Minggu, 29 Agustus 2010

Peran Penting Akal Dalam Konsep Agama





From: A.Syauqi Yahya


Peran Penting Akal Dalam Konsep Agama

Ikatan antara akal dan agama adalah pembahasan yang cukup mendetail
dalam sejarah pemikiran manusia. Banyak cabang pembahasan yang dibahas
di dalamnya, di antaranya: bagaimana ikatan antara akal dan iman
(dalam pandangan dunia Barat dan Islam)? Masalah yang perlu
dilontarkan ikatan antara akal dan iman; keduanya menyangkut tentang
keyakinan kita terhadap Allah Swt. Apakah keimanan atau kepercayaan
terhadap sesuatu harus dijelaskan melalui dalil akal dan akal
memberikan peran penting di dalamnya? Ataukah sudah merupakan hal yang
jelas sehingga tidak butuh lagi oleh penjelasan dalil akal. Atau
keimanan berdiri di luar garis tatanan akal dan tidak saling terkait?
Bagaimana hubungan antara akal dan syariat?

Akal dan Iman

Salah satu pentingnya masalah dalam filsafat agama hubungan antara
iman dan akal. Dalam masalah ini pertanyaan-pertanyaan telah
diutarakan sebelumnya. Apakah keyakinan beragama yang berasaskan iman
merupakan hal yang rasionalitas, perbuatan yang selain itu
bertentangan dengan rasio. Jika apa yang kita sajikan tersebut tidak
mampu mengklaim atau tidak mampu menetapkan keyakinan agama sesuai
dengan akal, apakah itu benar. Sebagai contoh: untuk menetapkan adanya
wujud Tuhan melalui sesuatu dalil, dengan itu kita yakin wujud Tuhan
sesuatu yang bisa diterima oleh akal? Dalam pandangan agama Nasrani,
pembahasan antara hubungan antara iman dan akal, terdapat dua
pandangan yang saling bertentangan. Pertama, kesesuaian antara
keyakinan-keyakinan agama dengan akal, contohnya; iman terhadap Tuhan
sesuatu yang diterima secara akal (Rasionalisme) Salah satu tokohnya
adalah Thomas Aquinas (1224-1273) berpendapat bahwa keimanan melalui
pengajaran oleh kitab suci dan keseluruhan ajaran atau peraturan yang
ada di dalamnya, adalah Tuhan langsung sebagai pengajarnya. Juga tidak
diragukan sebagai kitab suci (perkataan Tuhan) yang diyakini adalah
sudah merupakan hal-hal yang bersifat rasionalitas. Pendapat kedua,
keyakinan-keyakinan agama tidak sesuai dengan akal (Fideisme). Di
antara tokohnya adalah Alvin Plantinga (1932-) yang menyerupai fitrah
pada diri manusia, dengan mengatakan keyakinan manusia terhadap Tuhan
terdapat dalam jiwa manusia tanpa memerlukan dalil akal. Banyak lagi
tokoh-tokoh yang mengatas namakan kedua kelompok di atas, juga
terdapat pro dan kontra terhadap pendapat-pendapat di atas. Lain lagi
yang berpendapat bahwa akal dapat mengganggu ketenangan iman, oleh
karenanya tidak ada hubungan antara akal dan iman. Artinya iman akan
di putar balikkan melalui dalil akal, sehingga dalil akal akan
membahayakan keimanan bagi khalayak awam. Namun, sama-sama kita
mengetahui bahwa salah satu kelebihan yang ada pada manusia dibanding
dengan makhluk lainnya, jika manusia mengfungsikan akalnya. Banyak
persoalan yang ada dalam konsep keagamaan diselesaikan melalui dalil
akal. Di sini akal terus berjuang mempertahankan haknya. Dan dalam
persoalan syariatpun, dalil akal untuk menopang kesempurnaannya.
Hubungan akal dan agama secara jelas, bahwa akal dan agama merupakan
suatu pemberian Allah Swt yang keduanya menyampaikan manusia kepada
suatu kesempurnaan. Dalam ayat:; "Sesungguhnya kami turunkan alqur'an
dengan bahasa arab supaya mereka berakal." [1] Dalam Islam akal
sangatlah terkait hubungannya dengan iman, yakni melalui akalnya dia
akan memahami agama karena akal adalah salah satu sumber syariat
Islam. Ikatan keduanya akan menghantarkan manusia ke jalan
kebahagiaan. Dalam riwayat Imam Shadiq berkata:"Akal adalah dalil
seorang mukmin. Dan petunjuk bagi orang mukmin."Dalam riwayat lain
disebutkan: " Setiap yang berakal pasti memiliki agama. Dan yang
mempunyai agama akan menghantarkan ia ke surga."[2] Dalam ayat dan
riwayat di atas secara tegas Islam sangat mementingkan masalah akal.
Namun, ada beberapa pendapat dalam mazhab Islam yang satu dengan yang
lainnya saling bertentangan dan ada pula yang mendukung fungsi dan
peran akal. Diantaranya: Pendapat Ahlul Hadist ; penggunaan
dalil-dalil rasionalitas dalam masalah keimanan dan agama adalah
haram. Cukuplah perkara-perkara agama apa yang didatangkan oleh nabi..
Akal tidak mampu menyingkap hukum-hukum Tuhan. Juga mereka berpegang
kepada penafsiran yang nampak(dhahir) yang ada pada alqur'an, sehingga
adanya pengertian tajsim atau tasybih pada zat Tuhan. Begitu pula
mereka mengklaim bid'ah terhadap penafsiran dan takwil ayat-ayat
alqur'an. Pendapat kaum Mu'tazilah ; penggunaan dalil-dalil
rasionalitas yang sangat berlebihan. Pendapat Syiah Imamiyah untuk
menyingkap hukum agama diperlukan dalil rasionalitas baik itu secara
langsung maupun tidak langsung.

Akal dan Syariat

Dalam Islam kita lihat bahwa ada sebagian hukum-hukum syariat yang
secara rasional tidak bisa kita jelaskan, seperti: mengapa shalat
zuhur empat rakaat dan shalat subuh dua rakaat. Dan dalam kategori
lain sebagian hukum-hukum syariat dengan dijelaskan alasan dan tujuan
dari hukum-hukum tadi berdasarkan dalil akal, contohnya: berdusta
adalah perbuatan yang jelek(dalil akal), dikarenakan merugikan orang
lain, riba dianggap sebagai perbuatan yang jelek dikarenakan tidak
menjaga maslahat kaum miskin, dan penguasaan kekayaan hanya berputar
pada orang-orang kaya, membantu orang lain dianggap sebagai perbuatan
baik karena memberikan manfaat. Seorang mujtahid menetapkan hukum
berdasarkan hukum akal, ketika hukum tersebut tidak kita temukan di
dalam al-qur'an dan hadist serta ijma'. Melalui jalan ini dalil khusus
tidaklah diketahui, juga dalil yang berasal dari nash yang sahih tidak
dapat menetapkan (tidak ada nash). Akal memberikan hukumnya dalam
bentuk ikhtiyat(kehati-hatian), bara'ah (berlepas), pemilihan,
memberikan fatwa penafian segala bentuk yang berbahaya, dan
lain-lain.Namun, kita percaya bahwa semua perbuatan pasti mempunyai
tujuan, dan manfaat tersebut akan kembali pada manusia. Dalam syariat
pun berlaku demikian. Kita berkeyakinan bahwa semua hukum-Nya
(termasuk hukum-hukum yang tidak diketahui manfaat dan tujuan oleh
kita) memiliki tujuan dan bermanfaat bagi manusia. Bukan hanya tugas
seorang ulama yang menemukan dengan melalui hasil ijtihadnya untuk
menjelaskan hukum-hukum syariat tadi, juga tugas dari para pakar sains
dan ilmuwan untuk menyingkap tujuan dari hukum-hukum tersebut. Para
mujtahid bekerja sama dalam menyingkap hukum berdasarkan dalil-dalil
yang didapat dari alqur'an dan hadist. Di sini Islam menentang adanya
penafsiran hukum-hukum syariat berdasarkan pendapat sendiri.

Batasan-batasan Akal

Ahli Ma'rifat mengatakan: akal untuk mengenal agama, adalah sesuatu
yang lazim, akan tetapi itu tidaklah cukup. Karena apa yang akan
dipahami, melebihi atas pemahaman ilmu usuli, apa yang disebut dengan
penyaksian (syuhudi), yakni di luar apa yang dipahami oleh akal.
Begitu juga apa yang dapat kita rasakan langsung melalui perantara
panca indera , setelah melalui proses uji coba, tidaklah memerlukan
dalil akal (burhan), akal hanya memberikan hukum general (kulli)
terhadap permasalahan tersebut.

Pembelaan Akal terhadap Agama

Jika ditanyakan bahwa apakah permasalahan general(kulli) dan
partikular(juz'i) adanya pembelaan akal terhadap agama? Jawabannya
adalah: terhadap masalah-masalah partikular, akal tidak berperan di
dalamnya, dan tidak memerlukan dalil akal (argumentasi) , juga
terhadap masalah partikular alam, partikular syariat. Adapun
sebaliknya terhadap masalah-masalah general alam dan syariat, adalah
jalan untuk menggunakan dalil akal. Oleh karena itu, akal berperan
penting dalam menggariskan hukum-hukum general agama dan syariat, juga
hukum-hukum general alam , yakni setelah keberadaan Allah Swt kita
yakini, dan Allah Swt dengan ilmu, kehendak, dan hikmah dan semua
sifat kebaikan-Nya telah kita kenali, sehingga dapat dipahami bahwa
Allah Yang Maha Bijaksana mempunyai tujuan dalam ciptaan-Nya. Dengan
kata lain, oleh karena segala perkara, tujuan alam tidak dapat
diketahui. Dan dikarenakan alam adalah ciptaan Allah Swt. Pastilah
dalam ciptaan-Nya pun mempunyai tujuan dan maksud. Namun perlu
diketahui bahwa semua tujuan dan manfaat tersebut kembali pada manusia
. Dapat disimpulkan bahwa:

1. Agama bersifat general (kulli), mendapatkan pembelaan akal secara langsung.

2. Partikular agama secara langsung dan tanpa perantara tidak bisa
dibuktikan melalui dalil akal, akan tetapi secara tidak langsung dan
melalui perantara dengan menggunakan dalil akal.

3. Tidak adanya pembelaan secara akal, tanpa perantara atas partikular
agama dikarenakan terbatasnya akal dalam perkara-perkara secara
partikular.

4. Setelah merasakan penyaksian kebenaran perkara-perkara partikular,
mampu untuk diterangkan melalui dalil akal.

5. Akal dalam menegakkan dalil untuk masalah-masalah partikular
sangatlah terbatas dan ukuran kebenaran atasnya tidaklah bisa
dipertahankan.

Kebenaran Iman

Beberapa contoh tentang beberapa kemungkinan rasionalitas iman dan
tidak mungkinnya rasionalitas iman:

1. Jika yang dimaksud dengan iman di sini adalah perkara-perkara
partikular, yang memiliki realitas di luar. Maka di sini akal tidak
mampu menerima perkara partikular, dan keimanan tidak dapat diuraikan
dengan dalil akal. Contohnya: wujud adanya surga, yang merupakan wujud
realitas di luar, dengan dalil akal tidak dapat membuktikannya. Namun
apabila surga dengan pemahaman general sebagai sebuah tempat pahala
yang akan diterima dari perbuatan baik atau sebagai bentuk luar
(misdaq) dari perbuatan pahala perbuatan.

2. Jika yang dimaksud dengan iman adalah hasil dari pengalaman
spiritual atau sebuah pengalaman spiritual pribadi yang tertentu, maka
dalil akal tidak dapat membuktikannya. Karena dengan pengalaman
spiritual pribadi akan mengakibatkan berbagai macam interpretasi dari
bentuk keimanan. Oleh karenanya para nabi mengajak kaumnya kepada
keimanan dengan dalil akal dan ditopang oleh wahyu dan tidaklah dengan
menerangkan hasil dari pengalaman pribadinya tanpa melalui penerangan
wahyu.[]

By: Abu Aqilah

[1] .Surat Yusuf ayat 2[2]. Kulaini juz 1 hal 11

http://abuaqilah.wordpress.com/2007/04/11/17/


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar