Selasa, 03 Mei 2011

Kuliner Unik di Kota Batik: Pindang Tetel rasa jempolan, gulainya tanpa santan




Kuliner Unik di Kota Batik: Pindang Tetel rasa jempolan, gulainya tanpa santan

 

Pekalongan memang kondang dengan batiknya. Namun sambil berbelanja batik, tak ada salahnya sambil berburu kuliner di sini. Tentu saja Nasi Megono dan Tauto sudah tak asing. Sekarang kita coba Pindang Tetel yang tak kalah khas. Cicipi juga Gulai Kacang Hijau, Kambing Oven, hingga Bakso Krenyeus.

 

 

Pindang Tetel Pak Anas

 

Ini dia menu khas Pekalongan, selain Nasi Megono dan Tauto. Namanya Pindang Tetel. Menu ini berasal dari daerah Kedungwuni, sekitar 8 kilometer ke arah selatan Kota Pekalongan. Sayangnyaa, penjual menu ini kebanyakan berjualan keliling. Namun tenang saja, ada kedai sederhana milik Bpk. Ahmad Nasoho (51) yang sudah berjualan sejak tahun 1975. Letaknya di Jl. Raya Ambokembang Gang 6, No. 6. Kedainya berlokasi di seberang Rumah Sakit Islam Muhammadiyah, Kedungwuni.

 

Sesuai namanya, Pindang Tetel dibuat dari daging tetelan sapi dan bagian ototnya. Untuk mempermudah gambaran, Pindang Tetel cukup mirip dengan masakan Rawon dari Jawa Timur. Kuahnya kehitaman, dengan rasa keluak yang menonjol. "Memang pindang Tetel berbumbu sama dengan Rawon, namun berbeda pada daging tetelan dan cara penyajiannya," tutur pria yang biasa disapa Anas ini.

 

Sebelum disajikan, Anas menata kerupuk usek yang berbentuk keriting. Ada yang berwarna merah, dan putih. Kerupuk usek dibuat dari bahan tapioka, lalu digoreng dengan pasir panas hingga mengembang. Setelah itu kerupuk usek diguyur dengan pindang ala Pekalongan, plus taburan seledri dan bawang goreng. Ketika terendam, kerupuk usek yang tadinya renyah, berubah menjadi kenyal seperti kikil. Hm.. enak. Apalagi jika kuahnya ditambah dengan sambal hijau. Dijamin Anda makin ketagihan.

 

Pindang Tetel bisa disantap dengan Nasi Megono atau lontong. Tergantung selera Anda saja. Seporsi Pindang Tetel bisa dinikmati dengan harga Rp 4.500 saja. Murah dan lezat. Dalam sehari, Anas mengaku menyiapkan 100 porsi Pindang Tetel. Ia berjualan dikedai mungil berkapasitas 10 pengunjung mulai pukul 09.30-15.00.

 

 

Gulai Kacang Hijau Pak Soleh

 

Menu Gulai Kambing boleh jadi kondang dari Yogyakarta dan Solo. Tapi Gulai Kambing di Pekalongan punya sentuhan tersendiri yang patut Anda coba. Namanya Gulai Kacang Hijau. Bagaimana rasanya? Langsung saja puaskan penasaran Anda di kedai Pak Soleh yang terletak di Jl. Jelamprang, Gang IX. Telp (0285) 413508. Letaknya tepat di seberang Masjid Aulia. Kedai ini sangat terkenal di Pekalongan dan sudah berusia 20 tahun.

 

Gulai buatan Bpk. Soleh (60) dibuat dengan resep berbeda. Rasa rempahnya sangat kuat dan berwarna gelap, tidak seperti Gulai Solo yang kuning bersantan. "Saya tidak menggunakan santan langsung," ujarnya.

 

Pak Soleh membuat dengan bumbu gulai pada umumnya, namun dicampur dengan kelapa sangrai. Inilah mengapa kuahnya pekat, gelap, dan terasa kuat aroma rempahnya, seperti kapulaga dan jintan. "Kuahnya langsung menghangatkan badan. Flu bisa sembuh," promosinya.

 

Jika ingin mencicipi Gulai Kacang Hijau, maka gulai kambing Anda akan ditambahkan semacam bubur kacang hijau yang kental karena dimasak dengan tambahan terigu. Porsi Gulai Anda jadi penuh sekali dan mengenyangkan. Tanpa nasi pun, perut sudah sesak. Tapi Anda bisa mencicipi Dedel, sejenis dadar tipis yang terbuat dari terigu dan telur. Dicocolkan ke kuah gulai, mantap betul. Satu buah Dedel hanya Rp 1.000 saja.

 

Sementara isi gulainya bermacam-macam. Anda boleh memilih sesukanya. Tersedia daging, kaki, kepala, hingga lidah, tanpa jeroan. Seberapa banyak yang Anda ambil akan menentukan harga setiap porsinya. "Tapi rata-rata seporsi kami jual Rp 10 ribu," imbuhnya.

 

Soleh hanya menggunakan kambing muda berjenis betina karena dagingnya empuk dan tidak berbau.

 

Kalau ingin mencoba, perhatikan lampu di depan kedainya. Jika berwarna hijau, berarti Gulai masih tersedia. Namun kalau berwarna merah, artinya Anda kehabisan. Unik, ya? Catat jam buka kedai ini yang dimulai pukul 17.00-22.00. Sebaiknya datanglah lebih awal agar tak kehabisan.

 

 

Bakso Krenyeus.

 

Sudah 8 bulan kedai bakso ini meramaikan kuliner Pekalongan. Meskipun hanya kedai bakso, namun bakso yang ditawarkan berbeda, lo. "Di Pekalongan ini warganya suka sekali bakso, tapi umumnya bakso sapi," terang Bpk. H. Ahmad Sobari (34), pemilik kedai ini.

 

Sebagai kota yang ada di pesisir pantai, warga Pekalongan tentu tak asing dengan aneka menu Seafood. Jadilah Ahmad mengombinasikan bakso dan seafood, menjadi bakso seafood. Di kedai ini banyak sekali ragam bakso dari berbagai bahan laut. Di antaranya bakso ikan, bakso udang, bakso cumi, bakso salmon, bakso kepiting, hingga bakso lobster. Hm.. enak!

 

Ahmad menawarkan berbagai paket yang berisi kombinasi aneka bakso. Misalnya, paket bakso Napoleon yang menawarkan semangkuk bakso berisi bakso ikan, cumi, udang, sapi, mi, dan bihun. Taburan bawang goreng, saus tomat, sambal, dan kecap menjadi pelengkapnya.

 

Atau coba saja sate bakso yang sajiannya berbeda. Layaknya sate, bakso disajikan dengan cara diiris tipis, lalu ditusuk dengan tusukan bambu, dan dibakar dengan saus khusus yang gurih manis. Sate bakso berkomposisi bakso ikan, udang, cumi, salmon, dan kepiting.

 

Masih banyak paket lainnya yang ditawarkan dengan harga serupa, yakni Rp 10 ribu per porsi. Namun di antara sekian paket, ada menu bakso pecel yang menarik perhatian. Menu ini menyajikan pecel yang berisi sayuran kacang panjang, mentimun, daun selada, dan bakso iris. Lalu disajikan dengan saus kacang seperti pecel pada umumnya. Unik, enak, dan sehat.

 

Jika ingin mencicipi, datang saja ke Gedung PPIP di Jl. Dr. Wahidin No. 102. Telp. 08157704838. Kedai berkapasitas 50 pengunjung ini buka mulai pukul 10.00-19.00.

 

 

Kambing Oven Kalibul.

 

Kedai asal Tegal ini menawarkan menu yang tak biasa, Kambing Oven. Wah, terdengar menggiurkan, ya? Kita cicipi langsung, yuk. Kedai ini berlokasi di Jl. Raya Kalibanger No. 105. Telp. (0285) 438001. Letaknya tak jauh dari pasar grosir batik Setono yang ternama itu.

 

Sesuai namanya, Kambing Oven dibuat dengan cara dioven. Bagian yang digunakan adalah paha utuh kambing muda. Ukurannya cukup besar dan bisa dikonsumsi untuk 2-3 orang. Saat disajikan, paha kambing terlihat kering bagian luarnya. Di beberapa bagian malah cenderung renyah karena dipanggang cukup lama hingga empuk. Sangat mudah mengoyak daging paha kambing muda ini. Aroma ketumbar dan jintan langsung menyemburkan aroma menggiurkan. "Kami hanya menggunakan kambing berusia di bawah lima bulan agar dagingnya empuk," terang Ifah (23), salah satu pengelola kedai ini.

