Jumat, 05 Februari 2010

Bagaimana menerapkan metode Quantum Learning di sekolah menurut penggagasnya, Bobbi DePorter?



From: hernowo hasim


Proses belajar mestinya berjalan menyenangkan untuk anak-anak didik. Ini adalah hal yang sesungguhnya sangat mendasar dari sebuah kegiatan belajar. Demikianlah inti "pesan" yang ingin disampaikan dalam buku Quantum Learning yang digagas oleh Bobbi dePorter dan rekannya, Eric Jensen, sekitar 28 tahun lalu.

Menurut dePorter, belajar yang menyenangkan merupakan sebuah konsep sederhana. Meskipun sederhana, ternyata jika berhasil diterapkan dampaknya akan sangat besar. Dampak tersebut akan terasa di dalam diri anak-anak, guru, keluarga, dan dunia pendidikan secara keseluruhan.


Bagaimana menerapkan metode Quantum Learning di sekolah?

Kepala sekolah harus bisa memahami apa yang diharapkan dari guru. Mereka juga harus benar-benar paham mengenai proses belajar. Pendidik mesti memiliki kemampuan untuk melihat apa yang menjadi kekuatan dan kekurangan siswanya. Di samping itu, pendidik juga harus fokus dan dapat memutuskan aspek apa yang harus diperbaiki. Ini bisa dikatakan semacam partnership antara guru dan murid.

Biasanya dalam jangka waktu tiga bulan saat diadakan penilaian, perbaikan sudah bisa terlihat. Agar lebih efektif, di antara para guru sebaiknya memiliki kelompok studi yang membahas, secara periodik, kekurangan dan kelebihan metode belajar-mengajar yang mereka terapkan.

Quantum Learning hanya untuk sekolah-sekolah mahal?

Quantum Learning dapat diterapkan di sekolah dalam kondisi apa pun. Pengalaman saya di Republik Dominika memberi bukti tentang hal itu. Ada sebuah sekolah yang terletak di pinggiran hutan. Sekolah itu bahkan tidak memiliki papan tulis sehingga dindingnya dicat putih untuk dijadikan papan tulis. Bangunannya terbuat dari lumpur yang dikeringkan.

Kami datang untuk memberikan pelatihan kepada guru-guru di sekolah tersebut. Kami memberitahu kepada mereka bahwa semua mata pelajaran dapat diajarkan dengan alam sebagai bahan peraganya. Murid-murid harus diberitahu tentang manfaat yang mereka dapatkan ketika mereka mempelajari sesuatu.

Para guru itu pun kemudian mengajarkan berhitung dengan menggunakan lagu. Mereka tidak punya alat untuk memutar CD. Di desa, tempat sekolah itu, tidak ada listrik. Mereka pun menggunakan mulut, tepukan tangan, dan senandung untuk belajar. Sebenarnya, apa pun yang ada di sekeliling kita, dapat menjadi alat bantu belajar.

Dalam sistem Quantum Learning, semua pancaindra mesti dilibatkan dalam proses belajar. Jika seluruh pancaindra terlibat, otak pun—organ utama untuk belajar—secara otomatis akan menyerap bahan pelajaran dengan lebih baik. Proses belajar yang menyenangkan akan mendorong kemampuan otak dalam memahami bahan pelajaran.

Di Amerika Serikat, sistem Quantum Learning ini justru kebanyakan diterapkan di sekolah-sekolah negeri, yang populasinya padat, dan penduduknya kebanyakan berpendapatan rendah. Meskipun begitu, ada juga sekolah swasta yang mengadopsinya.

Klik selengkapnya di sini: http://www.mizan.com/index.php?fuseaction=emagazine&id=53&fid=529
Salam,
Hernowo


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar