Minggu, 28 Februari 2010

Kubrosiswo yang spiritual, enerjik dan genit



From: syauqi yahya

Mei 30, 2007

kubro2.jpgkubro4.jpgkubrosiswo in action

Kubrosiswo merupakan kesenian tradisional berlatar belakang penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa. Kubro berarti besar dan siswo berarti siswa atau murid, mengandung arti murid – murid Tuhan yang diimplementasikan dalam pertunjukan yang selalu menjunjung kebesaran Tuhan. Kubro sisiwo merupakan singkatan dariKesenian Ubahing Badan Lan Rogo (kesenian mengenai gerak badan dan jiwa), sarana untuk mengingatkan umat islam dan manusia pada umumnya agar menyelaraskan kehidupan dunia dan akhirat.

Termasuk salah satu jenis kesenian tradisional khas Magelang. Konon, berasal dari daerah sekitar candi Mendut. Sejak tahun 1965 kesenian ini sudah ada di daerah Borobudur dan sekitarnya. Kapan dan dimana tepatnya diciptakan belum ada keterangan yang pasti.

Kubrosiswo juga sering dikaitkan dengan Ki Garang Serang, prajurit Pangeran Diponegoro yang mengembara di daerah Pegunungan Menoreh untuk menyebarkan Agama Islam. Dalam pengembaraannya, beliau memasuki hutan lebat yang masih banyak di huni oleh binatang buas. Ketika hutan itu dibakar, terjadilah pertentangan antara Ki Garang Serang dengan sekelompok binatang buas. Tetapi karena kesaktiannya, maka para binatang buas dapat tunduk dan mengikuti perintah beliau.

Selain menyebarkan Agama Islam, beliau juga berjuang mengusir penjajah. Tidak heran jika irama gerak dalam kubrosiswo bercirikan tarian prajurit yang ritmis dan padu dengan musik yang menggugah semangat. "roh" Kubro Siswo yang bersifat spiritual, enerjik dan genit.

Kesenian ini umumnya dipentaskan pada malam hari dengan durasi kurang lebih 5 jam dan ditampilkan secara massal, dengan musik pengiring mirip dengan lagu perjuangan dan qasidah, tetapi liriknya telah diubah sesuai misi Islam. Kesenian ini diiringi dengan bende, 3 buah dodok dan jedor. Dandanan mereka seperti tentara pada jaman keraton, tapi dari pinggang kebawah memakai dandanan ala pemain bola tak lupa ada "kapten" yang memakai peluit. Selain memadukan antara tari-tarian dan lagu serta musik tradisional, terdapat juga atraksi-atraksi yang menakjubkan. Diantaranya mengupas kelapa dengan gigi, naik tangga yang anak tangganya terdiri dari beberapa berang (istilah jawa bendho) dan yang lebih menariknya lagi beberapa penarinya ada yang kesurupan (ndaditrance) atau kemasukan roh.

Adegan kesurupan ini merupakan penggambaran peperangan si Ki Ageng Serang dengan binatang –binatang buas perbukitan Menoreh, bedanya si binatang digantikan oleh pemain berbaju singa atau kerbau (kewanan). Seiring lecutan pecut dan bau kemenyan maka, menarilah binatang – binatang tersebut. Mereka akan unjuk kesurupannya dengan cara yang macam- macam. pemain yang kesurupan ada kecenderungan untuk mendekati jedor atau alat musik lain yang ramai dibunyikan saat itu.

Di akhir acara pawang akan memaksa para binatang untuk mendekati sebuah gentong, yang ternyata berguna untuk melepas roh asing yang menempel pada tubuh si penari. Ketika tubuh si penari berhasil dipaksa mendekati gentong dan doa pun di panjatkan, maka ia akan terkulai lemas. Ketika semua penari berhasil disembuhkan maka selesailah acara tersebut.

Dalam lagu yang dinyanyikan itu, terdapat beberapa pesan-pesan dakwah. Pesan yang diharapkan mampu mempengaruhi segi kognitif para penontonnya, terutama dalam hal pengetahuan keagamaan.

Salah satu contoh syair lagu dalam Kubro Siswo adalah :

Kito Poro Menungso
(Kita Semua Manusia)

 

Kito poro menungso ayo podo ngaji
(Kita semua manusia ayo mengaji)
Islam ingkang sampurno pepadanging bumi
(Islam agama yang sempurna, memberi cahaya bagi bumi)
Ayo konco-ayo konco ojo podo lali
(Ayo kawan-ayo kawan jangan sampai lupa)
Lali mundhak ciloko mlebu njroning geni
(Lupa membuatmu celaka, masuk dalam api)
Yo iku aran neroko bebenduning Gusti
(Yaitu neraka tempat pembalasan Tuhan)

 

kubro2.jpg

Paguyuban Kubro siswa di Bumisegoro (Krida Siswa) sempat timbul dan tenggelam dengan masa kejayaan pada saat dipimpin oleh bapak Bagiyo. Saat itu, cukup sering ditanggap main di antaranya oleh pengelola Taman Wisata Candi Borobudur atau oleh warga yang sedang hajatan.

Terbersit pemikiran iseng…. Kalau Sampoerna Group pernah membangun merek dengan menggelar marching band ke negeri paman sam, adakah pengelola merek yang berminat menggelar kubrosiswo untuk membangun mereknya? Terobosan yang layak ditunggu….

* sari kata dari kenangan lama dan terbantu oleh beberapa sumber
** Foto diambil dari blognya nuri widhi

Amit amit...Mmmm





From: syauqi yahya


'Lawar Century'

Minggu, 28 Februari 2010 | 00:49 WIB

Putu Setia

Ngobrol tentang kasus Bank Century dengan orang desa, asyik juga. Kepolosan mereka membuat saya makin bernafsu. Mulanya ini selingan yang menarik setelah dijejali ocehan "para pakar" dalam tayangan televisi. Lama-lama bukan lagi selingan, karena saya mulai muak dengan ocehan itu, apalagi dengan penyiar yang mirip provokator, bukan melaksanakan fungsi sebagai "penggali berita". 

Orang desa itu tidaklah ndeso amat. Ada yang saudagar sapi. Ada yang makelar mobil bekas. Ada yang profesinya--ini bermunculan di pedesaan--menerima gadaian telepon seluler. Mereka berurusan dengan bank, minimal punya tabungan--jauh sebelum Presiden SBY mencanangkan gerakan "Mari Menabung". Suara mereka tak mungkin masuk televisi, karena "sudah dianggap terwakili" oleh segelintir orang di kota yang teriak-teriak di jalanan. Benar atau salah pendapat mereka, tentu tak sempat diuji, apalagi kebenaran sudah dimonopoli oleh beberapa politikus.

Misalnya tentang Sri Mulyani Indrawati--sungguh-sungguh mereka hafal nama lengkap Menteri Keuangan ini. Sebagai pejabat yang bertanggung jawab mengenai kestabilan ekonomi, Ibu Sri dengan cepat memutuskan mem-bail-out Bank Century agar efeknya tidak merembet ke bank lain dan mengakibatkan krisis lebih dalam. Pengalaman 1998 menjadi guru yang baik karena kekurangcermatan penanganannya.

Salah atau benarkah Ibu Sri? "Gampang sekali, lihat saja setelah 2008 itu ada krisis atau tidak? Tak ada krisis, jadi tindakannya benar, kok repot sekali," kata juragan sapi. Bahwa ada aliran uang yang menetes ke sana atau ke sini, itu bukan urusan Ibu Sri, silakan diproses sesuai dengan hukum. Masak, Ibu Sri harusnongkrongi kasir bank?

Tentang uang Rp 6,7 triliun itu apakah membuat negara rugi? Ini uang hasil iuran bank yang memang dipergunakan untuk kestabilan. Memang sudah keluar uangnya, tapi kan bisa kembali kalau nanti Bank Mutiara, yang jadi siluman Century, sudah baik dan bisa dijual. "Nyatanya, Bank Mutiara jalan bagus, saya baru menabung di sana, kantornya di Denpasar malah makin besar di daerah elite," kata si makelar mobil bekas. Tapi ia buru-buru menambahkan, aliran dana yang tak beres--kalau nyatanya ada--tetap mesti diusut dan diproses.

Yang menarik adalah pendapat mereka tentang Pansus Angket Century. Kesimpulan Pansus--baik sementara maupun akhir--hanya membuang-buang duit Rp 2,5 miliar, anggaran yang dipakai Pansus. Lo, kok begitu? "Semua fraksi bilang, hasil Pansus Century perlu ditindaklanjuti ke jalur hukum. Kalau hasilnya begitu, ngapainpakai hak angket? Dari dulu saja serahkan ke aparat hukum," kata si rentenir telepon seluler. 

Jadi, apa dong hasil kerja Pansus? Kata mereka, anggota Pansus hanya berupaya menaikkan citra partai. Partai Golkar paling ge-er, seolah berhasil menjadikan "panas 32 tahun dihapuskan oleh hujan dua bulan", padahal rakyat belum tentu mudah "lupa". Partai lainnya--yang kalah dalam pemilu lalu--mengklaim mengungkap "kebenaran sejati", seolah partai lainnya "menutupi kebenaran". Padahal kebenaran tak bisa dimonopoli. Kebenaran berkaitan dengan siapa pemberi informasi yang dianggap benar itu. Apakah kalangan perbankan dan pengusaha didengar oleh Pansus untuk menentukan kebenaran itu?

Lalu, kerja Pansus ibarat apa? "Membuat lawar capung," kata mereka. Wah, ini kiasan khas Bali. Lawar itu masakan yang bumbunya banyak sekali, padahal bahan pokoknya hanya capung, serangga kecil. Jadi, masalah kecil yang bumbunya riuh, pakai nyanyi-nyanyi segala tatkala puluhan buruh teh di Jawa Barat tertimbun lumpur. Amit-amit....

KOMENTAR ANDA [1] :

  • Hahaha...

    Seperti biasa, lucu! Terutama paragraf terakhir! Coba bedakan kualitas emas dari loyang: Pak Boed tetap menjalankan tugasnya, mengunjungi korban di Ciwidey, menengok Danarto, sangat damai. Beda sekali kualitasnya dengan anggota Pansus yang amit-amit... bamBANG soeSATyo (fitnah jalan terus, salah ngomong kan tinggal bilang, saya punya imunitas, jangan dibikin polemik lagi), Akbar faiSAL (ngomong pemakzulan, buktinya mana bos??), Misbakhudin (Maling teriak maling!L/C lu gimana??) apalagi Amien Narsis... huahh.. korupsi DKP itu udah terbukti, beresin dong, jelek2 Rokhmin Dahuri udah masuk penjara, lah Anda??? Mau pake taktik lama ala Buloggate? Anda masih punya hutang permintaan maaf lho kepada alm. Gus Dur!
    Menurut saya yang butuh mengundurkan diri yang pihak2 penuduh... kerja gak jelas, teriak2 cuman nunjukkin kompetensi yang payah ajah. Buruk muka cermin dibelah!

    Untuk Pak Boed, Selamat Ulang Tahun, ketenangan Anda kedamaian kami.

    -- Mmmm, , 28/02/2010 03:07:30 wib

    http://www.tempointeraktif.com/hg/carianginKT/2010/02/28/krn.20100228.192383.id.html





Kisah Misbakhun




From: syauqi yahya


Minggu, 28/02/2010 21:12 WIB
Kisah Misbakhun & PT Selalang Prima yang Diduga Terbelit Kasus LC
Indra Subagja - detikNews

Jakarta - Politisi PKS Misbakhun tercatat sebagai pengendali PT Selalang Prima Internasional. Perusahaan yang kini diindikasikan terbelit LC fiktif ini kini tengah jadi sorotan.

Bagaimana kisah Misbakhun dan PT Selalang Prima? Dalam dokumen yang beredar, Minggu (28/2/2010), penguasaan perusahaan oleh Misbakhun itu bermula pada Oktober 2007. Misbakhun membeli saham dari Teguh Boentoro sebanyak 2.475 lembar saham, dengan nilai 1 lembar Rp 100 ribu.

Misbakhun kemudian duduk di PT Selalang sebagai Komisaris. Sedang Teguh yang disebut-sebut juga merupakan kawan dekat Misbakhun, berdasarkan dokumen kemudian membuat perusahaan baru yang ternyata juga mendapat fasilitas LC dari Bank Century. 

Setelah memegang kendali atas perusahaan tersebut, pada 19 November 2007 muncullah soal penerbitan LC dari Bank Century ini. Saat itu PT Selalang memperoleh fasilitas LC sebesar US$ 22,5 juta, untuk membeli Bintulu Condensate dari Grain and Industrial Product Trading. PT Selalang menjaminkan deposito di Century sebesar US$ 4,5 juta.

Sumber detikcom membisikkan keanehan soal LC ini tampak dari surat kuasa dan surat gadai deposito berjangka yang dibuat PT Selalang atas LC itu yakni pada 22 November 2007.

"Padahal persetujuan LC untuk Selalang dibuat pada 19 November 2007, semestinya surat gadai itu dibuat sebelum 19 November 2007," terang sumber yang enggan disebutkan namanya itu.

Ditengarai, PT Selalang ini hanya merupakan salah satu perusahaan yang menjadi mainan Robert Tantular untuk menggasak uang milik Century. Apa dasarnya? Dalam dokumen itu disebutkan, dana deposito 10 perusahaan yang diindikasikan mendapat LC Fiktif, termasuk PT Selalang, dana deposito jaminannya berasal dari orang yang sama. Yakni dana dari rekening milik J dan TS.

Memang berdasarkan data BI, PT Selalang masuk dalam 10 perusahaan yang diindikasikan terkait LC fiktif. Perusahaan-perusahaan itu yakni PT Polymer Spectrum, PT Trio Irama, PT Selalang Prima Internasional, PT Petrobas Indonesia, PT Sinar Central Sandang, PT Citra Senantiasa Abadi.

Dan 4 perusahaan lainnya yang sudah disidik Polri yakni PT Dwi Putra Mandiri, PT Damar Kristal Mas, PT Sakti Persada Raya, dan PT Energy Quantum.

Perihal LC ini Misbakhun hanya menegaskan bila itu bukan LC fiktif tapi hanya gagal bayar. Hal senada juga disampaikan politisi PKS lainnya Mahfudz Siddiq.

(ndr/mad) 




SINGING CARD






From: Haryono



 

 



I just couldn't resist sending this card. Hope you share this with others/make their day!!! 

Click on
 
'Card'


 

 


 

 

 

 

 

 


 


 

 

 


 


 

 


 


 


 


 

 

 

 


 


 


AMUSING PHOTOSHOPPED PIC (nice one)









---------- Forwarded message ----------




giant-kid-photoshop

 

photoshop-man

 

city-photoshop-photomanipulation

 

photoshop-metropolist-guy

 

photoshop-woman-sleeping

 

Big-Businessman-photoshop-image

 

father-and-son-photoshop

 

photoshopped-city-giants

 

photoshop-kid-on-airport

 

photoshop-model-posing

 

photoshopped-golf-man

 

giant-woman-photoshopped-picture

 

photoshopped-image-lady-in-city

 

photomanipulation-photoshop-pic

 

photoshopped-model-city

 



__,_._,___


--
Sukseskan Pemilihan Kepala Daerah Kota Magelang 2010.



--
Soni
dian_wiryatmo@yahoo.Co.Id
08562910578

http://ceremende.blogspot.com/

Guru Profesional dan Plagiarisme




From: hernowo hasim


"Lalu, apa sebenarnya profesionalitas guru itu? Definisi kuno mengenai ini meliputi dua hal, pertama, penguasaan materi pembelajaran, dan kedua, kepiawaian dalam metode pembelajaran. Karena cepatnya perubahan yang terjadi di sekolah dan di dunia pendidikan pada umumnya, definisi harus diubah. Penguasaan materi pembelajaran berubah menjadi "kecintaan belajar" (love for learning) dan kepiawaian metodologi pembelajaran berubah menjadi "kegemaran berbagi pengetahuan" (love for sharing knowledge). Yang terakhir ini kemudian diperbarui lagi menjadi "kegemaran berbagi pengetahuan dan ketidaktahuan" (love for sharing knowledge and ignorance)."
--MOCHTAR BUCHORI

----- Forwarded Message ----
From: Nusantara Indonesia <filateli@yahoo.com>
To: DikBud@yahoogroups.com
Sent: Mon, February 22, 2010 8:43:25 AM
Subject: [DikBud] Guru Profesional dan Plagiarisme

 

Guru Profesional dan Plagiarisme

Senin, 22 Februari 2010 | 03:57 WIB

Oleh Mochtar Buchori

Kasus 1.082 guru di Riau yang ketahuan menggunakan dokumen palsu agar dapat dikategorikan sebagai "guru profesional" sungguh memilukan. Dalam hati saya bertanya, apakah guru-guru ini masih dapat mengajar di sekolah mereka?

Masih ada sederet pertanyaan lain dalam kasus ini tentang guru-guru ini. Yang sungguh mengganggu pikiran saya adalah bagaimana para guru itu masih dapat mengajar dengan baik setelah mereka kehilangan wibawa (gezag) akibat peristiwa ini? Sebutan "guru profesional" tak akan dapat mengembalikan wibawa yang hilang karena plagiarisme tadi.

Bahkan, sebutan apa pun tak ada yang dapat mengembalikan wibawa yang hilang dalam jabatan guru. Titel "profesor" sekali- pun tak dapat mengembalikan kewibawaan seorang guru besar yang melakukan plagiat. Contoh ini merujuk kasus plagiat seorang profesor dari perguruan tinggi terkemuka di Bandung yang dimuat The Jakarta Post pada 12/11/2009. Tulisan dinilai menjiplak artikel jurnal ilmiah Australia karya Carl Ungerer.

Kita tahu betapa kasus ini sangat memalukan dan memilukan, khususnya bagi dunia akademis. Pertanyaan penting adalah bagaimana ini dapat terjadi? Khusus tentang kasus plagiat oleh sejumlah guru di Riau, jangan-jangan ada sesuatu yang salah secara fundamental dalam program profesionalisasi bagi guru-guru kita. Sejak semula saya sudah ragu tentang program ini.

Ada ketentuan bahwa mereka yang berhasil memenuhi kriteria "guru profesional" akan dapat tunjangan jabatan. Seharusnya, tambahan penghasilan itu jadi stimulus. Ironisnya, ia hampir jadi satu-satunya alasan yang mendorong banyak guru mengejar sebutan "profesional". Profesionalisme dalam pengetahuan dan kemampuan kerja tidak penting! Yang penting duit! Sikap ini jelas merusak profesi guru.

Lalu, apa sebenarnya profesionalitas guru itu? Definisi kuno mengenai ini meliputi dua hal, pertama, penguasaan materi pembelajaran, dan kedua, kepiawaian dalam metode pembelajaran. Karena cepatnya perubahan yang terjadi di sekolah dan di dunia pendidikan pada umumnya, definisi harus diubah. Penguasaan materi pembelajaran berubah menjadi "kecintaan belajar" (love for learning) dan kepiawaian metodologi pembelajaran berubah menjadi "kegemaran berbagi pengetahuan" (love for sharing knowledge). Yang terakhir ini kemudian diperbarui lagi menjadi "kegemaran berbagi pengetahuan dan ketidaktahuan" (love for sharing knowledge and ignorance).

Mengapa terjadi perubahan- perubahan ini? Karena dunia pendidikan tidak statik. Pengetahuan berkembang terus. Metodologi pembelajaran juga berkembang terus. Kalau dulu pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai guru pada waktu ia tamat dari pendidikan guru dapat bertahun-tahun, sekarang kedua hal tadi akan menjadi ketinggalan zaman dalam waktu lima tahun.

Sekarang ini terasa betul kebenaran ucapan seorang profesor Inggris pada tahun 1954: "If you learn from a teacher who still reads, it is like drinking fresh water from a fountain. But if you learn from a teacher who no longer reads, it is like drinking polluted water from a stagnant pool". Belajar dari guru yang terus membaca, rasanya seperti minum air segar. Namun, belajar dari guru yang tak lagi membaca, seperti minum air comberan.

Dan sekarang ini, dalam abad ke-21, seorang guru baru dapat disebut "guru profesional" kalau dia memiliki learning capability, yaitu kemampuan mempelajari hal-hal yang harus dipelajarinya, hal-hal yang perlu dipelajarinya, dan hal-hal yang tidak perlu dan tidak dapat dipelajarinya. Kemampuan-kemampuan tumbuh dari pengetahuan tentang dirinya sendiri, siapa dirinya sebenarnya, dan mengetahui pula pribadi-pribadi bagaimana yang tidak mungkin dicapainya. Ditirunya, ya, tetapi dicapainya (verpersoonlijkt) , tidak! Singkatnya, guru profesional adalah orang yang tahu diri. Orang yang tahu diri tidak akan melakukan plagiat.

Saya mendapatkan kesan bahwa esensi profesionalitas guru ini tidak pernah dijelaskan kepada guru-guru yang ingin maju, guru-guru yang benar-benar ingin memahami tugasnya dan memperbaiki kinerjanya. Kesan saya lagi, yang ditekankan dalam usaha-usaha peningkatan kemampuan (upgrading) adalah pengetahuan tentang kementerengan guru profesional. Hal-hal yang berhubungan dengan kosmetik keguruan profesional. Guru-guru muda yang baru selesai ditatar jadi guru profesional tampak ganteng (handsome) atau cantik, tetapi tidak memancarkan kesan keprofesionalan yang mengandung wibawa.

Jadi bagaimana sekarang? Untuk tidak mengulangi kecelakaan yang terjadi di Riau ini, perlu ada tinjauan yang jujur terhadap program dan praktik penataran yang dilaksanakan selama ini. Susun kembali programnya sehingga meliputi hal-hal esensial yang saya sebutkan di atas.

Tentang plagiat

Plagiat berasal dari kata Belanda plagiaat yang artinya "meniru atau mencontoh pekerjaan orang lain tanpa izin". Jadi, plagiat merupakan suatu bentuk perbuatan mencuri. Mengapa ini dilakukan, sedangkan guru selalu berkata kapada murid untuk tidak mencontek?

Melakukan plagiat adalah perbuatan mencontek dalam skala besar. Jadi, tindakan plagiat merupakan pelanggaran terhadap etika keguruan. Guru biasa pun akan mendapatkan aib kalau sampai melanggar etika ini. Jadi, mengapa terjadi pelanggaran yang bisa menurunkan harga diri guru seperti ini?

Dugaan saya, pertama-tama adalah karena para guru di Riau tadi ingin segera mendapatkan tunjangan finansial dan julukan "guru profesional" beserta yang menyertainya. Ini tidak mengherankan! Karena setelah bertahun-tahun hidup dalam keadaan serba kekurangan, dengan kedudukan sosial yang tidak terlalu mentereng, maka ketika datang kesempatan untuk perbaikan, mereka berebut meraih kedua perbaikan sosial tadi secara cepat. Lebih cepat, lebih baik!

Kedua, ketentuan bahwa untuk jadi "guru profesional" seorang guru biasa harus membuat karya ilmiah tidak benar-benar dipahami artinya. Membuat "karya ilmiah" itu apa? Yang diketahui kebanyakan guru adalah bahwa "karya ilmiah" adalah makalah yang disusun berdasarkan pemikiran atau penelitian sendiri. Sifat ilmiah harus terlihat dari judul, metodologi, dan istilah-istilah yang digunakan.

Di antara para guru yang mengejar sebutan profesional ini selama masa studi mereka banyak yang tidak mendapat kuliah atau latihan dalam membuat karya ilmiah. Mempelajari lagi kemampuan ini dari permulaan terasa sangat berat. Maka, dicarilah jalan pintas. Membayar orang untuk menyusun karya ilmiah ini, atau membajak karya ilmiah yang sudah jadi, dan di-copy tanpa izin. Dan terjadilah plagiat.

Bagaimanapun kasus plagiat ini harus segera ditangani secara serius dan jangan sampai terulang. Ingat, hal ini berpotensi terjadi lagi dan lagi kalau kita hanya menindak mereka yang tertangkap melakukan plagiat. Harus dilakukan langkah pencegahan. Bila kita gagal menghentikan praktik buruk plagiat oleh guru-guru ini, seluruh masa depan pendidikan kita akan menghadapi kehancuran.

Mochtar Buchori Pendidik



Namaku Stephen King….






From: hernowo hasim


Namaku Stephen King….
Oleh Hernowo


"Namaku Stephen King. Aku menulis draf pertama bagian ini di mejaku (yang berada di bawah tepian atap) pada suatu pagi bersalju pada Desember 1977. Ada banyak hal di kepalaku. Sebagian berupa kekhawatiran (mata rabun, belanja Natal bahkan belum dimulai, istri terkena virus akibat cuaca), sebagian berupa hal-hal yang baik (putra bungsu kami membuat kejutan dengan mengunjungi kami, aku ikut memainkan karya Vince Taylor, Brand New Cadillac, dengan Wallflowers di sebuah konser), tetapi sekarang semua itu tidak penting…."

Saya membaca baris-baris kalimat tersebut dengan rasa suka-cita yang sangat. Saya bersyukur dapat menikmati-kembali tulisan nonfiksi King—raja novel "thriller"—yang terbiasa menulis fiksi. Deretan kalimat yang saya kutip di atas saya temukan di halaman 135 dan 136 karya King, On Writing: A Memoir of the Craft (edisi Indonesianya diterbitkan Qanita pada September 2005). Saya membaca-kembali karya King yang sangat mengasyikkan ini pada pertengahan Februari tahun ini, tahun 2010.

Menurut King, On Writing direncanakan terbit pada 2000. Dan benar, buku ini terbit pada tahun tersebut lewat penerbit Simon and Schuster. King menulisnya ketika usianya 30 tahun. "Jadi, aku membaca di mana pun aku bisa, tetapi aku punya tempat favorit dan mungkin kau juga—tempat yang cahayanya bagus dan getarannya biasanya kuat. Untukku, itu adalah kursi biru di ruang belajarku. Untukmu, itu mungkin sofa di beranda, kursi goyang di dapur, atau mungkin di tempat tidur—membaca di tempat tidur bisa sangat menyenangkan, asalkan kau mendapatkan cahaya yang tepat di halaman yang kaubaca…."

Membaca On Writing bagaikan membaca sosok King yang unik—yang tak terduga dalam membuat kejutan di novel-novelnya. On Writing dibuka dengan sebuah bab yang mengisahkan kehidupan King sejak dia lahir beserta pernak-pernik kehidupannya, proses kreatifnya, hingga dia menjadi setenar saat ini. Bab pembuka itu dijuduli pendek "C.V." Bab ini memakan hampir 30 persen keseluruhan isi buku On Writing. Setelah "C.V.", King melanjutkannya dengan sebuah bab yang sangat menarik—berjudul "Apakah Menulis Itu" dan di awal bab ini, King menulis, "Menulis adalah telepati, tentu saja." Unik kan?

"C.V." dan "Apakah Menulis Itu" masuk dalam bagian pertama On Writing. Keseluruhan bab di buku nonfiksi King ini ada tujuh. Ketujuh bab itu kemudian dibagi menjadi empat bagian. Bagian kedua, yang hanya berisi satu bab dengan judul "Kotak Perkakas", akan saya jadikan referensi ketika nanti saya menulis tentang "writing tools". Lalu, bagian ketiga juga hanya terdiri atas satu bab dengan judul "Tentang Menulis"—bab ini akan sangat menarik jika ketika kita membacanya, kita membandingkannya dengan "Apakah Menulis Itu" yang ada di bagian pertama. Saya sendiri benar-benar memeroleh sebuah wawasan baru yang—sekali lagi—tidak terduga terkait dengan menulis. Meskipun bab-bab tersebut sudah pernah saya baca, tetap saja ada kebaruan yang menyeruak ke dalam diri saya.

Akhirnya, bagian terakhir diisi dengan tiga bab, yaitu "Tentang Kehidupan: Sebuah Catatan Tambahan", "Dan Lebih Jauh Lagi, Bagian I: Pintu Tertutup, Pintu Terbuka", dan "Dan Lebih Jauh Lagi, Bagian II: Kepustakaan". Di bab yang diletakkan paling akhir inilah King mendaftar buku-buku apa saja yang dibacanya. Tentu, banyak sekali pengalaman-menulis King yang dituangkan lewat On Writing yang dapat kita jadikan "bahan ajar" untuk meningkatkan kualitas diri kita—terutama jika kita ingin menambah wawasan tentang tulis-menulis dan juga ingin terus memperbaiki kemampuan menulis kita.

Semoga saya dapat menyajikan hal-hal penting dan berharga yang saya temukan di buku King, On Writing, untuk Anda sekalian.[]


Let's go....find Tom Hanks...The Da Vinci Code yg kontroversial





From: syauqi yahya


The Da Vinci Code (Part 2)

Perjamuan Da Vinci

Bermula dari novel, lalu menjadi film. Di kedua bentuk itu, The Da Vinci Code menuai badai amarah—selain berkah bagi Dan Brown, pengarangnya. Gelombang boikot dari kaum kristiani di beberapa negara menerpa.

Pelbagai protes itu, tak pelak, justru melambungkan novel yang menggabungkan thriller detektif dan teori konspirasi itu, juga film yang siap bertakhta di puncak daftar box-office. Dan Brown pun berlimpah rezeki: mendapat US$ 6 juta dari film dan royalti buku yang kini telah laku 45 juta eksemplar.

Tempo meliput langsung pemutaran perdana film yang dibintangi Tom Hanks dan Audrey Tautou tersebut dari Festival Cannes, Prancis, Rabu lalu; menggeledah sumber kontroversi film; dan menjejaki beberapa tempat yang pernah dikunjungi sang novelis.

Festival Cannes yang kaya dan menyodorkan banyak hal itu tiba-tiba jadi "sederhana": semua membincangkan film The Da Vinci Code.

Raakhee Punjabi, istri bos Multivision Raam Punjabi, yang setahun tiga kali berada di kota pinggir pantai di tenggara Prancis itu, juga tak kuasa menampik. Raakhee ikut arus. Seorang wartawan televisi Italia merekam betapa ia bergegas menuju karpet merah buat menyaksikan kedatangan Tom Hanks, pemeran utama The Da Vinci Code, dari dekat. "Let's go... find Tom Hanks," serunya.

Inilah Festival Cannes ke-59. Raakhee adalah satu dari ribuan orang—wartawan resmi peliput Cannes saja mencapai 5.000 orang—yang tersedot daya pikat The Da Vinci Code. Ya, film itu magnet yang kuat. Denis O'Brien, warga Irlandia Utara, misalnya, khusus datang bersama anak-anaknya menyaksikan tafsir sinema terhadap buku yang oleh keluarga O'Brien dinilai "begitu fenomenal dan penuh intrik mengesankan" itu.

Film garapan sutradara Ron Howard ini, sejak mengambil gambar pertama dua tahun lalu, memang telah mengundang rasa penasaran: apakah ia akan semenarik "ibu kandungnya", novel The Da Vinci Code karangan Dan Brown. Juga apakah film berbiaya US$ 125 juta (atau sekitar Rp 1,1 triliun) itu akan menuai badai kontroversi yang sama sebagaimana novelnya yang dianggap berusaha merobohkan basis keimanan Katolik Roma?

Tak ada aksi protes atau demo antifilm The Da Vinci Code yang diputar perdana di Cannes Rabu lalu. Tapi gelombang penentangan kaum Kristiani terjadi di beberapa negara, seperti India, Korea Selatan, Yunani, Thailand, Filipina. Di India, misalnya, sebagian umat Katolik mengancam mogok makan bila film itu diputar. Menteri Penyiaran Priya Ranjan Dasmunshi pun memutuskan menunda pemutaran sampai keluar rekomendasi dari para ahli sejarah agama.

Di Singapura, The Da Vinci Code hanya boleh ditonton oleh mereka yang berusia di atas 16 tahun. Di Thailand, lembaga sensor film memotong adegan yang paling mengundang kontroversi: Maria Magdalena mengandung anak Yesus.

Angelo Amato, orang terdekat Paus Benediktus XVI, saat berpidato di acara Kongres Doktrin Keyakinan di Universitas Pontifical Holy Cross, pun mengecam karya Brown itu "penuh dengan kebohongan", baik dari segi sejarah maupun teologi. "Saya berharap Anda semua memboikot film ini," seru Amato, seperti dikutip AP.

Persekutuan Injili Indonesia juga memprotes pemutaran film produksi Columbia Pictures itu. Organisasi ini meminta agar Menteri Komunikasi dan Informasi Sofyan Djalil melarang pemutaran film tersebut, karena berisi penodaan terhadap agama Katolik.

Sikap berbeda dikeluarkan Konferensi Waligereja Indonesia. Dalam pernyataan resmi, Konferensi tak meminta pemerintah melarang peredaran film atau mengeluarkan ajakan agar umat Kristiani tak menonton film tersebut. "Itu fiksi belaka, bukan berdasarkan fakta historis Kitab dan tidak mengguncangkan iman umat," kata Antonius Benny Susetyo, Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan KWI. "Kalau dilarang, filmnya justru laku."

The Da Vinci Code, yang terbit pada 2003, ditulis Brown de-ngan menggabungkan gaya thriller detektif dan teori konspi-rasi. Kisahnya diawali dengan terbunuhnya seorang kurator seni Jacques Sauniere di Museum Louvre, Paris. Sebelum tewas, Sauniere meninggalkan sejumlah petunjuk yang cuma bisa dibaca oleh cucu perempuannya, Sophie Neveu, seorang kriptolog (pemecah kode rahasia), beserta ahli simbol agama lulusan Universitas Harvard, Robert Langdon.

Keduanya kemudian bekerja sama memecahkan pesan rahasia yang ditinggalkan Sauniere. Pesan-pesan itu terkait dengan misteri yang melingkupi sejumlah lukisan terkenal karya Leonardo, termasuk Mona Lisa dan The Last Supper. Keduanya menjadi buronan polisi.

Novel ini menjadi kontroversi karena menyinggung banyak hal seperti Piala Suci (Holy Grail) yang digunakan Yesus dalam Jamuan Terakhir, peran Maria Magdalena dalam sejarah Kristen, komunitas rahasia Biarawan Sion, Kesatria Templar, organisasi Katolik Roma Opus Dei yang didirikan oleh Santo Josemaria Escriva pada 2 Oktober 1928, sampai keturunan Yesus yang masih hidup di Paris (baca Yang Kontroversial).

Tom Hanks menyayangkan reaksi berlebihan dari orang-orang yang tak senang dengan film barunya itu. Menurut Hanks, jika pemrotes menilai sebuah film hanya dari kontroversinya, "Anda salah besar. Tak ada yang dilukai di film ini."

Brown sendiri mempersilakan ahli Injil dan sejarawan untuk mem-perdebatkan data-data sejarah dalam novelnya. Menurut Brown, novel yang ditulisnya adalah pemikiran yang bisa disukai atau dibenci orang. Jika Vatikan tak menerima isi bukunya yang menceritakan pernikahan Yesus dan Maria Magdalena, itu hak Vatikan. Ia justru berharap orang makin rajin datang ke gereja setelah membaca novelnya yang telah laku 45 juta eksemplar dan di-terjemahkan ke 44 bahasa itu.

Satu alasan mengapa buku ini menjadi kontroversial, kata Brown, lebih karena agama adalah hal yang sangat sulit didiskusikan dalam istilah-istilah kuantitatif. Bagi Brown, fiksinya itu "lebih sebagai eksplorasi atas agama saya sendiri".

Brown membuat riset selama setahun sebelum menulis The Da Vinci Code. Ia beberapa kali berkunjung ke Paris, memasang tenda di luar Museum Louvre selama seharian, duduk di bangku di Grand Galery mengamati tingkah para turis, dan mencatat minat mereka terhadap karya seni yang terpajang di dinding galeri. Ia juga mewawancarai beberapa pakar untuk mendapatkan informasi yang tepat mengenai seluk-beluk Louvre—luasnya, bagaimana penampakan setiap galeri dan gang dilihat dari berbagai sudut yang berbeda-beda.

Lisa Rogak, penulis buku The Man Behind The Da Vinci Code (Ufuk Press, 2006) juga mencatat minat Brown terhadap matematika, simbol dan kode rahasia. Minat ini tumbuh sejak kecil, dipengaruhi ayahnya, Dupont Brown, yang juga guru matematika di Philip Exeter, New Hampshire, Amerika. Sang ayah, pada setiap Natal, memberikan sebuah peta dengan kode-kode yang harus di-ikuti dari kamar ke kamar untuk dipecahkan Dan Brown, sebelum menemukan hadiah Natal.

Brown juga gemar membuat riset tentang komunitas-komunitas rahasia yang ada di kotanya. Rasa takjubnya pada kelompok rahasia ia temukan ketika menyaksikan dua agen dari National Security Agency menggeledah kampus tempat ia mengajar bahasa Inggris pada 1995. Dua agen itu mencari mahasiswa yang mengirim email kepada temannya, berisi ancaman membunuh Presiden Clinton. Brown terheran-heran bagaimana NSA bisa tahu email pribadi orang. Selama dua tahun kemudian, ia melakukan riset terhadap NSA dan memaparkan cara kerja rahasia mereka dalam novel Digital Fortress.

Dari institusi rahasia pelat merah, Brown mengalihkan minat pada Vatikan. Saat tur di Kota Vatikan, ia bersama istrinya Blythe diajak pemandu wisata menyusuri terowongan Il Pasetto, sebuah jalan pintas Paus bila Vatikan diserang. Sang pemandu itu spontan mengatakan bahwa musuh paling jahat dalam sejarah Vatikan adalah Iluminati, sekelompok ilmuwan yang mengancam Paus pada abad ke-17 karena telah menghukum Galileo dan Copernicus.

Dari kisah Iluminati itu lahir Angels and Demons (2000). Brown kemudian memadukan pengetahuan Blythe tentang lukisan-lukisan Leonardo Da Vinci dengan "komunitas rahasia" Opus Dei, ordo di bawah pengawasan Vatikan, ke dalam The Da Vinci Code.

Ron Howard tertarik mengangkat ke dalam layar lebar setelah istrinya Cheryl Howard menceritakan novel Brown setiap pagi di rumahnya di Sea Pines Resort, Carolina Selatan, Amerika. Cheryl rupanya punya kelompok diskusi buku. Setelah menggelar diskusi buku Stephen King dan Dostoyevsky, kelompok itu membedah The Da Vinci Code. Cheryl pun membujuk suaminya agar menyutradarai film itu.

Sutradara A Beautiful Mind itu telah berulang-ulang membaca buku Brown. "Cerita Brown punya kelengkapan elemen suspensi yang bisa menghidupkan film. Misteri dan thriller yang ia bangun terasa dekat dan mempesona," katanya.

Mula-mula, ia bersama sahabatnya, Brian Grazer, produser Imagine Entertainment, hendak mengangkat fiksi itu menjadi serial televisi. Tapi Brown menolak gagasan Howard. Pada saat yang hampir bersamaan John Calley, produser Sony Pictures, berhasil membeli hak memfilmkan seharga US$ 6 juta dari Brown. Calley pun meminta Howard dan Grazer untuk menggarap film itu.

Namun shooting The Da Vinci Code berlangsung tak mulus. Meski mendapat izin masuk Museum Louvre, kru film tak diperkenankan mengambil gambar di Galeri Agung, tempat lukisan Mona Lisa dipajang. Lukisan Mona Lisa pun digambar ulang.

Berikutnya, ketika Westminster Abbey akan dijadikan lokasi shooting film, kepala gereja menolaknya. Alasannya, sang peniup badai kontroversi itu dinilai, "tak masuk akal secara teologis". Ini membuat Howard memindahkan lokasi pengambilan gambar ke Katedral Lincoln, masih di Inggris.

Di katedral ini, Suster Mary Michel, melalui doa-doa yang ia panjatkan selama 12 jam, berharap shooting film itu gagal. "Saya telah melakukan hal terbaik sebelum saya menghadap Tuhan di hari pengadilan saya," ucapnya.


******************


Menjumput Ide dari Kuas Leonardo

Brown menginterpretasi bebas karya-karya seni masyhur dunia. Mona Lisa, The Last Supper, hingga Little Mermaid, ikon pemujaan perempuan.

Boleh percaya boleh tidak terhadap teori konspirasi yang diajukan Dan Brown. Tapi simaklah cara dia menulis dan mengambil inspirasi dari beberapa karya Leonardo Da Vinci untuk menopang argumen yang hendak ia ajukan. Brown lihai betul dalam urusan ini.

Begitu kagumnya Brown terhadap Leonardo hingga fiksi yang telah laku 45 juta eksemplar itu mengabadikan nama belakang Leonardo ke dalam judul novel seolah-olah itu nama keluarga. Padahal, Leonardo di ser Piero Da Vinci (15 April 1452 – 2 Mei 1519) tak punya nama keluarga. Namanya yang panjang itu kurang lebih berarti "Leonardo, anak Piero dari Vinci."

Tak melulu melukis, si tangan kidal yang dipercaya sebagai homoseksual ini juga penemu, arsitek, insinyur, ahli anatomi, pematung, pemusik dan peramal. Dengan kata lain, dia tergolong polymath, orang yang menguasai seni dan sains sekaligus.

Brown "menyuntikkan" karya Leonardo ke dalam cerita pertama kali ketika kriptolog Sophie Neveu tertegun melihat kakeknya, kurator museum Louvre, menirukan pose The Vitruvian Man di penghujung nyawanya, demi menarik perhatian sang cucu. Ini visualisasi Leonardo atas konsep anatomi Marcus Vitruvius, arsitek Roma pada 80–70 sebelum Masehi. Dia menggambar anatomi tubuh lelaki dengan lingkaran yang mengelilinginya bersentuhan dengan ujung tangan dan kakinya yang membentang lebar. Hingga kini sketsa ini masih dipajang di Venesia, Italia.

The Vitruvian Man adalah ikon gabungan seni dan sains yang paling awal pernah dilakukan. Situs Encyclopedia Britannica menyebut sketsa Leonardo sebagai cosmografia del minor mondo, atau kosmografi dari mikrokosmos. Leonardo menghubungkan manusia dengan alamnya, dalam hal ini lingkaran sebagai simbol roh dan bujur sangkar sebagai perlambang ragawi. Dalam catatan yang mengiringi sketsa ini, ditulis secara terbalik pada 1492, Leonardo membahas tubuh lelaki dewasa yang simetris dengan alamnya.

Dengan beberapa catatan perbaikan, Leonardo menggambar anatomi dasar yang dirumuskan Vitruvius dalam De Architectura seperti: "telapak tangan adalah lebar dari empat jari, telapak kaki adalah empat kali lebar telapak tangan, jarak dari ujung tangan kiri dan kanan manusia yang terbentang sama dengan tinggi manusia itu dan jarak dari garis rambut manusia hingga ujung dagu adalah sepersepuluh tinggi badannya."

Plot lantas bergerak ke Mona Lisa. Brown menyebut lukisan favorit Leonardo yang dibuat pada 1503 dan selesai empat tahun kemudian ini sebagai pemujaan dia terhadap prinsip femininitas. Brown percaya sinar X bisa mengungkap adanya kalung lapis lazuli bergambar Isis, dewi Mesir perlambang istri dan ibu, di dada perempuan yang mengulum senyum itu.

Mona Lisa atau La Gioconda, nama asli lukisan itu, merupakan potret diri Lisa Gherardini, istri pebisnis Florence Fransesco del Giocondo. Lukisan ini berulang kali pindah tangan dari raja dan kaum ningrat di Eropa sebelum akhirnya bersema-yam di Louvre.

Telah lama Mona Lisa mengundang perdebatan. Misalnya tentang matanya yang terus mengikuti pandangan kita, kulitnya yang berpendar, dan senyumnya yang misterius. Wajahnya sering disebut androgynous, bisa laki-laki, bisa juga perempuan. Dr. Lillian Schwartz dari Bell Labs yakin Mona Lisa adalah lelucon Leonardo yang melukis dirinya sendiri sebagai perempuan. Kesimpulan ini diambil dari potret diri Leonardo yang kemudian dipersandingkan melalui teknologi komputer dengan Mona Lisa. Unifikasi perempuan dan laki-laki itu tak hanya di wajah. Menurut Brown, namanya pun diambil dari kombinasi dewa Mesir Amon dan dewi L'isa, nama lain Isis. "Itulah mengapa dia tersenyum abadi," kata Brown.

Latar belakang Mona Lisa tak habis dibahas. Ada alasan mengapa Leonardo, yang terkenal dengan presisinya, sengaja membuat latar Mona Lisa tidak seimbang. Menurut Brown, sisi kiri (dari pandangan kita) sengaja dibuat lebih rendah dari sisi kanan. "Karena Da Vinci sangat feminis, dia membuat Mona Lisa kelihatan lebih anggun dan molek dari kiri dibanding kanan, perlambang laki-laki," Robert Langdon, tokoh utama Brown, menguraikan.

Pada karya agung lain Leonardo, The Last Supper, sejarawan rekaan Brown menggunakan lukisan ini untuk meneguhkan teorinya yang membuat berang umat kristiani. Lukisan ini dibuat Leonardo di usia 43 tahun di dinding ruang makan Convent of Santa Maria del Grazie di Milan, Italia, saat ia menjadi pelukis upahan Ludovico Sforza, penguasa Milan saat itu.

Di lukisan yang menggambarkan perjamuan terakhir Yesus dengan 12 muridnya itu, Brown menunjuk sosok yang duduk di sebelah kiri Yesus (dari pandangan kita) sebagai Maria Magdalena. Bukan Yohanes seperti selama ini dipercaya umat kristiani. Alasannya, sosok itu berambut merah terurai, tangannya lembut mengatup dan dadanya tampak sedikit membusung. "Pasti perempuan," Neveu berpikir. Posisi duduk Yesus dan Yohanes, yang menurut Brown adalah Maria Magdalena, juga dianggap mewakili simbol huruf M. Brown mengartikannya sebagai matrimonio, atau pernikahan dalam bahasa Latin.

Kritik menghujani Brown karena Yohanes sebagai murid yang termuda memang lazim digambarkan dengan sosok feminin. Dia tak berjanggut dan gerak tubuhnya yang agak bersandar itu menandakan kepercayaan dan kepasrahan yang total terhadap Yesus. Setidaknya, sembilan pelukis lain–Bouts the Elder, del Castagno, di Buoninsegna, Gay, Ghirlandaio, Lorenzetti, Bassano, Poussin dan Rubens–melukiskan Yohanes dengan gaya sama. Pertanyaan lain, bila memang Yohanes diartikan sebagai Maria Magdalena, lalu ke mana Yohanes dalam perjamuan akhir ini? Umat kristiani memprotes ini sebagai tak masuk akal.

Brown memasukkan karya yang tak kalah kontroversial, yakni Madonna of the Rocks yang disimpan di Museum Louvre. Karya kedua yang serupa kemudian disebut Virgin of the Rocks, menjadi koleksi Galeri Nasional London, Inggris. Dua-duanya asli buatan Leonardo. Pelukis ini ingin menjual kedua lukisan itu di atas harga kesepakatan. Karena gereja Katolik Milan saat itu menganggapnya terlalu mahal, Leonardo lantas menjualnya ke pedagang biasa.

Adegan pada kedua lukisan itu menggambarkan bayi Yesus dan Yohanes pembaptis disertai Bunda Maria dan Malaikat Uriel. Brown menentang persepsi umum terhadap salah satu bayi yang merupakan sosok Yesus. Tak ada catatan sejarah yang bisa membuktikan teori Brown.

Selain Leonardo, Brown menyebut Botticelli, Poussin, Bernini, Mozart, dan Victor Hugo sebagai seniman-seniman yang memuja kesucian femininitas. Legenda Sir Gawain dan Kesatria Hijau, Raja Arthur serta dongeng Si Bungkuk Notredame disebut Brown sebagai alegori dari kisah cawan suci.

Sampai di situ argumen Brown memikat hati. Argumen yang agak sulit dibeli adalah ketika ia menyebut kartunis Walt Disney sebagai Leonardo abad ke-20 yang sering menyisipkan pesan rahasia di balik karya-karyanya. Sebutlah antara lain Cinderella, Sleeping Beauty, dan yang terbaru, Little Mermaid, sebagai wujud pemujaan Disney terhadap sosok perempuan yang teraniaya.

Satu adegan di Little Mermaid menunjukkan putri duyung Ariel memajang lukisan Penitent Magdalene karya Georges La Tour, atau Magdalena yang teperdaya (dilukis pada 1635–1637) di rumah bawah lautnya. "Rambut merah Ariel pun bukan satu kebetulan," kata Brown. Lihat juga dongeng Putri Salju yang cantik, dianiaya oleh ibu tirinya. Adegan sang putri terlena oleh buah apel juga dipersepsikan sebagai alegori dari Hawa yang meninggalkan firdaus karena memakan apel. Fantasi yang ruaarr biasa!


****************


Konspirasi Da Vinci

Franz Magnis-Suseno SJ
Rohaniwan, guru besar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Sebentar lagi film The Da Vinci Code akan masuk ke bioskop-bioskop. Tak mengheran-kan kalau di umat Katolik ada yang menjadi bi-ngung: mengajukan protes dengan suara keras atau cuek saja? Hanya umat Islamkah yang boleh memprotes apabila agama mereka dihina? Apa-kah orang kristiani mau diam saja di hadapan akumulasi bohong dalam The Da Vinci Code?

Bohong? Itulah kelicikan Dan Brown, penulis buku The Da Vinci Code: ia tidak bohong. Ia menegaskan bahwa ceritanya adalah fiksi. Tetapi sekaligus pembaca, dan sebentar lagi penonton, mesti mendapat kesan bahwa semua fantasi itu "a matter of historical record" (fakta sejarah)!

Dan fiksi yang diceritakan sebagai "fakta" itu memang tidak tanggung-tanggung. The holy grail, cawan yang menurut legenda pernah menampung darah dari luka-luka Yesus di salib, sebenarnya tak lain rahim Maria Magdalena sendiri, murid perempuan yang paling dekat dengan Yesus! Wow! Dan ada sebuah Priory of Sion yang menjaga "bukti-bukti rahasia" itu, yang kalau ditemukan, akan "membongkar dasar-dasar teologi Kristen tentang Yesus" (Adian Husaini dalam Republika)! "Bukti-bukti" itu akan memperlihatkan bahwa agama kristiani berdasarkan "the greatest cover-up in human history" (penipuan terbesar dalam sejarah umat manusia). Kita membaca bahwa sejak seribu tahun Gereja mencoba membunuh para keturunan Yesus, dan sekian cerita horor lain lagi yang entah isapan jempol Brown, entah distorsi kasar fakta sejarah yang sebenarnya.

Yang kurang sedap betul adalah tuduhan—yang pada akhir bukunya memang ditarik kembali, tetapi apakah pembaca memperhatikannya?—bahwa Opus Dei (sebuah organisasi orang-orang Katolik biasa yang berusaha untuk membawa semangat Yesus ke tempat kerja mereka masing-masing) bersedia melakukan pembunuhan untuk memperoleh bukti-bukti itu.

"Fakta-fakta" fiksi Dan Brown itu sekarang sudah banyak dibongkar—baca misalnya "Secrets of the Code. The Unauthorised Guide to the Mysteries Behind The Da Vinci Code", yang diedit oleh Dan Burstein (London, Weidenfels & Nicolson, 2004). Misalnya:

* "Dokumen" tentang The Priory of Sion ternyata ketikan mesin ketik yang diperkirakan ditulis 1956 (!) oleh Pierre Plantard yang mengangkat diri sendiri menjadi grand-masternya dan yang tidak pernah mengklaim bahwa priory itu ada kaitan apa pun dengan the holy grail.
* Begitu pula tak ada hubungan antara tarekat Templar, di abad ke-12 dan ke-13, dan the holy grail.
* Bahwa Maria Magdalena adalah istri atau selir Yesus tak mempunyai bukti historis apa pun dan juga tidak dikatakan dalam "injil Maria Magdalena". Dan kisah bahwa Magdalena kemudian pergi ke Prancis Selatan baru muncul sebagai legenda di abad ke-11, jadi seribu tahun sesudah wafatnya.
* Tak pernah ada legenda bahwa Maria Magdalena mempunyai anak dari Yesus dan raja-raja Merowing pun tak pernah mengklaim diri sebagai keturunannya.
* Perjanjian Baru tak punya kaitan apa pun dengan kaisar Konstantin dan Yesus sudah dipercayai sebagai Tuhan dan Putera Allah jauh sebelum Konsili Nikea.
* "Injil-injil" yang disebut Dan Brown, "Injil Philipus" dan "Injil Maria Magdalena", bukan injil dalam arti kisah hidup Yesus, melainkan kumpulan ajaran esoteris Gnosis, sebuah aliran di abad kedua dan ketiga Masehi yang menyangkal bahwa Yesus menebus para pendosa; menurut mereka, Yesus membawa gnosis, pengetahuan rahasia, yang hanya bagi mereka yang terpilih. Gereja purba memang menolak ajaran itu dan dengan cukup alasan.
* Dalam "injil-injil" gnostik itu tak ada sepatah kata tentang the holy grail maupun bahwa Yesus mempunyai anak. Kalau dalam "injil Philipus" ditulis bahwa Yesus "mencintai Maria Magdalena lebih daripada semua murid lain dan suka mencium mulutnya," maksudnya bukan seksual—gnosis justru menolak seksualitas—melainkan untuk merelatifkan Gereja dan para rasul Yesus dan mengangkat Magdalena menjadi tokoh gnosis.
* Juga spekulasi beberapa teolog feminis, yang diangkat Brown, bahwa bangsa Israel pernah menyembah Allah perempuan, Shekinah, di samping Yahweh, Allah laki-laki, tidak mempunyai dasar historis dalam Perjanjian Lama.

Lalu kami umat kristiani harus bagaimana? Marah-marah, unjuk rasa besar-besaran, membakar bioskop, memfatwa mati Dan Brown dan memboikot Hollywood?

Uskup-uskup El Salvator baru saja mengajak umat agar memboikot film The Da Vinci Code. Saya kira, wajar itu. Dan Brown memang kurang ajar. Dan numpang tanya: apa dia akan berani menulis "fiksi" senada tentang Nabi Muhammad atau Sang Buddha?

Tetapi di lain tempat umat dan uskup-uskup tenang-tenang saja. Termasuk di Indonesia. Bahkan Opus Dei, daripada mengamuk, memanfaatkan The Da Vinci Code untuk memperkenalkan cita-cita mereka yang sebenarnya. Gereja kiranya tidak akan runtuh karena kekurangajaran seorang Dan Brown.

Saya sendiri jelas mau nonton The Da Vinci Code. Bukan hanya supaya dapat menjawab kalau orang tanya, melainkan karena saya mengantisipasi nikmatnya menonton thriller itu. Saya kira, umat saya juga sudah keluar dari masa puber (atau dari masa badak: begitu ada sesuatu yang membuat marah, tanduk turun, buntut naik, mata kecil tapi tajam mengambil fokus, lalu tanpa terganggu oleh pikiran, menyerang lurus ke depan). Mereka bisa menikmati film yang bagus, sambil sedikit misuh-misuh (sehat bagi jiwa, lho!). Have a pleasant evening at your cinema!

(Dari Majalah Tempo Edisi. 13/XXXV/22 - 28 Mei 2006)






Museum Louvre di Paris






Leonardo Da Vinci




Monalisa




Vitruvian Man




The Last Supper




The Da Vinci Code in Cannes






nirina is offline Add to nirina's Reputation Report Post Report Post