Rabu, 31 Maret 2010

Fw: Operasi Jantung





From: Haryono



---------- Forwarded message ----------








-

From: maria <maria@cremerindo.com>
Subject: FW: [Parokiyakobus] Fw: [INALUT] Fw: [iluni-mmui] Info penting
To: "'Anna Maria Susilowati'" <annamaria.susilowati@yahoo.com>, caroline@panin.co.id, central_busana@yahoo.com, suzanna_virginia@yahoo.com, ir1710@yahoo.com, ekosar@indo.net.id
Date: Wednesday, March 24, 2010, 9:42 AM

 

 

Best regards

 

Maria Wenefrida

PT. Peter Cremer Indonesia

Phone : (62-21) 7250259

Fax : (62-21) 7250272

Email : maria@cremerindo.com



Rekan-rekan, mohon bantuannya untuk menyebarkan,

Operasi Jantung gratis bagi yang tidak mampu akan dilaksanakan bulan Juli mendatang di Jakarta , jika rekan-rekan ada yang mengenal pasien dengan penyakit jantung apapun yang mungkin dapat ditolong, mohon daftarkan data nama, usia, tempat tinggal dan no.yang bisa dihubingi, ke email: Iswardi_lingga@ yahoo.com, atau telp 021-71031414.




TSQ Stories



From: Fahmi Amhar


Assalaamu'alaikum wr.wb.

Memperkenalkan buku baru

Seri Kecerdasan Ilmiah dan teknologi berbasis spiritual (technoscience-spiritual quotient, TSQ)

TSQ Stories

Kisah-kisah penelitian dan pengembangan sains dan teknologi di masa peradaban Islam.

Penulis: Dr.-Ing. Fahmi Amhar
Penerbit:
Al-Azhar Press, 2010.
isbn: 979-3118-80-6
204 halaman.

Buku ini saya sebut "TSQ-stories", karena berisi kisah-kisah tentang kecerdasan ilmiah dan kreativitas teknologi yang berbasis spiritual (technoscience-spiritual-quotient).  Kisah-kisah ini digali dari sejarah keemasan peradaban Islam, era di mana diyakini ada keseimbangan yang luar biasa antara budaya rasional dan transendental, antara dunia "aqli" dan "naqli", dan antara kemajuan dunia dan keselamatan akherat.

Kisah-kisah ini "dipulung" dari banyak sekali sumber.  Saya amat berhutang budi kepada Wikipedia, Sigrid Hunke ("Allahs Sonne ueber dem Abendland"), Ahmad Y Al-Hassan & Donald R. Hill ("Islamic Technology: An Illustrated History"), suami istri Ismail Roji & Lois Lamya al-Faruqi ("The Cultural Atlas of Islam"), Francis Robinson ("Atlas of the Islamic World since 1500"), Geoffrey Barraclough ("The Times Atlas of World History"), dan masih banyak lagi sumber-sumber yang berserakan.  Meski akurasinya dijaga, buku ini tidak dimaksudkan sebagai karya ilmiah yang harus mencantumkan sumber referensi di setiap pernyataan, namun buku ini ditulis lebih untuk dijadikan inspirasi. 

Dengan kisah-kisah ini kita tidak ingin bernostalgia dan selalu menengok masa lalu.  Apalah artinya uang segudang tapi adanya di masa lalu dan sekarang dengan kantong kosong dan perut lapar kita menjadi pengemis pada rentenir-rentenir dunia?  Namun dengan kisah-kisah ini kita ingin menunjukkan, bahwa kita pernah memiliki kakek dan nenek orang-orang hebat nan mulia.  Di dalam tubuh kita mengalir darah mereka.  Dan kita juga masih memiliki apa yang pernah membuat mereka hebat dan mulia, yakni ajaran Islam, yang bila dipraktekkan secara sinergis baik di level individual, level sosial-kultural, maupun level sistemik-struktural pasti akan memberikan "ledakan peradaban" yang sama.  Dalam bahasa yang lebih gamblang, pada masa keemasan Islam itu tak cuma ada kesalehan individual, tetapi juga ada kesalehan kolektif, dan kesalehan negara.  Untuk itulah pada awal setiap kisah selalu diberikan refleksi untuk menghubungkan masa kini dengan dengan masa lalu.

Tentunya akan muncul pertanyaan lanjutan yang sangat absah: mengapa peradaban tinggi yang pernah membuat generasi hebat nan mulia itu kemudian tenggelam?  Lalu apa saja yang dapat kita perbuat untuk menarik peradaban itu dari dasar samudra agar dapat tegak kembali berlayar menuju tanah impian?  Untuk pertanyaan-pertanyaan ini sudah tersedia jawabannya, namun bukan di buku ini.

Buku ini didesain agar ringan, dapat dibawa ke sekolah di level apapun, dijadikan materi diskusi oleh guru pelajaran apapun.  Sengaja, hampir seluruh pelajaran yang ada di SD hingga SMA dapat dicarikan contohnya di satu atau lebih judul tulisan dalam buku ini.  Kita ingin, Islam tidak cuma dikenal dan diinternalisasi oleh guru agama saja, tetapi juga oleh guru-guru dari segala mata pelajaran.  Guru matematika mengetahui kisah-kisah matematikawan muslim di masa lalu, sebagaimana guru olahraga atau guru kesenian juga mendapatkan perkenalan yang serupa.  Bahkan lulusan SMA yang ingin meneruskan ke perguruan tinggi dapat mendapatkan inspirasi – dan juga motivasi – tentang jurusan apa di perguruan tinggi yang dapat mengikat emosinya dengan kehebatan dan kemuliaan nenek moyang kaum muslim.

Tentu saja, sebagai perkenalan, buku ini teramat singkat.  Sesungguhnya tulisan-tulisan ini pernah dipublikasikan di tabloid Media Umat dari tahun 2008 hingga 2010.  Setelah mengarungi nyaris seluruh jenis ilmu, tiba saatnya bahasan di tabloid tersebut diperdalam.  Kalau tidak, niscaya kisah-kisah singkat yang bersifat overview semacam ini lekas kehabisan bahan.

Sebagai catatan terakhir, kalau di buku ini disebut "ilmuwan Islam", maka maksudnya adalah "ilmuwan negara Khilafah".  Ilmuwan yang bersangkutan boleh jadi non muslim, atau kemurnian aqidahnya diragukan oleh sejumlah ulama ushuluddin.  Kita tidak perlu berdebat tentang itu.  Yang penting, selama seorang ilmuwan mengabdikan hidupnya dalam negara Khilafah dan karyanya memuliakan Islam dan kaum muslim, maka dia adalah "ilmuwan Islam".  Ini karena Islam adalah suatu tatanan atau suatu ideologi yang khas.  Masyarakat Islam dibangun di atas tatanan itu, mulai dari cara pandangnya atas kehidupan dan metode mereka menyelesaikan segala persoalan kehidupan itu, yang semuanya khas.

Hal ini sebenarnya mirip dengan kalau kita menyebut "ilmuwan Amerika" untuk para saintis atau teknolog di Amerika, mulai yang bekerja di NASA atau di Microsoft hingga yang membangun Disneyland atau membuat animasi untuk Hollywood.  Mereka tak semuanya warga negara Amerika dan secara individual juga tidak semua setuju dengan ideologi ataupun politik luar negeri Amerika.  Tetapi kita tidak salah menyebut mereka "ilmuwan Amerika", karena mereka, meski berasal dari Cina, India ataupun Timur Tengah, bekerja di Amerika, dan ikut memakmurkan, membuat jaya, dan mengharumkan citra Amerika di dunia.

Saya memohon kepada Allah, semoga langkah yang kecil ini dapat mendorong ribuan langkah kecil lainnya, hingga menjadi langkah-langkah raksasa yang cukup demi menarik peradaban Islam keluar dari dasar samudra, kembali memimpin zaman, merahmati seluruh alam.

Saya memohon kepada Allah, agar mempertemukan kita dengan orang-orang yang amat kita rindukan, yaitu baginda Nabi dan para sahabatnya, serta para ilmuwan Islam yang shaleh, yang perjalanannya mencari ilmu adalah jihad fii sabilillah, dan goresan tintanya lebih mulia dari darah para syuhada.

Wassalam

Fahmi Amhar

 

Daftar Isi:

1.  Ketika Agama bukan sekedar Dogma dan Busana
2.  Belajar Bahasa untuk Negara Adidaya
3.  Olahraga Para Mujahid
4.  Ketika para Seniman Orang-orang Beriman
5.  Matematika Islam bukan Numerologi
6.  Astronomi Islam tak sekedar Hisab & Ru'yat
7.  Fisikawan Islam Mendahului Zaman
8.  Terbang tanpa karpet ajaib
9.  Ketika Kimiawan tak lagi Tukang Sihir
10. Teknologi Militer Islam
11. Kedokteran Islam pakai Uji Klinis
12. Ketika Sehat bukan Misteri
13. Islam Pernah Merevolusi Pertanian
14. Ketika geografi induk segala ilmu
15. Ilmu Sosial bukan Anak Tiri
16. Psikologi tak harus ikut Freud
17. Tata Negara yang tidak membosankan
18. Ekonomi Umat tak hanya Zakat
19. Industri Islam tak hanya Perangkat Ibadat
20. Negeri Kincir Angin pertama bukan Belanda
21. Arsitektur Islam tak hanya Masjid Sentris
22. Kota Islami Kota Terrencana
23. Ketika Bencana tak hanya diratapi dengan doa
24. Krisis Energi bagi sebuah Negara Merdeka
25. Ketika Jarak bukan Penghalang Komunikasi
26. Teknologi Kelautan untuk Negara Adidaya
27. Teknologi untuk Menutup Aurat
28. Menjadi Cerdas dengan Kertas
29. Ketika Perpustakaan Jadi Identitas
30. Manajemen Riset para Mujtahid



SUMUR KERING





From: syauqi yahya


SUMUR KERING   Pernah saya baca kisah seorang  ahli  bahasa  terperosok  ke dalam  sebuah  sumur kering. Ia tak bisa naik. Ketika tampak olehnya orang bertopi melongok ke bawah, ia berteriak  minta tolong.   "Tolonglah, keluarkan aku dari sini."   "Oke,"  jawab  orang  bertopi  itu.  Ia  seorang  sufi  yang bermaksud mencari air minum. "Tunggulah sebentar,  aku  cari tali dan tangga," kata sang sufi lagi   "Huss,  logika  bahasamu  salah,"  teriak  si  ahli  bahasa. "Seharusnya kau bilang tangga, baru kemudian tali,"  katanya lagi.   Sufi  kita,  yang  biasa  berpikir tentang hakikat, tertegun sejenak. Ia menyadari  betapa  tak  mudah  berurusan  dengan orang  yang bisa cerewet mengenai persoalan "kulit" dan abai terhadap perkara "isi". Tapi kemudian ia menyahut lagi.   "Baiklah Bung, kalau dalam keadaan darurat begini kau  masih lebih   mengutamakan  kaidah  bahasa  ketimbang  keselamatan jiwamu, tunggulah lima tahun di  situ  sampai  saya  kembali sebagai ahli bahasa."   Sang  sufi kemudian melangkah anggun menjauhi tempat itu dan tinggallah  ahli  bahasa  kita,  termenung-menung  menyesali orientasinya  yang  sering  kelewat  teknis dalam menghadapi persoalan hidup yang kompleks dan warna-warni itu.   Boleh jadi, ahli bahasa dan sufi dalam kisah ini tak  pernah ada.  Kisah  ini,  dengan  kata  lain, bisa saja cuma sebuah rekaan belaka. Tapi bahwa manusia dengan sikap dan pemikiran seperti  mereka  itu ada di sekitar kita, sebaiknya tak usah diragukan.   Saya pikir-pikir, kisah itu merupakan sebuah karikatur  yang pas  buat  dua  orang tokoh di kampung saya: Haji Mangil dan Kang Kamidin. Haji Mangil itu resminya  imam  masjid.  Dalam urusan  doa-doa,  selamatan dan aneka ritus agamis ia berada di "depan". Orang  banyak  telah  mengkiai-kan  dia.  Tetapi kekuasaan  real  Haji Mangil jauh lebih besar lagi karena ia ternyata juga dominan secara politis.   Kang  Kamidin  sebaliknya.  Ia  tak  "tampak".  Kehadirannya dalam,  dan absennya dari, pertemuan, misalnya, tak menambah dan tak mengurangi arti apa pun.   Pendeknya, ia tidak "dihitung". Ia bukan pengikut yang baik. Diajak  tahlilan tidak mau. Diajak Yasinan tiap malam Jum'at sering mencolot diam-diam, karena tidak hapal  surat  Yasin. Buat apa anggota macam dia?   Saya sendiri netral. Posisi "non-blok" ini membuat saya bisa luwes berdialog dengan pihak mana pun.   Pernah suatu hari,  setelah  salat  lohor  di  masjid,  saya bertanya  pada  "kiai"  kita  mengapa  ia  begitu menekankan perlunya menghapal doa dan ayat-ayat.   "Kamu ini bagaimana, semuanya itu kunci pokok. Kita dilarang melakukan  suatu  amal  bila  kita  tak  paham akan ilmunya. Ngerti?"   Karena  saya  kelihatan  belum  mengerti,  Haji  Mangil  pun memberi  contoh.  "Bila  tak  paham  ilmu, kita beramal, itu ibarat tukang jahit memotong-motong kain  seorang  pelanggan sebelum ditanya buat apa kain itu," katanya.   "Dia  potong  buat  jas, padahal pelanggan mau bikin celana. Kan kacau jadinya?" kata Pak Haji lagi.   Saya tahu, Pak Haji menyindir Kang Kamidin yang rajin  puasa Senin-Kamis, rajin salat malam, tapi buta ayat dan doa-doa.   "Maksudnya, amal itu tak sampai pada Tuhan?"   "Jelas  tidak.  Amal  begitu sama dengan surat tanpa alamat. Surat sudah ditulis, sudah dimasukkan ke dalam amplop, sudah ada  prangko,  tapi  tak  ada alamat. Ke mana tukang pos mau menyampaikannya, coba?"   Pak Haji seorang  formalis.  Ia  bangga  bahwa  Islam  tegas mengajarkan  sikap  disiplin.  Berulang-ulang  dia  anjurkan jamaah berdisiplin memegang waktu, agar dalam  salat  jamaah ada di shaf paling depan.   "Shaf  paling depan itu pahalanya paling besar: dapat unta," katanya. "Belakangnya cuma lembu. Belakangnya lagi  kambing. Nah,  terserah  kita.  Mau  pilih kelas unta apa puas dengan kelas kambing," katanya lagi.   "Kalau begitu berarti Pak Haji selalu dapat unta, dan  orang lain  cuma  kambing, mungkin malah cuma burung emprit," kata saya.   "Salah mereka sendiri, bukan, memilih kelas emprit?"   Para jamaah setuju seratus persen. Tapi Kang  Kamidin,  yang tidak  termasuk  main  stream  itu,  tentu  tak  akur dengan "kalkulasi" tersebut.   "Ibadah ya ibadah," kata Kang Kamidin.   "Maksudnya?"   "Ibadah itu bukti ketulusan hati. Jadi  tak  usah  dikaitkan dengan pahala."   "Tapi pahala kan memang dijanjikan?"   "Ya, bagi 'anak kecil' yang menyapu demi hadiah permen; bagi jiwa yang sujud demi pahala."   "Apakah berarti Haji Mangil salah?"   "Kita tak punya hak menilai ibadah orang  lain.  Itu  urusan Tuhan."   Saya  pun  bertanya,  bagaimana  sikapnya terhadap pandangan "kiai" kita yang menganggap ibadah tanpa ilmu  ibarat  surat tanpa alamat.   "Tuhan tak sebodoh tukang pos, Mas," katanya.   Lama  saya  berpikir. Di balik kesederhanaannya itu terselip kecanggihan. Ia tidak mau terperosok ke dalam "sumur kering" penalaran yang serba formal dan teknis.   Oma Irama pernah bilang bahwa lagu-lagunya keluar dari hati, dan pasti  akan  sampai  ke  hati.  Kang  Kamidin  tampaknya bersikap  sama:  ibadah yang tulus dari hati, akan ketangkap juga oleh gelombang cahaya Tuhan, yang  mahabesar  kasihnya, yang  tak  terhingga  ampunannya,  dan  yang  mahatahu pula, betapa kita ini cuma boneka-boneka tolol, di mata-Nya.   --------------- Mohammad Sobary, Editor, No.52/Thn.IV/14 September 1991

(TIPS) How to Make a Girl Happy and Win her Heart





(TIPS) How to Make a Girl Happy and Win her Heart

These are basic thing that a man should know if he want to win a girl heart...

but still PRACTICES MAKE PERFECT

1. Tell her she's BEAUTIFUL. Not hot or sexy.

2. Hold her hand, just because you love her.

3. Leave her voice messages to wake up to.

4. Wrestle with her, and let her win

5. Hug her from behind.

6. Don't hang out with your ex when she's not around. It kills her inside.

7. If you talk to another girl, walk over to her after you're done and kiss 
her.

8. Write her notes or call her just to say I love you.

9. Introduce her to your friends, as your girlfriend.

10. Play with her hair.

11. Pick her up, even when she says no.

12. Get upset if she gets unwanted contact from someone else.

13. Make her laugh, just because you love to see her smile.

14. Let her fall asleep in your arms.

15. If she's mad at you, kiss her, don't fight back.

16. If you care about her, tell her, or else she won't come back.

17. Every girl should receive three presents from her guy:
- a teddy bear (she'll hug it when she goes to sleep)
- jewelry (she'll treasure it forever)
- one of your shirts (she'll wear it to bed)

18. Treat her same with your friends as when you are alone.

19. Look her in the eyes and give her your best smile.

20. Hang out with her on the weekends, because she's important to you.

21. Kiss her in the rain, without an umbrella.

22. Kiss her just to let her know you care.

23. If you're listening to music, give her the other headphone.

24. Remember her birthday and get her something. Even if it is simple and
inexpensive, it came from you. It will mean the world to her.

25. If she gets you a present on whatever occasion, tell her you love it, even if you don't, just to make her happy.

26. Always call her when you say you will. Failing to do so will break her heart. We love hearing your voice, even if only for a minute.

27. Give her what she wants, but don't smother her.

28. Recognize the small things. They mean the most.

29. Don't hug other girls before her.

30. Spend your free time with her. She will love you for it.

31. If you care her, don't just talk about it, show her.


so....TRY IT OUT GUYS

personal notes :
i have personally tried and most of the time....IT WORKS! 

peringatan

Selasa, 30 Maret 2010

(Artikel) 7 Kebiasaan yang membuat hidup menjadi Kaya







---------- Forwarded message ----------

Just Forwarding...





Selamat pagi, sahabatku semuanya.
Tetaplah semangat dalam melakukan aktifitas kalian, kelak kesuksesan bisa dapat diraih asalkan ada tekad, kemauan yg kuat dan saya yakin kalian bisa berhasil.

1. Kebiasaan mengucap syukur


Ini adalah kebiasaan istimewa yang bisa mengubah hidup selalu menjadi lebih baik.
Bahwa agama mendorong kita bersyukur tidak saja untuk hal-hal yg baik, tapi juga dalam kesusahan & hari-hari yg buruk.
Ada rahasia besar di balik ucapam syukur yg sudah terbukti sepanjang sejarah.
Hellen Keller yg buta & tuli sejak usia dua tahun, telah menjadi orang yg terkenal & dikagumi di seluruh dunia. Salah satu ucapannya yg banyak memotivasi orang adalah, "Aku bersyukur atas cacat-cacat ini aku menemukan diriku, pekerjaanku dan Tuhanku."
Memang sulit untuk bersyukur, namun kita bisa belajar secara bertahap.
Mulailah mensyukuri berkat, kesehatan, keluarga, sahabat, dan sebagainya.
Lama kelamaan Anda bahkan bisa bersyukur atas kesusahan & situasi yg buruk.


2. Kebiasaan berpikir positif


Hidup kita dibentuk oleh apa yg paling sering kita pikirkan.
Kalau selalu berpikiran positif, kita cenderung menjadi pribadi yg positif.
Ciri-ciri dari pikiran yg positif selalu mengarah kepada kebenaran, kebaikan, kasih sayang, harapan dan suka cita.
Sering-seringlah memantau apa yg sedang Anda pikirkan.
Kalau Anda terbenam dalam pikiran negatif, kendalikanlah segera ke arah yg positif.
Jadikanlah berpikir positif sebagai kebiasaan & lihatlah betapa banyak hal-hal positif yang akan Anda alami.


3. Kebiasaan berempati


Kemampuan berhubungan dengan orang lain merupakan kelebihan yg dimiliki oleh banyak orang sukses.
Dan salah satu unsur penting dalam berhubungan dengan orang lain adalah empati, kemampuan atau kepekaan untuk memandang dari sudut pandang orang lain.
Orang yg empati bahkan bisa merasakan perasaan orang lain, mengerti keinginannya & menangkap motif di balik sikap orang lain.
Ini berlawanan sekali dengan sikap egois, yang justru menuntut diperhatikan & dimengerti orang lain.
Meskipun tidak semua orang mudah berempati, namun kita bisa belajar dengan membiasakan diri melakukan tindakan-tindakan yg empati.
Misalnya, jadilah pendengar yg baik, belajarlah melakukan yg Anda ingin orang lain lakukan kepada Anda, dan sebagainya.


4. Kebiasaan mendahulukan yang penting


Pikirkanlah apa saja yg paling pentin, dan dahulukanlah. Jangan biarkan hidup Anda terjebak dalam hal-hal yg tidak penting sementara hal-hal yg penting terabaikan. Mulailah memilah-milah mana yg penting & mana yg tidak penting, kebiasaan mendahulukan yg penting akan membuat Anda efektif dan produktif juga meningkatkan citra diri Anda secara signifikan.


5. Kebiasaan bertindak


Bila Anda sudah mempunya pengetahuan, sudah mempunyai tujuan yg hendak dicapai & sudah mempunyai kesadaran mengenai apa yg harus dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah bertindak.
Biasakan untuk menghargai waktu, lawanlah rasa malas dengan bersikap aktif.
Banyak orang yg gagal dalam hidup karena hanya mempunyai tujuan tapi tak mau melangkah.


6. Kebiasaan menabur benih


Prinsip tabur benih ini berlaku dalam kehidupan pada waktunya Anda akan menuai yg Anda tabur. Bayangkanlah, betapa kayanya hidup Anda bila Anda selalu menebar benih 'kebaikan'.
Tapi sebaliknya, betapa miskinnya Anda bila rajin menabur keburukan.


7. Kebiasaan hidup jujur


Tanpa kejujuran, kita tidak bisa menjadi pribadi yg utuh, bahkan bisa merusak harga diri & masa depan Anda sendiri.
Mulailah membiasakan diri bersikap jujur, tidak saja kepada diri sendiri tapi juga terhadap orang lain.
Mulailah mengatakan kebenaran, meskipun mengandung resiko.
Bila Anda berbohong, kendalikanlah kebohongan Anda sedikit demi sedikit.


"Growing the Mind": Brain Story 2






From: hernowo hasim

"Growing the Mind": Brain Story 2
Oleh Hernowo


Neuron

"Membaca adalah sebuah keterampilan yang sangat kompleks. Keterampilan itu melibatkan pendengaran, penglihatan, ingatan, dan ujaran."
--PROFESOR SUSAN GREENFIELD

Mungkin karena kita sudah terbiasa membaca teks—meskipun kadang teks yang kita baca tidak kita maknai secara sungguh-sungguh—kegiatan membaca seakan-akan biasa-biasa saja. Padahal, kegiatan membaca adalah kegiatan yang luar biasa rumitnya. Ia banyak melibatkan fungsi-fungsi penting otak kita.

Tayangan menarik tentang kegiatan membaca yang rumit ini ditunjukkan oleh salah satu serial VCD Brain Story yang berjudul "Growing the Mind" (Menumbuhkembangkan Pikiran). Seorang anak bernama Cassie mengalami disleksia atau kesulitan membaca. Cassie kemudian dibantu oleh seorang psikolog untuk dapat memaknai apa yang dibaca.

Ketika saya menyaksikan tayangan tersebut, saya teirngat penafsiran Ustad Quraish Shihab atas makna "iqra'". Menurut Ustad Quraish, "iqra'" tidak sekadar membaca atau mengeja huruf dan kata. Jika Anda diberi empat huruf yang terdiri atas huruf-huruf "a", "y", "s", dan "a"—kira-kira apa yang Anda baca? Secara refleks, kita akan membaca susunan keempat huruf itu menjadi AYSA atau YASA, atau AYAS. Nah, menurut Ustad Quraish, "iqra'" kemudian akan bertanya kepada Anda, "Apa arti AYAS itu?"

Jika tak ada makna atas kata AYAS atau ketika kita membaca susunan itu dan kita tidak memahami apa yang kita baca, sesungguhnya kita belum "iqra'" meskipun kita sudah berhasil membaca. "Membaca dalam konteks iqra' adalah menghimpun makna bukan sekadar huruf," ujar Ustad Quraish lebih jauh. Keempat huruf itu harus Anda baca menjadi sebuah konfigurasi kata yang bermakna. Dan jika kita menggunakan metode "iqra'" dalam membaca, semestinya kita mengolah empat huruf itu sehingga muncullah kata SAYA yang sudah sangat kita pahami dalam khazanah kebahasaan kita.

Saya kemudian merenung dalam-dalam, "Itu baru membaca empat huruf. Bagaimana jika kita membaca buku dengan ketebalan 300 halaman?" Bukankah di dalam buku tersebut tidak hanya ada ribuan huruf, tetapi juga ratusan kata? Bukankah ratusan kata itu akan membentuk banyak sekali kalimat dan paragraf? Dan bukankah di sebuah buku akan kita jumpai sub-bab, bab, dan juga bagian-bagian yang mengelompokkan bab-bab tersebut. Bagaimana kita membaca-makna ("iqra'") atas semua itu?

Neuron yang saling berkoneksi

"Selama bertahun-tahun manusia telah berusaha untuk memahami cara kerja otak," demikian Profesor Susan Greenfield menyampaikan narasinya. "Dengan kehadiran teknologi modern dan perkembangan dalam ilmu pengetahuan saraf saat ini, sebuah dunia baru dalam penelitian otak terbuka dan pemahaman atas pikiran telah menjadi sebuah keniscayaan." Dalam episode "Growing the Mind", Profesor Susan Greenfield menyelidiki perubahan di dalam otak saat pertumbuhan dan perkembangan dari masa bayi hingga dewasa.

Tak berhenti di situ, Profesor Susan Greenfield juga menjelaskan pandangannya bahwa proses belajar, mengingat, dan menjadi individu yang unik seharusnya dapat dilihat sebagai proses adaptasi otak terhadap lingkungannya dari menit ke menit. "Otak (brain) atau benak (mind) akan tumbuh dan berkembang secara luar biasa jika pengetahuan dan pengalaman yang Anda jalani bermakna.

"Cara neuron berkoneksi yang kemudian dikonfigurasi sedemikian rupa dan diatur sepanjang hiduplah yang membuat setiap orang berkembang menjadi pribadi-pribadi yang unik," tutur Profesor Susan Greenfield.[]

Kejernihan pikiran (kiriman teman)





From: Widiarto

Sepasang suami-istri muda yang baru menikah menempati sebuah rumah di sebuah kompleks perumahan..
Suatu pagi, sewaktu sarapan, sang istri melalui jendela kaca mereka, melihat tetangganya sedang menjemur kain. "Cuciannya kelihatan kurang bersih ya", kata sang istri. "Sepertinya dia tidak tahu cara mencuci pakaian dengan benar.. Mungkin dia perlu sabun cuci yang lebih bagus." Suaminya menoleh, tetapi hanya diam dan tidak memberi komentar apapun..
Sejak hari itu setiap wanita tetangganya menjemur pakaian, selalu saja sang istri memberikan komentar yang sama tentang kurang bersihnya si tetangga mencuci pakaian-pakaiannya.
Seminggu berlalu, sang istri heran melihat pakaian-pakaian yang dijemur tetangganya terlihat cemerlang dan bersih, dan dia berseru kepada suaminya, "Lihat, sepertinya dia telah belajar bagaimana mencuci dengan benar.. Siapa ya kira-kira yang sudah mengajarinya?"
Sang suami berkata, "Saya bangun pagi-pagi sekali hari ini dan membersihkan jendela kaca kita."..

Dan begitulah kehidupan. Apa yang kita lihat pada saat menilai orang lain tergantung kepada kejernihan pikiran (jendela) lewat mana kita memandangnya...




Inilah Jadinya Kalau Otak Mesum Menjangkiti Seorang Arsitek





From: Budiono

Bila pikiran ngeres sudah menjangkiti sebuah profesi tak elak, karya yang dihasilkanpun memiliki tujuan dan filosofi yang ngeres pula. Coba saja perhatikan gambar sebuah rancangan tangga di suatu bangunan yang akan dibuat ini. Setidaknya kita bisa menangkap maksud dari sang perancang hingga dengan detilnya mampu menjabarkan ukuran yang didasarkan atas maksud yang ngeres alias jorok. Semoga saja hal-hal seperti ini tidak menjangkiti kita.
otak mesum

arsitek porno






(unknown)



From: Sigit Zusilo



 

kalo mau FB-an dari Handphone ati-ati ajah ya.
Karena barusan teman gue ngalamin yg ngga enak...
nih ada beberapa artikelnya:
http://andarastuti.blog.friendster.com/2009/06/hati-hati-ber-facebook-melalui-hp/
http://new-media.kompasiana.com/2010/02/07/hati-hati-akun-facebook-anda-bocor/

__._,_.___


NAIK MERCY URO-URO




From: syauqi yahya



NAIK MERCY URO-URO   Benarkah sejarah Jawa itu sejarahnya orang-orang yang kalah? Dan  benarkah  bahwa  karena  itu  filsafat Jawa juga cermin sikap hidup orang yang kalah?   Bahwa filsafat Jawa mengagungkan ide dan merendahkan materi, memang tampak jelas. Dalam berbagai hal pandangan hidup Jawa bahkan bersifat  anti-materi.  Orang  Jawa  lebih  cenderung mencanggih-canggihkan  tata  krama dan kehalusan. Kepriayian dan kebudayaan adiluhung menjadi semacam kebanggaan, mungkin tujuan.   Maka,  orang  Jawa  menyebut sesama Jawa yang bersikap kasar dengan ora njawani (tidak bersikap Jawa) atau bahkan  durung Jowo  (belum  menjadi  Jawa)  karena  cuma  yang  halus  dan luhurlah  yang  diakui  sebagai  wis  Jowo   (sudah   Jawa). Diam-diam, orang Jawa yang pandai membungkuk itu suka merasa paling unggul.   Adanya dikotomi tanah Jawa-tanah  sabrang  (seberang)  dalam hidup  orang  Jawa  juga  berangkat dari rasa unggul (secara kultural) semacam itu. Tapi orang  "seberang"  bahkan  orang bule  sekalipun,  kalau  ia  halus,  oleh orang Jawa disebut sebagai "Jawa". Seolah-olah  hanya  orang  Jawa  yang  punya kehalusan.   Seorang   teman  saya  bahkan  tidak  malu-malu menyebut bule yang sarungan saja sebagai bule yang njawani.   Cultural  determinism,  dalam  antropologi,  dulu   dianggap produk  Eropa dan gambaran keangkuhan bule Eropa. Orang lupa bahwa determinisme kultural ada juga di Jawa. Tapi, benarkah bahwa   rasa  unggul  pada  orang  Jawa  itu  pada  dasarnya merupakan  ungkapan  kegetiran   mereka   akibat   kekalahan terus-menerus  secara  politik,  ekonomi,  dan militer dalam menghadapi agresi Barat?  Benarkah  orang  Jawa  menggunakan kebudayaan  sebagai  selubung  yang menyembunyikan muka dari rasa malu menjadi pihak yang kalah melulu?   Dalam hidup sehari-hari terasa  bahwa  orang  yang  mengejar materi  dianggap  ngoyo  uripe  (memaksa  diri dalam hidup), sesuatu yang bukan  Jawa.  Hidup  Jawa  ialah  tenteram  dan harmoni  dalam konotasi batin, karena di sana tersirat bahwa materi tak bisa membawa ketenteraman. Tak mengherankan  bila orang  lebih  memilih  ora mangan waton ngumpul (tidak makan asal kumpul).   Ungkapan numpak Mercy mbrebes  mili,  mikul  dhawet  uro-uro (orang  kaya  naik  Mercy  berurai  air  mata, tukang cendol nyanyi bahagia) merupakan simbol pemujaan ide dan  penolakan materi tadi.   Dalam  dunia  Islam,  gambaran  orang  tentang  sufi  selalu merujuk pada kesederhanaan dan penolakan terhadap dunia. Max Weber  bahkan  menganggap agama-agama Timur, termasuk Islam, tidak memiliki "asketisme duniawi"  seperti  Protestan  yang melahirkan   kapitalisme   modern   itu,   karena  asketisme agama-agama Timur bersifat mistis,  "lari"  dari  dunia  dan mengejar hidup akhirat semata   Ironisnya,  seperti  pernah ditulis Goenawan Mohamad, mereka yang "emoh" dunia ini ternyata selalu hidup dari  dana  yang dihimpun untuk mereka. Dus, hidup dari sumbangan umat.   Di berbagai daerah ada kiai yang dikenal sebagai sufi tetapi hidup keduniaannya  mentereng.  Rumahnya  mewah,  pakaiannya necis, mobilnya bukan Kijang, melainkan Mercy: gambaran sufi yang tidak lazim, yang melawan "stigma" yang sah itu.   Seorang teman dari LIPI,  Bisri  Effendy,  pernah  bercerita tentang kiai di Jawa Timur yang marah pada santri-santrinya. Suatu hari, para santri hendak ke  pasar.  Mereka  sarungan, memakai  teklek, berkaus ala kadarnya, dan berpeci butut. Di pintu gerbang  pesantren  mereka  bertemu  sang  kiai,  yang segera  mendamprat  mereka dari dalam Mercy yang licin mulus itu.   "Kamu kira kalau sudah menggembel begitu mesti masuk  surga? Hidupmu  itu  belum tentu, tahu? Kalau mau hebat, hidup yang mentereng di dunia dan mati masuk surga. Jangan  kamu  balik duniamu  sudah pating slawir (kocar-kacir), status akhiratmu masih ngambang."   Pikiran romo kiai ini  jelas  subversif;  menjungkirbalikkan pandangan Jawa tadi. Ia tidak mau "naik Mercy mbrebes mili". Edan, po?, ia pun menolak mikul  dhawet,  meskipun  uro-uro. Mana  ada  kiai  mikul dhawet? Ia memilih yang terbaik, yang musykil dalam pandangan Jawa: yakni numpak (naik) Mercy  tur (dan, lagi pula) uro-uro.   Sikapnya  memilih  hidup  mulia  di  dunia dan mati berharap masuk surga, tidak berangkat dari  "hedonisme"  kawula  muda yang  bicara tentang "mumpung muda foya-foya, tua harus kaya raya, dan mati masuk surga". Pilihan sikap  hidup  Pak  Kiai ini serius. Ia bertolak dari dasar-dasar ajaran mulia.   Sufi  yang  mewah  ini,  dengan  kata  lain,  tidak  terkena "najis". Kesufiannya tidak "batal". Kementerengannya  dengan harta  dunia  dan  Mercy itu, sepanjang tak membuat dia lupa pada yang paling esensial, Tuhan, tak mengapa.  Duit,  rumah mewah,  dan  Mercy semuanya dipahami hanya sebagai alat. Dan bukankah sufi dihalalkan juga menggunakan alat semacam itu?   Sufi seperti ini kalibernya  menyumbang,  bukan  hidup  dari sumbangan.  Ia  mereguk  kemewahan dunia tapi tak terpenjara olehnya. Ia hidup dengan asketisme duniawi, bukan  asketisme mistis,  yang lari dari dunia itu, ia tidak mempertentangkan ide dan materi.   Sebaliknya, keduanya didamaikan, dibuat "manunggal"  sebagai sarana  menuju takwa dan penyerahan diri yang lebih komplet, lebih total. Baginya,  perjalanan  menuju  Tuhan  memerlukan juga duit agar lebih khusyuk.   Umumnya,  orang  dekat  pada  Tuhan  ketika dalam kesulitan. Dalam keadaan senang, Tuhan sering ditinggalkan.  Kiai  kita ini   lain.   Maka,  barangkali,  di  sini  jawaban  mengapa pandangan hidup Jawa mengutamakan  ide  dan  menolak  materi ditemukan: orang Jawa memilih mikul dhawet uro-uro dan takut numpak Mercy mbrebes mili karena  naik  Mercy  memang  lebih besar  godaannya.  Jadi,  hanya  kiai besar dengan "kantong" iman yang tebal yang bisa naik Mercy sambil uro-uro.   --------------- Mohammad Sobary, Tempo 21 Maret 1992

Seberapa cukup utk hidup?

Terbukti sudah bahwa kenaikan gaji tidak menjamin keinginan korupsi
menjadi surut,
Gayus yg PNS bersama istrinya yg bekerja sbg staf DPR memiliki gaji
komulatif 18 jt lebih,ttp toh......
Ini karena dlm setiap peningkatan pendapatan akan mendorong ybs
menjalani pola kehidupan yg berbeda.
Pola belanja,pola rekreasi,pola berolahraga,dls.

Perubahan pola itu merupakan kebutuhan karena dg naiknya pendapatan akan
mengantar kepada lingkungan pertemanan/society yg baru yg memiliki
tuntutan sosial utk mengikuti pola kehidupan mereka.

Ini semua akan ber konsekwensi thd pengeluaran.

Bukapendapat.com

Profesor kita banyak dan bagus bagus





From: syauqi yahya

Minggu, 28 Maret 2010 | 00:34 WIB
Internasionalisasi Perlu Dicermati Secara Terbuka, Tapi...
M.LATIEF/KOMPAS.com
Melalui Going Global 4 Conference negara-negara Eropa, khususnya Inggris, sedang berusaha memetakan potensi Indonesia untuk kepentingan internasionalisasi pendidikan tinggi.
TERKAIT:

LONDON, KOMPAS.com - Internasionalisasi pendidikan tinggi (higher education) harus dicermati dengan tangan terbuka, namun tetap hati-hati dan diperhitungkan secara matang agar justeru tidak menimbulkan kerugian, melainkan manfaat yang besar bagi ilmu pengetahuan, pembangunan sosial dan ekonomi, serta masa depan bangsa anak-anak bangsa.

Dari sisi SDM profesor kita banyak dan bagus-bagus untuk bersaing dengan pihak manapun.
-- Sudjarwadi

Demikian diungkapkan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Sudjarwadi seusai pelaksanaan Konferensi Pendidikan Internasional 'Going Global 4' di Queen Elizabeth II Center, London, Jumat (26/3/2010) sore. Sudjarwadi mengatakan, melalui konferensi tersebut negara-negara Eropa, khususnya Inggris, sedang berusaha memetakan potensi Indonesia, sehingga saat ini tinggal kesiapan Indonesia yang diperlukan dalam menghadapi pelaksanaan kolaborasi pendidikan tinggi secara internasional tersebut secara maksimal.

"Dengan menyiapkan beragam tema konferensi ini mereka sebetulnya tengah berbelanja banyak informasi tentang kita dan negara-negara berkembang lainnya, artinya pemetaan itu sedang mereka lakukan. Sebaliknya, bagi kita sendiri, harus bisa menangkap peluang itu dengan menyiapkan strateginya," ujar Sudjarwadi.

Strategi itu, lanjut Rektor, harus dikaitkan dengan potensi Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia Indonesia, yang sebetulnya tidak kalah dengan pihak manapun. Hanya saja, kedua sumber daya itu selama ini belum termanfaatkan dengan baik dan maksimal.

"Dari sisi SDM profesor kita banyak dan bagus-bagus untuk bersaing dengan pihak manapun, bahkan mahasiswa kita pun punya prestasi di mana-mana dalam tingkatan internasional. Sebaliknya, dari sisi SDA kita punya banyak gunung berapi atau beragam kebutuhan data terkait iklim tropis kita yang tidak mereka miliki," ujarnya.

Harus diakui, kata Sudjarwadi, Indonesia memang tidak punya dana. Tetapi, potensi-potensi tersebut harusnya bisa dijadikan Indonesia bargaining untuk ditawarkan pada pihak asing.

"Hanya saja, harus hati-hati supaya tidak terjerumus dalam kerugian sebab selama ini SDA kita sudah banyak diolah pihak luar, sementara SDM-nya justeru mereka jadikan pasar," tambah Sudjarwadi.

http://lipsus.kompas.com/internasionalisasipendidikantinggi/read/2010/03/28/00342462/Internasionalisasi.Perlu.Dicermati.Secara.Terbuka..Tapi...

Penulis: LTF   |   Editor: latief   |  Dibaca : 173

Memotong Rumput




From: dewanto




Rumput di depan rumah itu sebenarnya bukan lagi rumput halamanku walau rumah yang terdekat adalah rumahku. Tetapi sejatinya ia adalah rumput di jalan umum. Tetapi walau ia rumput milik umum akulah yang secara moral bertangungjawab memotongnya karena ia tepat terletak di depan mataku.

Tetapi karena aku seorang pemalas,seorang tetangga yang baik hati sering mengambil tugas itu. Tetapi karena pada dasarnya ia rumput di jalan umum, maka ia hanya mendapat perawatan umum. Dan siapa bernama umum tidak jelas kriterianya, ia boleh siapa saja, walau yang paling sering mewakili umum adalah tetanggaku yang sudah kusebut di depan itu.

Tetapi karena ia tetaplah rumput milik umum, maka liar itulah wajahnya hampir selalu. Jika sekali waktu tetanggaku itu berbaik hati, baru ia menjadi rumput yang rapi. Melihat keliaran berhari-hari yang kemudian berganti kerapian dalam sehari, sungguh sebuah sensasi. Kontras itu terasa sekali.

Dan setiap kontras itu terjadi,satu saja ingatanku, lagi-lagi, itu pasti hasil kebaikan tetanggaku.Indah sekali rumput itu. Dan di mana-mana, keindahan, selalu mendatangkan perasaan senang. Walau rasa senang ini dalam sekejap sudah harus berganti malu. Kenapa? Karena selalu saja, setiap rumput itu merapi, selalu yang muncul adalah jasa tetanggaku.

Melihat keindahan yang aku ikut menikmati tetapi sama sekali tak ikut berkonstribusi, sama saja dengan makan gaji buta setiap kali. Rasanya tak enak di sana-sini. Maka setiap melihat rumput yang indah itu, yang muncul selalu malah wajah tetangga yang seperti mencibirku.

Maka pada suatu hari kuputuskan untuk membeli gunting taman dan ketika rumput itu kembali meliar kupotongi dia sampai berkeringat dan lecet tanganku. Sebetunya tidak kuat aku merampungan seluruh bidangnya, tetapi setiap hendak berhenti, bidang itu kembali aku pandangi. Demi melihat setengah rumput telah rapi, setengahnya masih liar, rasanya malah gatal sekali.

Rumput itu harus seluruhnya rapi agar pandanganku tidak terganggu. Setiap aku lelah dan ingin berhenti kupandangi bagian yang masih liar itu sambil meneriakkan sajak Chariril Anwar di dalam hati: ini kerja belum selesai, belum apa-apa. Maka setelah sejenak berhenti, aku tergerak memulai lagi. Akhirnya, bidang yang sebetulnya tidak luas itu rampung juga. Terengah nafasku dan lapar sekali perutku.

Makan di saat lapar adalah kebahagiaan besar. Lapar karena bekerja adalah kegembiraan berikutnya. Lapar karena kerja lalu menikmati hasil kerja adalah kebahagiaan berikutnya lagi. Sambil makan, kupandangi rumput rapi itu dengan sepenuh hati. Kini, wajah tetanggaku tak lagi mengganggu.

Yang muncul adalah wajahku sendiri yang berkeringat dan tersenyum penuh kemenangan karena telah berhak menikmati keindahan hasil dari kerja sendiri

Ada banyak keindahan, rezeki, prestasi, dan keberuntungan hidup, tetapi jika aku tak ada di dalamnya, tak telibat dalam prosesnya, ia akan lewat begitu saja. Ia bukan milik kita.

Seberapapun besar sebuah pencapaian hidup, jika bukan kita sendiri yang mencapainya, ia tak akan singgah di ulu hati. Ia akan lewat sebagai peristiwa kebanyakan. Rumput itu mengajariku untuk terlbiat di setiap kebaikan agar ada aku di dalamnya. Karena cuma ketika ada aku, kebaikan yang di sana itu, juga akan terasa sebagai kebaikanku. (Prie GS)


Senin, 29 Maret 2010

ternak lele



Seorang peneliti bereksperimen tentang budidaya ikan lele. Ikan-ikan tersebut sengaja di taruh di dua kolam. Di atas kolam pertama dibangun WC khusus cowok, sementara di atas kolam kedua dibangun WC khusus cewek. WC-WC ini diharapkan menjadi sumber makakan ikan ketika ada yang buang air.

Selang tiga bulan kemudian peneliti melihat pertumbuhan yang tidak wajar, ikan lele di kolam pertama badannya lebih kecil dibandingkan dengan ikan lele di kolam kedua. Peneliti bingung dan mencoba menganalisanya.

Dia menyimpulkan bahwa ikan lele di kolam pertama selama ini mengalami stress secara terus menerus. Sebab, meskipun mereka diberi makan, tapi mereka diancam dengan pentungan. Sebaliknya, ikan-ikan lele di kolam kedua meresa nyaman dan terhibur karena selain diberi makan (eek), mereka juga diberi senyuman....

Water Toren model nDepok




From: syauqi yahya

Minggu, 28/03/2010 10:24 WIB
Kisah Tower Air yang Tak Berair

Jakarta - Tinggi bangunan itu 30 meter dan berdiri megah. Bahan baku seluruhnya terbuat dari beton. Itulah tower air yang semula digunakan untuk menampung air bagi masyarakat Depok. Namun kini, tower tersebut tidak lagi berisi air.
.......................................

Depok sendiri memiliki empat tower air yang memiliki tinggi dan daya tampungan air yang berbeda-beda. Namun memiliki kesamaan, yakni tidak lagi berisi air. Di Depok II serta Depok I yang memilki dua tower.

SELENGKAPNYA


Mafia Indonesia (Geng Sembilan)
















Mafia Indonesia (Geng Sembilan)

DI dunia remang-remang, nama “Gang of Nine” menjadi legenda. Dibekingi Keluarga Cendana dan petinggi militer, segala sepak terjangnya hampir tak tersentuh. Taipan Tommy Winata-bersama Sugianto Kusuma alias Aguan-disebut-sebut sebagai godfather-nya. Bisnis mereka terentang dari properti hingga judi, dari obat terlarang hingga otomotif.

Benarkah? Dalam wawancara dengan TEMPO, Tommy membantah keras seluruh keterlibatannya di situ. Malah, “Gua baru dengar (nama kelompok itu) sekarang,” katanya. Tapi sejumlah sumber, termasuk mantan preman dan bandar judi Anton Medan, mempercayai keberadaannya. Isi perut “Geng Sembilan” berikut ini dirinci berdasarkan keterangan mereka.
Kecuali Tommy dan Yorrys, yang juga membantah, beberapa nama yang ada di sini tidak dapat dikontak oleh TEMPO.

* Tommy Winata
Mengendalikan Bank Artha Graha, yang dulu bernama Bank Propelat, milik Kodam Siliwangi. Bank Artha Graha adalah pilar utama kerajaan bisnis Tommy: Grup Artha Graha.

* Sugianto Kusuma (Aguan) 
Nama ini mulai dikenal orang ketika pada 1970-an terlibat penyelundupan barang elektronik via Palembang. Dialah yang memperkenalkan Tommy Winata dengan Angkatan Darat atau Yayasan Kartika Eka Paksi semasa Jenderal Edi Sudradjat menjabat Kepala Staf Angkatan Darat. “Pak Aguan adalah senior saya,” kata Tommy, “Beberapa keputusan bisnis yang penting selalu saya konsultasikan padanya.”

* Yorrys T. Raweyai (Thung Hok Liong)
Ketua Umum Pemuda Pancasila ini bertindak sebagai “panglima” yang mengamankan seluruh operasi jaringan ini di lapangan.

* Arief Prihatna (Cocong) 
Menurut sumber TEMPO dan Anton Medan, di bidang ini Arief merupakan pemain lama (sejak 1975) urusan memasukan barang lewat pintu belakang. Ia bergabung dengan Tommy sekitar 1985 dan punya jaringan luas di kalangan militer. Seorang mantan karyawati di perusahaan Cocong mengaku bagaimana dia secara rutin mengirimkan “upeti” berupa barang elektronik ke kalangan tentara dan polisi Tak mengherankan, ia mulus memasukkan mobil mewah, barang elektronik, serta obat tradisional (Cina) dari Singapura, Thailand, Taiwan, dan Hong Kong. Arie Sigit (cucu Soeharto) pernah memimpin konsorsium importir obat tradisional ini.

* Edi “Porkas” Winata
Kepada TEMPO, Tommy mengaku kenal baik tokoh ini. Imbuhan nama di tengah muncul karena reputasinya sebagai bandar judi Porkas (perusahaan milik Sigit Hardjojudanto, seperti disebut pula oleh majalah Time pekan lalu). Dia dikenal sebagai “tangan kanan” Tommy dalam bisnis ini. Menurut Anton Medan, beberapa nama berada di bawah lindungan Tommy pula.
Di Jakarta, menurut sebuah sumber, pusat operasi mereka-lewat permainan mickey mouse, rolet, bakarat, black jack, dan lain-lain-adalah Pertokoan Duta Merlin, Jalan Ketapang, dan Jalan Kartini. Belakangan, pusat operasi itu dipindahkan ke Jalan Kunir di kawasan Kota, yang kini dikenal sebagai markas “Konsorsium Judi Indonesia”-jelas bukan nama organisasi resmi-dengan Edi sebagai pemimpinnya.

* Kwee Haryadi Kumala (A Sie) 
Bersama kakaknya, Cahyadi Kumala (Sui Teng), Haryadi adalah spesialis pembebasan tanah. Anton Medan juga menyebut keterlibatan Teddy Hwat dan Robert Kardinal (saudara Yorrys) dalam urusan tanah ini. Di sektor ini mereka banyak bekerja sama dengan Bambang Trihatmodjo, misalnya di Jonggol dan Sentul. Bahkan, menurut Anton dan sumber TEMPO, beberapa aset Cendana saat ini telah dialihkan ke Tommy Winata: Jonggol (3.200 hektare), Cikarang (5.000 hektare), Sawangan, Sentul, Cikampek, dan perkebunan kelapa sawit di Sumatra Utara (25.000 hektare).

* Arie Sigit
Arie-menurut sumber TEMPO-punya bisnis sampingan menarik, misalnya ekstasi, dengan omzet ratusan miliar per bulan. Tapi, dalam sebuah wawancara dengan majalah Panji beberapa waktu lalu, Arie membantah isu ini dengan tegas. Namun, sebuah sumber menjelaskan bahwa jaringan bisnis itu meliputi Bandung, Medan, Jawa Tengah, Yogya, Surabaya, dan Bali, selain Malaysia dan Australia.
Pemasok utama “komoditas” ini adalah Hong Lie, buron yang dikaitkan dengan pembunuhan Nyo Beng Seng. Hong Lie sekarang bermukim di Hong Kong. Menurut seorang sumber, salah satu lokasi “perakitan” barang terlarang ini, di Tangerang, pernah digerebek polisi pada 1998 lalu, tapi kasusnya lalu dipetieskan.

* Iwan Cahyadi Karsa (Eng Tiong) 
Melalui PT Sumber Auto Graha (SAG), belum lama ini Iwan membeli 14 ribu unit mobil Timor. Menurut Anton dan sumber lainnya, SAG memperjualbelikan mobil mewah completely built-up yang diselundupkan Arief Cocong.

* Johnny Kesuma 
Melalui PT Artha Graha Investama, dia adalah orang kepercayaan Tommy di bidang investasi. Johnny adalah adik Aguan. Semula ia mengendalikan PT Amcol Graha Industries, yang pernah memegang lisensi manufaktur Sony. Menurut sumber TEMPO, saat ini ia dicekal. Sebelumnya, ia lebih banyak tinggal di Singapura. Saham Graha Investama juga dimiliki oleh Bakti Investama (dulu milik Mamiek Soeharto).

Google Map Pantau Perusakan Lingkungan

















Judul: Google Map Pantau Perusakan Lingkungan
Google Map Pantau Perusakan Lingkungan


Sebagai pengembangan penting dalam rangka membantu negara-negara tropis untuk memonitor penggundulan hutan, Google telah membuka sebuah rekanan dengan para ilmuwan menggunakan teknologi sensor jarak jauh tingkat lanjut untuk menganalisa dan memetakan luas hutan dengan cepat dalam resolusi yang sangat tinggi. Upaya ini dapat membantu negara-negara tersebut mendeteksi penggundulan hutan dalam waktu yang singkat setelah kemunculannya, ini memudahkan untuk mencegah pembabatan hutan yang lebih banyak lagi.

Penggundulan hutan dan penurunan kualitas hutan adalah sumber dari emisi gas rumah kaca yang lebih besar daripada seluruh penggunaan mobil, truk, pesawat, kereta, dan kapal di dunia digabungkan. Ini juga merupakan ancaman terhadap keanekaragaman hayati, budaya masyarakat pribumi, dan pelayanan ekosistem yang penting seperti persediaan air hujan dan pengendali banjir. Karenanya mekanisme baru yang ditawarkan yang mengarah untuk memperlambat penggundulan hutan dengan memberikan kompensasi bagi negara dan pemilik tanah karena telah melindungi hutan berhasil memenangkan banyak dukungan pada pembicaraan iklim di Kopenhagen. 

Namun untuk memenuhi syarat agar dapat dibayar di bawah Reducing Emissions from Deforestation and Degradation (REDD), negara-negara harus dapat mengukur berkurangnya penggundulan hutan berbanding pada dasar sejarah – sebuah permintaan yang tinggi bagi kebanyakan negara (bahkan negara kaya seperti Australia dan Kanada tidak dapat menyediakan data akurat tentang hutan mereka). 

Karenanya, alat yang dapat membuat negara-negara tersebut mengukur penggundulan hutan mereka di masa lalu dan melacak gangguan pada hutan dan hilangnya hutan dalam waktu pendek setelah kejadian tersebut akan memiliki nilai yang tinggi dalam usaha-usaha untuk melawan perubahan iklim dengan cara memangkas efek gas rumah kaca dari penggundulan hutan.

Ups...... Ternyata Pria Homoseksual Mudah Dikenali dari Wajahnya !

















Ups...... Ternyata Pria Homoseksual Mudah Dikenali dari Wajahnya !

Ups...... Ternyata Pria Homoseksual Mudah Dikenali dari Wajahnya !

Pria homo mudah dikenali ?
Benarkah dalam hitungan detik, orang bisa mengenali apakah seseorang dihadapannya homoseksual atau bukan, hanya dari wajahnya ?

Temuan ini memperkuat pendapat bahwa pikiran bawah sadar manusia berperan penting dalam memandu perilakunya.

Manusia dikenal sebagai makhluk paling pintar dan cepat menilai sesamanya. Hal tersebut telah disimpulkan sebagai hasil penelitian yang dilakukan dua psikolog, Nalini Ambady dan Rovert Rosenthal, tahun 1994.

Saat itu, mereka menghadapkan orang-orang pada video seorang profesor yang sedang mengajar berdurasi dua detik saja kemudian diminta memberikan opini mengenai kemampuan mengajarnya. Hasil penilaian tersebut ternyata mirip benar dengan penilaian para mahasiswa profesor tersebut yang diajar selama satu semester.

Temuan ini tidak hanya mengejutkan tapi membuat penasaran para pakar perilaku untuk meguak rahasia kemampuan manusia menilai sesamanya dalam waktu sangat singkat. Ambady kemudian bersama koleganya, Nicholas Rule, sama-sama dari Universitas Tufts, Massachusets, AS meneliti apakah hal tersebut juga berlaku untuk menilai orientasi seksual.

Sukarelawan lelaki maupun perempuan dihadapkan 90 lembar foto wajah lelaki homoseksual dan lelaki normal secara acak, masing-masing antara 33 milidetik hingga 10 detik. Saat diberikan waktu 100 milidetik atau lebih, mereka dapat mendeteksi foto lelaki mana yang homoseksual dengan tingkat ketepatan 70 persen.

Jika waktunya kurang dari itu, mereka kesulitan. Namun, jika diberikan waktu lebih lama, peluangnya tidak semakin baik. Apa yang paling menarik adalah tambahan waktu tidak meningkatkan hasil, ujar Ambady yang melaporkan penelitian ini dalam Journal of Experimental Social Psychology edisi terbaru.

Jadi, mungkin ada benarnya juga semboyan cinta pada pandangan pertama.

How fire was invented ???









---------- Forwarded message ----------



 

Visit Us @ www.Fropki.com






 




Cek Suap dan Politikus Kita




From: syauqi yahya

Cek Suap dan Politikus Kita

Selasa, 23 Maret 2010 | 23:46 WIB

Kasus cek suap menunjukkan bahwa para politikus memiliki standar ganda dalam etika bernegara. Dengan mudah mereka mendesak pejabat untuk lengser dari posisinya, tanpa alasan yang cukup. Tapi, ketika sejumlah politikus terindikasi kuat menerima suap, mereka bersikap lain. Jangankan mengundurkan diri, para politikus itu tetap berpura-pura tidak bersalah kendati buktinya sungguh telak.

Dalam kasus suap pemilihan Miranda Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, memang baru empat politikus yang diseret ke pengadilan. Mereka adalah Hamka Yandhu dari Partai Golkar, Dudhie Makmun Murod (PDIP), Endin A.J. Soefihara (PPP), dan Udju Djuhaeri (Fraksi TNI/Polri). Tapi duit suap sebenarnya mengalir ke 41 anggota Dewan Perwakilan Rakyat periode 1999-2004. Ini gampang dibuktikan karena cek selalu ada nomornya dan bisa diketahui pencairnya. Bahkan beberapa di antara penerima cek itu kini masih jadi wakil rakyat atau pejabat di lembaga negara.

Jangan heran jika dalam setiap sidang kasus ini selalu muncul nama-nama lain yang disebutkan di luar keempat terdakwa itu. Kita hanya bisa mengelus dada karena mereka sama sekali tidak merasa malu atau setidaknya risi. Kendati mengakui menerima cek pelawat, mereka tetap merasa tak berdosa. 

Tengku Muhammad Nurlif, yang kini anggota Badan Pemeriksa Keuangan, termasuk salah satu di antara mereka. Ketika dipanggil sebagai saksi di pengadilan, politikus Golkar ini mengaku menerima cek perjalanan senilai Rp 550 juta dari Hamka Yandhu. Namun Nurlif berdalih bahwa pemberian uang ini untuk keperluan kampanye dalam pemilu legislatif 2004.

Dalih seperti itu sebenarnya gampang dipatahkan jika Komisi Pemberantasan Korupsi ingin menyeret Nurlif ke pengadilan. Sungguh tak masuk akal bila, sebagai legislator yang bertugas di Komisi Keuangan dan Perbankan DPR, ia tidak tahu sama sekali soal pemilihan Miranda. 

KPK mungkin memerlukan waktu untuk menuntaskan kasus ini, namun seharusnya Nurlif bisa berpikir cepat buat menilai perbuatannya sendiri. Jika perilaku itu merupakan cela seorang pejabat, bukankah sebaiknya ia segera mundur dari keanggotaan BPK? Dengan adanya perbuatan itu, publik jelas menganggap dia tak memenuhi syarat lagi menjadi anggota pemeriksa keuangan negara, yang jelas dituntut bersih dan kredibel.

Etika seperti itu mestinya pula jadi pegangan para politikus di Senayan. Mereka tidak pantas lagi mewakili rakyat jika sudah jelas mengaku menerima pemberian cek yang dikategorikan sebagai suap, dan sebaiknya segera mundur. Lembaga negara, seperti DPR dan BPK, akan telanjur jatuh citranya bila mereka menunggu proses hukum. Sebab, sesuai dengan undang-undang, penyelenggara negara baru bisa dinonaktifkan setelah menjadi tersangka kasus pidana dengan ancaman hukuman lima tahun ke atas.

Khalayak tentu bingung melihat sikap para politikus. Dalam kasus Bank Century, mereka gampang menuduh Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani bersalah, dan memintanya mundur. Padahal belum ada bukti bahwa keduanya terlibat korupsi atau menerima suap. Kini, giliran para politikus terseret kasus suap dengan bukti yang amat telak, tak ada di antara mereka yang merasa malu dan memilih mundur.

http://www.tempointeraktif.com/hg/opiniKT/2010/03/24/krn.20100324.194847.id.html




Minggu, 28 Maret 2010

Jaminan sosial harga mati





From: puthut yulianto
----- Original Message -----
From: "Kang eS eF" <slamet.f0084@gmail.com>
Sent: Wednesday, March 24, 2010 8:46 PM
Subject: Jaminan sosial harga mati

Maaf moderator, numpang lewat


Siapa yang ingin sakit? Mungkin ini pertanyaan konyol yang anda
dapatkan. Dan saya tahu pasti jika tidak ada satupun manusia didunia
ini yang ingin menderita sakit. Namun Siapa yang bisa menolak sakit?
Tiada satupun orang yang bisa menolak datangnya suatu penyakit. Yang
bisa dilakukan manusia hanyalah berusaha untuk tidak sakit. Dan ketika
penyakit datang menghampiri, Saat itulah harta yang selama ini kita
kumpulkan dengan perjuangan akan dipertaruhkan agar bisa menikmati
kembali kesehatan. Yah kesehatan menjadi sesuatu yang teramat mahal ,
paling tidak dinegeri ini.Padahal telah jelas dalam konstitusi kita
pasal 28 poin H ayat 1 & 3 UUD'45 menyatakan
(1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat
tinggal, dan medapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak
memperoleh pelayanan kesehatan.
(3) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan
pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat.
Telah jelas dalam UU No 40 Th 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial
Nasional. Pasal 1 ayat 1 "Jaminan sosial adalah salah satu bentuk
perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi
kebutuhan dasar hidupnya yang layak."
Pasal 2 "Sistem Jaminan Sosial Nasional diselenggarakan berdasarkan
asas kemanusiaan, asas manfaat, dan asas keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia"
Juga sesuai keputusan Mahkamah konstitusi (MK) No.007/PUU-III/2005
tentang badan hukum nirlaba sebagai pengelola dan bukannya BUMN atau
Persero yang berorientasi mencari keuntungan serta adanya kkewajiban
BUMN untuk menyetor deviden pada pemerintah.
Telah banyak kita lihat di televisi, berapa banyak orang miskin yang
kemudian meninggal dunia setelah ditolak rumah sakit karena tidak
mempunyai biaya. Berapa banyak orang yang semula berada, menjadi jatuh
miskin setelah mengalami sakit. Dan hal tersebut bisa menimpa anda,
anak anda, pasangan anda, orang tua anda, sahabat dann seluruh orang
yang anda cintai.
Mari, saatnya peduli terhadap masalah kesehatan dan tunjangan social
karena itu tugas pemerintah untuk mewujudkannya bagi seluruh warga
Negara tanpa kecuali.
Kawans, sebagai bagian dari kampanye jaminan sosial didunia maya, mari
bergaung dan  invite kawan anda sebanyak mungkin untuk menjadi bagian
dari group "WUJUDKAN JAMINAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA"
atau klik http://www.facebook.com/group.php?gid=398149246899
Jangan lupa untuk ikut serta dalam aksi massa digedung DPR/MPR tgl 5
April 2010 sebagai awal perjuangan mewujudkan jaminan sosial.


Salam perjuangan
Salam keadilan sosial
eS eF


pisau kukhri

Senjata maut pasukan gurkha..

obama kegirangan

Setelah RUU'nya gol..

Jumat, 26 Maret 2010

Selamat Datang di Desa Gigolo!









Liputan6.com, Boyolali: Dengan langkah pasti, seorang anak muda memasuki kamar hotel. Usianya kurang dari 20 tahun, namun profesinya cukup mencengangkan, pelaku seks komersial pria alias gigolo.

Kesulitan ekonomi selalu menjadi alasan suburnya ladang kerja para gigolo muda tersebut.


Lantaran penasaran, penelusuran menuju daerah asal para gigolo muda pun dimulai. Dua desa kecil di kawasan Boyolali, Jawa Tengah, menjadi tujuannya. Di Desa Cabean, penduduknya beraktivitas layaknya penduduk desa kebanyakan. Warga bergotong-royong membuat keranjang ayam.

Siapa sangka. Begitu senja turun, para pembuat keranjang ayam menjelma menjadi "kucing" alias gigolo.


Rata-rata pemuda "desa kucing" merupakan pelajar putus sekolah. Melalui mucikari atau bekerja seorang diri, mereka menjajakan diri di pinggiran jalan. Targetnya, tante girang dan om senang. Terdapat juga salon yang beralih fungsi sebagai tempat mempermak para gigolo.

Warga dan perangkat desa sepertinya tidak mengetahui aktivitas rahasia sejumlah pemuda desa. Terlepas dari itu semua, para pemuda desa pastinya merasa sayang meninggalkan profesinya. Menurut salah seorang pemuda berusia 18 tahun, ia dibayar ratusan ribu rupiah untuk melayani om atau tante yang butuh pijat ekstra. Maksudnya tentu saja pelayanan seks.


Desa lainnya yang menampung para gigolo muda adalah Desa Bakalan. Letaknya di antara Boyolali dan Salatiga. Dengan kamera tersembunyi, tim Sigi memasuki rumah seorang warga yang diduga sebagai kediaman makelar gigolo muda. Rumah itu dikenal sebagai agency model salon. Tak butuh lama bagi seorang makelar menyiapkan "kucing" belianya. Jika harga disepakati, transaksi ditutup dengan hubungan seks di hotel atau lokasi pilihan pelanggan.


"Terus gimana" tanya seorang pelanggan. "Ya maksudnya mesti ngajarin kalo dipegang-pegang...biasa. Tapi kalo main kan belum terlalu tahu," sahut si makelar. Inilah sepenggal percakapan yang direkam tim Sigi dalam traksaksi gigolo di sebuah warung.


Selanjutnya, anak muda desa dibawa ke Semarang. Terdapat sebuah tempat yang kerap disebut-sebut sebagai persinggahan para gigolo, yaitu daerah Pos Ponjolo. Melalui makelar juga para gigolo dikenalkan dengan nuansa kota seperti mal dan pusat perbelanjaan lainnya.

Terbukti, banyaknya remaja lelaki desa yang ingin mencoba dunia esek-esek tidak lepas dari peran makelar yang mendatangi desa mereka. Namun ada juga gigolo yang berani mempromosikan diri sendiri dengan mengirim kode tertentu pada calon pelanggan. Para gigolo ini biasa nongkrong di taman atau kafe. Bahkan, tak sedikit gigolo remaja yang memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mencari pelanggan.


Kisah sepak terjang seorang pemuda menjadi gigolo pernah diangkat ke layar lebar oleh sutradara Dimas Djayadiningrat. Dalam film berjudul Quickie Express yang dirilis pada 2007, Tora Sudiro memerankan pemuda gigolo yang ingin hidup enak. Gigolo, sulit diberantas bukan berarti harus dibiarkan begitu saja. Harus ada tindakan yang berarti untuk mengurangi jumlah para gigolo. Keberadaan mereka bisa menciptakan kondisi sosial yang kurang sehat di masyarakat.(OMI/ANS)



Attack On Pearl Harbor.




Electronic Bike






"Music of the Heart": Balada Seorang Guru




From: hernowo hasim


Music of the Heart: Balada Seorang Guru
Oleh Hernowo

Meryl Streep

"Saya telah menunjukkan kepada Anda bahwa tak ada yang lebih penting dari semua harta yang Anda kuasai selain intangibles. Intangibles memang tak terlihat, namun ketidakberadaannya pada suatu bangsa atau perusahaan dapat diketahui dengan cepat. Tanpa intangibles, suatu bangsa terombang-ambing. Bangsa itu bisa saja kaya, bisa juga sangat miskin, namun hidup masyarakatnya tak ubahnya seperti robot. Tak ada gairah dan senyum, apalagi kebahagiaan.
--RHENALD KASALI dalam Myelin, halaman 320


"I want you play from here," kata sang ibu guru sambil menunjuk letak hati di dadanya. "Saya minta kalian jangan berpikir macam-macam, jangan lihat audience atau yang lain. Bermainlah dari dalam hati." Roberta Guaspari nama sang ibu guru. Dia seorang guru musik. Adegan yang dahsyat tersebut saya jumpai dan nikmati dalam sebuah film berjudul Music of the Heart. Roberta Guaspari diperankan oleh aktris dahsyat pula yang saya kagumi, Meryl Streep.

Saya dipertemukan kembali dengan film itu oleh buku Myelin. Rhenald membahas film tersebut di bab akhir bukunya. "Kisah di atas adalah sebuah true story yang lantas difilmkan," tulis Rhenald. Bagi saya, film ini—saya ingin menyebut bahwa Music of the Heart adalah sebuah film pendidikan yang dahsyat—sungguh sangat menginspirasi. Roberta mengajarkan bermain musik yang tak mudah—biola. Namun, seamangatnya dalam menjadikan anak-anak didiknya dapat memainkan biola sungguh dahsyat!

Seperti dikatakan Rhenald, "Di tangan Roberta Giaspari, Opus 118 menjadi hidup. Tak seorang pun mampu menghentikannya." Dalam membuat anak-anak didiknya dapat bermain biola, Roberta bukan berarti tanpa hambatan. Banyak kendala membuat Roberta nyaris patah arang. Dia mengajar musik di sekolah yang miskin—tepatnya di East Harlem. Karena tidak ada anggaran untuk membeli alat musik, dia menawarkan puluhan biola mungil koleksi pribadinya untuk digunakan para muridnya.


Music of the Heart berhasi merekam sepenggal kehidupan Roberta di tahun 1980 yang kelam. Dua anak lelakinya baru saja menjadi anak yatim, sementara dia sendiri bakal menjadi orangtua tunggal tanpa harta tatkala suaminya meningalkannya. Dalam keadaan emosi, penuh kesedihan, namun perlu pekerjaan, ibu yang tak lagi muda itu mengepak pakaian anak-anaknya ke dalam mobil dan berkendara menujuu East Harlem. Dia East Harlem-lah, Roberta melamar menjadi guru musik (biola).

Roberta ingin mengubah hidupnya—dan hidup orang-orang di sekelingnya yang penuh kemiskinan—menjadi sesuatu yang terang benderang. Kehidupan Roberta akhirnya berhasil menginspirasi banyak orang. Roberta dan anak-anak didiknya sampai diundang dalam acara talk show Oprah Winfrey dan mengharubirukan jutaan penonton yang terpukau. Music of the Heart berhasil menggambarkan transformasi yang dilakukan seorang guru terhadap murid-muridnya yang tidak disiplin dan tidak bermasa depan menjadi inspirasi yang menghidupkan.[]

--