 

Meskipun luarnya cenderung kering, bagian dalam paha kambing ternyata cukup lembap, masih menyimpan jus kaldunya. Walaupun tersaji utuh, nyatanya daging mudah sekali dikoyak hingga ke bagian yang menempel pada tulangnya.

 

Kambing oven disajikan dengan cocolan sambal kecap yang dibuat dari irisan cabai rawit, kecap manis, tomat, dan bawang merah. Taburan bubuk merica membuat cocolan saus kecap makin mantap.

 

Selain kambing oven, olahan kambing yang umum seperti Satai, Sop, dan gulai sudah pasti tersedia di sini. Satainya tersaji berbumbu minimalis khas kawasan pantai utara Jawa Tengah, lalu disajikan bersama sambal kecap. Harga menu di kedai ini berkisar antara Rp 15 ribu-Rp 40 ribu.

 

Kedai berkapasitas 100 orang ini buka mulai pukul 10.00-24.00.

 

Nah, kala berjalan-jalan di Pekalongan, cobalah mengeksplorasi pengalaman kuliner Anda dengan mencicipi aneka hidangan dari Kota Batik ini. Selamat pelesiran di Pekalongan.

 

 

Tulisan & Foto: Robert

Tata Letak: Benyamin W

 

Person quoted: Bpk. Ahmad Nasoho (Pemilik Kedai Pindang Tetel Pak Anas) .  Bpk. Soleh (pemilik Kedai Gulai Kacang Hijau Pak Soleh) .  Bpk. Ahmad Sobari (pemilik Kedai Bakso Krenyeus) .  Ifah (pengelola Kedai Kambing Oven Kalibul)

 

 

* Pindang Tetel (untuk 5 porsi)

 

Bahan:

- 500 gr daging tetelan, dipotong-potong

- 1.500 ml air

- 3 lembar daun jeruk, dibuang tulang daunnya

- 1 lembar daun salam

- 1 batang serai, dimemarkan

- 1 batang daun bawang, dipotong 1/2 cm

- 2 1/2 sdt garam

- 1/2 sdt merica bubuk

- 2 1/2 sdt gula merah

- 2 sdm minyak untuk menumis

 

Bumbu halus:

- 8 butir bawang merah

- 3 siung bawang putih

- 2 buah cabai merah keriting

- 1 buah cabai merah besar

- 3 buah keluak, diseduh

- 4 butir kemirim, disangrai

 

Bahan sambal:

- 50 gr gula merah hitam

- 20 buah cabai rawit hijau

- 2 siung bawang putih

- 1/2 sdt garam

 

Bahan pelengkap:

- 25 gr kerupuk kanji, dipatah-patahkan

- 5 buah lontong siap pakai untuk penyajian

- 1 tangkai seledri iris halus untuk taburan

 

Cara membuat:

Rebus daging tetelan dan air sampai mendidih. Angkat. Tambahkan air ke dalam kaldu hingga jumlah campuran keduanya jadi 1.250 ml. Sisihkan. Panaskan minyak. Tumis bumbu halus, daun jeruk, daun salam, dan serai sampai harum. Tambahkan daun bawang. Aduk rata. Masukkan daging, garam, merica bubuk, gula merah, dan kaldu daging. Aduk sampai matang dan meresap di atas api kecil.

Sambal: Rebus cabai rawit dan bawang putih sampai layu. Angkat. Ulek cabai, bawang putih, gula merah hitam, dan garam. Sisihkan. Patah-patahkan kerupuk di mangkuk. Siram dengan rebusan daging. Sajikan bersama lontong, seledri, dan sambal.

 

 

* Alamat-alamat

 

- Bakso Krenyeus

Jl. Dr. Wahidin 102, PPIP (Pusat Pembatikan Indonesia Pekalongan)

Telp. 08158804838

 

- Gulai Kambing Pak Soleh

Jl. Jelamprang, Gang 9, Depan Masjid Aulia

Telp. (0285) 413508

 

- Pindang Tetel Pak Anas

Jl. Ambokembang, Depan kantor Pos Kedungwuni

 

- Kambing Oven Kalibul

Jl. Dr. Sutomo No. 105, Depan Asrama BRIMOB Pekalongan

Telp. (0285) 438001

 

 

Saji - 23 Maret-5 April 2011



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar