.Com Sabtu 5 November 2011, dengan antara lain dinyatakan, bahwa:

 

"Maju mundurnya sebuah bangsa sangat bergantung pada kualitas sumber manusianya. Semakin bermutu manusianya, semakin maju bangsa itu. Celakanya, mutu manusia di Republik ini masih tergolong buruk.

 

Terbukti, indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia merosot jauh ke posisi 124 dari 187 negara. Padahal, laporan PBB tentang indeks pembangunan manusia pada 2010 masih menempatkan Indonesia di peringkat 108 dari 169 negara.

 

IPM merupakan ukuran keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa dengan melihat tiga indikator utama, yakni pembangunan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Artinya, pembangunan yang dilakukan membuka peluang bagi penduduk untuk hidup lebih sehat, lebih berpendidikan, dan dapat hidup lebih layak.

 

Dengan peringkat seperti itu, di lingkup negara-negara ASEAN, Indonesia hanya menempati posisi keenam, di bawah Singapura (26), Brunei (33), Malaysia (61), Thailand (103), dan Filipina (112). Indonesia hanya lebih baik ketimbang negara-negara terbelakang di Asia Tenggara seperti Laos, Kamboja, dan Myanmar.

 

Celakanya, anjloknya peringkat IPM Indonesia itu bersumber dari sektor pendidikan. Padahal, untuk pendidikan, sejak tahun anggaran 2010 sudah digelontorkan dana 20% dari APBN sesuai dengan tuntutan konstitusi. Namun, fakta berbicara tingkat putus sekolah dan buta aksara masih tetap tinggi.

 

Di bidang kesehatan, kondisinya juga sama. Tingkat kematian ibu melahirkan dan buruknya pemenuhan gizi anak juga masih tergolong tinggi. Harus diakui, untuk menyediakan pangan saja bagi kebanyakan penduduk, kita masih terseok-seok.

 

Yang lebih celaka, pembangunan selama ini hanya mendorong munculnya komersialisasi sektor pendidikan dan kesehatan yang begitu hebat.» ***

 

 

(6).NP n°309 & 310 : Cinta Kasih Sayang sesama ummat manusia dan alam adalah dasar mendasar dari segala aliran, faham, kepercayaan agama besar yang universal ;  filosofis,  agamis maupun non-agamis. Begitulah sifat ke-universal-annya. Akan halnya soal bagaimana mengaplikasi atau menterapkannya itu tergantung dari kaum atau pengikutnya masing-masing – selaras situasi dan kondisi kongkrit, ruang dan waktu obyektipnya. Mengingat kenyataan, bahwa meskipun se-ummat manusia namun berbeda-beda pula adanya. Kesamaan dan keberbedaan yang berlangsung dari zaman ke zaman. Mengingat pula bahwa dalam masyarakat manusia ada keberbedaan asal muasal, tingkatan, kasta, kelas, golongan, kelompokan, grup dan klik serta individualita-individualita atau orang perseorangan. Semuanya mempunyai kepentingan masing-masing. Kepentingan yang seringkali mempengaruhi bahkan bisa merupakan faktor yang menentukan dalam penterapan tunjuk ajar dari aliran, kepercayaan atau faham yang dianutnya.

 

 

(7).NP n°310: "Mengekspresi diri dalam ragam variasi" – dimaksudkan bahwa menusia meski sama seummat manusia, namun dalam mengekspresikan diri, dalam menyatakan perasaan dan opini, dalam aktivitas-kreativitas tidaklah seragam, tapi bermacam macam dalam bentuk-isi pun gaya caranya. Bahkan, sekalipun sesama kaum atau sesama aliran atau kepercayaan yang dianutnya. Pula, bahkan sesama anggota perkumpulan atau partai sekalipun! Kenapa terjadi keberbedaan? Lantaran keberbedaan penafsiran! Oleh karena itulah adanya keberbedaan atau pluralisma atau kaneka-ragaman dalam mengkspresi diri itu selayaknya dianggap sebagai hal yang wajar.***

 

*